LOGINSilakan komen-komen lanjut, ya🫰🏻🥰 Jangan lupa tinggalkan ulasan dan vote GEM(✿◠‿◠)
Sekar menatap tak percaya pada putra sulungnya. Mulutnya terbuka, namun tak satu pun kata mampu keluar dari sana. “Mami tahu, kan, apa kesalahan Mami?” tanya Radja dengan suara tenang, terlalu tenang untuk emosi sedalam itu. “Radja ….” suara Sekar bergetar, bukan karena takut, melainkan tak menyangka anak yang ia besarkan berdiri sejauh ini darinya. “Bicarakan dengan mereka,” potong Radja cepat, tak memberi celah. “Selesaikan semuanya. Jalani apa pun yang sudah jadi konsekuensi dari perbuatan Mami.” “Daddy!” Regantara dan Narendra berlari menghampiri ayah mereka bersamaan. Wajah kecil itu dipenuhi rindu dan kebingungan setelah berhari-hari tak melihat Radja. Namun Radja tak menurunkan pandangannya sedikit pun dari Sekar. Bahkan ketika kedua anaknya memeluk kakinya, fokusnya tetap terkunci pada satu sosok di hadapannya. “Dengarkan Mami dul
“Tuan, akhirnya Anda menemukan Nyonya,” ucap Sandy dengan senyum profesional. Keterkejutannya lenyap secepat ia menyusunnya. Radja hanya membalas dengan senyum miring. Ia sudah tahu kelicikan pria itu, Sandy bukan tak pernah menemukan Djiwa, melainkan sengaja tak melaporkan keberadaannya meski sudah tahu. Djiwa yang sejak tadi diam akhirnya melirik sang suami, bingung. “Dia siapa, Mas?” “Dia orang yang saya beri kepercayaan untuk mencari kamu sampai ketemu,” jawab Radja dingin. “Hidup atau mati.” Tatapannya beralih pada Sandy. “Tapi dia lalai.” Wajah Sandy menegang. Ia menelan ludah. “Tuan, saya sudah berusaha semaksimal mungkin.” Satu alis Radja terangkat sinis. “Kalau begitu, harusnya kamu menemukan dia, kan? Tapi lima tahun saya tidak mendapat satu pun kabar yang jelas.” Nada suaranya menekan. “Sampai akhirnya saya menemukan istri saya sendiri. Itu pun karena dia yang muncul.”
“Loh, ke mana bocah-bocah itu? Kenapa gak ada di mana-mana?” suara Sekar terdengar tajam siang itu. Pandangannya menyapu ruang tengah, taman samping, hingga arah taman belakang. “Biasanya mereka mondar-mandir, ke luar, balik lagi. Ini kok sunyi?” Sultan dan Fairish saling berpandangan. “Iya, Mi,” sahut Fairish hati-hati. “Binar gak kelihatan sejak habis sarapan. Jangan-jangan ikut Kaisar?” “Kai?” Sekar bergumam pelan, lalu mendecak kesal. “Haduh, anak itu. Mami sudah bilang, jangan ajak anak-anak kalau ke sana.” Kedua lengannya terlipat di dada. Sultan menghela napas ringan. “Gimana, Mi. Mami sudah tahu Mas Radja sekarang di mana?” Sekar menggeleng singkat. “Belum. Kemarin dia juga gak masuk kantor. Sepertinya Mami harus minta Sandy buat lacak keberadaan dia sekarang.” Fairish menoleh pada suaminya. “Emangnya kenapa sama Mas Radja, Mas?”
“Loh, Om, kok sepi?” Narendra menempelkan keningnya ke kaca mobil, matanya menyapu taman yang lengang. Stan-stan makanan masih berdiri, tapi tak satu pun terlihat buka. “Gak ada yang jualan.” “Udah bangkrut kali,” celetuk Binar polos. Kaisar menghela napas panjang. “Bukanya sore, dari jam tiga. Pagi penjualnya masih tidur, siang baru siap-siap, nanti sore sampai malam baru jualan.” “Oh … gitu,” sahut Narendra dan Binar bersamaan. Kaisar mematikan mesin. “Kalian tunggu di sini, ya. Om mau masuk ke gang sempit di sana,” katanya sambil menunjuk lorong kecil di ujung taman. Ketiganya mengikuti arah telunjuk Kaisar. “Ada urusan penting yang harus Om lakuin di dalam. Kalau mau main ayunan, silakan, tapi jangan jauh-jauh. Takut ilang,” lanjutnya tegas. “Aku mau ikut,” ujar Regantara tiba-tiba, nadanya datar namun mantap. “Aku mau tahu rumah Rana di mana.” “Rana?” Kaisar mengulang, menoleh. “Nah, itu juga yang mau Om cari. Nanti kalau Om tahu, Om kabarin ke kalian.” Regantara
Mobil Kaisar meluncur meninggalkan mansion Reinard, arahnya menuju taman yang seharusnya baru ramai saat sore hari. Namun tujuan sesungguhnya sama sekali bukan taman itu, melainkan tempat tinggal Ranatuhita. “Kalau memang benar anak itu anak kandung Djiwa,” gumam Kaisar sambil tetap fokus mengemudi, “Berarti aku juga harus cari tahu, apa benar Djiwa dulu hamil tiga anak kembar.” Rahangnya mengeras. “Dan Mas Radja mungkin baru tahu sekarang,” lanjutnya pelan. “Makanya dia lebih fokus ke anak perempuannya. Atau … dia memang lagi jaga Djiwa, supaya istrinya itu gak kabur la—” “Hihihihi ….” Kaisar refleks melirik ke spion tengah. “Apaan?” gumamnya, dahi berkerut. “Siang bolong gini mana mungkin ada hantu.” Ia menajamkan pendengaran. Sunyi. Hanya suara mesin dan gesekan ban dengan aspal. “Perasaanku aja,” simpulnya, lalu kembali menginjak pedal gas. Mobil melaju cukup kencang. Saat melewati polisi tidur, bodinya berguncang pelan—dan tepat setelah itu, terdengar ringisan
“Ke mana Daddy, Mas?” tanya Narendra malam itu pada saudara kembarnya, Regantara. Keduanya masih terjaga meski jarum jam sudah mendekati pukul sebelas. Mereka berbaring di kamar ayahnya, berharap pintu terbuka dan sosok Radja muncul seperti biasanya. Namun sampai lampu-lampu mansion mulai diredupkan, Radja tak kunjung datang. “Daddy ke luar negeri urusan kerja,” jawab Regantara tenang. Kedua tangan kecilnya terlipat di dada, wajahnya serius—terlalu serius untuk anak seusianya. Narendra menghela napas panjang. “Kalau gitu, kenapa Daddy gak ngabarin kita kayak biasanya, Mas? Terus kamu tahu dari mana Daddy ke luar negeri?” Regantara melirik adiknya sekilas. “Mungkin lupa.” “Lupa?” Narendra mendengus pelan. “Terus kamu tahu dari mana?” “Nenek,” jawab Regantara singkat. Narendra memiringkan kepala. “Kalau kamu udah tahu Daddy ke luar negeri, ngapain kita di kamar ini nungguin Daddy pulang?” “Siapa bilang aku nungguin Daddy?” alis Regantara terangkat. “Ya … gak ada, sih







