LOGINUntuk pertama kalinya, setelah di kurung di dalam rumah oleh Maminya karena dipaksa untuk menerima perjodohan yang sudah mereka atur, kini Daffa baru sempat keluar untuk mengecek keadaan Jihan.
Namun sudah beberapa kali ia memencet bel apartemen yang ditinggali perempuan itu tapi belum ada jawaban sampai saat ini.Saat Daffa mencoba menghubungi ponselnya pun tak ada jawaban, Daffa tak bisa tenang sebelum memastikan kodisi Jihan.Dia orang yang nekat dan takutnyaUntuk pertama kalinya, setelah di kurung di dalam rumah oleh Maminya karena dipaksa untuk menerima perjodohan yang sudah mereka atur, kini Daffa baru sempat keluar untuk mengecek keadaan Jihan. Namun sudah beberapa kali ia memencet bel apartemen yang ditinggali perempuan itu tapi belum ada jawaban sampai saat ini. Saat Daffa mencoba menghubungi ponselnya pun tak ada jawaban, Daffa tak bisa tenang sebelum memastikan kodisi Jihan. Dia orang yang nekat dan takutnya jika sampai Jihan tahu bahwa Fakhri kini sudah menemukan Ayyana, Jihan akan mengambil tindakan yang membahayakan dirinya ataupun orang lain, jadi tentu Daffa harus turun tangan. Lelah dengan penantian yang seolah tak akan membuahkan hasil, ia menghubungi pihak pengurus apartemen untuk membuka apartemen Jihan. Untungnya pihak disana bisa bekerja dengan cepat dan pintu apartemen Jihan bisa dibobol. Begitu masuk, hal yang sudah diprediksi Daffa memang nyata adanya. Rua
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas menjelang siang, tapi Ayyana masih terperangkap di kamar. Perempuan itu duduk bersandar pada dipan kasur dengan Fakhri yang masih setia berbaring di pahanya, seraya memeluk perutnya yang masih rata dalam keadaan tertidur lelap. Untuk masalah kehamilan, Ayyana belum memberitahu Fakhri soal itu. Rasanya belum tepat, mungkin menunggu sampai urusan dengan Jihan benar-benar menemukan titik terang. Tatapan Ayyana jatuh pada ombakan pantai di layar besar kaca jendela, terpancar sempurna lengkap dengan sinar biru terang dari hamparan langit diluar sana. Tangannya sendiri tak tinggal diam, ia sibuk mengusap lembut surai sang suami. Dibandingkan dengan saat Fakhri datang tadi, penampilan pria itu kini tampak jauh lebih baik. Ayyana sudah menyuruhnya mandi, bercukur dan bahkan meminta staf hotel untuk mengantarkan sarapan ke kamar tadi. Setelah semua hal
Waktu subuh yang tenang Ayyana di kejutkan dengan kehadiran seseorang yang selama ini ia hindari, bahkan menjadi alasan utamanya berada di tempat ini-Fakhri.Begitu ia selesai mengucap salam, pria yang berstatus sebagai suaminya itu masuk membuka pintu kamar dengan tergesa."Sayang?" Lirihnya berdiri di ambang pintu dengan tatapan penuh rasa lega melihat Ayyana yang terduduk diatas sajadah.Untuk sesaat Ayyana membeku, ia tidak bisa mencerna apapun. Pikirannya masih kalut oleh fakta yang disampaikan Haikal semalam dan subuh ini suaminya justru muncul secara tiba-tiba di hadapannya.Bahkan sampai Fakhri maju mendekatinya dengan langkah pelan, Ayyana masih tak bergeming, menatap pria yang sudah cukup lama tak dilihatnya itu dengan mata berkaca.Fakhri menurunkan tubuhnya, duduk bersimpuh di hadapan sang istri dengan air mata yang entah kapan sudah membasahi wajahnya."Sayang, maaf," lirihnya lagi meraih kedua tangan Ayyana-menggeng
Kening pria berkacamata itu bertaut, "Pak Fakhri?""Bisa bicara sebentar?" Tanya Fakhri begitu berhenti di hadapan Ilham."Soal apa ya, Pak? Sepertinya cukup serius sampai harus menghalangi jalan masuk saya," sindir Ilham dengan nada sedikit sinis.Ia tahu maksud kedatangan Fakhri tapi apa harus dengan cara seperti ini?"Kalau tidak seperti ini, takutnya malah saya ditinggal kabur lagi, Dok." Balas Fakhri dengan nada yang sama, mengingatkan saat ia kecolongan ditinggal Ilham subuh-subuh.Ilham tertawa sumbang dan meniti perawakan Fakhri yang terasa tampak jauh berbeda, ia mengangguk sedikit dan memberi isyarat agar Fakhri memindahkan mobil dulu."Bapak ingin bicara kan? Mari kita bicara baik-baik di dalam," ucapnya. "Kebetulan juga ada banyak hal yang ingin saya bahas.""Pindahin mobilnya Vano," ucap Fakhri menginstruksikan pada Vano dan adik sepupunya itu langsung bergerak tanpa di perintah dua kali.Ilham tidak ambil pusing dengan sikap Fakhri dan m
Sedari jam dua siang sampai adzan ashar berkumandang Jihan masih saja berdiri didepan pintu rumah Fakhri, memencet bel berulang kali tetapi tak ada jawaban sama sekali padahal mobil pria itu terparkir rapih di halaman.Jihan sudah hampir menyerah, beranggapan jika mungkin saja Fakhri memang tidak ada disana.Ia rasanya sudah diambang frustasi, Daffa yang selama ini selalu jadi tempat peraduannya juga sudah tidak pernah datang menemuinya.Semua orang terasa menghilang dan menjauh dari jangkauannya, Jihan benar-benar sendirian.Ia memencet bel sekali lagi dengan perasaan kesal sebelum berbalik untuk pergi, tapi disaat bersamaan pintu rumah itu terbuka pelan, menampilkan Fakhri di baliknya.Langkah Jihan tertahan, ia tidak serta merta menghampiri pria itu padahal niatnya ia datang mencari Fakhri untuk menuntut pernikahan secepat mungkin.Ia ingin menghasutnya agar segera menceraikan Ayyana yang kini sudah pergi entah kemana sesuai keinginannya.Tapi melihat keadaan pria itu sekarang, hat
"Ayyana?" Seru pria itu. Ayyana pun sontak berbalik dan mendapati Haikal dengan raut wajah kaget atau mungkin lebih ke -bingung. "Lo masih di sini?" Tanya pria saat sampai di hdapannya. "Gue pikir lo juga udah balik, bareng sama Dita dan Ilham." "Gue masih butuh liburan," cengir Ayyana mencoba terlihat santai. "Jangan bilang lo disini liburan sama suami?" Haikal menatap sekeliling lalu bertanya lagi, "Mana suami lo? Due pengen tahu cowok mana sih yang berhasil menaklukan hati seorang Ayyana." Kalimat itu merubah raut wajah Ayyana menjadi senyum tipis, "Nggak ada gue sendirian, suami gue lagi sibuk di kantor." Ayyana yang tak ingin Haikal semakin menggali persoalan tentang suaminya, segera menempel kembali foto tadi dan mengajak Haikal mencari tempat duduk. "Kita makan dulu, yuk! Lo udah dapat meja belum?" Namun pria itu seakan tidak mendengarnya sama sekali dan justru malah beralih meraih foto yang Ayyana ambil tadi, "Ini suami lo?" Ayyana mengangguk polos, "Iya, lo k
Jika biasanya sepulang kantor Ayyana akan langsung disambut dengan makanan jadi di meja makan, setelah menikah kebiasaan itu seakan hilang ditelan bumi. Kali ini semuanya harus ia siapkan sendiri, memasak, merapikan rumah, semuanya.Seperti sekarang, begitu sampai ia langsung bergegas ma
"Bagaimana keadaan Jihan?" Tanya Papi Fakhri sembari menikmati secangkir kopi di ruang tengah."Dia baik." Singkat Fakhri."Papi dengar dia sakit?"Fakhri menautkan alis, "Papi tahu dari mana?"Seingatnya, ia tidak pernah membicarakan soal itu dengan sang Papi. Atau mungkin Daffa yang memberi tahu.
Ayyana menggeleng, "Nggak apa-apa, itu kan tanggung jawab kamu." Fakhri menurunkan badan, berlutut di depan Ayyana yang duduk di kasur. Ia menatap Ayyana dengan perasaan bersalah yang amat dalam. "Maaf Aya," ucapnya meraih tangan Ayyana. Kalimat itu bu
"Nah, kamu nginap disini aja sampai suamimu pulang, jangan tinggal di rumah sendiri." Ucap Winda begitu mereka sampai di rumahnya. Mertuanya itu mengajak Ayyana ke rumahnya tanpa menerima penolakan, kesal dengan tindakan Fakhri yang menurutnya sangat tidak bertanggung jawab.







