Masuk“Mas …?” Inggrit baru saja keluar dari kamar mandi setelah buang air besar ketika mendapati ranjang kosong.
Alisnya langsung terangkat kesal. Ia menoleh kanan kiri, melihat selimut berantakan tapi tak ada jejak suaminya. “Pasti di ruang kerja,” gumamnya sambil manyun. “Kenapa gak nikah aja sekalian sama laptop-nya, sih?” Ia menghempaskan tubuh ke kasur sambil mendesah panjang, menatap langit-langit. “Aku tidur sendiri lagi malem ini,” _____ Di sisi lain, di kamar hotel yang diterangi lampu utama yang menyala terang, Radja berdiri beberapa meter dari Djiwa. Gadis itu duduk di tepi ranjang, tubuhnya kaku, kedua tangannya meremas seprai. Bola matanya melebar tak percaya melihat sosok pria yang muncul setelah lampu menyala. “Sejak kapan kakekmu dipindah ke hotel?” suara Radja terangkat dingin, ujung bibirnya melengkung sinis. Tatapannya menusuk seperti bilah tipis. “M-Mas Radja.” Djiwa melirik tubuhnya yang hanya dibaluti lingerie tipis, menampilkan warna kulit dan lekukan tubuhnya yang seksi bak gitar spanyol itu. Ia cepat-cepat bangkit dari duduknya untuk meraih mantel coat-nya, lalu menutupi tubuhnya dengan benda itu. Kemudian menatap Radja lagi. “Ke-kenapa ... Mas Radja bisa ada di sini?” tatapannya beralih pada kartu akses kamar hotel di tangan pria itu. “Mas Radja dapet itu dari mana?” Djiwa melirik ke arah pintu kamar yang tertutup, seolah memastikan apakah ada pria lain lagi yang akan menyusul ke kamar itu menggunakan kartu lain. “Tidak ada siapapun, selain kita berdua di kamar ini,” kata Radja seolah mengerti apa yang saat ini ada di pikiran Djiwa. “Mas ....” Djiwa menunduk, tak sanggup menatap wajah dingin pria itu. “Apa maksudnya ini, Djiwa? Kenapa kamu ada di sini? Untuk apa kamu di sini sambil menunggu seorang pria?” tanya pria itu, namun Djiwa tak sanggup menjawabnya. Radja maju lagi satu langkah, kali ini jarak mereka hampir dekat jika saja Djiwa tidak mundur beberapa langkah ke belakang secara refleks. “Jelaskan pada saya, apa maksud dari ucapan kamu ‘Saya sudah memakai apa yang Mas Kaisar suruh. Saya sudah lakukan semuanya, sesuai permintaan suami saya.’” Nada bicaranya dingin, sama sekali tak sama dengan nada bicara Djiwa yang gugup sebelumnya. “Jawab!” desak Radja dengan nada menyentak, membuat Djiwa berjenggit. “Mas, saya ... saya,” ucapan Djiwa tercekat di tenggorokan. Gadis itu tak tahu harus menjelaskan apa, tak tahu harus mulai dari mana. Tidak mungkin juga dia mengatakan kalau ini semua atas perintah sang suami. Jika Radja tahu, lalu dia memarahi sang adik—bukannya nanti yang terkena imbasnya adalah dirinya sendiri? Lebih dari itu, dia diceraikan oleh sang suami dan kakeknya tidak lagi mendapatkan biaya rumah sakit. “Apa Kaisar yang menyuruh kamu?” Radja kembali membuka suara, nada bicaranya dingin dan mendesak Djiwa agar menjawab. Kedua tangan gadis itu saling meremat jemari, tangannya berkeringat dingin. Tak hanya itu, jantung Djiwa seakan ingin keluar dari tempatnya. Radja membuang napas kasar. “Jika kamu tidak mau memberitahu saya semuanya, maka saya—“ “Iya, Mas.” Djiwa akhirnya membuka suara, “Saya akan menjelaskan semuanya sama Mas Radja. Tapi ...,” ia menelan ludah berat. “Jangan salahkan Mas Kaisar.” Sebelah alis Radja terangkat sinis. “Kenapa? Jika dia yang meminta melakukan ini, kenapa tidak boleh disalahkan?” Djiwa tak menjawab, lebih tepatnya dia tak tahu harus menjawab apa. “Apa dia meminta kamu untuk jual diri?” tebak Radja asal, tapi itu rasanya sangat tidak masuk akal. Kaisar sama sekali tidak kekurangan uang. “Mas ...,” lirih Djiwa pelan. “Saya gak tahu harus mulai dari mana. Tapi saya mohon, jangan hakimi saya dulu, saya bisa jelasin ini semua.” “Silakan, jelaskan pada saya sekarang,” balas Radja dengan nada menurun satu oktaf. Dengan air mata yang luruh membasahi kedua buah pipinya. Akhirnya Djiwa mulai menjelaskan, suaranya putus-putus karena isaknya, namun tetap jelas. Dan Radja, pria itu mendengarkan tanpa menyela sedikit pun. Ia terkejut saat mengetahui fakta itu, bahwa adiknya ingin memiliki anak laki-laki yang akan dijadikan pewaris—namun bukan dari darah keturunan Reinard. “Dasar licik,” desis Radja, begitu pelan namun cukup untuk membuat udara kamar terasa ikut mengencang. Ia melangkah mendekat, sorot matanya gelap, penuh perhitungan. Siapa pun tahu, menjadi pewaris keluarga Reinard bukan sekadar kehormatan—itu berarti kekuasaan, kendali, dan masa depan keluarga mereka. Dan Radja menginginkan itu. Ia menginginkan seorang anak laki-laki. Tapi yang tidak pernah ia bayangkan adalah sang adik memilih jalan sebusuk ini. “Kenapa Kaisar tidak mau menyentuh kamu?” tanyanya, suaranya menggigit. “Kenapa harus hamil dengan pria lain?” Djiwa menunduk, menelan ludah yang terasa tajam di tenggorokannya. “Karena Mas Kai tidak mencintai saya,” jawabnya lirih. “Makanya dia enggan menghabiskan malam dengan saya, Mas.” Ia menarik napas perlahan, seolah setiap kata yang keluar menyakitinya sendiri. “Mas Kai juga bilang, dia terpaksa menikahi saya karena wasiat dari mendiang kakek Afnand.” Radja terdiam. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana, sembari menyatukan kedua alisnya seolah menyusun sebuah piramida. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyum tipis yang membuatnya tampan berkali-kali lipat, namun dalam waktu bersamaan terlihat menyeramkan. Sebuah kombinasi yang sempurna—begitu pikirnya dengan getir. Keluarga besar mereka membutuhkan seorang anak laki-laki, dan Djiwa ditumbalkan menjadi alat untuk melahirkan pewaris itu. Ibunya memberi tenggat waktu tiga bulan. Tiga bulan untuk hamil, atau semua tekanan akan jatuh ke bahu Kaisar lagi dan tentu yang paling dirugikan Djiwa. Dan Radja. Radja sendiri sudah lama menginginkan anak laki-laki. Hasrat itu tak pernah benar-benar padam sampai sekarang. Pria itu melangkah maju, setiap langkahnya membuat lantai kamar seperti ikut menegang. Hingga ia berhenti tepat di hadapan Djiwa—yang tak bisa mundur lagi karena pahanya telah menempel pada tepian ranjang hotel. Tak ada tempat kabur. Tak ada ruang bernapas. Hanya jarak yang semakin mengecil dan tatapan Radja yang semakin sulit ditebak. “Seperti yang kamu tahu, dua anak saya perempuan.” Suara Radja rendah, mantap, seolah setiap kata telah ia timbang. “Tapi saya tetap membutuhkan anak laki-laki. Keluarga ini membutuhkan ahli waris itu. Dan kamu, diberi waktu tiga bulan untuk hamil.” Djiwa mengangkat wajahnya perlahan, alisnya bertaut bingung. Radja mencondongkan tubuh sedikit, menatapnya tanpa berkedip. “Daripada kamu hamil dengan pria asing yang tidak punya satu tetes pun darah keluarga kami …,” ia berhenti sejenak, rahangnya mengeras, “Lebih masuk akal kalau kamu mengandung anak itu dari saya. Darah Reinard tetap murni, dan masalahnya selesai.” Djiwa terpaku. Napasnya tercekat di tenggorokan.Ballroom hotel berbintang itu dipenuhi cahaya kristal yang memantul indah dari langit-langit tinggi. Rangkaian bunga putih berpadu dengan sentuhan emas menghiasi setiap sudut ruangan, sementara alunan musik orkestra mengalun lembut, menyambut para tamu yang datang silih berganti. Di atas pelaminan Sankara berdiri gagah dengan setelan jas hitam yang dijahit sempurna mengikuti tubuh atletisnya. Di sampingnya, Ratu tampak begitu anggun dalam balutan gaun pengantin putih dengan veil panjang menjuntai hingga menyentuh lantai. Senyum tak pernah lepas dari wajah keduanya. Mereka akhirnya tiba di hari yang selama ini hanya menjadi doa. Satu per satu tamu naik ke atas pelaminan untuk memberikan ucapan selamat. “Selamat ya, San.” “Selamat ya, Tu.” Ucapan itu datang bertubi-tubi. Sesekali Ratu menoleh ke arah keluarganya. Di meja utama, Radja dan Djiwa duduk berdampingan. Meski senyum selalu menghiasi wajah keduanya, mata mereka berkali-kali memerah menahan haru. Putri kecil
Sankara berdiri tegak di depan cermin besar di dalam kamar. Setelan jas hitam berpotongan sempurna membalut tubuh atletisnya, dipadukan kemeja putih bersih dan dasi hitam yang tersimpul rapi di leher. Penampilannya sederhana, tetapi memancarkan wibawa khas seorang pria dewasa. Ia merapikan ujung manset kemejanya sebelum mengembuskan napas perlahan. Hari ini statusnya akan berubah. Tok. Tok. Tok. Ketukan pelan terdengar di balik pintu. “Masuk.” Pintu terbuka, memperlihatkan Mahatma yang melangkah masuk sambil membawa sebuah kotak beludru berwarna hitam. Tatapan pria paruh baya itu berhenti pada putra tunggalnya. Sudut bibirnya terangkat tipis, jelas menyimpan rasa bangga. “Ulurkan tanganmu.” Tanpa banyak bertanya, Sankara menurut. Mahatma membuka kotak itu, lalu mengeluarkan sebuah jam tangan klasik dengan desain elegan. Benda itu bukan sekadar aksesori, melainkan peninggalan yang telah puluhan tahun menemani perjalanan hidupnya. Dengan hati-hati, ia memasangkan jam tersebut
Pagi itu, mentari bersinar begitu cerah. Udara terasa lebih sejuk dibanding hari-hari sebelumnya, seolah alam pun ikut menyambut hari yang telah lama dinantikan. Di kediaman keluarga Reinard, suasana sudah ramai sejak pagi. Beberapa penata rias keluar masuk rumah, para pelayan sibuk menyiapkan hidangan, sementara dekorasi bunga memenuhi setiap sudut ruangan. Hari ini Ratu akan menikah. Di lantai dua, kamar Ratu dipenuhi gaun, kotak perhiasan, hingga rangkaian bunga putih yang memenuhi meja rias. Ratu duduk diam di depan cermin. Gaun akad berwarna putih gading telah membalut tubuhnya dengan anggun. Rambutnya disanggul sederhana, dipadukan veil panjang yang menjuntai hingga lantai. Tatapannya menatap pantulan dirinya sendiri di cermin. Masih sulit dipercaya. Hari yang dulu hanya berani ia bayangkan, kini benar-benar datang. Tok. Tok. Tok. Pintu kamar diketuk perlahan. “Masuk.” Pintu terbuka. Djiwa melangkah masuk lebih dulu. Begitu melihat putrinya, langkah wanita paruh baya
Satu bulan berlalu. Sore itu, sebuah mobil hitam berhenti di depan gedung apartemen mewah di pusat kota. Radja mematikan mesin mobilnya, lalu menghembuskan napas panjang. Tatapannya terangkat menatap bangunan tinggi di hadapannya beberapa saat. Sudah bertahun-tahun ia tidak pernah lagi datang ke tempat yang berkaitan dengan perempuan itu. Namun hari ini, sebagai seorang ayah, ia harus menelan harga dirinya. Apa pun akan ia lakukan demi memastikan hari bahagia putrinya berjalan tanpa gangguan. Radja keluar dari mobil, melangkah memasuki lobi, lalu naik menuju lantai yang dituju. Ia menekan bel unit apartemen itu. Beberapa detik berlalu, pintu akhirnya terbuka. Inggrit yang mengenakan pakaian rumahan sontak membeku di tempat, sorot matanya dipenuhi keterkejutan. “M-Mas ... Radja?” Pria itu hanya menganggukkan kepala pelan. “Selamat sore.” Inggrit masih belum percaya dengan apa yang dilihatnya. Mantan suaminya, berdiri di hadapannya dengan rambut yang tak lagi setengah blonde
Narendra baru saja menutup pintu kamarnya ketika suara Regan menghentikan langkahnya. “Saya baru tahu kamu mengakhiri hubungan dengan Aluna.” Narendra menoleh. Di dalam kamar itu, Regan duduk santai di sofa dekat jendela. Sementara Ratu masih duduk di sisi ranjang, sejak tadi memainkan jemarinya sendiri, sesekali memandangi cincin lamaran yang baru beberapa jam lalu melingkar di jari manisnya. Mendengar nama Aluna disebut, Ratu langsung mengangkat wajah. Tatapannya berpindah dari Regan kepada Narendra. “Sejak kapan?” tanya Regan tenang. Narendra menghembuskan napas panjang sebelum menjatuhkan tubuhnya ke sofa yang berhadapan dengan sang kakak. “Mungkin ... tiga hari yang lalu.” Keheningan seketika menyelimuti kamar. Ratu tampak terkejut. “Kenapa, Mas?” ia segera bangkit menghampiri Narendra. “Ada masalah apa?” Narendra hanya tersenyum tipis. Senyum yang jauh dari kata bahagia. Tatapannya perlahan beralih kepada Regan. “Terima kasih.” Regan mengernyit. “Untuk apa?” “Karen
Sebuah sedan putih perlahan memasuki halaman luas kediaman keluarga Reinard. Mobil itu berhenti tepat di depan teras utama. Pintunya terbuka. Aluna turun dengan langkah tergesa, masih mengenakan pakaian kerja yang belum sempat ia ganti. Wajah cantiknya terlihat lelah, tetapi sorot matanya dipenuhi tekad. Selama beberapa hari terakhir, Narendra benar-benar menghilang dari hidupnya. Tak ada balasan pesan. Tak ada panggilan telepon. Bahkan, hubungan mereka telah diakhiri hanya dengan beberapa kalimat yang masih terus terngiang di kepalanya. Aluna mengepalkan kedua tangannya. “Aku gak bisa nyerah sampe di sini, aku harus ketemu Naren malam ini. Aku harus jelasin semuanya.” "Kalau dia denger penjelasan aku, pasti dia mau kasih aku kesempatan lagi.” Ia menarik napas panjang, lalu melangkah menaiki anak tangga menuju teras rumah. Namun, belum sempat jarinya menyentuh bel pintu. Pintu utama justru terbuka dari dalam. Aluna sontak menghentikan langkah. Di hadapannya, berdiri seluruh an







