LOGINBab 4
Kenzo yang sedang meeting di ruang rapat dengan Zack dan lainnya langsung berhenti menerima telfon dari Mami Angelin. Kenzo selalu mengutamakan panggilan dari Adeline, kedua orangtuanya, dan juga orang tua Adeline langsung. [“Kenzo, Adeline lagi keluar…, katanya mau ketemu dengan Bella dan Sisil. Mami gak tahu dia kemana, kamu temani dia ya? Kamu gak sibuk kan?”] “Baik, aku akan menyusulnya.” Hanya itu yang dia katakana dengan Mami Angelin, tatapannya kembali dingin. Ia segera menyelesaikan meeting beruntung semua sudah selesai dan Zack segera mengikutinya. “Ada apa?” tanay Zack, tangan kanan sekaligus sekretaris yang membantu Kenzo dalam hal apapun. Namun, ia masih butuh bantuan mencari sekretaris yang cocok masih dalam tahap pemilihan. “Adeline pergi, ayo susul.” “Ken, gue gak bisa tutupin lagi dengan tingkah lo semakin hari semakin menjadi. Untuk apa lo lakuin kayak gini? Sikap lo, udah buktiin kalau lo suka dengan Adeline.” Zack, teman sekaligus partner kerja untuk Kenzo. Jika dalam pekerjaan dia akan lebih formal dan menghargai Kenzo. Namun, jika semua tidak ada kaitannya dengan kerjaan Kenzo tidak mau diperlakukan dengan hal yang sama. Ia ingin seperti biasa agar tidak sungkan dan canggung. Lebih tepatnya, teman dan sahabat. “Gue tahu, soal perasaan gue ke Adel gak bisa ditutupi.” “Kenapa lo gak langsung bilang ke dia? Lo sama Adelin udha kenal lama Ken, bahkan dari kecil lo bareng terus, daripada lo main cewe sana sini, mending lo fokus dengan dia aja, udah. Cukup dan lo gak perlu sandiwara dengan urusan wanita diluar sana.” “Dia gak suka dengan gue, dia anggep gue cuma sahabat gak lebih Zack!” ucapan Kenzo membuat Zack menghela nafas. “Gue juga gak yakin kalau Adel ga ada perasaan sama lo,” gumamnya namun bisa didengar oleh Kenzo. “Bahkan dia gak takut buat mulai hubungan dengan pria lain, lo tahu gue cemburu dan meledak seperti apa!” kesal Kenzo, ia membuka ponsel. Diam – diam Kenzo mengaitkan ponsel Adeline dengannya, dan seketika rahangnya mengeras saat tahu Lokasi yang dituju Adeline bukan mall atau tempat biasanya, melaikan Club malam. “Zack lebih cepat, Adel ke club.” “Ha? Ngapain dia, oke gue langsung cepat gue!” “Kayaknya lo harus cari orang diam – diam buat jagain Adeline jika dia pergi keluar. Gue gak mau dia pergi ke tempat sialan ini,” ucap Kenzo membuat Zack mengerti. “Oke, gue akan cari orang buat mata – matain Adel.” * Sementara Adeline, ia sudah di depan club. Mobilnya sudah terparkir oleh petugas yang mengatur parkiran. Langkahnya ragu untuk masuk ke dalam. Ini adalah pertama kali dia datang ke sini, melihat ponsel Bella dan Sisil akan tiba sebentar lagi. Itu artinya dia lebih dulu datang dibandingkan sahabatnya. Penampilan yang mencolok, bahkan aura yang kuat membuat ia menjadi sorotan saat masuk ke dalam club. Banyak orang yang mulai berbisik – bisik karena dia adalah salah satu putri dari penguasa yang terkenal dan sukses. “Sial, mana sih Galuh!” tanya Adeline mencari – cari dimana meja duduk Galuh. Aroma alkohol begitu menyengat ditambah asap rokok semakin tajam membuatnya hampir menahan nafas. Sebab ia tidak menyukai orang merokok sama sekali. “Baby..., aku mencarimu. Ayo duduk disana, aku sudah memesan meja untuk kita.” Galuh menghampiri Adeline, dengan aroma alkohol yang begitu tipis, tiba – tiba ia merinding. Bukan apa, ingin menangis takut terjadi buruk menimpa dirinya. “Ah iya, ayo!” Adeline diajak duduk di meja yang penuh minuman. Tentunya sangat terkejut, bagaimana bisa? Bukan hanya Galuh saja, melainkan 3 laki – laki yang menyambutnya begitu ramah dan menjijikan untuk Adeline. “Kenalin, cewe gue. Adeline!” ucap Galuh mengenalkan Adeline dengan bangga. Apalagi penampilan Adeline begitu cantik dan memukau. “Wah, cewe lo cantik banget cok. Hai Adeline, gue Rio!” tangannya mencoba menyalami Adeline. “Sorry, gue gak bisa salaman sama lo.” Mereka tersenyum dan tertawa bersama, tingkah angkuh dan keras kepala Adeline bukan membuat mereka marah justru tertawa. Karena wajah Adeline cantik, bahkan nyaris sangat sempurna. “Duduk Baby..., minum dulu,” ujar Galuh namuan Adeline curiga ia langsung mengkonfirmasi segera, “Tenang, gak alkohol kok baby..., jus jeruk ini, biar warna sama aja. Coba hirup aromanya, ucap Galuh meyakinkan Adeline. Benar, wangi jeruk. Entah kenapa Adeline ikut haus, ia langsung minum beberapa tenggakan saja. memang rasa jeruk, tidak ada yang mencurigakan. Bahkan menurutnya begitu menyegarkan. “Gila, gue gak sabar coyyy..., ini cantik banget dia.” “Bener, gue baru lihat Galuh si breng*sek bisa dapetin cewe cantik kayak gini!”Bab 14Adeline diam, ia akui jika terlalu banyak hal yang terjadi antara dirinya dan Kenzo. Semuanya hanya mereka yang tahu. Seperti sekarang ia memeluk erat Kenzo bagaimana jika kedua orang tua mereka tahu? Bahkan Adeline begitu nyaman ada dipelukannya. Adeline berpacaran dengan Galuh tanpa ada kontak fisik, hanya sebatas hal wajar. Pelukan saja jarang, apa lagi ciuman bibir panas dan liar seperti tadi. Lama terdiam dengan pikirannya sendiri, ia tertidur dalam dekapan Kenzo. “Kenapa lo gak pernah ngerti kalau gue suka sama lo, Adeline. Gue bahkan benci saat lo deket dengan laki-laki manapun selain gue. Karna lo hanya milik gue.”Kenzo ikut terpejam, ia tidur dengan Adeline bersama di satu bed rumah sakit ini. *Adeline membuka, tak ada siapapun. Hening, merasa haus ia mencoba bangun secara perlahan. Terlihat masih lemas, tapi ia mencoba meraih gelas di dekatnya. Sialnya ia kesulitan hingga suara pintu kamar mandi terbuka ada Kenzo segera berjalan ke arahnya. “Minum, aku haus.” “
Bab 13 “Kemana?” bisik pelan Adeline tidak mau ditinggalkan oleh Kenzo. Ia merasa takut jika sendirian.“Aku di sofa,” ucapnya namun Adeline menggelengkan kepala.“Gue gak mau ditinggal.”“Aku kamu, Adeline. Kenapa ngomongnya masih gitu hmm? Kita bukan orang kemarin, kita sudah lama kenal lho.” Ucap Kenzo namun gadis itu hanya tersenyum kecil dan tetap geleng kepala.“Jangan pergi, di sini saja.” Adeline menahan tangan Kenzo untuk tetap disini, ia bahkan menggenggam tangan Kenzo dengan erat tidak mau ditinggal sama sekali.“Aku disini, tidurlah.”Adeline memejamkan mata, ia bangun dan duduk kembali. Meminta Kenzo mendekat dan tak terduga memeluknya. Kenzo hanya tersenyum kecil membalas pelukan Adeline. “Kenapa? Ada sesuatu hem? Katakan saja!” ucap Kenzo.“Engga ada, aku cuma pengen peluk.”Adeline yang biasanya keras kepala, angkuh sekarang menjadi sosok diam. Tak ada senyuman dan cerewet dari mulutnya. Kenzo hanya bisa pasrah menunggu Wanita itu hingga benar – benar sembuh dari keja
Bab 12Tubuh Adeline menegang kaku, melihat Kenzo menggendongnya ke dalam kamar mandi. Ada rasa malu, bahkan ia butuh karena idak tahan lagi. “Bisa? Mau dibanu lepas celananya?” tanya Kenzo menggoda Adeline membua wanita itu melotot langsung.“Gila lo, udah deh sana keluar!” dalam sekejab sikapnya langsung berubah menjadi galak dan judes. Bukan apa, jusru Kenzo merasa gemas dengannya, ia mengacak – ngacak pelan rambut Adeline.“Aku hanya bercanda, panggil kalau selesai.”Kenzo meninggalkan Adeline sendiri di kamar mandi, perasaannya berdebar begitu kencang. Tak lama Mami Angelin datang bersama suaminya mereka melihat taka da Adeline disana.“Kemana Adeline Ken?” tanya Papi Aditya.“Kamar mandi,” ujarnya pelan. “Sudah selesai kerjaan mami?” tanya Kenzo kembali apalagi Anjelin baru saja keluar sudah datang kembali.“Belum, kebetulan papi datang. Besok saja, kita sudah kabari kok.”Tak lama suara Adeline memanggil Kenzo, “Ken… gue udah selesai.” Kenzo langsung masuk ke kamar mandi, meli
Bab 11 Adeline menatap datar Kenzo, perasaannya masih bingung dan bimbang dengan semua yang terjadi kali ini. Nyatanya, dengan Galuh ia tidak benar – benar ada rasa. Bahkan pria itu tega menjebak dirinya untuk tidur dengan pria lain, gila bukan? Kenzo, sahabatnya yang selalu ada untuknya. Bahkan Adeline yakin jika hari ini pria itu memiliki jadwal yang padat. Sayangnya dia selalu meluangkan waktu untuk dirinya. Belum lagi Kenzo bicara pintu kamar diketuk, masuklah Zack membawa bunga dan beberapa coklat kesukaan Adeline. Pria itu langsung menerimanya, “Lo bisa keluar!” ucap Kenzo tidak mengizinkan Zack masuk sama sekali. “Gue ke kantor, urus kerjaan lagi. Lo pulang sendiri bisa? Atau nanti gue pelru ke sini lagi?” tanya Zack dengan Kenzo. “Gue bisa sendiri, lo urus kantor.” “Oke, gue duluan. Semoga Adeline cepat sembuh,” gumam pelan Zack yang bisa dikatakan menggoda Kenzo seperti biasa. “Gak usah banyak omong lo.” Kenzo memberikan ke Adeline, ia tahu wanita di depannya mas
Bab 10 Sejak ucapan Kenzo kemarin, Adeline semakin diam dan tidak banyak bicara. Bahkan Mami Angelin sudah membujuk Adeline untuk melanjutkan pemeriksaan dengan dokter psikolog sayangnya Adeline hanya diam tidak melawan seperti biasanya. “Sayang, ada masalah? Bagaimana konsultasi dengan dokter Silvi? Semua baik – baik saja kan?” tanyanya memeluk Adeline yang baru saja keluar dari ruangan dengan mata sembab bahkan tatapannya kosong. “Aku baik mam, aku ingin pulang. Aku gak mau dirawat di sini, aku baik – baik saja!” pinta Adeline membuat Mami Angelin mengerutkan kening. Dari raut wajahnya tidak setuju, kondisi Adeline belum membaik masih butuh pantauan dari dokter untuk pemeriksaan lanjut. “Sayang, tunggu 2 hari lagi ya?” ujarnya. “Iya, terserah mami saja.” Adeline duduk di kursi roda, di dorong oleh perawat untuk masuk ke dalam kamar inapnya kembali. Tatapannya kosong, ia memilih memejamkan mata. Ucapan Kenzo semakin terlintas. Bagaimana jika orangtua mereka tidak setuju? H
Bab 9 “Kamu disentuh dimana?” tanya Kenzo dengan tegas dengan aura yang dingin membuat Adeline menatapnya langsung. “Dia cengkram wajahku, ini…, dia tarik tangan bahkan dia hampir lepasin baju aku.” Bukan Adeline yang keras kepala, kali ini hanya sisi manja dan manis di depan Kenzo, menggunakan kata aku – kamu. Bukan lo – gue seperti biasa yang tidak akur saling adu mulut. Tanpa menunggu lama, Kenzo menyentuh tangan bahkan mencium tangan Adeline. Tidak hanya itu saja, ia mencium wajah Adeline dengan ciuman lembut dan usapan lembut seolah menghilangkan bekas menjijikan yang baru saja di dapatkan oleh Adeline. CUP. CUP. CUP. Entah berapa kali kecupan, Adeline hanya memejamkan mata. Membiarkan Kenzo menghapus jejak menjijikan yang membuat dirinya kotor dan tidak suci kembali. Adeline yang bisa keras kepala, bahkan kini hanya menangis dengan ketakutan. Takut, bayangan Kenzo datang terlambat pasti dia sudah hancur. “Aku sudah hilangkan semuanya, tidak ada bekas sia*alan itu lagi!
Bab 3Adeline sedang menikmati coffee di balkon, dengan tangan sibuk men scroll media sosial yang sedang trending. Tangannya diam, ketika nama Kenzo baru saja meresmikan sebuah restoran diluar kota dan itu viral. Banyak pengunjung membuat mereka penasaran bagaimana cita rasa masakan restoran terseb
Prabu Aditya, papi dari Adeline kini menatap putrinya tajam. Penuh tanda tanya, gadis cantik itu justru tersenyum manis ke arahnya. Tidak hanya ada Aditya, melainkan ada Reno Romano, Papa Kenzo yang sedang bertemu dengan mereka ikut bingung.“Kamu kenapa sayang?” tanya Papi Aditya, masih menaruh ke
“Ayo pulang,” suara pria tampan yang menjemput Adeline pulang dari shopping dengan teman - temannya. “Astaga aura Kenzo ganteng banget, idaman wanita gak sih. Beruntung banget Adeline punya sahabat kayak Kenzo.” “Gue masih heran, kenapa Kenzo begitu posesif dengan Adeline. Kalau dipikir Adeline
Bab 7Brak!Rahang Kenzo mengeras melihat Adeline, gadis yang tumbuh dan hidup bersamanya begitu hancur. Gadis yang tidak biasa menangis, kini histeris ketakutan dengan penampilan yang kacau.Kenzo tidak menunggu lama, ia menghajar Rio bertubi-tubi. Tangan di darahnya mengalir, karna tidak sadar wa







