LOGIN"Mau di pijit nggak?" Tanya Fakhri mendekati Ayyana yang duduk setengah berbaring di kasur.
"Enggak usah, Mas juga pasti capek kan.""Kalau cuma buat mijit kamu sih, masih kuat sayang."Ayyana tetap menolak, ia lebih memilih menyandarkan kepalanya di bahu pria itu. Keduanya duduk bersandar di kepala ranjang sambil menikmati tayangan televisi."Belum ngantuk?" Tanya Fakhri setelah beberapa lama.Ayyana mendongak menatap Fakhri yang tampak menguap, "Mas tidur duluan ajah." K"Lo gila ya!" Sentak Fakhri, bukan pada Jihan tapi pada Daffa.Setelah berhasil menghentikan aksi nekat Jihan dan mengurungnya di kamar, Fakhri beralih menyeret Daffa untuk bicara berdua."Gue udah pikirin semuanya semalam dan ini keputusan yang terbaik." Jelas Daffa. "Lo sama Aya udah seharusnya melanjutkan hidup dengan normal, dan Jihan? Yang dia tuntut cuman orang yang mau nikahin dia kan? Jadi, biar gue yang ambil peran itu."Fakhri tak habis pikir dengan jalan pikiran Daffa, "Kenapa lo selalu mengorbankan diri buat jadi tameng di masalah ini Daf?"Kedua tangan Fakhri mencengkeram sisi lengan Daffa, "Lo lupa sama Dita hah? Lo nggak pengen nikah sama cewek yang lo suka?"Daffa tersenyum miris, "Dita udah nolak gue Fakhri, dan mungkin nggak akan lama lagi dia akan nikah sama laki-laki pilihan orang tuanya.""Jadi karena itu lo mau ngorbanin diri untuk nikah sama Jihan?" Itu bukan pilihan yang tepat menurut Fakhri. "Kalau sejak dulu lo pernah sekali ajah men
"Menurut Kak Fakhri, apa masih ada laki-laki yang mau menghabiskan sepanjang hidupnya bersama perempuan sebatang kara dan cacat kayak aku?" Seru Jihan. Ia menepuk perutnya berkali-kali, "Aku cacat, udah nggak sempurna Kak. Di dalam sana udah nggak ada lagi rahim yang bisa menjadikan aku seorang ibu, lalu apa alasan yang bisa membuat aku melepas Kak Fakhri?" Jihan percaya, selain Fakhri jelas tak akan ada pria lain yang berniat menikahinya. Tak mungkin ada pria bodoh yang akan dengan sadar mengorbankan hidup untuk bersama perempuan yang tidak akan bisa memberinya keturunan. Hanya Fakhri, dengan dalih sebagai pertanggung jawaban juga sekaligus sebagai pelampiasan rasa bersalahnya sendiri. "Tapi saya sudah menikah Jihan." Jihan menyeka air matanya dan menatap Fakhri serius, "Kalau Kak Fakhri ceraikan perempuan itu, aku nggak akan mempermasalahkan status Kakak. Aku terima Kak Fakhri kembali dengan senang hati."
Di ruang tengah apartemen, amukan Jihan kembali terjadi, kali ini sasarannya adalah Fakhri secara langsung.Setelah pria itu sampai, bahkan sebelum ia mengeluarkan sepatah kata pun Jihan sudah menodong dengan berbagai kalimat cacian dan makian.Bukan hanya itu, Jihan bahkan meraung dan menangis sejadi jadinya, tampak begitu kacau dan kecewa akan kebohongan yang telah Fakhri lakukan selama ini."KAK FAKHRI JAWAB!" Bentak Jihan memukuli tubuh Fakhri yang sejak tadi berusaha menenangkannya.Selain itu, juga ada Daffa yang entah sudah berapa banyak membentak Jihan balik tapi tetap tak dapat meredakan amukannya."Kita bicara baik-baik setelah kamu tenang." Seru Fakhri, tak akan ada penyelesaian jika Jihan terus saja mengamuk dan percuma juga ia menjelaskan.Daffa mencoba menarik Jihan lagi, "Kamu selalu pengen ketemu dan bicara sama Fakhri kan? Jadi tenangin diri kamu dulu."Tapi Jihan terus saja berontak, "Kak Fakhri bilang
Daffa tidak bisa terus menerus seperti ini, ia juga ingin bisa berdamai dengan dirinya, seperti Fakhri. Ia kembali mengambil ponsel dan mengirimkan pesan lagi pada Dita. 'Ayo kita nikah.' Isi pesannya. Singkat dan langsung to the point, tidak seperti pesan sebelumnya. Setelah itu, ia melempar ponselnya ke kasur dan meraup wajahnya sendiri. Apa yang akan di pikirkan Dita begitu melihat pesannya? Apakah ia akan dianggap gila? oOoOo Keesokannya, Daffa melakukan aktivitas seperti biasa, setelah membuat sarapan untuknya dan Jihan, ia duduk di meja makan dan kembali mengecek ponsel. Menanti pesan balasan dari Dita yang tak kunjung datng sejak semalam padahal pesannya sudah di baca. Helaan napas terdengar dari pria itu, namun baru saja meletakkan ponsel, benda itu tiba-tiba saja berdering. Ia terlonjak dengan semangat meraih ponselnya lagi, berharap itu panggilan dari orang yang ia tunggu-tunggu teta
"Kata Daffa, dia ngamuk.""Ngamuk?""Jihan itu tempramental, mungkin faktor dari kejadian saat kecelakaan keluarganya, emosi Jihan kadang jadi sulit dikendalikan. Kalau ada hal yang nggak sesuai sama keinginannya, dia akan melakukan berbagai hal, kayak ngamuk atau bahkan mencoba mencelakai dirinya sendiri.""Tapi dia baik-baik ajah kan sekarang?" Itu yang paling penting, meski Ayyana tahu bahwa mustahil rasanya baik-baik saja setelah tahu kenyataan seperti itu."Ada Daffa sayang, dia bisa nanganin Jihan jauh lebih baik dari aku.""Gimana kalau kita samperin dia?" Cicit Ayyana pelan, itu jelas bukan jalan terbaik, tapi apa yang lebih baik dari pada membiarkan Jihan seolah tergantung tanpa penjelasan pasti dari pihak yang bersangkutan?Kalau Ayyana ada diposisi yang sama, ia jelas akan jauh lebih tenang setelah membicarakan semuanya secara langsung pada Fakhri, agar masalah tidak semakin berlarut."Aku memang berencana unt
Dengan usil Fakhri mengangkat tubuh Ayyana ke ranjang. "Mas!" Protes Ayyana menggeplak lengan Fakhri. "Udah diperingatin kan tadi." "Aku bilang 'heh' bukan 'hah'." Katanya mendorong Fakhri. "Jangan lari dari penjelasan kamu." Ayyana beralih duduk dan bersedekap. "Jadi dulu kamu sempat mau nikah sama Jihan? terus kamu masih bilang kalau kalian nggak pernah ada hubungan, iya?" Fakhri kembali ke mode serius. "Aku murni anggap Jihan sebagai adik, sayang. Dari dulu sampai sekarang." "Tapi kenapa aku sempat mengiyakan permintaan dia? Karena aku mikirnya saat itu, mungkin itu salah satu cara untuk aku tebus kesalahan ku sama Jihan. Juga sebagai bentuk perwujudan tanggung jawab ku untuk memenuhi permintaan terakhir Reza." Situasi diantara mereka dalam sekejap kembali sendu, Ayyana bisa menangkap sorot kesedihan yang masih tertanam dalam hati suaminya. Tatapan yang sama dengan apa yang selama ini ia lihat setiap kali Fakhri kembali dari luar negeri, tatapan yang dulunya ia pikir hanya
"Tidur sama Ayah aja, sempit di situ.""Nggak, aku akan tetap jagain kamu disini." Kata Fakhri mantap. "Aku izinin kamu tidur sama Ibu sama Gio, tapi syaratnya aku tetap di kamar yang sama.""Tapi__""Kalau kamu keberatan ya udah, Ibu nggak usah tidur disini."
"Ayy?""Hm?"Dita tampak menimbang sejenak seakan ragu dengan apa yang akan ia sampaikan."Kenapa sih? Ada masalah?" Tanya Ayyana melihat keraguan di mata perempuan itu."Gimana ya ngomongnya." Dita menarik napas pelan sebelum melanjutkan. "Tapi lo jangan ketawain gue ya?"Ker
Di ruang tengah, Dania hanyut dalam pikirannya sendiri. Ada beberapa hal yang terasa menggajal dalam hatinya, tapi juga tidak bisa memecahkan kejanggalan itu.Dari arah tangga, Rama yang melihatnya mendekat dan memecah keheningan yang menyelimuti sang istri."Mami lagi mikirin a
Fakhri menyusul di sofa seberangnya, "Jujur aku kaget waktu Aya cerita, Papi tau sendiri kan gimana sikap Mami."Setelah kejadian Ayyana kecelakaan saat itu, Fakhri memang sempat meminta Papinya untuk tidak memberi tahu Maminya terkait foto yang membuat Ayyana marah.Yang Fakhri







