LOGINBab 6
“100 juta? Lo bilang di awal Cuma 60 juta Gal, gak 100!” pekik Rio kesal bahkan ia bisa saja membayar lebih dengan hasil yang didapat nanti. “Gue bahkan udah nyuruh dia dandan cantik kayak gini, lo gak mungkin tertarik dong? Bahkan kalau lo mau, lo bisa ambil. Lihat, gue putusin dia langsung. Anggap, lo bisa pakai seterusnya, inget bro..., soal rasa kalau udah enak mah ketagihan!” ucapan Galuh membuat Rio benar. Soal enak, pasti nagih. “Gue bakal bayar lunas sekarang, kirim chat jika lo udah putus sama dia. Gue mau kalau besok pagi, dia sadar nyariin lo!” tatapan tajam namun penuh nafsu melihat Adeline hampir tak sadarkan diri. “Aman itu, bukti dia ama lo gue jamin aman. Gue udah bayar mahal club ini.” “Bawa dia ke kamar, gue tunggu di kamar nomor 1082, gue kesana duluan. Lo mau ikut gak?” tanya Rio dengan teman di sampingnya, tangan full tato hanya geleng kepala. “Jujur gue udah pengen sama dia, sayang banget gue udah bayar orang buat gue, gue ke urusan gue dulu. Kalau mau, gue akan nyusulin lo. Lagian, lo bayar Galuh 100 juta. Lo harus dapat yang pertama,” ujarnya membuat Galuh tersenyum kecil. Ia merasa puas, apalagi siKAP Adeline selama ini dengan dia begitu sombong, suka membentak bahkan menyentuh ujung rambut saja Adeline sudah marah. Yang Adeline izinkan hanya bersama tanpa ada sentuhan fisik, jika Adeline hatinya baik moodnya bagus baru Adeline mau digandeng tangan dan itu bisa dihitung beberapa kali saja. Tidak banyak sama sekali. “Bawa ke kamar, gue tunggu!” kata Rio menenggak gelas wine penuh langsung habis dan segera beranjak pergi masuk lebih dulu ke kamar. Adeline merasa kata 100 juta langsung membuka mata, ia menatap Galuh perasaannya mulai tidak tenang. “Lo gak lagi jual gue kan sialan!” teriak Adeline begitu keras namun dengan suara dentuman ruangan membuat mereka tidak peduli. “Untuk apa gue jual lo? Lo yang sombong dan sok berkuasa, memang pantes gue bales!” Galuh menarik tangan Adeline dengan ksar. Tubuh Adeline merangsang cepat, bahkan sentuhan Galuh seperti listrik. Membuat dirinya menegang dan panas, Adeline hampir gila. Bahkan ia ingin melepaskan bajunya sekarang, Adeline menepis namun tubuhnya sangat lunglai pengaruh obat tidur yang mulai bereaksi. Tatapan Adeline mulai sayu, ia menangis takut. Bagaimana jika dia diperlakukan seperti hewan, ia mulai ketakutan. Memberontak melawan Galuh. Sayangnya, tubuhnya semakin panas dan hampir kehilangan kendali saat Galuh membawanya ke dalam lorong untuk masuk kamar. “Lepasin gue sialan, apa yang lo lakuin dengan gue!” teriakan penuh amarah membuat Adeline sadar apa yang diucapkan Kenzo benar kalau Galuh bukan laki – laki baik. Bisa saja dia kabur, tapi Galuh lebih licik satu langkah. Dia memberinya obat perangsang dan itu membuat Adeline tidak bisa berpikir apa – apa. Hanya gelengan kepala, dan air mata yang mengalir begitu deras. Ia takut. “Tolong..., tolong aku!!!” Adeline teriak sekuat mungkin, namun dengan suara musik yang keras tidak ada yang menghiraukan sama sekali. “Mauk, lo budeg atau gimana ha?” sentak Galuh mendorong keras Adeline yang sudah menangis. “Lo.., gue bakal bales lo setelah ini sialan!” ia teriak, dan di lemparkan selayak hewan oleh Galuh. Orang yang dianggap sebagai pasangan justru melakukan hal keji seperti ini dengan dia. “Percuma lo bales gue Adeline, sebentar lagi lo bakal hancur dan gue..., akan puas lihat lo hancur, karena gue cuma manfaatin lo, Adeline.” Galuh tersenyum puas, bahkan Adeline hanya geleng kepala saat pintu kamar tertutup. Dimana Rio, duduk di sofa menatapnya penuh nafsu. “Hai cantik..., Adeline sayang. Uh, baru menyebut namamu saja..., aku sudah bergairah manis.” Rio berjongkok, menyentuh dagu Adeline dengan kasar selayaknya wanita yang dia temui. “Lepasin gue...,” tatapan penuh permusuhan bahkan Adeline mulai bergerak mundur menjauh dari Rio yang melepaskan kemejanya langsung di depannya. Adeline menggelengkan kepala, takut, Jangan, dan berharap ada yang menolongnya. “Kenzo..., kamu dimana Ken, hiks...,” Adeline memanggil Kenzo, ia memeluk dirinya seolah sedang berlindung dari sesuatu yang tidak mau dia banggakan sama sekali.Bab 9 “Kamu disentuh dimana?” tanya Kenzo dengan tegas dengan aura yang dingin membuat Adeline menatapnya langsung. “Dia cengkram wajahku, ini…, dia tarik tangan bahkan dia hampir lepasin baju aku.” Bukan Adeline yang keras kepala, kali ini hanya sisi manja dan manis di depan Kenzo, menggunakan kata aku – kamu. Bukan lo – gue seperti biasa yang tidak akur saling adu mulut. Tanpa menunggu lama, Kenzo menyentuh tangan bahkan mencium tangan Adeline. Tidak hanya itu saja, ia mencium wajah Adeline dengan ciuman lembut dan usapan lembut seolah menghilangkan bekas menjijikan yang baru saja di dapatkan oleh Adeline. CUP. CUP. CUP. Entah berapa kali kecupan, Adeline hanya memejamkan mata. Membiarkan Kenzo menghapus jejak menjijikan yang membuat dirinya kotor dan tidak suci kembali. Adeline yang bisa keras kepala, bahkan kini hanya menangis dengan ketakutan. Takut, bayangan Kenzo datang terlambat pasti dia sudah hancur. “Aku sudah hilangkan semuanya, tidak ada bekas sia*alan itu lagi!
Bab 8Adeline mengalami trauma berat di otaknya, bukan benturan tentang dia jatuh melainkan ingatan Ketika hampir dilec*ehkan. Mami Angelin hanya bisa menangis melihat Adeline dengan tatapan kosong. Hampir 4 jam lebih ia tidak sadar dan dokter berhasil memberikan obat yang cocok untuk memulihkan kondisinya. Adeline dengan diam, tidak bersuara. Hanya geleng kepala, bahkan sesekali menutup mata takut.Papi Aditya sudah mendengar semuanya jelas, jika Adeline dijual dengan Galuh yang katanya kekasihnya. Bahkan Galuh mencuri uang Adeline sebanyak 500 juta. Jelas Kenzo tidak terima bahkan langsung mencari laki – laki sia*alan itu kemana dia sekarang.“Sementara, jangan tanyakan hal berat dengan pasien. Beliau akan histeris dan menangis, biarkan dia tenang.”“Baik dok, untuk semua hasil pemeriksaan bagaimana? Ada kekerasan dok?” tanya Kenzo, matanya tidak lepas dengan Adeline yang memeluk Mami Angelin.“Tidak ada, tapi…, hanya trauma. Sejujurnya, trauma bisa membuat pasien lebih merasa tidak
Bab 7Brak!Rahang Kenzo mengeras melihat Adeline, gadis yang tumbuh dan hidup bersamanya begitu hancur. Gadis yang tidak biasa menangis, kini histeris ketakutan dengan penampilan yang kacau.Kenzo tidak menunggu lama, ia menghajar Rio bertubi-tubi. Tangan di darahnya mengalir, karna tidak sadar wajah Rio hampir hancur di tangannya langsung.Kenzo tidak diam, ia mengambil lampu tidur dan melemparkan ke Rio seketika.Byar!!!Hancur, pecah bahkan kepala Rio langsung berdarah - darah. Kenzo sama sekali tidak peduli, ia menarik rambutnya bahkan tak berdaya sama sekali dihadapnya.“Lo…, berani menyentuh milik gue! Bahkan lo perlakukan milik gue seperti binatang. Lo sadar, sekarang lo berhadapan dengan siapa?!” amarah Kenzo meluap, bahkan ia memukul wajah Rio hingga tak sadar.Kenzo menginjak perutnya dengan keras, tanpa ampun bahkan toleransi dan rasa kasihan. Kenzo marah, nyaris sebentar lagi Adeline di lecehkan.Adeline terisak hebat, ia menutupi tubuhnya dengan tangan yang memerah. Enta
Bab 6“100 juta? Lo bilang di awal Cuma 60 juta Gal, gak 100!” pekik Rio kesal bahkan ia bisa saja membayar lebih dengan hasil yang didapat nanti.“Gue bahkan udah nyuruh dia dandan cantik kayak gini, lo gak mungkin tertarik dong? Bahkan kalau lo mau, lo bisa ambil. Lihat, gue putusin dia langsung. Anggap, lo bisa pakai seterusnya, inget bro..., soal rasa kalau udah enak mah ketagihan!” ucapan Galuh membuat Rio benar.Soal enak, pasti nagih.“Gue bakal bayar lunas sekarang, kirim chat jika lo udah putus sama dia. Gue mau kalau besok pagi, dia sadar nyariin lo!” tatapan tajam namun penuh nafsu melihat Adeline hampir tak sadarkan diri.“Aman itu, bukti dia ama lo gue jamin aman. Gue udah bayar mahal club ini.”“Bawa dia ke kamar, gue tunggu di kamar nomor 1082, gue kesana duluan. Lo mau ikut gak?” tanya Rio dengan teman di sampingnya, tangan full tato hanya geleng kepala.“Jujur gue udah pengen sama dia, sayang banget gue udah bayar orang buat gue, gue ke urusan gue dulu. Kalau mau, gue
Bab 5Adeline mendengar ucapan mereka menegang, apa maksudnya? Tidak sabar apa, ia ingin membuka suara namun tubuhnya mendadak pusing dan berat.“Kenapa baby?” tanya Galuh mengusap lembut pipiku, aku langsung menepisnya.“Jangan sentuh, gue gak suka disentuh. Apalagi lo berani pegang pegang gue!” tatapan Adeline mulai sayu, namun ia masih bisa menjawab ucapan Galuh dengan menusuk.“Oke – oke, sorry baby…, lagian kita pacaran. Aku pegang kamu juga hal normal dan wajar,” ucap Galuh tersenyum kecil melihat Adeline semakin memegangi kepalanya karena pusing.“Sama aja, gue gak suka ada sentuhan fisik!”“Gila, galak woy gimana kalau nanti main galak dan liar? Apa gak makin mantap tuh,” bisik salah satu teman Galuh membuat perasaan Adeline tidak nyaman.Takut terjadi sesuatu.Bahkan tangannya bergetar menyentuh ponsel, ingin mencari Bella dan Sisil.“Mau mau hubungin siapa baby? Aku ada disini, ngapain sibuk pegang ponsel.”“Balikin ponsel gue Galuh, lo apaan sih!” sentak Adeline lalu Galuh
Bab 4Kenzo yang sedang meeting di ruang rapat dengan Zack dan lainnya langsung berhenti menerima telfon dari Mami Angelin. Kenzo selalu mengutamakan panggilan dari Adeline, kedua orangtuanya, dan juga orang tua Adeline langsung.[“Kenzo, Adeline lagi keluar…, katanya mau ketemu dengan Bella dan Sisil. Mami gak tahu dia kemana, kamu temani dia ya? Kamu gak sibuk kan?”]“Baik, aku akan menyusulnya.”Hanya itu yang dia katakana dengan Mami Angelin, tatapannya kembali dingin. Ia segera menyelesaikan meeting beruntung semua sudah selesai dan Zack segera mengikutinya.“Ada apa?” tanay Zack, tangan kanan sekaligus sekretaris yang membantu Kenzo dalam hal apapun. Namun, ia masih butuh bantuan mencari sekretaris yang cocok masih dalam tahap pemilihan.“Adeline pergi, ayo susul.”“Ken, gue gak bisa tutupin lagi dengan tingkah lo semakin hari semakin menjadi. Untuk apa lo lakuin kayak gini? Sikap lo, udah buktiin kalau lo suka dengan Adeline.”Zack, teman sekaligus partner kerja untuk Kenzo. Ji







