LOGINSekar, Kaisar, dan istrinya—Karin, baru saja tiba di rumah sakit Reinard Medika. Langkah mereka terhenti sejenak begitu sampai di lorong ruang operasi. Di sana, Radja duduk bersama ketiga anaknya. Pria itu tampak diam. Terlalu diam. Tatapannya kosong, lurus ke arah pintu ruang operasi yang tertutup rapat. Sementara di sampingnya, Regan, Naren, dan Ratu masih mengobrol pelan—membicarakan adik mereka yang akan segera lahir, juga sang ibu yang mereka yakini akan baik-baik saja. “Mas Radja,” panggil Kaisar hati-hati. Radja mengangkat wajahnya sekilas. Tatapannya bertemu dengan sang adik lalu kembali lurus ke depan. “Om Kai!” seru Naren, turun dari kursinya dan berlari kecil menghampiri pamannya. Karin tersenyum tipis, lalu mengusap lembut puncak kepala bocah itu. “Sebentar lagi Naren punya adik lagi, ya. Jadi dua adik sekarang.” Naren mengangguk semangat, senyumnya lebar. “Iya, Tante. Mommy lagi di dalam, mau keluarin adek.” “Semoga semuanya berjalan lancar,” ucap Karin tul
“Apa? Djiwa lahiran hari ini, Mas?” tanya Fairish, suaranya meninggi tanpa sadar. Sultan mengangguk singkat. Wajahnya serius. “Kita ke rumah sakit sekarang,” ucapnya tenang. “Sekalian jenguk bayi mereka yang akan lahir, dan—” Ia berhenti sejenak. “Dan berpamitan sama Djiwa. Kalau kita belum terlambat.” Alis Fairish langsung mengernyit. “Maksud kamu … berpamitan itu apa, Mas?” Sultan menghela napas panjang. Berat. “Djiwa mungkin tidak akan kembali,” ucapnya pelan. Fairish terkekeh kecil. Sumbang. Tidak percaya. “Kamu ngomong apa sih, Mas?” Ia melangkah mendekat, nyaris tanpa jarak. “Djiwa mau ke mana memangnya?” Sultan menelan ludahnya susah payah. “Waktu melahirkan Ratu, Regan dan Naren dulu, dia mengalami perdarahan hebat. Ditambah eklampsia. Sampai koma satu bulan.” Wajah Fairish langsung berubah. “Seharusnya dia tidak boleh hamil lagi,” lanjut Sultan, suaranya semakin pelan. “Tapi sekarang dia hamil. Dan kondisi rahimnya sudah sangat tipis karena bekas operasi sebelumn
Malam itu, di kamar, Radja sibuk mengemasi perlengkapan bayi ke dalam tas. Gerakannya rapi, teratur—seolah semuanya sudah ia siapkan sejak lama. Besok, adalah hari di mana sang istri akan melahirkan buah hati mereka. Hari yang tak pernah Radja harapkan untuk tiba. Sementara di ruang keluarga, Djiwa duduk bersama ketiga anaknya. Suasana hangat. Namun diam-diam menyimpan perpisahan yang tak mereka sadari. “Nanti kalau adek udah lahir,” ucap Djiwa lembut, menatap satu per satu wajah anak-anaknya, “Kalian jangan nakal, ya. Jangan berantem, jangan saling menyalahkan.” Ketiganya mengangguk bersamaan. “Iya, Mom,” sahut mereka serempak. Djiwa tersenyum kecil. Tangannya terulur, mengusap kepala mereka bergantian. “Kalian saudara,” lanjutnya pelan. “Jadi harus saling jaga, saling sayang.” “Iya, Mommy,” ucap Ratu sambil memeluk lengan ibunya. “Sayangi adek kalian,” lanjut Djiwa, suaranya sedikit tertahan. “Ajarin dia hal-hal baik, seperti yang selama ini Daddy dan Mommy ajarkan ke kalian
Radja menatap adiknya tanpa berkedip. Sorot matanya tenang, tapi dingin—seolah menyimpan sesuatu yang tak ingin ia biarkan terlihat. Lalu, ia tertawa pendek. Hambar. “Sejak kapan kamu bisa menilai perasaan saya hanya dari satu keputusan?” ucapnya rendah. Kaisar menghela napas panjang, tangannya bertaut di depan dada. “Aku tahu seperti apa kamu mencintai Djiwa, Mas. Sampai kamu berani bentrok sama Mami, sampai kamu keluar dari mansion, bahkan hubungan kalian sempat hancur.” Tatapannya menajam. “Itu semua demi kamu tetap bisa hidup sama dia. Tapi sekarang, kamu justru membiarkan dia memilih sesuatu yang bisa mengambil nyawanya sendiri.” “Djiwa akan pergi, Mas,” lanjut Kaisar pelan, tapi menekan. “Dan bukan cuma kamu yang kehilangan. Anak-anak kalian juga.” Nama itu, anak-anak—membuat rahang Radja mengeras. “Kai,” ucapnya akhirnya. Ia bangkit perlahan dari kursinya. Kedua telapak tangannya bertumpu di meja kerja, tubuhnya condong ke depan. Jarak mereka kini terasa lebih dekat,
“Mommy kenapa sedih?” tanya Regan pelan, alisnya bertaut. Tangannya yang kecil terulur, mengusap lembut perut Djiwa. “Ibu hamil kan gak boleh nangis, nanti adek bayinya ikut sedih.” Djiwa tersenyum tipis, meski matanya masih basah. Ia menarik tubuh putra sulungnya ke dalam pelukan hangat. “Mommy gak sedih, Nak,” bisiknya lembut. “Mommy cuma terharu. Karena adek sebentar lagi lahir.” Regan membalas pelukan itu, menyandarkan kepalanya di dada sang ibu dengan nyaman. “Regan yakin,” ucapnya mantap, “Adek lahir sehat. Mommy juga.” Napas Djiwa tercekat. Kalimat sederhana itu justru menghantam dadanya paling dalam. Matanya kembali berkaca. “Aamiin …,” lirihnya pelan, nyaris tak terdengar. “Semoga doa kalian selama ini didengar sama Tuhan, ya, Nak.” Di sampingnya, Radja tersenyum tipis. Ia meraih Naren dan Ratu, menarik keduanya agar ikut mendekat. “Peluk Mommy,” ucapnya pelan. Tanpa ragu, keduanya ikut merangkul tubuh sang ibu. Seketika, pelukan itu terasa utuh. “Semoga doa anak-an
Radja tiba di rumah sore itu dengan langkah pelan, nyaris tanpa suara. Ia sengaja berjalan hati-hati, tak ingin menarik perhatian—terutama dari putri kecilnya yang sedang belajar bersama guru les di ruang tengah. “Sekarang kalian kerjakan tugas sekolahnya dulu, nanti Kakak koreksi, ya.” Suara Bagas terdengar tegas di ruang tengah, sambil menatap ketiga anak muridnya. “Jangan menjawab asal, semua ada di buku mata pelajaran kalian. Cari sampai ketemu, jangan malas membaca,” tambah pria itu. “Oke, Kak Bagas.” Sahut Regan, Naren, dan Ratu. Melihat itu Radja tersenyum tipis, sebelum kembali melangkah. Di tangannya, dua sepaket bunga tulip tergenggam rapi. Satu untuk istrinya, satu lagi untuk Ratu. Ia langsung menuju lantai dua. Langkahnya terhenti sesaat di depan pintu kamar, sebelum akhirnya ia membukanya perlahan. Di dalam, Djiwa duduk di atas ranjang, dikelilingi beberapa pakaian bayi yang tengah ia lipat dengan hati-hati. “Sayang,” panggil Radja pelan. Djiwa tersentak kecil, l
Inggrit baru saja tiba di mansion. Langkah kakinya menghentak keras, cepat, dan penuh amarah—seolah dia sengaja ingin seluruh penjuru rumah tahu bahwa saat ini dia sedang berada di titik paling emosional. Di belakangnya, Anggita menyusul dalam keadaan terisak halus. Arga mengantar bocah itu pu
“Simbiosis mutualisme?” Radja mengulang dua kata itu pelan, dengan senyum miring yang tidak sepenuhnya bisa dibaca. Ia menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan seolah mencoba memahami isi kepala perempuan di hadapannya. Djiwa menunduk. Napasnya tercekat. “Biarin Djiwa sendiri dulu, Mas …
Sudah satu jam yang lalu Djiwa terlelap di pelukan Radja. Pria itu bahkan absen dari kantornya hari ini hanya untuk menemani wanita itu tidur di hotel. Entah apa yang membuatnya memilih menetap di sini. Jika bicara soal khawatir, harusnya dia tetap bisa meninggalkan Djiwa seorang diri setelah mema
“Kenapa kamu melakukan itu pada Djiwa, Inggrit?” tanya Sekar saat yang lain berangkat kerja, hanya menyisakan mereka berdua, dan juga Aprilia yang diletakkan di bouncer bayi. Inggrit menghela napas panjang. “Aku gak suka aja sama Djiwa, bener-bener gak suka. Selama ini aku gak pernah satu frame sa







