Partager

Bab 6

Auteur: Lyla Veil
last update Date de publication: 2025-12-16 10:33:31

“Baik, Pak Elang, bisa.” jawab Dinara tegas meski sebenarnya ada rasa sedikit kesal bercampur bingung.

Elang hanya mengangguk tanpa ekspresi, seperti biasa. 

Yang Dinara tahu selanjutnya adalah lebih banyak email masuk mengenai proyek Cendana Hills itu. Ada laporan keuangan dengan nominal fantastis, ada pula laporan-laporan lain dengan judul ‘DOKUMEN RAHASIA’ yang dicetak tebal. 

Kepala Dinara sakit memikirkannya. Ia tidak boleh ceroboh kali ini. Lupa menyerahkan laporan saja dibilang tidak becus, apalagi kalau ia melakukan kesalahan fatal!

Sampai malam, kepala Dinara bekerja tanpa jeda. Tanggung jawab baru itu membuatnya sulit tidur. Namun, ada sebuah pinta Elang yang membuatnya terpacu. 

“Ada bonus besar apabila selesai.”

Semua masih menggema, dan kini proyek Cendana Hills resmi berada di pundaknya.

Ia tidak bekerja sendirian. Ada beberapa orang yang ia kenal yang juga menangani proyek ini, seperti Julia, sahabatnya dari bagian marketing. Ibu Reva dari bagian HRD juga ikut turun. 

Mengurusi bagian administrasi ini, Dinara juga harus melakukan komunikasi dengan orang-orang yang terlibat. 

Sejak diberi tugas ini, setiap harinya Dinara sibuk membereskan laporan-laporan yang diberi. Ada segunung laporan yang menunggu setiap harinya. 

Selain itu, Dinara juga harus tetap berada di kantor dan menjadi sekretaris Elang yang cekatan di tengah kesibukan barunya. 

Malam itu pun Dinara sibuk. Ia sedang lembur, sibuk mengurus berkas-berkas penting penyokong proyek Cendana Hills. Berkas-berkas itu harus ada di atas meja Elang besok pagi, maka Dinara betul-betul fokus. Namun, konsentrasinya buyar ketika Iwan muncul dengan wajah cemas.

“Mbak Din, tolong jemput Pak Elang di private party!”

Dinara mengangkat alis. “Lho, memang mas Iwan mau kemana?”

“Saya harus ke dokter sekarang, istri telepon, anak saya panas tinggi! Tolong Mbak Din, sekali ini saja!”

Dinara menghela napas. Bukan apa-apa, ia hanya takut pekerjaannya tidak selesai malam ini. Lagipula, Iwan nampaknya benar-benar butuh bantuan Dinara. Biasanya Iwan sigap membantu Elang, namun Dinara memakluminya sebab anaknya demam tinggi. 

Akhirnya Dinara berdiri.

“Ya sudah, saya jemput Bapak dulu. Semoga anaknya cepat sembuh ya, Mas.”

Iwan langsung lega. “Makasih banyak, Mbak Din.”

“Sama-sama. Tolong kirimkan ke saya lokasi Pak Elang, Mas Iwan.”

Dinara menaruh tas di jok motor, membuka lokasi yang dikirim Iwan, lalu melaju menembus malam.

Setiba di lokasi, Dinara mengedarkan pandangan. Pesta itu berlokasi di sebuah ballroom hotel mewah. Pesta yang dihadiri orang-orang penting dengan pakaian rapi dan berkilauan. Dinara yang masih mengenakan pakaian formal kantornya tidak terlalu terlihat asing di sana. 

Tidak butuh berapa lama bagi Dinara untuk menemukan Elang. Dinara mengenali jam tangan yang dikenakan pria itu. Elang mabuk berat, tertelungkup di meja bar.

Dinara menggeleng ketika menghampirinya.

“Pak...” panggilnya. Dinara menepuk pelan bahu pria itu.

Elang mendongak, pandangannya buram namun mengenali Dinara.

“Di mana Iwan? Kenapa kamu yang ke sini?” suaranya terdengar sedikit parau. 

“Mas Iwan ada perlu, Pak. Jadi saya yang jemput. Bapak masih bisa jalan?”

“Kamu bisa bawa mobil?” tanyanya mengabaikan pertanyaan Dinara. 

“Eh... enggak, Pak.”

Elang mendengkus, ia tertawa kecil.

“Jadi saya yang nyetir? Terus, buat apa kamu ke sini?”

Dinara mendesah dalam hati. ‘Ih, mabuk-mabuk tetap ngeselin!’

Dinara pun memutar otaknya. Ia tidak mungkin membawa Elang menggunakan motor. Pria ini terlalu mabuk. Bisa-bisa keduanya malah kecelakaan nanti.

Mengingat lokasi pesta ada di dalam sebuah hotel, maka Dinara berniat untuk memesan kamar hotel. Setidaknya untuk semalam, sampai Elang sadar dari pengaruh minuman keras.

Dinara pun pamit sebentar untuk menuju meja resepsionis hotel, meski tak yakin apakah Elang dapat mendengarnya. 

Sementara itu, Elang dapat merasakan tubuhnya memanas, semakin memanas dari kali pertama ia merasakan minuman itu masuk ke dalam tubuhnya. Elang sempat terpikir apakah minumannya telah dimasuki macam-macam…?

Tak butuh waktu lama untuk Dinara kembali. Ia telah mengantongi kunci kamar hotel. Dinara pun meminta bantuan salah satu bartender untuk membawa Elang naik ke kamar yang telah dipesan. 

Si bartender mengambil sisi tubuh Elang, Dinara menopang sisi lainnya. Mereka berjalan pelan menuju lift, hampir menyeret, menembus lampu-lampu pesta yang menyilaukan dan kebisingan yang menusuk telinga.

Begitu tiba di depan pintu kamar hotel, Dinara langsung membuka pintunya.  Pintu kamar hotel pun terbuka dan tubuh Elang langsung terhuyung maju. Dinara dan bartender tadi memapahnya masuk, menuntunnya hingga ke tepi ranjang. Elang jatuh rebah, berat, napasnya dalam dan terdengar kacau.

Bartender yang membantunya itu pun pamit. Pintu lantas tertutup. Kini hanya ada Dinara dan Elang. 

Tiba-tiba, Dinara merasakan hening terasa terlalu mencekat. Ia berniat untuk meninggalkan Elang setelah ini. Tidak etis rasanya jika ia berada di dalam kamar yang sama dengan seorang pria beristri.

Dinara menghembuskan napas.

“Pak... bangun dulu,” ia menepuk lengan Elang. 

Elang menoleh. Gerakannya kecil, tapi tajam. Tatapannya menghantam Dinara. Elang kelihatan bingung, lelah, dan bercampur emosinya sendiri yang berantakan.

“Kamu bawa saya ke mana?” suaranya berat.

“Kamar hotel, Pak. Seenggaknya Bapak sadar dulu,” jawab Dinara tegas. “Mari, saya bantu ke kamar mandi untuk membasuh wajah.”

Elang terkekeh pelan, getir. “Kamu pikir saya mabuk? Saya cuma minum...”

Ia berhenti, napasnya tersendat. “Sedikit.”

Dinara tidak meladeninya. “Ayo berdiri, Pak.”

Mengejutkannya, Elang menurut. Dinara memapahnya, tubuh pria itu berat dan tidak stabil. Mereka berjalan terhuyung menuju kamar mandi.

Baru sampai di depan wastafel, wajah Elang mendadak pucat. Ia membungkuk dan memuntahkan semua isi perutnya ke toilet.

Dinara menggeleng. Ini yang dimaksud minum hanya ‘sedikit’?

Setelah ia yakin Elang selesai dengan isi perutnya, Dinara menuntunnya ke bawah shower. Ia langsung menyalakan shower. Air dingin memercik keras.

Elang tersentak. “Dinara...” suaranya serak.

Air yang mengucur ikut mengenai bajunya, membuat Dinara basah seketika. Dinara bermaksud mundur, tapi Elang dalam kondisi setengah sadar menjangkau lengannya. Ia mengurung tubuh Dinara antara dirinya dan dinding shower.

“Pak…? Dinara tersentak. Air dingin mengguyur mereka berdua. Kemeja Dinara ikut basah, menempel di kulit. “Pak Elang…!”

Mereka saling menatap dari jarak berbahaya. Tatapan Elang buram, namun ada emosi gelap di baliknya... campuran alkohol, stres, dan barangkali luka yang belum sempat diproses.

“Dinara...” lirihnya sambil membingkai wajah Dinara yang basah.

Dinara menelan saliva. “Pak, lepaskan saya…!”

Namun Elang justru mendekat.

Gerakannya spontan, bukan rencana. Lebih seperti seseorang yang kehilangan pegangan dan mencari sesuatu atau seseorang untuk bersandar.

Tanpa disangka, tiba-tiba bibirnya menempel pada bibir Dinara. Bukan ciuman lembut, tapi dorongan kacau seorang pria yang emosinya pecah berantakan.

Dinara membeku. Badannya kaku dihantam kepanikan. Ia tidak percaya apa yang sedang terjadi kepadanya.

Air dingin terus mengguyur mereka, suara derasnya bercampur dengan nafas Elang yang berat di antara jarak yang nyaris tidak ada.

“Pak,” Dinara akhirnya berhasil mendorong pelan dadanya. “Pak Elang... cukup.”

Elang menatap Dinara tajam.

“Belum.”

Continuez à lire ce livre gratuitement
Scanner le code pour télécharger l'application
Commentaires (1)
goodnovel comment avatar
Ellailaist
Dinara kayaknya ama Elang yaaa
VOIR TOUS LES COMMENTAIRES

Dernier chapitre

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 192

    Dinara memandangi jari manisnya yang kini kembali dihiasi cincin pernikahan dari Elang. Cincin itu berkilau di jarinya yang masih bernoda tanah cokelat. Tatapannya kemudian beralih, menatap sepasang mata Elang yang memerah, menahan air mata dan menyiratkan ketakutan luar biasa akan kehilangan dirinya.Pria tegap, dingin, dan selalu berwibawa di matanya... kini berlutut pasrah di atas tanah pemakaman, memohon dengan tulus.“Mas...” bisik Dinara, suaranya yang parau meluncur pelan. “Apa kamu benar-benar tidak merasa jijik padaku?”Elang tak lagi sanggup mendengarkan keraguan istrinya. Tanpa menjawab dengan kata-kata, Elang menarik tengkuk Dinara dan langsung menangkup bibir perempuan itu dengan ciuman yang dalam dan penuh kehangatan.Dinara tersentak kecil, membelalakkan mata saat rasa manis dan ketulusan melumat habis seluruh rasa hina dan rasa bersalah di dadanya. Ciuman Elang begitu intens, seolah ia tak ingin lagi mendengar kata-kata yang menyakiti diri istrinya sendiri.Di kejauhan,

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 191

    “Ju-le?” lirih Dinara, suaranya hampir tenggelam di tenggorokan.Pandangannya yang samar oleh genangan air mata kemudian menyapu dua sosok pria tegap yang berdiri tak jauh di belakang Julia. Matanya membelalak seketika. “Abang? Mas Elang?”Belum sempat Dinara mencerna kehadiran mereka, Julia sudah berlari kecil menghampirinya. Tanpa peduli pada pakaian Dinara yang kotor terkena noda tanah dan peluh, Julia langsung berlutut di depan sahabatnya dan merengkuh tubuh rapuh itu erat-erat.“Kamu ke mana aja sih, Din? Kami semua panik nyariin kamu!” bisik Julia terisak haru di bahu Dinara.“Jule... kenapa kalian bisa ada di sini?” gumam Dinara bingung, tatapannya beralih menatap Ibrahim dan Elang bergantian.Ibrahim melangkah mendekat, matanya memerah menatap adik perempuannya yang berantakan di dekat nisan orangtuanya.“Kamu pikir Abang bakal diam aja pas Pak Elang datang ke rumah nyariin kamu, Dinara? Kamu ini adik Abang... ke mana pun kamu pergi saat hancur, Abang sama Pak Elang pasti baka

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 190

    Elang terdiam kaku. Setiap kata yang terlontar dari bibir istrinya terasa menghantam dadanya begitu telak. Rasanya ia ingin menuli dan mengabaikan semua ucapan itu sebagai angin lalu, namun ia sangat mengenal Dinara—istrinya bukan perempuan pembohong, dan raut wajah hancur itu membuktikan ia sama sekali tidak sedang bercanda.Melihat suaminya terpaku dalam guncangan syok yang begitu hebat, Dinara membulatkan tekad untuk menyudahi penderitaan ini. Ia melangkah mundur perlahan, menciptakan jarak, lalu berbalik keluar dari ruangan yang mendadak terasa menyiksa itu.Namun, dering nyaring dari ponsel Elang di atas meja seketika menahan langkah Dinara di dekat pintu. Elang sempat membiarkan panggilan itu berulang kali memecah hening, sebelum akhirnya mengulurkan tangan kaku meraihnya.“Ya?” suara Elang terdengar parau, hampir tenggelam oleh tenggorokannya yang tercekat.Namun, detik berikutnya raut wajah Elang berubah drastis.“Apa?! Bastian?!” serunya tegang.Mendengar nama Bastian disebut

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 189

    Hingga akhirnya, keheningan menyergap dari balik pintu. Suara percakapan bahasa Jepang itu perlahan mereda, disusul bunyi ketukan jemari Elang di atas meja dan dentang pelan gagang cangkir yang diletakkan. Meeting itu telah selesai.Dinara mengumpulkan sisa keberaniannya, lalu mengayunkan jemarinya mengetuk pintu kayu mahoni itu pelan.Tok... tok... tok...“Masuk,” sahut suara Elang dari dalam.Dinara mendorong pintu perlahan. Di balik meja kerjanya, Elang yang baru saja menutup laptopnya tampak agak terkejut mendapati sang istri menghampirinya ke ruang kerja di pagi hari. Namun, terkejut itu seketika berganti dengan senyuman miring yang menggoda.“Mas, ada yang ingin aku bicarakan denganmu,” tutur Dinara pelan, suaranya terdengar begitu berat.Melihat raut wajah Dinara dan teringat akan kehangatan gila-gilaan mereka semalam, Elang berpikiran lain. Ia mengira istrinya masih merindukan sentuhannya dan ingin mengulang percintaan semalam mereka.“Sini, Sayang... duduk di pangkuanku,” pang

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 188

    Di tengah keheningan ruang kerja yang kini dipenuhi napas mereka yang berangsur teratur, setetes air mata lolos menetes menyusuri pipi Dinara. Isakan pelan yang berusaha ia tahan akhirnya pecah juga di atas dada bidang Elang.Elang yang merasakan tubuh istrinya bergetar seketika panik. Pria itu menguraikan pelukannya sedikit, menangkup kedua pipi Dinara dan menatap wajah istrinya penuh kekhawatiran.“Kenapa nangis, Sayang?” tanya Elang lembut, jemarinya mengusap jejak air mata di pipi Dinara. “Ada yang sakit, ya? Kita... terlalu hot tadi.”Dinara terisak pelan, namun ia berusaha keras menyunggingkan sebuah senyuman di balik matanya yang berkaca-kaca. Perempuan itu menggeleng cepat.“Enggak, Mas... malah enak banget,” bisik Dinara dengan suara serak. “Aku bukan sedih... tapi terharu bisa sampai di titik ini.”Mendengar penuturan dari sang istri, kekhawatiran di wajah Elang seketika sirna. Pendar hangat penuh lega terpancar dari sepasang matanya. Elang tersenyum manis, lalu mendekatkan

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 187

    Tanpa menyela penyatuan mereka, Elang menyusupkan kedua lengan kokohnya ke bawah paha dan punggung Dinara. Dengan satu hentakan mantap, ia mengangkat tubuh istrinya dari atas meja kerja. Dinara melingkarkan kedua kakinya erat-erat di pinggang Elang, menyandarkan punggungnya pada permukaan tembok dingin ruang kerja itu. Tumpuan tembok dan dominasi Elang membuat setiap hunian terasa semakin dalam dan menghujam.“Aaah! Mas... jangan keluar dulu, Mas...” pangkas Dinara terengah-engah di ceruk leher suaminya, menyadari gerakan Elang yang mulai tak terkendali menandakan puncaknya sudah di ambang batas.Elang yang napasnya sudah memburu hebat terpaksa menahan diri. Dengan ketahanan tubuhnya, ia menarik perlahan pusakanya keluar dari kehangatan Dinara, membiarkan gelinjang gairah itu tertahan menggantung di udara.Tanpa membuang waktu, Dinara melangkah menuntun suaminya menuju sofa panjang di sudut ruangan. Ia menarik Elang untuk duduk bersandar. Di hadapan suaminya, Dinara berlutut anggun. M

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 32

    Di dalam sebuah mobil, Karin duduk dipangkuan pria yang bersamanya tadi. Mereka saling berhadapan. Bibir mereka bertautan. Si pria berusaha melepaskan kemeja Karin, tapi Karin menahannya agar tidak terlepas. Hanya kancing-kancingnya saja yang sudah terbuka.Pria itu juga menyesap bagian leher Karin

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-25
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 31

    Pagi ini, Elang mengganti perban luka Dinara dengan yang anti air. Jadi Dinara tak perlu dimandikan lagi. Ada rasa lega, tapi sedikit kehilangan juga karena dimandikan Elang itu sensasi berbeda. Kebiasaan selama tiga hari ini membuat Dinara makin kecanduan sentuhan bosnya sendiri.‘Tidak, tidak! Ak

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-25
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 25

    Dinara sudah siap untuk ke kantor. Mengenakan pakaian yang disediakan Elang. Dress putih selutut dengan motif bunga-bunga besar warna biru, yang bukan selera Dinara tapi ia tidak punya alternatif lain. Dengan menggunakan transportasi online, ia pun tiba di kantor sekitar pukul sepuluh. Beberapa ma

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-23
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 21

    “Dinara…” suara Elang penuh tekanan. Dinara menoleh pada bos-nya, “M-maaf, Pak… filenya salah kirim ke…” lalu ia menoleh pada Andaliman, “... Pak Andaliman.” Semua terkejut, bisik-bisik terdengar samar. “Kamu…” geram Elang. “Maaf, Pak…” Andaliman membuka email-nya, ia tersenyum kecil. “Oh, e

    last updateDernière mise à jour : 2026-03-21
Plus de chapitres
Découvrez et lisez de bons romans gratuitement
Accédez gratuitement à un grand nombre de bons romans sur GoodNovel. Téléchargez les livres que vous aimez et lisez où et quand vous voulez.
Lisez des livres gratuitement sur l'APP
Scanner le code pour lire sur l'application
DMCA.com Protection Status