LOGINDinara tidak menjawab. Ia hanya memandangi ponsel di tangannya yang menetes dengan tatapan kosong. Ia merasa harapannya untuk menyelamatkan Elang ikut mati bersama ponsel itu.“Pak, ini di dalamnya penting...” lirih Dinara.Elang menyambar kimono, mengenakannya lalu mengangkat Dinara.Semua mata tertuju padanya, Elang tak peduli dengan tatapan tanya dari mereka termasuk dari istrinya sendiri. “Pak, turunkan saya...” lirih Dinara.Elang seolah tak peduli dengan tatapan orang-orang di sekitarnya. Andaliman tampak ingin mendekat untuk meminta maaf, menyadari bahwa leluconnya tadi hampir saja berakibat fatal, namun sorot mata Elang yang tajam seperti belati membuat pria itu tertahan di tempatnya. Soraya hanya mendengus, melipat tangannya di dada sambil merasa bahwa drama pagi ini terlalu berlebihan untuk seorang sekretaris.Sementara itu, Karin dan Paman Johan menahan diri. Mereka saling melirik sekilas, seolah berkomunikasi lewat mata bahwa saat ini bukan waktu yang tepat untuk mencampu
Akhirnya Dinara tertidur karena lelah semalam. Hari sudah siang, ia bangun kesiang lagi karena tidurnya benar-benar kacau akhir-akhir ini. Ia melompat dari ranjangnya menuju kamar mandi.‘Sial! Aku telat lagi! Hari ini Pak Elang pasti sudah siap ke proyek...’ umpatnya panik.Ia mandi secepat kilat tanpa sempat menikmati air hangat seperti biasanya. Pikirannya sudah melayang pada video di ponselnya dan rencana besar yang harus ia eksekusi hari ini. Setelah selesai mandi, ia segera berganti baju. Mengingat hari ini mereka akan meninjau proyek di bawah terik matahari Bali, ia memilih pakaian santai namun tetap sopan, kaos lengan pendek putih dan celana jeans agar lebih bebas bergerak untuk aktivitas luar ruangan. Tak lupa menutupi leher yang tanda merahnya masih nampak.Sambil menyisir rambutnya dengan terburu-buru, ia menatap ponselnya yang tergeletak di meja rias. Tekad semalam masih ada, namun rasa mulas di perutnya tak bisa diajak kompromi. Ia tahu, begitu ia keluar dari kamar ini, i
Dinara sudah berada di kamarnya kembali, namun ketenangan tak kunjung datang. Ia berjalan mondar-mandir di kamarnya, membiarkan pikirannya berputar hebat. Kepalanya terasa pening memikirkan perjanjian apa atau kerja sama macam apa yang sedang dirancang oleh Paman Johan dan Karin. Perutnya juga terasa mual.Ia menuju kamar mandi, membasuh wajahnya dengan air dingin. Mau muntah tapi tidak bisa keluar, rasa mual itu tertahan di tenggorokan. Ia mengeringkan wajahnya, lalu keluar toilet dan mengambil segelas air putih dan meminumnya agar rasa mual hilang.Selama menjadi sekretaris sekaligus orang terdekat Elang, bosnya itu tidak pernah bercerita sedikit pun tentang rencana kolaborasi bisnis dengan Paman Johan. Elang adalah tipe pria yang sangat menjaga kerahasiaan asetnya, bahkan dari istrinya sendiri.‘Atau sebenarnya itu baru rencana sepihak dari mereka berdua? Kalau memang iya, aku harus menahan semua kerja sama yang ditawarkan pria tua itu...’ batinnya dengan tekad yang mulai mengeras
Langkah kaki Dinara sangat hati-hati, nyaris tanpa suara di atas lantai yang dingin. Suasana villa sudah sangat sepi, ia tahu Elang dan Andaliman pasti sudah terlelap setelah hari yang panjang dan melelahkan. Ini sudah lewat tengah malam, waktu di mana sebuah pengkhianatan akan mulai menampakkan wujudnya.Rasa penasaran yang membakar membuat Dinara nekat. Tidak berhasil mengintip dari celah gorden jendela depan. Ia nekat menuju balkonnya, mengecek posisi balkon. Antara balkonnya dengan balkon kamar sebelah hanya terpisahkan oleh celah kecil sekitar tiga puluh centimeter dan pembatasnya rendah. Dengan jantung yang berdegup kencang, adrenalin yang berpacu, Dinara memanjat pembatas itu. Berpindah ke balkon sebelah dengan gerakan hati-hati, baju tidurnya yang tipis melambai-lambai tertiup angin malam. Sesaat kemudian, ia sudah berpindah posisi berada di balkon kamar Paman Johan. Ia menahan nafas, merapatkan tubuhnya ke dinding kacanya.Gorden di kamar itu tidak tertutup sempurna. Ada cel
Setelah makan malam di Jimbaran yang agak tenang, Andaliman akhirnya membawa mobil kembali menuju villa. Villa mewah itu memiliki arsitektur yang menawan dengan empat kamar utama, dua kamar di sayap kanan dan dua di sayap kiri, dipisahkan oleh kolam renang jernih dan taman estetik yang diterangi lampu-lampu temaram di bagian tengah.Karin dengan penuh perhatian mengantar Paman Johan menuju kamarnya di sayap kiri. Kamar pria itu berada tepat di sebelah kamar Dinara. Merasa lelah secara batin setelah seharian melewati situasi yang berat, Dinara segera pamit untuk masuk ke kamarnya lebih dulu. Ia butuh ruang sendiri. Air hangat di bawah pancuran menjadi pelariannya, berharap semua beban dan aroma cendana yang melekat bisa luruh bersama air.Setelah mandi, Dinara segera merebahkan diri di ranjang empuknya. Ia mengecek ponsel yang penuh dengan notifikasi dari Julia, sahabatnya yang selalu antusias menanyakan perkembangan hubungannya dengan Andaliman. Namun, perhatian Dinara teralihkan. Di
Andaliman membawa mereka menuju destinasi pertama di siang yang teduh itu. Ia menurunkan penumpang di pintu masuk utama, lalu mengambil parkir di area parkir mobil. Sejenak segera bergabung bersama yang lain di pintu masuk. Dinara sudah memegang tiket masuk untuk para atasannya. Segera mereka memasuki area amfiteater untuk menonton pagelaran Tari Kecak. Dinara memberi ruang untuk para atasannya mengambil duduk lebih dulu. Ia sudah berusaha mengambil posisi paling pinggir, berharap bisa menjadi penonton yang nyaman. Nyatanya, seseorang membuatnya terjepit di posisi yang jauh dari kata nyaman.Di barisan kursi kayu itu, Karin duduk kaku di tengah, diapit oleh Elang dan Paman Johan. Sementara Dinara, ia ditarik oleh Andaliman untuk duduk di sisinya. Namun, entah bagaimana Andaliman mengatur posisi, Dinara justru berakhir duduk tepat di antara Elang dan Andaliman. Ia terjepit di tengah dua pria yang memiliki aura yang sama-sama mengintimidasi.Begitu suara "Cak-cak-cak" mulai menggema da
Air masih mengalir deras, suaranya menenggelamkan dunia di luar kamar mandi.‘Belum? Yang benar saja!’ batin Dinara, nafasnya belum juga kembali teratur.Belum sempat ia mencerna apapun, Elang kembali menciumnya. Kali ini tidak tergesa. Lebih lembut, lebih dalam seolah ada sesuatu yang ingin disamp
“Iya, Pak.” Jawabnya pelan sambil berdiri.Ia mengambil tablet, dan berjalan menuju ruangan dimana bos-nya berada. Menarik nafas dalam sebelum membuka pintu.Dinara pun masuk, mendekati meja bos-nya. Mata Elang masih terpaku di depan layar laptop.“Batalkan agenda ke Puncak. Saya sedang tidak enak







