MasukBab 7
Brak!
Rahang Kenzo mengeras melihat Adeline, gadis yang tumbuh dan hidup bersamanya begitu hancur. Gadis yang tidak biasa menangis, kini histeris ketakutan dengan penampilan yang kacau.
Kenzo tidak menunggu lama, ia menghajar Rio bertubi-tubi. Tangan di darahnya mengalir, karna tidak sadar wajah Rio hampir hancur di tangannya langsung.
Kenzo tidak diam, ia mengambil lampu tidur dan melemparkan ke Rio seketika.
Byar!!!
Hancur, pecah bahkan kepala Rio langsung berdarah - darah. Kenzo sama sekali tidak peduli, ia menarik rambutnya bahkan tak berdaya sama sekali dihadapnya.
“Lo…, berani menyentuh milik gue! Bahkan lo perlakukan milik gue seperti binatang. Lo sadar, sekarang lo berhadapan dengan siapa?!” amarah Kenzo meluap, bahkan ia memukul wajah Rio hingga tak sadar.
Kenzo menginjak perutnya dengan keras, tanpa ampun bahkan toleransi dan rasa kasihan. Kenzo marah, nyaris sebentar lagi Adeline di lecehkan.
Adeline terisak hebat, ia menutupi tubuhnya dengan tangan yang memerah. Entah apa yang terjadi, bahkan Adeline ketakutan melihat dia memukul habis orang yang hampir memperlakukan seperti binatang.
“Adel, lo gapapa?” tanya Kenzo segera melepaskan jas dan menutupi tubuh Adeline yang berantakan.
“Takut, dan panas…, mereka memberikan obat perangsang. Aku kotor,” ucap Adeline bahkan tubuhnya bergetar hebat.
“Panas Ken, dia sentuh aku. Aku gak mau tapi dia maksa Kenzo!” lirih Adeline gadis manja dengan ketakutannya. Bukan keras kepala dan sombong seperti biasanya.
Saat mendengar kata sentuh, Kenzo langsung memeluknya dan itu menyisakan untuk Adeline. Rasa panas dan hawa yang aneh… dia butuh sentuhan. Tapi otaknya masih ada kewarasan yang sedang dipertahankan saat ini.
“Dimana dia sentuh kamu?” tanya Kenzo menatap Adeline penuh kehangatan dan emosi yang belum mereka.
Adeline merasa ngantuk sekaligus, obat perangsang dan obat tidur mulai bekerja membuatnya tidak sepenuhnya sadar dan ia jatuh pingsan di pelukan Kenzo.
Kenzo membawanya ke rumah sakit, bahkan menyuruh Zack mengamankan Rio dan mencari tahu apa yang terjadi dengan Adeline. Jangan tanya lagi, bagaimana perasaannya Kenzo melihat Adeline tidak sadar namun ia tahu kamu Adeline sengaja dijebak.
Bukan pingsan total, justru Adeline bangun dengan tersenyum kecil, ia merasa tubuhnya tak terkendali.
“Ah Kenzo, aku panas. Gerah, aku gak mau pakai baju!” ucapan Adeline membuat rahang Kenzo menggeras.
“Jangan gila Adeline, diam!” jawabnya merasa jika Adeline tidak sadar dengan apa yang di ucapkan baru saja.
“Tapi gerah, ahh gak mau pakai sepatu. Keringatan, mobil lo jelek. ACnya gak dingin, uhmm panas!” jawabnya kembali mengoceh tanpa sadar membuat Kenzo terus diam. Bahkan Adeline terus mengocah dan mencoba melepaskan pakainnya. Beruntung Kenzo memakai dasi, ia mengikat tangan gadis itu dengan erat dan membawanya ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis.
*
Papi Aditya bahkan meninggalkan pekerjaan langsung, malam ini harusnya ia lembur mendapatkan pesan dari Kenzo jika putrinya ada di club langsung tidak bisa fokus dengan kerjaan. Dia datang ke club, bahkan belum tiba disana Kenzo sudah memberitahu jika Adeline ada di rumah sakit terpengaruh obat tidur dan obat perangsang dalam dosis yang tinggi. Hampir membuat nyawa Adeline celaka.
Terlihat Kenzo yang menunggu diluar, bahkan ia langsung diam tidak mengeluarkan penjelasan apapun tentang Adeline. Dan parahnya, Mami Angeline datang dengan raut cemas khawatir ia bahkan sangat marah melihat anaknya datang ke tempat haram itu.
“Papi..., gimana kondisi Adel?” tanya Mami Angeline matanya berkaca – kaca di ikuti asisten rumah yang melihat nyonya rumah panik bahkan hampir jatuh dengan kepanikan mendapatkan pesan dari Kenzo.
“Tunggu dokter keluar,” ucap Papi Aditya jujur khawatir dan cemas. Bahkan jika putrinya sembuh ia akan memberikan pelajaran dan hukuman untuk Adeline yang sudha datang ke tempat haram disana.
“Kenzo, makasih sudah mengikuti Adeline. Jujur saja mami gak nyangka kalau dia datang ke tempat seperti itu. Mami marah, bahkan kecewa dengan putri mami sendiri yang sudah bohong pergi tidak jujur dengan mami!” ucap Mami Angeli membuat Kenzo diam.
Ini bukan saatnya menyalahkan Adeline. Bagaimanapun, Galuh dan temannya yang bejat salah.
“Ini bukan salah Adeline, aku akan menjelaskan semua setelah tahu kondisi Adeline.” Kenzo tidak ingin fokus menunggu Adeline digantikan dengan penjelasan yang menjijikan, ia ingat bagaimana wajah Adeline yang ketakutan dan tangisan yang bergetar. Semua masih membekas.
Bab 14Adeline diam, ia akui jika terlalu banyak hal yang terjadi antara dirinya dan Kenzo. Semuanya hanya mereka yang tahu. Seperti sekarang ia memeluk erat Kenzo bagaimana jika kedua orang tua mereka tahu? Bahkan Adeline begitu nyaman ada dipelukannya. Adeline berpacaran dengan Galuh tanpa ada kontak fisik, hanya sebatas hal wajar. Pelukan saja jarang, apa lagi ciuman bibir panas dan liar seperti tadi. Lama terdiam dengan pikirannya sendiri, ia tertidur dalam dekapan Kenzo. “Kenapa lo gak pernah ngerti kalau gue suka sama lo, Adeline. Gue bahkan benci saat lo deket dengan laki-laki manapun selain gue. Karna lo hanya milik gue.”Kenzo ikut terpejam, ia tidur dengan Adeline bersama di satu bed rumah sakit ini. *Adeline membuka, tak ada siapapun. Hening, merasa haus ia mencoba bangun secara perlahan. Terlihat masih lemas, tapi ia mencoba meraih gelas di dekatnya. Sialnya ia kesulitan hingga suara pintu kamar mandi terbuka ada Kenzo segera berjalan ke arahnya. “Minum, aku haus.” “
Bab 13 “Kemana?” bisik pelan Adeline tidak mau ditinggalkan oleh Kenzo. Ia merasa takut jika sendirian.“Aku di sofa,” ucapnya namun Adeline menggelengkan kepala.“Gue gak mau ditinggal.”“Aku kamu, Adeline. Kenapa ngomongnya masih gitu hmm? Kita bukan orang kemarin, kita sudah lama kenal lho.” Ucap Kenzo namun gadis itu hanya tersenyum kecil dan tetap geleng kepala.“Jangan pergi, di sini saja.” Adeline menahan tangan Kenzo untuk tetap disini, ia bahkan menggenggam tangan Kenzo dengan erat tidak mau ditinggal sama sekali.“Aku disini, tidurlah.”Adeline memejamkan mata, ia bangun dan duduk kembali. Meminta Kenzo mendekat dan tak terduga memeluknya. Kenzo hanya tersenyum kecil membalas pelukan Adeline. “Kenapa? Ada sesuatu hem? Katakan saja!” ucap Kenzo.“Engga ada, aku cuma pengen peluk.”Adeline yang biasanya keras kepala, angkuh sekarang menjadi sosok diam. Tak ada senyuman dan cerewet dari mulutnya. Kenzo hanya bisa pasrah menunggu Wanita itu hingga benar – benar sembuh dari keja
Bab 12Tubuh Adeline menegang kaku, melihat Kenzo menggendongnya ke dalam kamar mandi. Ada rasa malu, bahkan ia butuh karena idak tahan lagi. “Bisa? Mau dibanu lepas celananya?” tanya Kenzo menggoda Adeline membua wanita itu melotot langsung.“Gila lo, udah deh sana keluar!” dalam sekejab sikapnya langsung berubah menjadi galak dan judes. Bukan apa, jusru Kenzo merasa gemas dengannya, ia mengacak – ngacak pelan rambut Adeline.“Aku hanya bercanda, panggil kalau selesai.”Kenzo meninggalkan Adeline sendiri di kamar mandi, perasaannya berdebar begitu kencang. Tak lama Mami Angelin datang bersama suaminya mereka melihat taka da Adeline disana.“Kemana Adeline Ken?” tanya Papi Aditya.“Kamar mandi,” ujarnya pelan. “Sudah selesai kerjaan mami?” tanya Kenzo kembali apalagi Anjelin baru saja keluar sudah datang kembali.“Belum, kebetulan papi datang. Besok saja, kita sudah kabari kok.”Tak lama suara Adeline memanggil Kenzo, “Ken… gue udah selesai.” Kenzo langsung masuk ke kamar mandi, meli
Bab 11 Adeline menatap datar Kenzo, perasaannya masih bingung dan bimbang dengan semua yang terjadi kali ini. Nyatanya, dengan Galuh ia tidak benar – benar ada rasa. Bahkan pria itu tega menjebak dirinya untuk tidur dengan pria lain, gila bukan? Kenzo, sahabatnya yang selalu ada untuknya. Bahkan Adeline yakin jika hari ini pria itu memiliki jadwal yang padat. Sayangnya dia selalu meluangkan waktu untuk dirinya. Belum lagi Kenzo bicara pintu kamar diketuk, masuklah Zack membawa bunga dan beberapa coklat kesukaan Adeline. Pria itu langsung menerimanya, “Lo bisa keluar!” ucap Kenzo tidak mengizinkan Zack masuk sama sekali. “Gue ke kantor, urus kerjaan lagi. Lo pulang sendiri bisa? Atau nanti gue pelru ke sini lagi?” tanya Zack dengan Kenzo. “Gue bisa sendiri, lo urus kantor.” “Oke, gue duluan. Semoga Adeline cepat sembuh,” gumam pelan Zack yang bisa dikatakan menggoda Kenzo seperti biasa. “Gak usah banyak omong lo.” Kenzo memberikan ke Adeline, ia tahu wanita di depannya mas
Bab 10 Sejak ucapan Kenzo kemarin, Adeline semakin diam dan tidak banyak bicara. Bahkan Mami Angelin sudah membujuk Adeline untuk melanjutkan pemeriksaan dengan dokter psikolog sayangnya Adeline hanya diam tidak melawan seperti biasanya. “Sayang, ada masalah? Bagaimana konsultasi dengan dokter Silvi? Semua baik – baik saja kan?” tanyanya memeluk Adeline yang baru saja keluar dari ruangan dengan mata sembab bahkan tatapannya kosong. “Aku baik mam, aku ingin pulang. Aku gak mau dirawat di sini, aku baik – baik saja!” pinta Adeline membuat Mami Angelin mengerutkan kening. Dari raut wajahnya tidak setuju, kondisi Adeline belum membaik masih butuh pantauan dari dokter untuk pemeriksaan lanjut. “Sayang, tunggu 2 hari lagi ya?” ujarnya. “Iya, terserah mami saja.” Adeline duduk di kursi roda, di dorong oleh perawat untuk masuk ke dalam kamar inapnya kembali. Tatapannya kosong, ia memilih memejamkan mata. Ucapan Kenzo semakin terlintas. Bagaimana jika orangtua mereka tidak setuju? H
Bab 9 “Kamu disentuh dimana?” tanya Kenzo dengan tegas dengan aura yang dingin membuat Adeline menatapnya langsung. “Dia cengkram wajahku, ini…, dia tarik tangan bahkan dia hampir lepasin baju aku.” Bukan Adeline yang keras kepala, kali ini hanya sisi manja dan manis di depan Kenzo, menggunakan kata aku – kamu. Bukan lo – gue seperti biasa yang tidak akur saling adu mulut. Tanpa menunggu lama, Kenzo menyentuh tangan bahkan mencium tangan Adeline. Tidak hanya itu saja, ia mencium wajah Adeline dengan ciuman lembut dan usapan lembut seolah menghilangkan bekas menjijikan yang baru saja di dapatkan oleh Adeline. CUP. CUP. CUP. Entah berapa kali kecupan, Adeline hanya memejamkan mata. Membiarkan Kenzo menghapus jejak menjijikan yang membuat dirinya kotor dan tidak suci kembali. Adeline yang bisa keras kepala, bahkan kini hanya menangis dengan ketakutan. Takut, bayangan Kenzo datang terlambat pasti dia sudah hancur. “Aku sudah hilangkan semuanya, tidak ada bekas sia*alan itu lagi!
“Ayo pulang,” suara pria tampan yang menjemput Adeline pulang dari shopping dengan teman - temannya. “Astaga aura Kenzo ganteng banget, idaman wanita gak sih. Beruntung banget Adeline punya sahabat kayak Kenzo.” “Gue masih heran, kenapa Kenzo begitu posesif dengan Adeline. Kalau dipikir Adeline
Bab 5Adeline mendengar ucapan mereka menegang, apa maksudnya? Tidak sabar apa, ia ingin membuka suara namun tubuhnya mendadak pusing dan berat.“Kenapa baby?” tanya Galuh mengusap lembut pipiku, aku langsung menepisnya.“Jangan sentuh, gue gak suka disentuh. Apalagi lo berani pegang pegang gue!” t
Bab 4Kenzo yang sedang meeting di ruang rapat dengan Zack dan lainnya langsung berhenti menerima telfon dari Mami Angelin. Kenzo selalu mengutamakan panggilan dari Adeline, kedua orangtuanya, dan juga orang tua Adeline langsung.[“Kenzo, Adeline lagi keluar…, katanya mau ketemu dengan Bella dan Si
Bab 6“100 juta? Lo bilang di awal Cuma 60 juta Gal, gak 100!” pekik Rio kesal bahkan ia bisa saja membayar lebih dengan hasil yang didapat nanti.“Gue bahkan udah nyuruh dia dandan cantik kayak gini, lo gak mungkin tertarik dong? Bahkan kalau lo mau, lo bisa ambil. Lihat, gue putusin dia langsung.







