LOGINCalista berjalan menuju tangga darurat. Begitu tiba di sana, sosoknya menghilang dan berpindah ke tempat yang tidak seharusnya ada di dunia manusia. Bersamaan dengan itu, jas dokter putih yang dikenakannya berganti menjadi gaun hitam yang anggun.Hamparan padang bercahaya membentang tanpa batas di bawah langit keperakan yang tanpa matahari. Di tengah keheningan, banyak jiwa berjalan dalam barisan panjang menuju sebuah jembatan raksasa di kejauhan, sebagian ditemani sosok berjubah gelap yang mengawal mereka.Pandangan Calista perlahan menyusuri lautan jiwa yang bergerak itu hingga akhirnya berhenti pada sosok yang dicarinya. Tanpa membuang waktu, ia segera bergegas menghampiri pria tersebut."Tunggu." Suara itu membuat keduanya menghentikan langkah.Sosok berjubah hitam itu segera berbalik. Begitu melihat siapa yang memanggilnya, tubuhnya langsung menegang.“Nona...” ucapnya gugup. “Ke... kenapa Anda menghentikan saya?” tanyanya dengan suara bergetar."Diam kau," ucap Calista dingin. "
Benda yang berada di tangan Calista ternyata hanyalah sebuah foto yang sudah sedikit kusam dimakan usia. Sudut-sudutnya telah menguning, sementara permukaannya dipenuhi goresan halus akibat terlalu sering disentuh.Di dalam foto itu, seorang pria paruh baya tengah tersenyum lebar sambil merangkul seorang anak laki-laki yang tampak berusia sekitar delapan belas tahun. Keduanya tertawa ke arah kamera dengan ekspresi yang begitu bahagia, seolah tidak ada satu pun beban di dunia mereka.Tatapan Calista perlahan berubah. Jemarinya yang semula hanya memegang foto itu dengan acuh tak acuh kini justru menggenggamnya sedikit lebih erat."Apa itu, Dokter Calista?" tanya Nita pelan. Tatapannya ikut tertuju pada benda di tangan wanita itu."Ini foto pasien dengan anaknya," jawab Calista lirih. Matanya tidak lepas dari wajah kedua orang di dalam foto tersebut.Kevin yang berdiri di sampingnya tiba-tiba memicingkan mata."Dokter Calista..." ucapnya pelan sambil menunjuk bagian belakang foto. "Seper
Layar monitor kembali menampilkan hasil CT scan pasien. Cahaya dari proyektor menerangi wajah semua orang di ruangan itu, sementara suasana menjadi jauh lebih sunyi dibanding beberapa menit sebelumnya."Lihat baik-baik," ucap Calista tenang."Apakah kalian menemukan sesuatu?" lanjutnya sambil melipat kedua tangan di depan dada.Kevin mempersempit matanya dan mencondongkan tubuh ke depan. Di sampingnya, Nita segera memperbesar hasil rekonstruksi tiga dimensi.Beberapa detik berlalu. Kevin dan Nita saling berpandangan sejenak sebelum akhirnya menggeleng pelan."Tidak ada, Dokter Calista," ucap Nita dengan nada pasrah."Perbesar area arteri renalis dan mesenterika," perintah Calista."Aku ingin kalian memperhatikan baik-baik pembuluh darah yang memasok ginjal dan usus." Tatapannya masih tertuju pada layar.Tangan Nita tampak sedikit gemetar. Begitu gambar diperbesar, mata Nita dan Kevin langsung membelalak."Malfungsi organ sistemik..." gumam Nita dengan suara bergetar. Wajahnya yang sem
Sesampainya di Departemen Bedah Toraks, Kardiak, dan Vaskular, Raka dan Calista mendapati ruang itu dalam keadaan kosong. Namun, dari balik dinding kaca ruangan diskusi di sebelahnya, terlihat Nita sedang berdiri di depan layar besar sambil memegang pointer, sementara Kevin dan Dokter Hadi duduk memperhatikan dengan wajah serius.Tanpa banyak bicara, Raka dan Calista segera berjalan menuju ruangan itu. Pintu dibuka perlahan, dan seketika perhatian semua orang tertuju kepada mereka."Dokter Calista, Dokter Raka," ucap Nita sambil menghentikan penjelasannya. Ia segera menurunkan pointer dan memberi sedikit hormat."Silakan duduk." Senyum kecil muncul di wajahnya sebelum kembali menghadap layar.Raka dan Calista segera menempati dua kursi kosong yang masih tersisa. Begitu duduk, keduanya langsung memusatkan perhatian pada monitor besar yang menampilkan hasil pemeriksaan pasien."Kebetulan semua dokter spesialis ada di tempat ini," ucap Nita sambil mengatur slide. Ekspresinya sangat seriu
"Selamat pagi, Tuan. Selamat pagi semuanya," ucap Raka sambil melangkah masuk ke dalam ruangan. Tatapannya bergantian mengarah kepada Tuan Adrian, Sena, dan istrinya yang masih duduk di samping ranjang pasien."Maaf mengganggu waktu sarapan Anda." Senyum ramah tidak pernah lepas dari wajahnya."Lihat, Dokter Raka sudah datang," tegur Sena sambil menunjuk mangkuk yang masih tersisa. "Dan Ayah belum menghabiskan makananya.""Itu karena kau terus mengajakku berbicara," balas Tuan Adrian sambil mendecakkan lidah pelan.Raka ikut tertawa melihat interaksi keduanya. Setelah suasana sedikit tenang, ia melangkah ke samping dan mempersilakan wanita di belakangnya maju."Perkenalkan," ucap Raka sambil tersenyum. "Dia adalah Dokter Calista.""Dia dan aku akan bekerja sama dalam operasi Anda." Tatapannya kemudian beralih kepada wanita di sampingnya.Tuan Adrian memperhatikan keduanya beberapa saat. Senyum kecil perlahan muncul di wajah pria paruh baya itu."Kalian terlihat sangat cocok," ucapnya
Tepat di depan pintu lift, langkah Raka akhirnya berhenti. Sementara Calista yang sejak tadi hanya mengikuti di belakangnya perlahan kembali tersadar dari keterkejutannya.Barulah saat itu ia menyadari bahwa pergelangan tangannya masih berada dalam genggaman pria di depannya. Tatapan wanita itu langsung tertuju pada tangan mereka yang saling bersentuhan."Lepaskan tanganku," ucap Calista dingin. Alisnya sedikit berkerut saat menatap punggung Raka."Tidak," jawab Raka tanpa menoleh. Sudut bibirnya justru sedikit terangkat."Kalau aku lepaskan, kau pasti akan pergi." Ia masih berdiri tenang seolah itu adalah hal yang wajar."Cepat lepaskan," ucap Calista lagi. Tatapannya mulai menyipit."Jika tidak..." Kalimatnya terhenti di tengah jalan, sementara jemarinya sedikit mengepal.Namun Raka tetap tidak memedulikannya. Perhatian pria itu justru tertuju pada angka lift yang terus bergerak naik.Dan tanpa disadari Raka, sekelebat api biru kecil tiba-tiba muncul di sekitar pergelangan tangan Ca







