LOGINRadja baru saja tiba di Reinard Grand Corporation, perusahaan besar milik keluarganya yang beroperasi di dalam dan luar negeri.
Langkahnya tegas dan berwibawa saat memasuki gedung megah yang tinggi menjulang lima puluh lantai di depannya. Begitu pria matang berusia tiga puluh tiga tahun itu melangkah masuk, suasana lobi langsung berubah. Para karyawan yang sebelumnya asyik berbincang ringan sontak merapikan posisi masing-masing, berdiri lebih tegak, dan memberi jalan untuknya lewat. Aura otoritas Radja memaksa ruangan untuk diam tanpa perlu ia mengucap sepatah kata pun. Kakinya melangkah menuju lift khusus para petinggi perusahaan—lift yang hanya bisa diakses menggunakan kartu identitas eksekutif. Tak sampai satu menit, benda logam persegi panjang itu akhirnya sampai di lantai empat puluh sembilan. Lantai dimana ruangannya berada. Tangannya terulur hendak membuka pintu ruangannya, namun pandangannya terlebih dulu jatuh pada meja kerja sekretaris yang terletak di depan pintu—posisi standar sekretaris eksekutif. Detik berikutnya, ia masuk ke ruangannya sambil menekan sebuah nomor di ponselnya. “Halo, Pak, ada yang bisa saya bantu?” suara Arga—asistennya—terdengar di seberang. “Pindahkan meja sekretaris di depan ruangan saya ke dalam. Letakkan tepat di sebelah kanan meja saya,” perintah Radja, nadanya tegas tanpa ruang sanggah. “Baik, Pak.” Radja berjalan menuju meja kerjanya, lalu duduk dengan tenang di kursi kebesarannya—kursi hitam elegan yang memancarkan wibawa seorang pewaris utama keluarga Reinard. _____ Kini Djiwa telah tiba di perusahaan, diantar sopir dan Mbok Inem. Ia turun dari mobil dengan napas yang sedikit tertahan, mencoba menenangkan degup gugup di dadanya. Ia tidak menyangka hari ini Tuhan berpihak padanya. Mobil pribadi keluarga Reinard yang biasa digunakan untuk mengantar Mbok belanja bulanan kebetulan pagi itu akan ke supermarket. Dan Djiwa mengambil kesempatan itu untuk ikut dengan mereka, meski dia harus meminta maaf berkali-kali karena jarak supermarket dengan perusahaan sangat berbeda jauh. “Permisi,” sapa Djiwa pelan ketika melihat salah satu karyawan berdiri tak jauh dari lobi lift. “Iya, ada yang bisa saya bantu, Mbak?” tanya pria itu—Arga, sambil melirik Djiwa dari ujung kepala sampai ujung kaki. Sepertinya karyawan baru, batinnya. “Perkenalkan, nama saya Adjiva Nadjwa … dipanggil Djiwa. Saya karyawan baru, sekretarisnya Mas Radja. Eh—maksud saya, Pak Rajendra. CEO perusahaan ini.” Djiwa mengulurkan tangan. Arga menyambutnya dengan sopan. “Jadi kamu sekretaris barunya Pak Rajendra?” “I-iya,” jawab Djiwa cepat, gugup tapi berusaha terlihat percaya diri. “Baik, kalau begitu ikut saya.” Arga melepaskan genggamannya dan berjalan lebih dulu, diikuti Djiwa dari belakang. Mereka menaiki lift khusus ke lantai empat puluh sembilan—lantai VIP tempat ruangan Radja berada. Begitu pintu lift terbuka, Arga membawanya masuk ke area kerja yang luas, mewah dan tenang. Tatapannya terhenti pada papan akrilik persegi panjang di atas meja kerja. Di bagian atas tercetak jabatan CEO, dan tepat di bawahnya tertera nama lengkap Radja beserta gelarnya. Rajendra Afnand Reinard, MBA. Djiwa segera beralih pada Arga, mengekori pria itu dan berhenti tepat di depan sebuah meja rapi dengan perlengkapan yang masih baru. “Nah, ini meja kerja kamu,” ujarnya sambil menunjuk meja tersebut. Djiwa mengangguk kecil, tersenyum lembut. “Terima kasih, Pak.” “Iya, sama-sama. Kamu duduk dulu saja. Sebentar lagi Pak Rajendra datang.” “Iya, Pak. Sekali lagi terima kasih, ya. Mohon bimbingannya, soalnya saya benar-benar karyawan baru. Baru pertama kali kerja.” Alis Arga terangkat. Baru pertama kali kerja? Dalam hati ia mendengus kecil. Bagaimana bisa CEO merekrut sekretaris tanpa pengalaman? Apa pakai jalur orang dalam? “Oh … begitu.” Arga menyembunyikan ekspresi herannya. “Kalau begitu, saya permisi dulu.” Djiwa mengangguk singkat, masih dengan perasaan gugup yang menempel di dadanya. Gadis cantik itu melirik sekeliling—setiap sudut ruangan tampak begitu mewah, mulai dari furniture premium hingga jendela full kaca yang memperlihatkan panorama kota dari ketinggian. “Ya Tuhan … aku gugup banget,” gumamnya pelan sambil meletakkan tas dan ponselnya di atas meja kerja barunya. “Aku butuh ke kamar mandi sebentar. Nenangin diri dulu dari tremor.” Tanpa menunggu, ia melangkah cepat menuju kamar kecil yang berada di dalam ruangan VIP tersebut. Pada saat yang hampir bersamaan, pintu ruangan terbuka—memperlihatkan sosok Radja masuk dengan aura dominan yang langsung memenuhi ruangan. Langkahnya terhenti ketika melihat meja kerja Djiwa. Keningnya berkerut pelan. Barang-barang ada, tapi orangnya tidak. “Ke mana dia?” gumamnya rendah sambil mendekat ke meja tersebut. Ting. Ponsel Djiwa yang tergeletak di atas meja berbunyi, menampilkan notifikasi pesan masuk. Secara refleks, mata Radja turun ke layar ponsel itu—dan sontak tatapannya mengeras. | Mas Kai [Wa, temui pria di kartu nama kemarin secepatnya.] Di dalam toilet, Djiwa menarik napas panjang, lalu menghembuskannya perlahan. Gadis itu melakukannya sambil menatap refleksinya dari cermin wastafel. “Bisa, Djiwa ... kamu pasti bisa,” gumamnya menyemangati diri. “Semalem aku udah searching apa aja yang dilakuin sekretaris selain ngurus kerjaan, aku pasti bisa! Semangat.” Klek. Djiwa terlonjak kaget saat pintu toilet dibuka dari luar. Ia terkejut mendapatkan Radja berdiri di ambang pintu dengan tatapan dingin seperti biasa. Bola mata Djiwa membulat kaget. “M-Mas …?” ucapnya terputus ketika Radja melangkah masuk dengan santai. Tatapan Djiwa langsung tertuju pada tisu bekas yang tadi ia pakai, masih tergeletak di tepi wastafel. Panik, ia hendak meraihnya. Namun sebelum tangannya sampai, Radja lebih dulu bergerak. Dengan satu gerakan ringan dan presisi, ia mengulurkan kedua tangannya ke wastafel dan menyalakan kran air untuk mencuci tangan. Di saat yang bersamaan—tanpa sedikit pun memberi jeda atau memperhatikan ruang pribadi, tangan kanan pria itu melingkari pinggang ramping Djiwa. Gerakan yang tampak natural bagi Radja, namun cukup membuat napas Djiwa tertahan di tenggorokan, ditambah jantungnya yang berdetak cepat. Posisi mereka begitu dekat hingga Djiwa bisa melihat jelas rahang tegas Radja yang ditumbuhi bulu-bulu halus dari pantulan cermin. Radja tetap setenang batu. Seolah menyentuh pinggang Djiwa hanyalah gerakan refleks yang sama saja dengan mengancingkan jasnya. Djiwa menelan ludah. Ia ingin menyingkirkan tangan Radja, namun tubuhnya seperti menolak perintah. Ia hanya berdiri kaku, membiarkan sentuhan itu sampai Radja selesai membasuh tangannya. Radja berdehem pelan, menatap refleksi dirinya sendiri, kemudian melirik Djiwa dari cermin—singkat, namun cukup untuk membuat jantung gadis itu melompat. Jarak ini sangat dekat, bahkan terlalu dekat sehingga keduanya sama-sama bisa mencium aroma tubuh masing-masing. Radja yang maskulin dan tegas, serta Djiwa yang soft dan fresh. “Mas …,” Djiwa akhirnya membuka suara, mencoba mengatur napas. Tatapan mereka bertemu dalam pantulan kaca. “Djiwa gak kelihatan, ya?” Radja akhirnya menarik diri. Tangannya meraih tisu, mengelap sisa air dari kedua telapak tangannya dengan gerakan terukur, sebelum membuang tisu itu ke tempat sampah tanpa menoleh sedikit pun. “Begitu, ya?” sebelah alisnya terangkat tipis, dingin namun tetap tenang. “Saya kira tidak ada orang di sini. Biasanya, tidak ada yang berani masuk ke toilet pribadi saya.” Bola mata Djiwa kembali membesar. Napasnya tercekat, rasa malu menjalari seluruh tubuhnya. Ia buru-buru menunduk, hampir refleks. “Maaf, Mas. Saya gak tahu, saya benar-benar gak bermaksud pakai sembarangan. Saya mohon maaf banget.” Radja menatapnya datar, sorot matanya mengiris tanpa perlu meninggikan suara. “‘Pak.’” ucapnya tegas, memberikan penekanan. “Saya atasan kamu di sini, bukan ‘kakak ipar’ kamu. Hindari memanggil saya dengan sebutan yang sama seperti di rumah. Itu menandakan kamu belum bisa bekerja secara profesional.” Nada suaranya tidak keras—tapi cukup untuk membuat dada Djiwa serasa diremas. “I-iya, Pak. Saya minta maaf,” Djiwa masih menunduk, tak berani menatap langsung ke mata Radja yang dingin dan keras. Tanpa memberikan tanggapan, Radja lantas meninggalkan toilet tersebut. Djiwa mengangkat kepalanya, lalu beralih menatap ke cermin wastafel. Tangannya terangkat mengusap dadanya yang berdegup kencang. “Ya Tuhan, baru pertama kali kerja udah ngelakuin kesalahan,” lirihnya pelan. Ia mengetuk kepalanya sendiri tak terlalu kuat, “Bodoh kamu, Djiwa.” Djiwa masih saja berceletuk sendiri di toilet, sampai suara Radja memanggilnya dari luar. “DJIWA!” suaranya meninggi satu oktaf, membuat Djiwa buru-buru meninggalkan toilet. “Iya, Pak. Ada yang bisa saya lakukan?” tanya gadis cantik itu ketika berdiri di depan meja kerja Radja, berusaha tetap terlihat profesional setelah insiden tak sopannya tadi. Radja menatapnya lurus, dingin, tanpa sedikit pun keraguan. “Buatkan saya kopi,” perintahnya pendek dan tegas. Djiwa segera mengangguk. “Se-segera, Pak,” ujarnya sebelum bergegas keluar dari ruangan. Pintu tertutup pelan. Radja mengikuti langkah ringan Djiwa dengan tatapannya—hening, penuh kalkulasi. Begitu bayangan gadis itu menghilang di balik pintu, pria itu menghembuskan napas singkat, lalu memalingkan wajah. Matanya jatuh pada satu benda pipih yang terletak di atas meja kerja gadis itu—ponsel Djiwa.Sebuah sedan putih perlahan memasuki halaman luas kediaman keluarga Reinard. Mobil itu berhenti tepat di depan teras utama. Pintunya terbuka. Aluna turun dengan langkah tergesa, masih mengenakan pakaian kerja yang belum sempat ia ganti. Wajah cantiknya terlihat lelah, tetapi sorot matanya dipenuhi tekad. Selama beberapa hari terakhir, Narendra benar-benar menghilang dari hidupnya. Tak ada balasan pesan. Tak ada panggilan telepon. Bahkan, hubungan mereka telah diakhiri hanya dengan beberapa kalimat yang masih terus terngiang di kepalanya. Aluna mengepalkan kedua tangannya. “Aku gak bisa nyerah sampe di sini, aku harus ketemu Naren malam ini. Aku harus jelasin semuanya.” "Kalau dia denger penjelasan aku, pasti dia mau kasih aku kesempatan lagi.” Ia menarik napas panjang, lalu melangkah menaiki anak tangga menuju teras rumah. Namun, belum sempat jarinya menyentuh bel pintu. Pintu utama justru terbuka dari dalam. Aluna sontak menghentikan langkah. Di hadapannya, berdiri seluruh an
Malam itu, Sankara mengenakan setelan jas navy yang membalut tubuh tegapnya dengan sempurna. Rambutnya tertata rapi, sementara jam tangan klasik di pergelangan kirinya semakin menambah kesan elegan. Tatapan pria itu yang semula tertuju pada Radja perlahan beralih. Begitu melihat Ratu muncul dari balik lorong bersama Djiwa, sorot matanya seketika melembut. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis. Tak mencolok. Namun cukup untuk membuat jantung Ratu kembali berdebar. Di sisi lain, Mahatma ikut menoleh. Pria paruh baya itu berdiri lebih dulu ketika melihat Djiwa dan Ratu menghampiri. Sementara Radja yang sejak tadi menemani kedua tamunya segera melangkah mendekati istri dan putrinya. Di belakangnya, Regan dan Narendra turut berdiri. Malam itu, keduanya mengenakan setelan jas gelap yang serasi, memancarkan wibawa khas keluarga Reinard. Regan lebih dulu mengulas senyum tipis kepada adiknya. “Sudah siap?” Ratu tersenyum gugup sambil mengangguk kecil. “Semoga.” Narendra yang
Di kediaman keluarga Reinard juga dipenuhi suasana yang tak kalah sibuk. Beberapa pelayan menata ruang tamu dan ruang makan, memastikan semuanya siap menyambut tamu istimewa malam itu. Sementara itu, di kamar lantai dua, Ratu berdiri di depan cermin besar dengan gaun berwarna krem lembut yang membalut tubuhnya anggun. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai dengan ujung yang dibuat bergelombang, sementara riasan tipis di wajahnya justru semakin menonjolkan kecantikannya. Entah sudah berapa kali ia mematut diri. Sesekali merapikan anak rambut. Sesekali memeriksa lipstiknya. Lalu kembali mengamati keseluruhan penampilannya. Djiwa yang sedari tadi memperhatikan tingkah putrinya hanya bisa tersenyum geli. “Kalau kamu berkaca terus, nanti cerminnya yang minder.” Ratu langsung menoleh. “Mommy,” ia berjalan mendekati sang ibu dengan raut wajah penuh harap. “Jujur, ya. Aku udah cantik belum?” Tatapannya turun meneliti dirinya sendiri. “Apa lipstiknya terlalu tebel? Blush on-nya kebanyaka
Sore mulai merambat menuju malam. Di kediaman Mahatma, suasana rumah tampak lebih sibuk dari biasanya. Beberapa pelayan hilir mudik menyiapkan barang-barang yang akan dibawa ke rumah keluarga Reinard malam ini. Di ruang keluarga, Mahatma yang telah rapi mengenakan setelan jas hitam klasik sesekali melirik arloji mahal di pergelangan tangan kirinya. Alisnya berkerut tipis. “Sankara,” suara pria paruh baya itu menggema hingga ke lantai atas. “Berapa lama lagi?” Tak ada jawaban. Beberapa detik berlalu, keadaan tetap hening. Mahatma mengembuskan napas pelan sebelum akhirnya memutuskan menaiki tangga menuju kamar putra tunggalnya. Tok. Tok. Tok. Tak menunggu jawaban, ia memutar gagang pintu dan melangkah masuk. Pemandangan di dalam kamar membuat sudut bibirnya langsung terangkat. Sankara berdiri di depan ranjang dengan kedua tangan terlipat di dada. Tatapannya berpindah-pindah dari satu setelan jas ke setelan jas lain yang berjajar rapi di atas kasur. Ada jas hitam, abu-abu, navy,
“Kalian hadir di rahim Mommy sebelum Daddy dan Mommy menikah.” Narendra membeku di tempat, tatapannya kosong menatap ayahnya. Sementara Regan masih mempertahankan ketenangannya, meski jemarinya perlahan mengepal di bawah meja. Radja menarik napas panjang. “Artinya secara hukum dan agama saat itu, kalian memang lahir sebelum pernikahan Daddy dan Mommy berlangsung.” Ia menundukkan kepala. “Daddy minta maaf. Maaf karena kalian harus menerima kenyataan ini. Maaf karena sejak lahir, Daddy sudah mewariskan beban yang seharusnya tidak pernah kalian tanggung.” Djiwa yang sejak tadi menahan tangis akhirnya tak mampu lagi. Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung. “Maafkan Mommy …,” suara wanita itu bergetar hebat. “Mommy juga bersalah. Mommy yang egois. Mommy yang memilih tetap bersama Daddy. Dan karena keputusan Mommy, kalian bertiga harus menanggung akibatnya sampai sekarang.” Tangisnya pecah, kedua tangannya menutupi wajah. “Maaf … maafkan Mommy.” Ratu ikut menangis di kursinya
Ratu terdiam beberapa saat, tatapannya perlahan menunduk. Ada rasa sesak yang kembali memenuhi dadanya setiap kali mengingat hari itu. Namun kali ini, ia tidak ingin lagi lari. Perlahan ia mengangkat wajahnya. “Aku bakal cerita, Mas. Tapi …,” ia menggeleng pelan. “Bukan sekarang.” Narendra mengernyit tipis. “Kenapa?” “Karena ini bukan cuma tentang aku.” Tatapan Ratu berubah sendu. “Ada Daddy sama Mommy juga di dalam cerita itu. Aku gak berhak menjelaskan semuanya sendirian.” Narendra memandang adiknya lekat-lekat. Sementara Ratu melanjutkan dengan suara yang nyaris berbisik, “Nanti kalau Mas Regan udah pulang, kita berkumpul berempat sama Daddy dan Mommy.” “Di situ, Daddy dan Mommy akan ceritain semuanya langsung ke Mas sama Mas Regan.” Ratu tersenyum tipis, meski matanya kembali berkaca. “Tapi aku cuma minta satu hal.” Narendra menunggu. “Tolong … dengerin semuanya sampe selesai. Jangan langsung marah. Jangan langsung menyalahkan Daddy sama Mommy.” Kalimat itu memb







