Share

Bab 5

Author: Dea Saputri
last update publish date: 2026-03-28 20:04:37

Bab 5

Adeline mendengar ucapan mereka menegang, apa maksudnya? Tidak sabar apa, ia ingin membuka suara namun tubuhnya mendadak pusing dan berat.

“Kenapa baby?” tanya Galuh mengusap lembut pipiku, aku langsung menepisnya.

“Jangan sentuh, gue gak suka disentuh. Apalagi lo berani pegang pegang gue!” tatapan Adeline mulai sayu, namun ia masih bisa menjawab ucapan Galuh dengan menusuk.

“Oke – oke, sorry baby…, lagian kita pacaran. Aku pegang kamu juga hal normal dan wajar,” ucap Galuh tersenyum kecil melihat Adeline semakin memegangi kepalanya karena pusing.

“Sama aja, gue gak suka ada sentuhan fisik!”

“Gila, galak woy gimana kalau nanti main galak dan liar? Apa gak makin mantap tuh,” bisik salah satu teman Galuh membuat perasaan Adeline tidak nyaman.

Takut terjadi sesuatu.

Bahkan tangannya bergetar menyentuh ponsel, ingin mencari Bella dan Sisil.

“Mau mau hubungin siapa baby? Aku ada disini, ngapain sibuk pegang ponsel.”

“Balikin ponsel gue Galuh, lo apaan sih!” sentak Adeline lalu Galuh tertawa dan mengembalikan langsung. Bahkan Adeline tidak jadi membuka ponsel daripada diambil oleh Galuh.

“Oke – oke, maaf baby..., jangan main ponsel. Aku cuma pengen habisin waktu sama kamu, apalagi kita gak pernah ketemu kan, senyum dong!”

“Jadi lo mau bicara apa?” tanya Adeline memegangi kepalanya semakin berat.

“Hmmm, Adel sebenarnya gue butuh uang. Jujur, gue gak tahu harus minta tolong ke siapa. Dan gue yakin, lo pasti punya uang banyak kan? Gue pinjem kok, janji kalau gue ada uangnya langsung gue balikin.”

Adeline yang masih sadar, mengendus kesal. Ini bukan pertama kalinya Galuh meminjam uang, ternyata pria yang menjadi pacarnya mokondo. Bahkan uang yang kemarin di pinjam sama sekali belum dikembalikan dan ini pinjam lagi?

“Sadar gak sih, bahkan uang yang lo pinjem belum lo balikin sama sekali. Sekarang apa alasannya?” sinis Adeline langsung, tanpa sadar Galuh mengepalkan tangan apalagi teman – temannya terkejut dan tertawa kecil mendengar ucapan sinis dari Adeline.

Mereka bukan seperti kekasih, melainkan Adeline di manfaatkan oleh Galuh bukan? Orang yang tak tahu, menyangka jika Adeline kecintaan dengan Galuh, nyatanya dia melakukan ini agar terlihat punya kekasih, walaupun tidak ada rasa sama sekali sebagai formalitas terutama di depan Kenzo.

“Kemarin gue udah bilang, gue ada uangnya dan rencana emang buat bayar ke lo. Cuma ya itu, gue butuh lagi uangnya belum ada, Adel.” Tanpa sadar, Galuh sudah sangat emosi saat Adeline merendahkan terus terutama soal uang.

“Jadi pinjam berapa? Gue males ribut,” sinis Adeline mendengar ocehan Galuh membuat kepalanya semakin berat dan pusing.

“Gak banyak kok, cuma 5 juta aja!” ucap Galuh membuat Adeline mengerutkan kening. Tidak salah dengar? Biasanya Galuh meminjam uang tidak mengkira, sekarang Cuma 5 juta? Baginya itu uang kecil, seharga baju Adeline yang kenakan saja lebih 5 juta.

“Oke, gue transfer sekarang!” saat ingin mengetik nominal, kenapanya semakin berat hingga Galuh menarik ponselnya.

“Kenapa, kamu gak enak badan?” tanya Galuh begitu perhatian membuat Adeline menganggukan kepala.

“Iya, pusing. Mungkin gak biasa cium aroma alkohol,” jawabnya.

“Aku tulis saja, kamu biar gampang.”

“5 juta,” ucap Adeline dan Galuh menganggukan setuju.

Tanpa sadar tangan Galuh bukan menulis 5 juta, melainkan 500 juta. Sengaja ia memanfaatkan posisi ini, Adeline bahkan meminum kembali jus jeruk dan ia semakin tersenyum puas. Karena diam – diam jus jeruk itu berisi obat tidur dan perangsang dengan dosis yang tinggi.

500 juta berhasil masuk ke rekeningnya, ia mengembalikan ponsel ke dalam tas Adeline kembali. Ia menatap kedua temannya memberikan kode jika rencana mereka berhasil.

“Lihat, di makin gak sadar!” ucap Galuh dengan Rio.

“Lo yakin, dia masih perawan? Secara dia cantik banget, apalagi dia anak pengusaha ternama bro, lo yakin?” tatapan Rio mulai khawatir dan waspada.

“Gue yakin, cctv semuanya udah gue matiin. Bahkan club ini gue udah putus cctvnya, dia gak akan tahu. Bentar lagi obat itu bereaksi, gue mau uang yang gue minta kirim gue setengah. Gue minta 100 juta!” ucap Galuh tersenyum licik menatap Adeline yang sudah bersandar di kursi merasakan kepalanya pusing dan mengantuk. Bahkan suara dia sama sekali tidak di dengar oleh Adeline sedikit pun.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Candu Obsesi Sahabatku   Bab 14

    Bab 14Adeline diam, ia akui jika terlalu banyak hal yang terjadi antara dirinya dan Kenzo. Semuanya hanya mereka yang tahu. Seperti sekarang ia memeluk erat Kenzo bagaimana jika kedua orang tua mereka tahu? Bahkan Adeline begitu nyaman ada dipelukannya. Adeline berpacaran dengan Galuh tanpa ada kontak fisik, hanya sebatas hal wajar. Pelukan saja jarang, apa lagi ciuman bibir panas dan liar seperti tadi. Lama terdiam dengan pikirannya sendiri, ia tertidur dalam dekapan Kenzo. “Kenapa lo gak pernah ngerti kalau gue suka sama lo, Adeline. Gue bahkan benci saat lo deket dengan laki-laki manapun selain gue. Karna lo hanya milik gue.”Kenzo ikut terpejam, ia tidur dengan Adeline bersama di satu bed rumah sakit ini. *Adeline membuka, tak ada siapapun. Hening, merasa haus ia mencoba bangun secara perlahan. Terlihat masih lemas, tapi ia mencoba meraih gelas di dekatnya. Sialnya ia kesulitan hingga suara pintu kamar mandi terbuka ada Kenzo segera berjalan ke arahnya. “Minum, aku haus.” “

  • Candu Obsesi Sahabatku   13

    Bab 13 “Kemana?” bisik pelan Adeline tidak mau ditinggalkan oleh Kenzo. Ia merasa takut jika sendirian.“Aku di sofa,” ucapnya namun Adeline menggelengkan kepala.“Gue gak mau ditinggal.”“Aku kamu, Adeline. Kenapa ngomongnya masih gitu hmm? Kita bukan orang kemarin, kita sudah lama kenal lho.” Ucap Kenzo namun gadis itu hanya tersenyum kecil dan tetap geleng kepala.“Jangan pergi, di sini saja.” Adeline menahan tangan Kenzo untuk tetap disini, ia bahkan menggenggam tangan Kenzo dengan erat tidak mau ditinggal sama sekali.“Aku disini, tidurlah.”Adeline memejamkan mata, ia bangun dan duduk kembali. Meminta Kenzo mendekat dan tak terduga memeluknya. Kenzo hanya tersenyum kecil membalas pelukan Adeline. “Kenapa? Ada sesuatu hem? Katakan saja!” ucap Kenzo.“Engga ada, aku cuma pengen peluk.”Adeline yang biasanya keras kepala, angkuh sekarang menjadi sosok diam. Tak ada senyuman dan cerewet dari mulutnya. Kenzo hanya bisa pasrah menunggu Wanita itu hingga benar – benar sembuh dari keja

  • Candu Obsesi Sahabatku   12

    Bab 12Tubuh Adeline menegang kaku, melihat Kenzo menggendongnya ke dalam kamar mandi. Ada rasa malu, bahkan ia butuh karena idak tahan lagi. “Bisa? Mau dibanu lepas celananya?” tanya Kenzo menggoda Adeline membua wanita itu melotot langsung.“Gila lo, udah deh sana keluar!” dalam sekejab sikapnya langsung berubah menjadi galak dan judes. Bukan apa, jusru Kenzo merasa gemas dengannya, ia mengacak – ngacak pelan rambut Adeline.“Aku hanya bercanda, panggil kalau selesai.”Kenzo meninggalkan Adeline sendiri di kamar mandi, perasaannya berdebar begitu kencang. Tak lama Mami Angelin datang bersama suaminya mereka melihat taka da Adeline disana.“Kemana Adeline Ken?” tanya Papi Aditya.“Kamar mandi,” ujarnya pelan. “Sudah selesai kerjaan mami?” tanya Kenzo kembali apalagi Anjelin baru saja keluar sudah datang kembali.“Belum, kebetulan papi datang. Besok saja, kita sudah kabari kok.”Tak lama suara Adeline memanggil Kenzo, “Ken… gue udah selesai.” Kenzo langsung masuk ke kamar mandi, meli

  • Candu Obsesi Sahabatku   11

    Bab 11 Adeline menatap datar Kenzo, perasaannya masih bingung dan bimbang dengan semua yang terjadi kali ini. Nyatanya, dengan Galuh ia tidak benar – benar ada rasa. Bahkan pria itu tega menjebak dirinya untuk tidur dengan pria lain, gila bukan? Kenzo, sahabatnya yang selalu ada untuknya. Bahkan Adeline yakin jika hari ini pria itu memiliki jadwal yang padat. Sayangnya dia selalu meluangkan waktu untuk dirinya. Belum lagi Kenzo bicara pintu kamar diketuk, masuklah Zack membawa bunga dan beberapa coklat kesukaan Adeline. Pria itu langsung menerimanya, “Lo bisa keluar!” ucap Kenzo tidak mengizinkan Zack masuk sama sekali. “Gue ke kantor, urus kerjaan lagi. Lo pulang sendiri bisa? Atau nanti gue pelru ke sini lagi?” tanya Zack dengan Kenzo. “Gue bisa sendiri, lo urus kantor.” “Oke, gue duluan. Semoga Adeline cepat sembuh,” gumam pelan Zack yang bisa dikatakan menggoda Kenzo seperti biasa. “Gak usah banyak omong lo.” Kenzo memberikan ke Adeline, ia tahu wanita di depannya mas

  • Candu Obsesi Sahabatku    Bab 10

    Bab 10 Sejak ucapan Kenzo kemarin, Adeline semakin diam dan tidak banyak bicara. Bahkan Mami Angelin sudah membujuk Adeline untuk melanjutkan pemeriksaan dengan dokter psikolog sayangnya Adeline hanya diam tidak melawan seperti biasanya. “Sayang, ada masalah? Bagaimana konsultasi dengan dokter Silvi? Semua baik – baik saja kan?” tanyanya memeluk Adeline yang baru saja keluar dari ruangan dengan mata sembab bahkan tatapannya kosong. “Aku baik mam, aku ingin pulang. Aku gak mau dirawat di sini, aku baik – baik saja!” pinta Adeline membuat Mami Angelin mengerutkan kening. Dari raut wajahnya tidak setuju, kondisi Adeline belum membaik masih butuh pantauan dari dokter untuk pemeriksaan lanjut. “Sayang, tunggu 2 hari lagi ya?” ujarnya. “Iya, terserah mami saja.” Adeline duduk di kursi roda, di dorong oleh perawat untuk masuk ke dalam kamar inapnya kembali. Tatapannya kosong, ia memilih memejamkan mata. Ucapan Kenzo semakin terlintas. Bagaimana jika orangtua mereka tidak setuju? H

  • Candu Obsesi Sahabatku    Bab 9

    Bab 9 “Kamu disentuh dimana?” tanya Kenzo dengan tegas dengan aura yang dingin membuat Adeline menatapnya langsung. “Dia cengkram wajahku, ini…, dia tarik tangan bahkan dia hampir lepasin baju aku.” Bukan Adeline yang keras kepala, kali ini hanya sisi manja dan manis di depan Kenzo, menggunakan kata aku – kamu. Bukan lo – gue seperti biasa yang tidak akur saling adu mulut. Tanpa menunggu lama, Kenzo menyentuh tangan bahkan mencium tangan Adeline. Tidak hanya itu saja, ia mencium wajah Adeline dengan ciuman lembut dan usapan lembut seolah menghilangkan bekas menjijikan yang baru saja di dapatkan oleh Adeline. CUP. CUP. CUP. Entah berapa kali kecupan, Adeline hanya memejamkan mata. Membiarkan Kenzo menghapus jejak menjijikan yang membuat dirinya kotor dan tidak suci kembali. Adeline yang bisa keras kepala, bahkan kini hanya menangis dengan ketakutan. Takut, bayangan Kenzo datang terlambat pasti dia sudah hancur. “Aku sudah hilangkan semuanya, tidak ada bekas sia*alan itu lagi!

  • Candu Obsesi Sahabatku   Bab 4

    Bab 4Kenzo yang sedang meeting di ruang rapat dengan Zack dan lainnya langsung berhenti menerima telfon dari Mami Angelin. Kenzo selalu mengutamakan panggilan dari Adeline, kedua orangtuanya, dan juga orang tua Adeline langsung.[“Kenzo, Adeline lagi keluar…, katanya mau ketemu dengan Bella dan Si

  • Candu Obsesi Sahabatku   Bab 3

    Bab 3Adeline sedang menikmati coffee di balkon, dengan tangan sibuk men scroll media sosial yang sedang trending. Tangannya diam, ketika nama Kenzo baru saja meresmikan sebuah restoran diluar kota dan itu viral. Banyak pengunjung membuat mereka penasaran bagaimana cita rasa masakan restoran terseb

  • Candu Obsesi Sahabatku   Bab 2

    Prabu Aditya, papi dari Adeline kini menatap putrinya tajam. Penuh tanda tanya, gadis cantik itu justru tersenyum manis ke arahnya. Tidak hanya ada Aditya, melainkan ada Reno Romano, Papa Kenzo yang sedang bertemu dengan mereka ikut bingung.“Kamu kenapa sayang?” tanya Papi Aditya, masih menaruh ke

  • Candu Obsesi Sahabatku   Bab 1

    “Ayo pulang,” suara pria tampan yang menjemput Adeline pulang dari shopping dengan teman - temannya. “Astaga aura Kenzo ganteng banget, idaman wanita gak sih. Beruntung banget Adeline punya sahabat kayak Kenzo.” “Gue masih heran, kenapa Kenzo begitu posesif dengan Adeline. Kalau dipikir Adeline

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status