Share

BAB 06

Auteur: Langit Parama
last update Date de publication: 2025-12-02 11:30:19

“Mas,” panggil Djiwa lirih ketika dirinya dan sang suami masuk ke kamar usai makan malam.

Kaisar langsung berbalik badan, menatap Djiwa dengan tatapan dingin dan tajam.

Sudut bibir pria itu terangkat membentuk senyum miring. “Pinter kamu sekarang. Kamu tahu kalau Mas Radja itu paling ditakuti keluarga ini, makanya kamu minta bantuan dia.”

Djiwa mengerutkan kening, tak paham dengan ucapan sang suami. “Ma-maksud Mas apa?”

“Gak usah pura-pura bodoh!” sentak Kaisar dengan nada tinggi, suaranya naik satu oktaf.

Ia mengangkat tangannya, dan menunjuk Djiwa tajam. “Kamu pasti ngadu, kan, ke Mas Radja? Kamu pasti ngeluh ke dia, kalau kamu capek dijadikan babu selama ini.”

Karena Kaisar pun tahu, meski sikap kakaknya keras—Radja paling tidak tegaan dengan orang yang benar-benar datang padanya sambil mengadu dan menangis.

Kaisar yakin, Djiwa melakukan hal tersebut—menurut bayangannya sendiri.

“Makanya itu, kamu ngemis-ngemis kerjaan ke Mas Radja supaya bisa bebas dari kerjaan rumah, iya?” lanjut Kaisar, matanya menatap sang istri tajam—rahangnya mengeras.

Djiwa menggeleng cepat. “Nggak, Mas. Djiwa gak ada ngelakuin itu. Djiwa—“

“Wa,” potong Kaisar dingin. “Siapapun udah bisa nebak. Karena gak mungkin Mas Radja nawarin kerjaan ke kamu, kalau bukan kamu sendiri yang ngemis-ngemis.”

Hati Djiwa mencelos. Apakah seburuk itu dirinya, hingga sama sekali tidak pantas mendapatkan pekerjaan yang layak selain menjadi pembantu di rumah suaminya sendiri?

Niatnya dia ingin bertanya pada sang suami, apakah Kaisar memberikan izin dirinya untuk bekerja dengan sang kakak ipar. Tapi kemarahan Kaisar barusan, sudah menjawab semuanya.

“Jadi, Mas Kaisar gak setuju kalau Djiwa ikut kerja dengan Mas Radja?” tanya gadis itu lirih, kepalanya tertunduk untuk menyembunyikan rasa kecewanya.

Padahal dia sudah merasa sangat senang sekali bisa bekerja di perusahaan besar sebagai posisi sekretaris—posisi yang tak mudah didapatkan oleh lulusan sepertinya.

Apalagi dia tidak memiliki pengalaman kerja sama sekali.

“Mas ….” suara Djiwa hampir tak terdengar. Ia menatap suaminya dengan mata penuh ragu, menunggu jawaban—apakah ia boleh bekerja bersama Radja atau tidak.

“Kalau Mas gak izinin Djiwa kerja ikut Mas Radja, gak apa-apa, kok. Djiwa gak akan maksa.”

Nada itu lembut, tapi jelas menyimpan kecemasan.

Kaisar memejamkan mata sesaat, menghembuskan napas panjang dan kasar melalui hidung.

Dia benar-benar tidak ingin terlibat urusan dengan Radja. Kalau dia bilang tidak, kakaknya itu pasti akan menginterogasi.

Bukan sekadar bertanya—tapi menggali seluruh alasan sampai ke akar, menyeretnya dalam tekanan yang tidak ingin dia hadapi hari ini maupun besok.

Radja bukan tipe yang menerima penolakan.

Apalagi, ucapan Radja bukan sekadar permintaan, melainkan perintah seorang anak pertama—pewaris utama keluarga Reinard yang selama ini bertindak sebagai pengganti tetua.

Dan tidak ada satu pun di rumah itu yang berani membantahnya.

“Aku gak peduli kamu mau kerja sama siapa,” ujar Kaisar, suaranya rendah tapi dingin. “Yang penting, pekerjaan itu gak boleh ganggu tujuan utama kamu.”

Ia mendekat selangkah, menatap Djiwa tanpa berkedip.

“Kamu tetap harus hamil dalam waktu dekat ini, Wa. Sibuk atau nggak, kerja atau nggak,” rahangnya mengeras, “Itu bukan alasan buat kamu gagal.”

_____

Keesokan harinya. Hari ini menjadi hari pertama Djiwa bekerja setelah satu tahun berlalu sejak ia lulus kuliah—dan satu tahun menjalani kehidupan sebagai istri Kaisar.

Gadis cantik itu akan memulai peran barunya sebagai seorang sekretaris.

Bermodalkan ijazah diploma tiga dan penampilan yang ia rapikan seadanya, Djiwa berdiri di depan cermin.

Riasannya sederhana—hanya bedak tipis, sedikit blush, dan lipstik natural, namun tetap memancarkan kecantikan lembut yang khas darinya.

Kaisar muncul dari kamar mandi. Pria itu baru saja selesai mandi, masih mengenakan handuk putih yang melilit di pinggang lebarnya.

Tatapannya yang dingin tertuju pada istrinya yang duduk di meja rias.

“Kantor masuk jam delapan, ngapain kamu siap-siap jam segini?” celetuk Kaisar sembari berjalan ke arah lemari untuk mengambil pakaian.

“Mas,” Djiwa menoleh, menatap punggung tegap sang suami. “Ini kan hari pertama Djiwa kerja, Mas. Jadi gak mau sampai telat. Sekalipun yang punya perusahaan keluarga sendiri.”

“Tapi ini keawalan, Wa,” balas Kaisar dengan nada dingin. “Memangnya kamu gak mau masak? Beres-beres rumah?”

Pria itu berbalik badan, menatap Djiwa dengan tatapan sinis. Lalu melanjutkan masih dengan nada dingin.

“Inget, tugas kamu beres-beres rumah itu udah kewajiban. Jangan karena kamu udah kerja kantoran, kamu merasa bebas dari tugas wajib itu!”

Djiwa tersenyum kecil, tetap terlihat tenang. “Udah dong, Mas. Kan Djiwa bangun subuh langsung beres-beres rumah sama Mbok. Dan tadi jam enam pagi udah masak buat sarapan.”

“Djiwa gak akan pernah lupa kok, kalau posisi Djiwa cuma di bawah.” Ia menghela napas pelan, menahan getir yang mengalir di ujung suaranya.

“Di rumah dianggap babu, di kantor pun nanti pasti sama aja, kan?”

Kaisar tak menjawab. Membawa pakaian yang sudah dia ambil dari lemari ke kamar mandi, dan mengenakannya di sana seperti biasa yang dia lakukan sejak mereka menikah.

Djiwa menghela napas pelan sambil mengusap dadanya karena barusan masih saja berani menjawab ucapan sang suami. Beruntung Kaisar tidak meledak lagi.

_____

Tepat pukul setengah delapan pagi. Sebagian anggota keluarga Reinard berangkat kerja, termasuk Djiwa untuk pertama kalinya.

Di rumah hanya menyisakkan Sekar dengan sang cucu yang bungsu—Aprilia, serta kedua pembantu yang bekerja di rumah tersebut.

Seperti biasa, mereka selalu berpamitan sebelum berangkat pada orang tua mereka.

Sekar duduk di ruang tengah, koran terbuka di tangannya—meski sejak tadi matanya lebih sering mengawasi menantunya dibanding membaca.

“Saya berangkat, Mi,” Radja lebih dulu berpamitan.

Inggrit menyusul dengan senyum tipis. “Mami, kami berangkat dulu.”

Sekar mengangguk kecil, matanya lembut pada pasangan itu.

Sultan dan istrinya maju. “Mi, kami berangkat.”

“Hati-hati,” jawab Sekar ramah.

Lalu Kaisar dan Djiwa yang terakhir.

“Kami pergi dulu, Mi,” ucap Kaisar.

“Iya, hati-hati,” Sekar menanggapi putranya.

Djiwa menunduk sopan. “Djiwa pamit—”

Belum selesai, Sekar sudah kembali menatap korannya, seolah suara menantu bungsunya hanyalah angin lewat. Seolah Djiwa tak berada di sana.

Kaisar memalingkan wajah, pura-pura tidak melihat ketegangan itu. Djiwa memaksakan senyum kecil, meski suaranya tercekat.

“Permisi, Mi,”

Tidak ada jawaban, hanya suara kertas koran yang digesek pelan.

Di luar mansion, beberapa mobil milik masing-masing sudah siap dikendarai.

Sultan melirik sang istri yang berjalan di sebelahnya, “Hari ini kamu pakai mobil sendiri saja, aku buru-buru karena ada pasien kritis.”

Fairish sedikit tercengang, sebelum sempat dia berbicara—Sultan sudah lebih dulu masuk ke mobilnya dengan langkah cepat.

Mobil pria yang berprofesi sebagai dokter itu akhirnya dengan cepat meninggalkan halaman mansion, seolah dia benar-benar darurat.

“Emang gak bisa, ya, ngomong dulu sebelum berangkat?” celetuk Fairish, kesal karena harus mengeluarkan mobil dari garasi dan menunggu mesin dipanaskan.

Begitu melihat Kaisar berjalan menuju mobilnya, Fairish langsung menghampiri sambil berteriak cukup keras.

“Kai, aku ikut kamu, ya. Kita kan searah,” ujarnya cepat—tanpa menunggu jawaban, langsung membuka pintu dan duduk di kursi samping kemudi.

Kaisar tertegun sejenak. Tatapannya kemudian beralih pada Djiwa yang berdiri tak jauh darinya, jelas melihat Fairish yang tadi langsung masuk mobil sang suami tanpa izin pemilik.

“Mas … Djiwa ikut, ya?” ucap Djiwa pelan, penuh harap. “Djiwa duduk di belakang, gak apa-apa.”

“Kita gak searah. Kamu naik taksi aja,” balas Kaisar dingin, sebelum masuk mobil dan menyalakan mesin.

Mobil itu melaju keluar dari halaman mansion, meninggalkan Djiwa berdiri sendirian di halaman. Angin pagi menusuk kulitnya, menyapu rambutnya pelan. Napasnya tercekat.

Djiwa menatap gerbang yang mulai menutup otomatis, menatap jam di pergelangan tangannya.

“Gimana kalau aku telat, di hari pertama aku kerja?” gumamnya lirih.

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (4)
goodnovel comment avatar
Princess Virgo
Jadi eombantu di rumah ortu kandung snr..
goodnovel comment avatar
Suryat
jangan jangan sultan punya WIL makanya gak mau bareng fairish
goodnovel comment avatar
Syarwiyah
kalau keluarga kaya banget pembantu jangan 2 doong
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Latest chapter

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 507

    Djiwa menatap tas tenteng di sampingnya, berisi pakaian ganti untuk ketiga anaknya yang semula ia siapkan untuk di rumah sakit. Rencana itu kini terasa sia-sia, buyar begitu saja sejak Radja memutuskan pulang dan bahkan langsung kembali bekerja. Kini ia duduk diam di dalam mobil, terparkir di halaman Sekolah Dasar Lumina, menunggu anak-anaknya pulang dengan perasaan yang tak menentu. Tak lama, tiga sosok kecil yang selalu menjadi penguatnya muncul dari gerbang sekolah. Regan, Naren, dan Ratu berjalan berdampingan bersama Binar, tangan mereka saling bertaut. “Itu Mommy udah jemput!” seru Ratu riang, langsung melepaskan genggaman tangannya dari Binar. “Kak, Ratu duluan, ya!” “Iya,” balas Binar sambil tersenyum. Ketiga anak itu berlari kecil menuju mobil dan segera masuk ke dalam. “Kita langsung ke rumah sakit, kan, Mom?” tanya Ratu begitu duduk di samping Djiwa. Wajahnya penuh harap. “Gimana keadaan Daddy sekarang?” Djiwa tersenyum tipis, meski ada yang terasa pahit di dadanya.

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 506

    Ucapan itu menghantam Djiwa tanpa ampun. Ia terdiam. Benar-benar terdiam. Bibirnya terbuka sedikit, seolah ingin membalas, namun tak satu kata pun mampu keluar. Tatapannya terpaku pada Radja. Seseorang yang biasanya selalu bisa ia ajak bicara, kini terasa begitu jauh. Tak ada kelembutan seperti biasa. Hanya sikap dingin yang terasa asing. Radja tak berkata apa-apa lagi. Ia hanya menatap Djiwa sekilas, lalu berbalik. Langkahnya tegas. Seakan tak ada lagi yang perlu dijelaskan. Arga yang sejak tadi berdiri kaku, segera mengikuti di belakangnya tanpa berani menoleh. Pintu terbuka lalu tertutup kembali. Meninggalkan Djiwa sendirian. Begitu sunyi hingga suara detak jantungnya sendiri terasa menyakitkan. Djiwa masih berdiri di tempatnya. Tak bergerak. Namun perlahan dadanya mulai terasa sesak. Napasnya memburu. Kata-kata Radja kembali terngiang. ‘Ini tubuh saya … dan ini keputusan saya.’ Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan. “Salah … ya, aku?” bisiknya lirih. Tangannya terangkat, m

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 505

    “Kalian mulai hari ini masuk sekolah lagi, ya,” ucap Djiwa lembut pada ketiga anaknya. “Udah hampir satu minggu kalian libur. Jadi setelah sarapan, langsung siap-siap. Mommy yang anter.” Ketiganya saling pandang, lalu mengangguk bersamaan. “Oke, Mom.” “Tapi nanti pulang sekolah kita ke rumah sakit lagi, ya, Mom. Mau ketemu Daddy,” sahut Ratu sebelum bangkit dari kursinya. Djiwa tersenyum kecil. “Iya, sayang.” “Langsung dari sekolah aja, ya. Nggak usah pulang dulu,” tambah Ratu antusias. “Bawa baju ganti dari sekarang biar praktis.” “Iya, Nak,” jawab Djiwa sabar. Naren ikut menimpali, “Terus Mommy, habis anter kita langsung ke rumah sakit, ya. Temenin Daddy. Kasihan Daddy sendirian.” Djiwa mengangguk pelan, hatinya menghangat sekaligus sesak. “Iya, sayang.” “Kalau gitu, yang sudah selesai makan langsung siap-siap, ya.” “Oke!” _____ Setelah mengantar ketiga anaknya ke sekolah, Djiwa langsung meminta Aslan membawa mobil ke rumah sakit. Namun alih-alih saat tiba di sana langsu

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 504

    “Gimana keadaan Mas sekarang?” tanya Kaisar hati-hati, menatap kakak tertuanya. Radja yang setengah bersandar di brankar, dengan Ratu yang masih meringkuk di dadanya, hanya menghela napas panjang. “Sudah ... lebih baik,” jawabnya pelan, meski jelas masih menahan lemah. “Syukurlah,” ujar Sekar, melangkah mendekat dan menggenggam tangan putranya erat. “Kamu kecelakaan itu setelah pulang dari rumah Mami, atau sempat ke tempat lain dulu?” Radja menggeleng singkat. Tatapannya kosong sejenak, seperti mencoba mengingat sesuatu yang masih kabur. “Mas tahu, kan … kecelakaan itu karena rem mobil Mas blong?” lanjut Kaisar, suaranya lebih pelan, berhati-hati. Ruangan mendadak sunyi. Radja terdiam. Alisnya sedikit berkerut. Ia mencoba menelusuri ingatannya—jalanan malam itu, lampu-lampu kendaraan. “Aku sama Mas Sultan curiga ada yang nyabotase mobil Mas,” sambung Kaisar lagi. Belum sempat kalimat itu benar-benar selesai, tiba-tiba ekspresi Radja berubah. Napasnya tercekat. Tangannya reflek

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 503

    Sudah lebih dari satu jam Djiwa duduk menunggu. Namun pintu itu masih tertutup rapat. Tak ada tanda-tanda akan terbuka. Ia melirik jam di pergelangan tangan kirinya. Pukul enam sore. Langit di luar sana pasti sudah menggelap, menyisakan sisa-sisa cahaya yang perlahan ditelan malam. “Sebentar lagi makan malam,” gumamnya pelan, tatapannya kembali jatuh pada pintu di hadapannya. Hening. Lalu sebuah pikiran kembali menyelinap, menikam tanpa aba-aba. ‘Apa mungkin … Mas Radja bener-bener gak mau ketemu aku?’ Djiwa menelan ludahnya susah payah. Sudut bibirnya terangkat tipis, senyum yang terasa pahit. Belum sempat ia tenggelam lebih jauh dalam pikirannya, suara langkah kaki dari lorong membuatnya tersentak. Ia menoleh cepat. Sekar datang. Diikuti Kaisar dan Karin di belakangnya. Djiwa segera berdiri. “Karin ….” sapanya lirih. Karin membalas dengan senyum kecil, lalu menghampiri. “Kamu udah lebih baik, Wa?” tanyanya lembut. Djiwa mengangguk pelan. “Udah, Rin.” “Anak-anak kamu di m

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 502

    “Mas Radja sudah sadar, Kai. Tapi sebaiknya kamu dan Mami kalau mau datang nanti malam saja. Biar Djiwa dan anak-anaknya yang menemui dulu,” ucap Sultan melalui sambungan telepon. Ia baru saja mendapat kabar dari Djiwa—Radja telah siuman, meski masih dalam pemeriksaan dokter. Di sisi lain, Djiwa dan ketiga anaknya duduk di depan ruang rawat inap. Menunggu. Cemas. Harap dan takut bercampur jadi satu. Tak lama kemudian pintu terbuka. Djiwa langsung berdiri, diikuti ketiga anaknya. “Bagaimana kondisi suami saya, Dok?” tanyanya, suaranya tak bisa menyembunyikan kegelisahan. Dokter itu tampak terburu-buru. “Tuan Radja ingin bertemu dengan ketiga anaknya,” ucapnya singkat. Djiwa tertegun. “Sama anak-anak?” ulangnya, memastikan. Dokter itu mengangguk cepat. “Iya. Untuk saat ini beliau hanya ingin bertemu dengan ketiga anaknya.” Jantung Djiwa seakan berhenti sesaat. Tangannya bergetar. Matanya langsung berkaca. Ia menoleh pada ketiga anaknya. “Kalian masuk dulu, ya,” ucapnya pelan, m

  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 112

    Mbok Iyam ikut terhenti. Alisnya berkerut saat menyadari apa yang baru saja mereka dengar. “Non ….” suaranya lirih, penuh iba. Djiwa tak sanggup melangkah maju. Tak juga sanggup mundur. Dadanya sesak, perutnya terasa mengencang halus—seolah janin kecil di dalam sana ikut merasakan sakit yang sama

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-23
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 95

    “Om, awas Anggi mau lewat,” keluh bocah itu pada sosok bertubuh tinggi yang menghadang jalannya. Kepalanya mendongak, sampai lehernya terasa pegal. Dante menyeringai miring. Tatapannya beralih pada Inggrit yang masih di dalam mobil. Wanita itu jelas melayangkan tatapan tajam dan dingin padanya.

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-22
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 111

    “Anggita, babay ....” seru Celine, anak kecil itu, sambil melambaikan tangan pada temannya yang sudah dijemput orang tuanya lebih dulu. Anggita tersenyum lebar, membalas lambaian Celine dengan senyum lebar. Kemudian tatapannya kembali mencari-cari mobil jemputannya. Akhir-akhir ini, semenjak Radj

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-22
  • Candu Dekapan Kakak Ipar   BAB 99

    Sepanjang perjalanan menuju kantor, pikiran Djiwa tak lepas dari sikap Radja terhadap Anggita. Ia bisa memahami alasan Radja menjaga jarak dari Inggrit, karena sikap wanita itu memang kerap tak pantas dijadikan teladan. Namun Anggita? Anak kecil itu sama sekali tak bersalah. Tak ada satu pun ala

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-22
Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status