Share

Bab 07

Penulis: Dang Aldo
last update Terakhir Diperbarui: 2026-02-03 02:50:29

Aku tersenyum tipis, lalu menarik tanganku dan memamerkannya. “Aku kan memang suka pergi ke gym, Tante. Kata papa, laki-laki harus punya badan yang kuat biar bisa melindungi perempuan.”

Tatapan Tante Sarah bergantian terarah ke lengan dan mataku. Tapi, jelas sekali rasa gugup, penasaran, dan ‘haus’ itu benar-benar tidak bisa disembunyikan dari wajahnya.

Tante Sarah mengangguk pelan, lalu beberapa kali mengalihkan pandangannya. Benar-benar seperti ABG yang sedang kepalang malu saat berhadapan dengan pujaannya.

“Badan Papa kan juga begini. Emang Tante gak tahu?” tanyaku langsung, sengaja ingin melihat bagaimana reaksinya.

“Iya, Tante tahu. Tapi rasanya tetep beda sama kamu,” jawabnya apa adanya.

Aku mengangkat alisku, sambil menatapnya dalam diam karena mendengar jawabannya yang menurutku cukup memberi kepastian akan pikiranku.

Namun, Tante Sarah yang menyadarinya segera menggelengkan kepalanya. “Eh, nggak. Bukan gitu. Maksudnya kan kamu masih muda, jadi jelas beda sama papamu yang udah berumur.”

Wajahnya tampak semakin merah. Dadanya bergetar lebih jelas.

Wanita ini benar-benar haus dengan sentuhan anak muda, ya?

****

Waktu berlalu cepat.

Seminggu setelah pernikahan, Papa kembali sibuk dengan proyek luar kota dan tumpukan dokumen, sementara Kiara lebih sering pergi bersama teman-temannya. Rumah yang sempat ramai kembali sepi, hanya menyisakan aku dan Mama Sarah.

Kesempatan ini tak boleh terbuang.

Malam itu listrik tiba-tiba padam. Kiara sedang menginap di rumah temannya, jadi hanya kami berdua di rumah.

 “Radit… kamu di mana?!” teriak Mama Sarah dari ruang tengah sambil menyalakan senter ponselnya.

“Ada di kamar, Ma. Aku cari lampu emergency dulu,” jawabku sambil keluar. Aku menuju rak dekat dapur, meraba-raba dalam gelap sampai menemukan lampunya.

Saat lampu emergency menyala, Mama Sarah sudah berdiri di belakangku.

“Ini kenapa ya kok mati listriknya? Papa kamu gak telat bayar, kan?” tanyanya cemas.

“Udah dibayar. Mungkin gangguan,” jawabku singkat.

Belum sempat percakapan berlanjut, suara keras tiba-tiba terdengar dari lantai dua.

“Ngaang!!”

Mama Sarah refleks terkejut dan terpeleset.

BRUK!

Kami jatuh bersamaan di lantai dapur. Napasnya cepat, tangannya mencengkeram lenganku erat.

“M–Ma…” suaraku tercekat, suasana hening sejenak di tengah cahaya remang.

Mama Sarah tersentak, baru sadar posisinya. Matanya membelalak, pipinya langsung memerah meski cahaya lampu emergency cuma kuning redup.

“Aduh—maaf, Dit! Maaf!”

Dia buru-buru mau bangun, tapi gerakannya malah jadi kacau. Tangan kirinya menekan dada aku untuk menopang tubuh, tangan kanannya malah nyangkut di pinggangku.

Pinggulnya bergesek pelan saat dia mencoba menggeser kaki dan itu malah membuat sensasi yang tadi empuk sekarang jadi lebih… menggoda.

Aku bisa merasakan kehangatan paha bagian dalamnya yang menempel di pinggulku.

Dia akhirnya berhasil berdiri, tapi langkah mundurnya terhuyung. Rok rumah tipis yang dia pakai sedikit tersingkap, memperlihatkan garis celana dalam berenda hitam yang biasanya cuma aku lihat sekilas saat dia lewat di depan pintu kamar.

Dia buru-buru menarik roknya ke bawah, tapi gerakan itu malah membuat dadanya bergoyang-goyang di balik kain tipis yang sudah agak basah oleh keringat.

“Maaf ya, Radit… Mama kaget banget tadi,” katanya sambil menutup mulut dengan punggung tangan.

Suaranya gemetar, campuran malu dan… sesuatu yang lain. Napasnya masih ngos-ngosan.

Aku bangkit perlahan, badan masih terasa panas di tempat-tempat yang tadi bersentuhan. Jantungku juga berdegup kencang, tapi anehnya aku tidak langsung buru-buru menjauh. Malah ada bagian dalam diriku yang… menikmati momen itu lebih lama dari yang seharusnya.

“Gak apa-apa, Ma,” jawabku pelan, suara agak serak. “Kayaknya cuma tikus sih tadi. Biasa kan di gudang atas suka ada.”

“Tikus?!” Matanya langsung membesar lagi. Dia melangkah mendekatiku tanpa sadar, tangannya meraih lenganku dan mencengkeram erat di sela buahnya yang kenyal. “Serius? Mama benci banget tikus, Dit… duh, jangan-jangan sekarang dia lagi lari-larian di atas kita…”

Dia menempel lebih dekat. Bahunya menyentuh bahuku, aroma sabun vanila bercampur keringatnya semakin kuat.

Aku bisa merasakan puncak dadanya yang mengeras samar-samar dari lenganku yang didekap, entah karena dingin, panik, atau… karena hal lain.

“Tenang, Ma. Aku cek bentar ya,” kataku, pura-pura tenang padahal tanganku sudah gemetar ringan.

Tapi sebelum aku bergerak, Mama Sarah malah menarik lenganku lebih erat. “Jangan! Jangan pergi dulu… Mama takut sendirian kalau gelap gini…”

Suara itu lembut, hampir memohon. Matanya yang biasanya penuh wibawa sekarang terlihat rapuh, basah, dan… ada kilau aneh di dalamnya. Bibirnya sedikit terbuka, napasnya pendek-pendek.

“Mama … takut banget sama tikus ya?” tanyaku pelan, suara sengaja dibuat rendah, hampir seperti bisik di telinganya.

Dia menggigit bibir bawahnya, mengangguk kecil. “Iya… takut banget…”

Aku tersenyum tipis. Dari gerak-geriknya, aku sudah paham kalau dia bukan hanya takut karena tikus, tapi juga merasakan hal lain karena sentuhan kami tadi.

Beberapa hari tinggal dengannya dan bersentuhan tanpa sengaja, aku samakin paham dengannya.

Tangan kiriku naik ke lehernya, menyentuh kulit halus di bawah telinga, jempolku mengusap pelan di situ.

“Kalau gitu… biar aku jagain Mama di sini aja ya,” kataku, sengaja menekankan kata “jaga” dengan nada yang sedikit lebih dalam. “Biar Mama gak sendirian… biar Mama gak takut lagi…”

Matanya langsung menatapku tajam, tapi bukan tatapan marah. Tatapan itu… lapar, bingung, dan … ingin.

“Radit…” suaranya serak, hampir memohon. “Kamu…”

Sikapnya mulai semakin tak terkendali. Padangannya sesekali kabur menghindar, tapi aku bisa melihat bibir dan dadanya yang seperti berkata lain.

“Aku cuma mau Mama tenang, Ma,” jawabku, pura-pura polos. Tapi tanganku yang di pinggangnya sekarang turun sedikit, menyusuri garis pinggul sampai ke belakang, meremas pelan bokongnya dari luar rok. “Kalau Mama masih deg-degan gini… kan kasihan. Mana keringetan lagi… aku bisa bantu Mama biar lebih… rileks…”

Dia mengerang pelan, badannya menegang sesaat, tapi tidak mundur. Malah pinggulnya sedikit maju, menempel lebih erat ke tubuhku.

“Dit… gak boleh…” katanya, tapi suaranya lemah sekali. Tangan kanannya naik ke dadaku, seolah mau mendorong, tapi malah cuma bertumpu, jari-jarinya malah mencengkeram kausku.

Aku menunduk, bibirku menyapu pelan telinganya. “Mama bilang gak boleh… tapi badan Mama bilang lain, Ma…”

Aku sengaja menggesekkan pahaku pelan ke antara pahanya, tepat di bagian yang sudah terasa lembap tadi. Dia langsung tersentak, napasnya tercekat.

“Radit… ahh…” desahnya, kepalanya terdongak ke belakang, memperlihatkan leher jenjang yang berkilau keringat.

Aku tidak buang waktu. Bibirku langsung turun ke lehernya, mencium dan menjilat pelan di bagian yang paling sensitif, tepat di bawah telinga. Dia mengerang lebih keras, tangannya sekarang memeluk leherku erat-erat.

“Ma… Mama suka gini kan?” bisikku lagi, sengaja membuat nada suaraku lebih menggoda. “Mama kan lama banget gak disentuh… aku tahu kok. Aku lihat caranya Mama pandang aku akhir-akhir ini…”

Dia menggeleng pelan, tapi badannya malah menempel lebih erat. “Jangan bilang gitu… Mama… Mama cuma…”

“Cuma apa, Ma?” Aku menarik wajahnya pelan supaya menatapku lagi. Jempolku mengusap bibir bawahnya yang sudah basah. “Cuma kangen? Cuma pengen dipeluk? Atau… pengen lebih dari itu?”

Dia menutup mata, napasnya semakin cepat. “Radit… kamu…”

Aku tertawa kecil, suara rendah di tenggorokannya. “Kenapa, Ma? Kalau pengen, bilang aja.”

Tangan Mama Sarah turun lagi, kali ini lebih berani. Dia menyentuhku dari luar celana, meremas pelan, lalu mengelus naik-turun dengan gerakan yang gemetar tapi jelas penuh keinginan.

Aku mengerang pelan di telinganya. “Nah… gitu dong, Ma… Mama boleh pegang… boleh apa aja…”

Dia membuka mata, tatapannya sekarang sudah gelap, penuh hasrat yang sudah tidak bisa disembunyikan lagi.

“Dit… Mama… Mama gak tahan lagi…”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 29

    Aku bisa merasakan jantungnya berdegup kencang di balik punggungnya yang menempel pada dadaku, sebuah ritme yang liar dan tak beraturan.Tanganku merayap lebih berani, menyelinap ke balik daster satin putihnya yang tipis. Begitu jemariku menyentuh area paling pribadinya, aku tertegun sejenak. Cairan hangat yang lengket dan banjir sudah membasahi kain tipis itu. Dia sudah benar-benar terjatuh dalam jurang nafsu yang kusiapkan.“Ma... rasakan ini,“ bisikku serak, tepat di telinganya.Aku tidak hanya mengelusnya. Aku mulai meremas bibir bawahnya yang sensitif dengan ritme yang menuntut.Mama Sarah tersentak, tubuhnya melengkung ke belakang, memberikan akses lebih luas bagi tanganku untuk menjelajah. Rintihan yang keluar dari mulutnya bukan lagi rintihan takut, melainkan suara pemuasan yang selama ini terpendam di balik topeng istri yang patuh.“Sebut namaku, Ma... ayo sebut,“ tuntutku, memberikan tekanan lebih dalam pada jemariku. “Jangan anggap aku anakmu. Sebut namaku!““Akhhh... R-R

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 28

    Aku terbangun dengan energi yang meluap. Setelah kejadian di dapur dini hari tadi, tidurku mungkin tidak lama, tapi adrenalin di dalam nadiku membuatku merasa sangat bugar. Aku segera membasuh wajah, menatap pantulan diriku di cermin yang kini tampak lebih mengintimidasi, lalu mengganti pakaian dengan celana pendek olahraga dan kaos singlet yang melekat ketat.Aku harus menjaga asetku. Roti sobek di perut dan otot-otot ini adalah senjataku untuk membuat wanita di rumah ini bertekuk lutut.Aku memulai dengan lari kecil memutari area rumah, lalu berakhir di halaman belakang yang cukup luas. Aku menjatuhkan diri ke rumput yang masih berembun, melakukan serangkaian push up dengan ritme cepat. Keringat mulai mengucur, membuat kulitku mengkilap dan kaosku basah, menonjolkan setiap garis otot dada dan perutku. Setelah itu, aku beralih mengambil barbel besi yang terletak di sudut teras belakang.Satu... dua... tiga...Suara pintu belakang yang berderit menghentikan hitunganku.Aku melirik

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 27

    Aku bisa merasakan setiap inci tubuh Mama Sarah yang menempel pada tubuhku yang bertelanjang dada. Daster satin basah yang ia kenakan kini bukan lagi sekadar pakaian, melainkan kulit kedua yang transparan, yang mempertemukan panas tubuh kami tanpa penghalang yang berarti.Aku menyadari satu hal, tidak ada perlawanan. Tangannya yang tadi mencengkeram bahuku karena takut pada tikus, kini mulai meremas kulitku dengan cara yang berbeda, sebuah cengkeraman yang lahir dari rasa lapar yang tertunda.”Ma...” bisikku, suaranya parau, bergetar karena keinginan yang hampir meledak.Aku tidak menunggu jawabannya. Aku memeluk pinggangnya secara tiba-tiba, menarik tubuh matangnya hingga tidak ada lagi udara yang bisa lewat di antara kami. Mama Sarah terkesiap, kepalanya terdongak ke belakang, menatapku dengan mata yang sayu dan kabur oleh kabut gairah. Dia tidak mendorongku. Dia tidak berteriak. Dia hanya diam, membiarkan dadanya yang kenyal tanpa pelindung itu tertekan hebat pada dadaku.Ini ad

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 26

    Aku berguling ke kiri, lalu ke kanan, mencoba mencari posisi nyaman di atas kasur yang mendadak terasa seperti tumpukan bara api. Pikiranku kacau. Bayangan Mama Sarah yang bergerak liar di atas Papa, lalu wajah murungnya saat ditinggalkan tidur begitu saja, terus berputar-putar seperti kaset rusak di kepalaku.”Sialan, aku benar-benar tidak bisa menutup mata,” umpatku lirih sambil menyugar rambut dengan frustrasi.Setiap kali aku memejamkan mata, yang terbayang adalah daster satin maroon itu. Gairah dan dendam adalah campuran yang berbahaya, dan malam ini, keduanya sedang berpesta di dalam nadiku.Aku bangkit dari tempat tidur, merasa tenggorokanku kembali kering atau mungkin itu hanya alasanku untuk kembali berburu.Aku turun ke bawah dengan langkah yang lebih ringan dari hembusan angin. Saat kakiku mencapai lantai dapur yang dingin, aku melihat pemandangan yang membuat jantungku berdegup dua kali lebih cepat. Di bawah cahaya lampu dapur yang temaram, Mama Sarah sedang berdiri memb

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 25

    Aku mengerang pelan, mencoba mengumpulkan kesadaran yang tercerai-berai. ”Sial, sepertinya setelah makan malam yang penuh sandiwara itu aku malah ketiduran,” gumamku serak.Tenggorokanku terasa seperti padang pasir yang kerontang. Efek dari ketegangan di meja makan dan adrenalin yang meledak tadi sore sepertinya menguras cairan tubuhku. Aku bangkit, hanya mengenakan celana pendek hitam tanpa kaos, dan melangkah keluar kamar. Rumah ini terasa seperti makam, sunyi, dingin, dan penuh rahasia yang terpendam di balik tembok-temboknya yang megah.Aku menuruni tangga dengan langkah yang sangat hati-hati, tidak ingin membangunkan lantai kayu yang bisa saja berderit. Di dapur, aku menuangkan air dingin dari dispenser, membiarkan cairan itu membasahi kerongkonganku dalam satu tegukan panjang. Segar. Namun, rasa segar itu tidak bertahan lama ketika telingaku menangkap sebuah frekuensi yang tidak asing.Ah... hh... mmpth...Aku mematung. Gelas di tanganku hampir saja merosot. Suara itu berasal

  • Calon Ibu Tiri Spesialku   Bab 24

    Aku memicingkan mata, menatap ke arah tangga menuju ke bawah. Sunyi. Hanya sayup-sayup suara denting piring dari lantai bawah yang menandakan aktivitas makan malam sudah dimulai.Aku kembali masuk ke kamar dan memberi isyarat pada Kiara yang masih berdiri kaku dengan handuk melilit bahunya. ”Sekarang. Lewat balkon belakang, loncat ke jendela kamar lo. Pastikan nggak ada suara,” desisku tajam.Kiara menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan, ada sisa ketakutan, namun juga ada gumpalan rasa yang aku tahu adalah benih-benih ketergantungan yang baru saja kutanam. Tanpa kata, dia menyelinap keluar. Aku berdiri di ambang pintu balkon sampai aku yakin dia sudah masuk ke kamarnya dengan selamat. Aku mengelus dadaku, merasakan detak jantung yang masih berpacu liar. Hampir saja, batinku. Selangkah lagi, dan rencana besar untuk menghancurkan hidupnya akan hancur berantakan.Setelah merapikan kaos dan rambutku, aku turun ke bawah dengan langkah yang kelihatannya sangat santai. Di ruang

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status