LOGIN“Mbak ... silakan masuk,” ucap Djiwa lembut saat melihat Fairish baru saja tiba di rumah sakit bersama kedua anaknya. Fairish tersenyum kecil sambil mendorong stroller Adipati masuk ke ruang rawat inap VIP Ratu. Di sampingnya, Binar berjalan cepat dengan seragam dokter mainan lengkap dan stetoskop kecil yang menggantung di lehernya. “Gimana keadaan Ratu sekarang, Wa?” tanya Fairish penuh cemas. “Udah lebih baik, Mbak,” jawab Djiwa pelan. “Tadi udah sadar, udah bisa ngobrol juga sama Daddy-nya.” Fairish langsung menghembuskan napas lega. “Syukurlah.” “Ratuuu!” seru Binar heboh sambil berlari mendekati brankar. Ratu yang sedang bersandar di dada Radja langsung menoleh. Bola matanya membulat lucu saat melihat sepupunya memakai jas dokter kecil. “Kak Binar jadi dokter beneran?” tanya Ratu polos. “Iya!” jawab Binar bangga. “Papa ngajarin Binar periksa ora
Sultan baru saja tiba di kantor polisi. Langkahnya panjang dan tergesa saat memasuki bangunan tersebut dengan raut wajah serius. Sejak menerima kabar dari Karin bahwa Kaisar menyerahkan diri, pikirannya terus dipenuhi berbagai kemungkinan. Kaisar memang keras kepala. Namun Sultan tahu betul, adik bungsunya itu bukan tipe orang yang mudah mengakui kesalahan, apalagi menyerahkan diri begitu saja. Di salah satu ruangan pemeriksaan, Sultan akhirnya menemukan Kaisar duduk sendirian. Pria itu tampak jauh lebih kacau dibanding terakhir kali mereka bertemu. Rambutnya berantakan. Matanya merah. Dan tatapannya kosong menatap meja di depannya. “Kai.” Kaisar mengangkat kepalanya perlahan saat mendengar suara sang kakak. “Mas Sultan.” Sultan menghembuskan napas panjang sebelum berjalan mendekat. “Apa yang kamu lakukan di sini?” tanya
Karin mengepalkan kedua tangannya erat di atas pangkuan. Tubuhnya gemetar hebat sejak pintu apartemen itu tertutup beberapa menit lalu. Kaisar benar-benar pergi. Pergi untuk menyerahkan dirinya ke kantor polisi. Air mata terus mengalir membasahi pipinya tanpa mampu dia tahan lagi. Dadanya terasa sesak sampai sulit bernapas. Ia menunduk, menatap perutnya yang mulai membesar dengan pandangan kosong. “Maafin Mama ....” lirihnya serak. Semua ini bermula karena dirinya. Karena kecelakaan itu. Karena ketakutannya sendiri. Dan sekarang, Kaisar harus menanggung semua konsekuensinya. Pria itu bahkan mungkin tidak akan berada di sampingnya saat anak mereka lahir nanti. Tak ada yang menggenggam tangannya di ruang persalinan. Tak ada Kaisar yang biasanya selalu bersikap tenang dan melindunginya. Memikirkan hal itu membuat tangis Karin pecah semakin keras. “Aku g
Seketika Djiwa dan Naren menoleh bersamaan ke arah Regan. “Apa?” tanya Djiwa cepat. “Tangan Ratu gerak, Mom,” ucap Regan dengan napas tertahan. “Beneran.” Djiwa buru-buru mendekat ke sisi brankar. Dan benar saja, jemari kecil putrinya bergerak pelan di sela genggaman tangan Regan. “Nak ...?” suara Djiwa langsung bergetar. Ia membungkuk, mengusap lembut pipi pucat putrinya. “Ratu ... sayang?” Kelopak mata bocah itu bergerak pelan, cukup membuat jantung Djiwa berdetak begitu cepat hingga hampir sesak. “Mas Regan! Pencet tombol dokter, cepat!” ucap Djiwa panik bercampur bahagia. Regan langsung bangkit dan menekan tombol darurat di atas kepala brankar. Tak butuh waktu lama, suara langkah kaki tergesa terdengar dari luar ruangan. Sementara itu Djiwa buru-buru meraih ponselnya dengan tangan gemetar, mencari nomor suaminya untuk dihubungi. Pa
“Mas jangan bercanda kayak gitu,” ucap Karin cepat, matanya mulai berkaca-kaca. “Saya serius.” “Kamu gila?!” suara Karin bergetar. “Kalau kamu masuk penjara, aku gimana? Anak kita gimana?” Kaisar memejamkan matanya sejenak. “Dan kalau Ratu kenapa-kenapa ... saya juga gak akan bisa hidup tenang, Karin.” Karin menggigit bibirnya kuat-kuat, air matanya mulai jatuh satu per satu. “Kamu bilang ini semua gak disengaja,” lirihnya. “Kamu bilang cuma mau bikin Mas Radja berhenti ngejar aku.” “Saya tahu.” “Terus kenapa sekarang malah mau nyerahin diri?” Kaisar mengangkat kepalanya perlahan. Matanya merah. “Karena saya baru sadar ... saya hampir mengambil anak perempuan satu-satunya dari kakak saya.” “Bagaimana jika Ratu tidak selamat? Sedangkan Djiwa sudah tidak bisa hamil lagi,” lanjut Kaisar lirih. “Bayangkan jika itu posisi saya sebagai ayah?”
Suasana ruang rawat inap VIP terasa begitu sunyi. Hanya terdengar suara alat monitor jantung yang berdetak stabil, mengisi keheningan di dalam ruangan. Ratu masih terbaring lemah di atas brankar. Wajah kecilnya pucat, kepalanya diperban, begitu pula salah satu kakinya yang membuat dada siapa pun terasa nyeri saat melihatnya. Radja duduk di kursi samping brankar sejak tadi. Kemeja hitam yang dia kenakan tampak kusut karena semalaman tak berganti posisi terlalu banyak. Matanya merah. Bukan hanya karena tidak tidur, tapi juga karena terlalu lama menahan rasa takut dan bersalah. Tangan besarnya menggenggam tangan kecil putrinya erat, seolah takut kehilangan. “Kita sarapan dulu ya, Mas,” ucap Djiwa lirih sambil masuk membawa nampan makanan. Di belakangnya, Regan dan Naren ikut masuk dengan langkah pelan. Kedua bocah itu tampak murung sejak semalam. Radja menoleh sekilas pada sang istr
“Terima kasih banyak ya, dok?” ucap Fairish sembari mengulas senyum manis yang dipaksakan. Ia merapikan pakaiannya sebelum turun dari ranjang pasien. “Sama-sama, Bu. Kalau begitu, tunggu sebentar, ya. Saya cetak dulu foto hasil USG-nya,” ucap dokter obgyn tersebut sambil melangkah ke meja kerjanya
“Non Djiwa, istirahat, ya?” Mbok Inem segera membantu Djiwa berbaring di atas ranjang. “Non pasti kaget,” ucapnya lirih, mata wanita paruh baya itu berkaca-kaca. Djiwa menyandarkan punggung ke sandaran ranjang, memejamkan mata sejenak sambil berusaha menstabilkan napasnya yang masih memburu. Mbok
“Aku sebenernya hamil apa gak sih, Kai?” tanya Fairish pada Kaisar yang tengah mengemudi mobilnya, meninggalkan restoran yang beberapa saat lalu mereka singgahi untuk makan siang. Kaisar meliriknya dari kaca spion tengah, sebelum kembali fokus pada jalan raya. “Kamu sendiri kan yang dateng ke d
“Kamu yang masak?” tanya Radja sembari menyuapkan makanan ke mulutnya. Tatapannya tertuju pada Djiwa, penuh selidik sekaligus perhatian. “Iya, Mas,” jawab Djiwa lembut. “Selama gak capek, aku pengen masakin sarapan sama makan malam buat kamu dan anak-anak.”







