ログイン“Kamu, ya?!” seru Sekar tajam, menunjuknya seolah ia baru saja melakukan kejahatan besar—padahal Djiwa melakukannya dengan sangat hati-hati. “Potong kuku saya gak bener!”
Ruangan mendadak senyap—kecuali denyut jantung Djiwa yang serasa memukul-mukul dadanya dari dalam. Radja menoleh sekilas—hanya cukup untuk melihat Djiwa terduduk dan Sekar memegangi jari tangannya dramatis. Ekspresi Radja tetap datar, tanpa satu pun emosi yang bisa dibaca. Sementara Inggrit tersenyum miring. Tatapannya jelas—ia tahu apa yang terjadi barusan bukan kecelakaan. Melainkan ibu mertuanya dengan sengaja melakukan drama itu. Anggita, bocah lima tahun itu, spontan berdiri dari karpet, wajahnya cemas melihat Djiwa terjatuh. Ia hendak berlari menghampiri, tapi suara ibunya memotong tajam. “Duduk, Anggita.” Suara Inggrit dingin dan tegas. Tak menyisakan ruang untuk membantah. Anak kecil itu terhenti, menatap ibunya sejenak, sebelum kembali duduk dan pura-pura bermain—meski matanya masih melirik Djiwa dengan jelas khawatir. “Maaf, Mi …,” ucap Djiwa pelan sambil berdiri terburu-buru dan menunduk dalam. “Djiwa bener-bener gak sengaja.” “Gak sengaja? Kamu lalai, Djiwa! Atau kamu sengaja mau nyakitin saya?” Nada Sekar meninggi. “Gak, Mi! Djiwa sama sekali gak ada maksud begitu!” Djiwa membela diri, menelan ludah susah payah. “Mungkin, Djiwa agak kecapekan hari ini, makanya ….” Sekar langsung memotong ucapannya. “Maksud kamu apa? Kamu ingin bilang kalau kamu lelah karena mengerjakan yang jelas-jelas tugas kamu?” Belum sempat Djiwa menjawab, suara Inggrit menyambar lebih cepat dan lebih pedas. “Hei, Djiwa!” serunya dengan nada sinis. “Kamu tuh harus sadar diri. Kalau kamu gak terlahir dari keluarga konglomerat, kamu setidaknya harus tahu adab.” Ia menunduk sedikit, suaranya tajam dan memalukan. “Kerja yang bener, jangan banyak alasan. Kamu tuh di rumah orang kaya, bukan di kandang ayam.” Djiwa menggigit bibirnya, menahan perih yang mengendap di tenggorokan. Matanya menunduk. Tapi dadanya bergemuruh. _____ Djiwa menghela napas panjang, tatapannya kosong menembus halaman mansion yang luas namun terasa sesak. Tadi, niatnya hanya ingin beristirahat sebentar—sekadar membaringkan tubuh dan menenangkan napas. Tapi mana mungkin ia bisa tidur ketika kepalanya penuh, pikirannya berputar tanpa henti. Mulai dari hinaan kakak-kakak iparnya, dinginnya perlakuan mertua, hingga tuntutan sang suami yang masih menusuk dada, hamil dengan pria lain. Bayangan itu membuat perutnya melilit. Tenggorokannya kering. Tangan Djiwa mengambil sapu lidi yang bersandar di dinding. Ia mulai menyapu halaman, bukan karena wajib, tapi karena satu-satunya cara agar pikirannya tidak meledak. Gerakan berulang itu membuatnya sedikit tenang. Setidaknya, untuk beberapa menit saja. “Djiwa.” Suara berat itu memanggil pelan namun tegas. Djiwa refleks menoleh, mendapati Radja berdiri tak jauh darinya—mengenakan setelan jas lengkap, kedua tangan dimasukkan dalam saku celana, wajahnya tetap datar seperti biasanya. “Iya, Mas?” Djiwa mendekat sambil tetap menggenggam sapu lidi. Ia berdiri tegak di hadapan Radja, mencoba terlihat siap meski lututnya sedikit gemetar. “Mau sampai kapan kamu menganggur, hm?” Menganggur? Djiwa menunduk. Untuk sesaat, dadanya terasa sesak. Selama ini, dia mengurus seluruh rumah, mencuci, memasak, membersihkan, merawat mertua—bahkan lebih dari seorang pembantu. Tapi ia tahu maksud Radja bukan itu. Yang pria itu maksud adalah pekerjaan sungguhan, di luar rumah, dengan gaji dan posisi yang jelas. “Nggak tahu, Mas,” jawab Djiwa lirih. Jemarinya menggenggam sapu lidi lebih erat, seolah mempersiapkan diri menerima kritik berikutnya. “Ijazah kamu masih ada?” tanya Radja lagi, suaranya tetap datar tanpa emosi yang terbaca. Djiwa mengangguk kecil. “Masih, Mas.” “Kalau begitu, gantikan sekretaris saya. Dia cuti lahiran.” Djiwa sontak mengangkat wajahnya, menatap Radja dengan tatapan tak percaya. “Se-serius, Mas?” Napasnya tercekat, bola matanya membesar. Radja tidak menjawab dengan kata-kata. Pria itu hanya menatapnya, datar, tapi cukup jelas bahwa ia memang sungguh-sungguh. “Tapi Djiwa ...,” gadis itu menaruh tangan di dadanya yang berdebar tak karuan. “Djiwa cuma lulusan D3. Bisa kah, Mas?” “Saya yang punya perusahaan,” jawab Radja datar. Kalimat pendek itu menegaskan bahwa tak ada yang perlu diperdebatkan lagi. Mata Djiwa langsung berbinar. Setelah setahun penuh merasa tidak berguna, dihina, dan diperlakukan seolah ia tak punya nilai, kesempatan itu terasa seperti mendapatkan lotre Amerika. “Kalau memang bisa, Djiwa mau, Mas ... Djiwa mau banget!” ucapnya, hampir tak bisa menyembunyikan semangat yang tumpah. Radja mengangguk tipis. “Kalau memang setuju, besok kamu mulai bekerja.” _____ Malam itu, ruang makan keluarga Reinard lebih padat dari biasanya. Sendok dan garpu beradu, tidak ada yang benar-benar bicara sampai Radja meletakkan gelasnya dengan bunyi ting kecil, membuat semua kepala otomatis menoleh. Radja menatap ke arah Sekar, lalu sangat singkat pada Djiwa yang duduk di samping Kaisar. Radja berdeham, membersihkan tenggorokannya pelan setelah meletakkan cangkir kopi di atas meja. “Ada yang ingin saya katakan,” ujarnya, suaranya datar namun tegas, cukup untuk membuat suasana meja makan menegang seketika. Tatapan Sekar langsung terarah padanya. Begitu pula Inggrit, serta kedua adik dan kedua iparnya. Hening sejenak, semua menunggu. “Apa yang ingin kamu katakan, Dja?” tanya Sekar sambil melirik putra sulungnya. Radja menyeka ujung bibirnya dengan napkin. “Mulai besok, Djiwa bekerja di kantor. Menggantikan sekretarisku yang cuti melahirkan.” Sendok Kaisar hendak masuk ke dalam mulutnya menggantung di udara. Inggrit terbatuk kecil, jelas kaget—sama seperti reaksi Fairish yang langsung menatap kakak iparnya. Sekar menghentikan gerakan tangan dan menegakkan punggung bersiap menilai, memandang Radja seperti baru saja mendengar sesuatu yang tidak masuk akal. Suasana seketika mengeras. Tapi Radja tetap tenang, wajahnya dingin. Tidak ada ruang untuk negosiasi dalam suaranya. Fairish akhirnya bersuara, pelan tapi terdengar kesal, “Mas Radja, serius?” Inggrit menimpali dengan tawa samar yang tidak sopan. “Ehm, maksudnya … apa Djiwa bisa kerja di perusahaan Reinard? Posisi sekretaris, lagi?” Sekar menyipitkan mata. “Radja, jangan membuat keputusan terburu-buru. Banyak pelamar yang lebih berpengalaman. Lagipula—” “Keputusan sudah dibuat,” potong Radja datar, membuat Sekar terdiam—langka sekali ada yang berani memotong ucapannya. Ah, tapi ini Radja. Djiwa, yang sejak tadi menunduk dan hampir tidak berani mengangkat wajah, meremas ujung rok panjangnya. Ia bisa merasakan semua pasang mata menusuknya. Tapi Radja, pria itu sama sekali tidak menoleh padanya. Pria itu menjaga ekspresi tetap dingin. Sekar akhirnya mengalihkan tatapan ke Djiwa. “Kamu yakin bisa kerja? Jangan datang cuma bikin kacau.” Kaisar menelan ludah, jelas tak senang jika suatu saat Djiwa hanya bikin ulah dan membuatnya malu di hadapan sang kakak, tapi tidak berani membuka suara. Radja akhirnya bersandar pada kursinya, suara rendahnya kembali terdengar. “Saya tidak akan memilih karyawan secara sembarangan. Kalau saya bilang bisa, berarti dia bisa.” Semuanya terdiam. Hanya Djiwa yang jantungnya berdetak tak beraturan—antara takut, gugup, dan sedikit, terharu. Karena untuk pertama kalinya, ada yang membelanya di rumah ini. Radja tidak menatapnya, tapi kalimat itu terasa seperti perlindungan yang tidak pernah Djiwa dapatkan selama ini. Makan malam berlanjut, tapi atmosfernya berubah total. Tak ada yang berani membantah jika sudah anak tertua itu membuka suara—bahkan ibunya sendiri. “Kamu serius, Mas? Mau jadikan Djiwa sekretaris pribadi kamu?” tanya Inggrit begitu pintu kamar tertutup. Makan malam sudah selesai, dan mereka kembali ke kamar. “Sementara,” jawab Radja singkat. Langkahnya tegas menuju rias untuk meletakkan jam tangan mahalnya di sana. Inggrit terkekeh kecil. “Ya walaupun sementara … tetep aja.” Satu alisnya terangkat sinis. “Djiwa itu cuma lulusan D3, loh, Mas. Apa yang kamu harapkan dari kinerja seorang Ahli Madya? Hm?” Ia mendekat sedikit, suaranya makin meremehkan. “Sekretaris kamu yang cuti aja lulusan S2. Tapi sekarang kamu malah turun level ke Djiwa?” Inggrit menggeleng, tersenyum tipis penuh cemooh. “Dia itu bakatnya cuma masak, cuci piring, sama beres-beres rumah. Untuk kerjaan kantor? Gak cocok banget!” Radja tetap diam. Tidak satu pun dari cemoohan itu ia tanggapi. Ia hanya melempar lirikan dingin pada Inggrit lewat pantulan cermin meja rias sambil melepas jam tangannya. Suara Radja akhirnya terdengar, rendah, datar, namun menampar tanpa perlu meninggikan. “Jangan ukur kemampuan orang lain menggunakan standar sempit milikmu.”“Kamu … apa yang kamu lakukan di sini?” tanya Djiwa dingin, tatapannya lurus menembus Bagas di hadapannya. Ada jarak yang tiba-tiba tercipta, bukan sekadar antara mantan guru les dan orang tua murid, tapi sesuatu yang lebih tajam lebih berhati-hati. Bagas tampak sedikit terkejut. Apalagi saat beberapa detik sebelumnya, Djiwa dengan refleks meraih tangan Ratu dari genggamannya—seolah sedang menarik anaknya menjauh dari sesuatu yang berbahaya. Padahal mereka saling mengenal. Karena sebelumnya dia sudah mengajar tiga anak kembar itu beberapa bulan. Namun sebelum Bagas sempat membuka suara, Ratu sudah lebih dulu berbicara dengan wajah berbinar. “Mommy, ini Kak Bagas. Dia jadi guru sekarang di sekolah Ratu. Ngajarnya juga di kelas Ratu!” Djiwa menelan ludahnya pelan. Sorot matanya sempat turun ke seragam yang dikenakan Bagas, rapi, lengkap, tak terbantahkan. Ia sebenarnya sudah tahu jawabannya, seragam itu sudah menjelaskan semua. Namun entah kenapa, pertanyaan itu tetap keluar. “B
“Kak … Kak Bagas?” lirihnya. Di sana, beberapa meter di depannya—seorang pria berdiri mengenakan seragam guru SD Lumina, rapi dan profesional. Bagas. Tanpa berpikir panjang, Ratu langsung berlari. “Kak Bagaaaas!” teriaknya nyaring, menarik perhatian beberapa orang di sekitar. Bagas yang semula sedang berbincang dengan salah satu guru menoleh cepat. Dan detik berikutnya, tubuh kecil itu sudah menabrak pelukannya. Memeluknya erat. Bagas sedikit terkejut, namun refleks tangannya membalas pelukan itu. “Ratu?” ucapnya pelan. Bocah itu mendongak, matanya sudah berkaca-kaca. “Kak Bagas balik?” suaranya bergetar, antara bahagia dan tak percaya. Di belakangnya, Regan dan Naren berhenti melangkah. Keduanya saling berpandangan. Lalu menatap ke arah Bagas yang kini berdiri di tengah lobi sekolah mereka sebagai seorang guru. _____ “Saya cukup terkejut setelah mendapatkan informasi itu, Pak,” ucap Arga siang itu, berdiri di hadapan meja kerja Radja. “Apa ini ada hubungannya dengan kec
Pagi itu, Djiwa terbangun di kamarnya karena cahaya matahari yang menyusup dari celah tirai yang sedikit terbuka. Hangatnya sinar itu jatuh tepat di wajahnya, memaksanya membuka mata perlahan. Tubuhnya masih terbalut selimut tebal. Refleks, ia menoleh ke kanan dan kiri. Kosong. Tak ada sosok Radja di sana. Keningnya berkerut. Ingatannya kembali pada semalam—pelukan hangat itu, tangis yang pecah, dan dirinya yang akhirnya tertidur di ruang kerja. “Mas Radja …,” gumamnya lirih. Lalu ia menghela napas pelan. “Jadi dia gak tidur sama aku?” bisiknya, nyaris tak terdengar. “Apa dia balik lagi ke ruang kerja setelah anter aku ke sini?” Djiwa mendengus pelan, menahan sesuatu yang mengganjal di dadanya. Ia bangkit, duduk di tepi ranjang. “Aku kira dia udah maafin aku setelah peluk aku semalem,” lanjutnya pelan. “Tapi ternyata belum tentu.” Senyum tipis terukir di bibirnya, pahit. Seolah ia terlalu cepat berharap. _____ Di sisi lain, Radja sudah tampil rapi dengan setelan kerjanya. Kem
Lampu ruang kerja itu redup, hanya menyisakan cahaya dari layar laptop yang memantul di wajah Radja. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard, seolah dunia di luar ruangan itu tak lagi penting. Tok. Tok. Tok. Tanpa menunggu jawaban, pintu terbuka. Radja tidak langsung menoleh. Sementara Djiwa berdiri di ambang pintu, napasnya tertahan sejenak. Ia mengenakan kimono tipis berwarna lembut, rambutnya terurai, langkahnya pelan namun pasti saat masuk ke dalam. Ia mendekat. “Aku ganggu?” tanyanya pelan, tapi jelas. Radja tetap fokus pada layar. “Kalau sudah masuk ke sini, untuk apa tanya lagi?” Djiwa menarik napas dalam, menahan sesuatu di dadanya. Ia berdiri di sisi meja kerja, menatap suaminya lekat. “Kamu sengaja, ya?” ucapnya tiba-tiba. Baru kali ini jari Radja berhenti. Namun kepalanya belum terangkat, tatapannya fokus pada layar laptop. “Sengaja apa?” tanyanya dingin. Djiwa mendengus pelan. “Cari guru les perempuan, cantik lagi.” Akhirnya Radja menoleh. Tatapannya lurus.
“Kenapa Ratu gak ikut les, ya?” tanya Naren begitu sesi belajar mereka selesai. Ia menoleh ke arah kakaknya yang tengah merapikan buku-bukunya ke dalam tas. “Mungkin adek lagi gak enak badan,” jawab Regan tenang, meski sorot matanya menyiratkan keraguan. “Ayo kita ke kamarnya. Kita lihat sendiri.” Naren mengangguk cepat. Keduanya bergegas menaiki tangga menuju lantai dua, langkah kaki mereka terdengar ringan namun penuh rasa penasaran. Setibanya di depan kamar Ratu, pintunya terbuka sedikit. Regan mendorongnya perlahan. Di atas ranjang, mereka menemukan Ratu meringkuk, tubuh kecilnya memeluk bantal. Wajah mungil itu tampak pucat, dengan jejak air mata yang sudah mengering di pipinya—tanda bahwa ia telah menangis cukup lama tanpa ada yang menemani. Naren langsung mendekat, menempelkan punggung tangannya ke kening sang adik. “Gak panas, Mas,” gumamnya pelan. Regan menghela napas panjang, dadanya terasa sesak melihat kondisi adiknya. “Apa karena tadi pagi?” ucapnya lirih. Naren m
Drrtt. Ponsel di atas nakas bergetar, membuat Bagas langsung meraihnya dengan sedikit malas. “Halo?” “Bagas, ini aku. Bulan depan aku mau nikah, dan banyak yang harus aku siapin.” Bagas menghela napas panjang, berat. Ia menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. “Terus … urusannya sama aku apa?” “Kamu lagi sibuk, gak?” tanya suara di seberang sana. “Langsung aja,” potong Bagas datar. Terdengar kekehan kecil dari seberang. “Gantiin aku satu setengah bulan ke depan buat ngajar, ya.” “Ngajar di mana?” tanya Bagas, masih terdengar biasa saja. “SD Lumina. Tenang, anak-anaknya gampang diatur. Orang tuanya juga tipe yang serius soal pendidikan.” Bagas yang semula bersandar santai, langsung berubah posisi. Ia duduk tegak. “Lumina?” ulangnya, kali ini lebih pelan. “Hm, Lumina. Bantuin kakakmu ini, ya, dek. Siapa tahu kalau kinerjamu bagus, kamu bisa dilirik kepala sekolah. Lumayan buat nambah pengalaman.” Bagas terdiam. Lumina. Nama itu terlalu familiar, sekolah tempat anak-anak
“Djiwa menghilang, Mi,” ucap Kaisar pelan namun tegas pagi itu, memecah sunyi meja makan. Sekar yang tengah menyendok bubur terhenti. Ia mengangkat wajahnya perlahan, menatap anak bungsunya dengan sorot mata tajam. “Menghilang bagaimana maksud kamu?” Kaisar menghela
“Papa!” seru Inggrit begitu melangkah masuk ke rumahnya, suaranya menggema keras memecah keheningan. Satya yang tengah mengamati lukisan mahal yang baru saja dibelinya langsung mengernyit. Ia menoleh, lalu melangkah menghampiri sang anak dengan langkah tenang, kedua tangannya bertaut di belakang
“Apa?” Linda bergumam pelan, lalu menoleh pada putrinya dengan tatapan yang tak lagi lembut. Ada keterkejutan yang bercampur luka di sana. “Kamu … kamu serius mengatakan itu, Sultan?” “Tentu, Ma,” jawab Sultan tanpa ragu. Suaranya tenang, nyaris datar. “Saya tidak menyampaikan ini untuk memperma
Malam itu, suasana makan malam terasa jauh lebih menegangkan dari malam-malam sebelumnya. Udara di ruang makan seolah mengeras, dipenuhi beban yang tak terucap. Setiap orang membawa pikirannya masing-masing, hingga tak satu pun sanggup membuka suara lebih dulu. Sekar yang biasanya menjadi pusat







