Masuk"Lah Mami lo sakit?"
Perhatian Ayyana ikut teralihkan mendengar pertanyaan Fakhri. "Sakit apa? Kok Mami nggak ada hubungin gue?" Cecar Fakhri yang tak mendapat kabar apapun dari Maminya sendiri.'Eh, apa sih?' Daffa jadi ikutan pnik mendengar Fakhri. "Bukan itu maksud gue elah.""Lo tadi bilang Mami lo lagi nggak baik."'Bukan sakit.' Perjelas Daffa."Ya terus?"'Kurang lebih dua bulan yang lalu, Mami minta gue buat pulang tapi nggak gue tDi kamarnya saat ini Ayyana berbaring nyaman di kasur dengan masih mengenakan mukena yang belum sempat ia lepas setelah sholat subuh tadi.Sementara di dekatnya ada Fakhri yang sibuk mengemasi barang-barangnya untuk di bawa pulang."Ada satu lagi baju aku di keranjang," instruksi Ayyana mengingat baju yang dipakainya kemarin ke kantor dengan suara agak serak.Entah kenapa begitu bangun subuh tadi perempuan itu merasa tidak enak badan dan justru malah berakhir demam.Fakhri sendiri sudah menawarkan agar mereka menginap semalam lagi disana, setidaknya sampai Ayyana merasa agak baikan. Tapi Ayyana menolak dengan alasan sudah merindukan rumahnya.Setelah mengemasi semua barang sang istri, Fakhri beranjak menghampiri Ayyana, mengecek suhu tubuhnya kembali."Yakin mau pulang? Nanti di jalan malah pusing." Kata Fakhri mengusap lembut kepala sang istri.Ayyana hanya membalas dengan gumaman lalu bergerak memindahkan kepalanya dari bantal ke paha Fakhri dan kembali
Sekitar jam sebelas malam, Fakhri tiba di kediaman mertuanya. Kali ini ia pulang tanpa memberitahu Ayyana, ia tidak ingin merepotkan sang istri untuk menjemputnya di bandara tengah malam seperti ini. "Mampir dulu Bay," tawar Fakhri pada Bayu sebelum turun dari mobil. "Lain kali deh, nggak enak bertamu selarut ini." Tolak Bayu. Fakhri pun mengucapkan terima kasih pada teman sekaligus sekretarisnya itu kemudian beranjak turun yang di timpali Bayu dengan peringatan agar sang bos tidak lupa mengirimkan bonus uang lembur sebagai upah telah menjemputnya. "Siap." Jawab Fakhri enteng lalu memasuki gerbang setelah Bayu melesat pergi lebih dulu. Tak lupa ia menjawab sapaan satpam yang berjaga, menanggapi sedikit pertanyaan beliau seputar kedatangannya yang tiba-tiba sebelum masuk. Tapi ada satu hal yang mencuri perhatian Fakhri, selain mobil Ayyana, ada satu lagi mobil lain yang terparkir di halaman itu, mobil berwarna hitam yang terasa cukup asing baginya. Dan saat mengetuk pintu, rasa
"Aku nggak mau!" Sentak Jihan keras, bahkan sebelum Daffa menyelesaikan penjelasannya ia sudah menyela tanpa ragu.Jihan menunjuk Fakhri dengan tajam, "Kak Fakhri benar-benar nggak bertanggung jawab. Aku cuma minta nikah apa susahnya?""Saya sudah menikah Jihan!""Pria bisa menikah lebih dari sekali.""Tapi saya tidak akan menduakan istri saya." Tegas Fakhri sekali lagi.Jihan menyugar rambut acak-acakannya dan tersenyum miring. "Mentang-mentang Kak Fakhri udah bahagia sama perempuan lain jadi sekarang Kakak seenaknya mau lempar aku ke Kak Daffa.""Gue yang mau nikahin lo sendiri Jihan, ini bukan permintaan Fakhri." Jelas Daffa angkat suara."Aku nggak mau Kak!" Balas Jihan cepat, "Aku hanya akan menikah dengan Kak Fakhri.""Gue sama Fakhri nggak ada bedanya.""Beda."Fakhri bangkit menengahi, "Pilihannya hanya dua, menikah dengan Daffa atau tanda tangani surat itu dan masuk keluarga kami sebagai anak angkat. Hanya itu tawaran yang bisa kami b
"Lo gila ya!" Sentak Fakhri, bukan pada Jihan tapi pada Daffa.Setelah berhasil menghentikan aksi nekat Jihan dan mengurungnya di kamar, Fakhri beralih menyeret Daffa untuk bicara berdua."Gue udah pikirin semuanya semalam dan ini keputusan yang terbaik." Jelas Daffa. "Lo sama Aya udah seharusnya melanjutkan hidup dengan normal, dan Jihan? Yang dia tuntut cuman orang yang mau nikahin dia kan? Jadi, biar gue yang ambil peran itu."Fakhri tak habis pikir dengan jalan pikiran Daffa, "Kenapa lo selalu mengorbankan diri buat jadi tameng di masalah ini Daf?"Kedua tangan Fakhri mencengkeram sisi lengan Daffa, "Lo lupa sama Dita hah? Lo nggak pengen nikah sama cewek yang lo suka?"Daffa tersenyum miris, "Dita udah nolak gue Fakhri, dan mungkin nggak akan lama lagi dia akan nikah sama laki-laki pilihan orang tuanya.""Jadi karena itu lo mau ngorbanin diri untuk nikah sama Jihan?" Itu bukan pilihan yang tepat menurut Fakhri. "Kalau sejak dulu lo pernah sekali ajah men
"Menurut Kak Fakhri, apa masih ada laki-laki yang mau menghabiskan sepanjang hidupnya bersama perempuan sebatang kara dan cacat kayak aku?" Seru Jihan. Ia menepuk perutnya berkali-kali, "Aku cacat, udah nggak sempurna Kak. Di dalam sana udah nggak ada lagi rahim yang bisa menjadikan aku seorang ibu, lalu apa alasan yang bisa membuat aku melepas Kak Fakhri?" Jihan percaya, selain Fakhri jelas tak akan ada pria lain yang berniat menikahinya. Tak mungkin ada pria bodoh yang akan dengan sadar mengorbankan hidup untuk bersama perempuan yang tidak akan bisa memberinya keturunan. Hanya Fakhri, dengan dalih sebagai pertanggung jawaban juga sekaligus sebagai pelampiasan rasa bersalahnya sendiri. "Tapi saya sudah menikah Jihan." Jihan menyeka air matanya dan menatap Fakhri serius, "Kalau Kak Fakhri ceraikan perempuan itu, aku nggak akan mempermasalahkan status Kakak. Aku terima Kak Fakhri kembali dengan senang hati."
Di ruang tengah apartemen, amukan Jihan kembali terjadi, kali ini sasarannya adalah Fakhri secara langsung.Setelah pria itu sampai, bahkan sebelum ia mengeluarkan sepatah kata pun Jihan sudah menodong dengan berbagai kalimat cacian dan makian.Bukan hanya itu, Jihan bahkan meraung dan menangis sejadi jadinya, tampak begitu kacau dan kecewa akan kebohongan yang telah Fakhri lakukan selama ini."KAK FAKHRI JAWAB!" Bentak Jihan memukuli tubuh Fakhri yang sejak tadi berusaha menenangkannya.Selain itu, juga ada Daffa yang entah sudah berapa banyak membentak Jihan balik tapi tetap tak dapat meredakan amukannya."Kita bicara baik-baik setelah kamu tenang." Seru Fakhri, tak akan ada penyelesaian jika Jihan terus saja mengamuk dan percuma juga ia menjelaskan.Daffa mencoba menarik Jihan lagi, "Kamu selalu pengen ketemu dan bicara sama Fakhri kan? Jadi tenangin diri kamu dulu."Tapi Jihan terus saja berontak, "Kak Fakhri bilang
"Sebelumnya Mami minta maaf kalau Mami terkesan ingin ikut campur dengan persoalan rumah tangga kalian." Kata Dania tak ingin membuat kesalahpahaman diantara mereka semakin melebar."Kamu tau kan, pernikahan kalian adalah hasil perjodohan dari keluarga, meskipun kami sama sekali tidak memaksa
Hari ini, Ayyana sudah diizinkan untuk pulang dan ia begitu bahagia saat sampai di rumah karena semua keluarganya berkumpul disana.Yang paling antusias menyambutnya adalah Gio, ia hanya pernah menjenguk Ayyana sekali jadi rasanya begitu bahagia saat tantenya itu bisa pulang.Gi
Mata Ayyana mengerjap pelan, mencoba menyesuaikan cahaya yang menusuk indra penglihatannya.Hal pertama yang bisa ia tangkap adalah ruangan serba putih dengan pencahayaan terang, pandangannya bergeser pelan mengitari ruangan tersebut hingga dilihatnya sosok Fakhri yang duduk di kursi sampingnya sam
Diruang makan sedang berkumpul semua para perempuan untuk menikmati sarapan, para laki-laki pula sudah sarapan lebih dulu dan tengah bersiap ke kantor.Termasuk Fakhri, setelah beberapa hari tidak masuk ia memutuskan untuk berangkat kerja hari ini.Begitu selesai mengenakan pakaiannya Fak







