LOGINMobil pun melaju, mengantar Dinara hingga tiba di kosan. Seperti biasa, mobil Elang akan pergi jika Dinara sudah masuk kamar.Di ranjangnya, Dinara uring-uringan dan kesal sendiri. Bisa-bisanya Elang membawanya ke dokter kandungan tanpa diskusi dulu.Dinara tak bisa membayangkan nasibnya sampai menunggu dua Minggu lagi. Ia mengelus perutnya lembut. Sebuah harapan tercetus.“Pliss… jangan hamil, aku belum siap…”*Esok harinya, Elang memanggilnya masuk ke ruangan. Saat Dinara masuk, Elang menatapnya dari atas sampai bawah. Terpaku pada sepatu berhak tinggi.“Ganti alas kaki kamu,” ujarnya datar.Dinara bingung, “Maaf, Pak?”“Sepatu kamu terlalu tinggi,” jawab Elang.Dinara menatap sepatunya, selama ini ia sudah terbiasa dengan sepatu seperti itu. Elang tidak pernah protes, tidak ada peraturan khusus soal ini.Elang mengambil sesuatu dari lacinya.“Ini, pakai.”Ia menaruh sandal jepit baru masih dalam plastik di atas mejanya.Dinara tersentak, heran.“Buat saya?”“Iya, dan kamu nggak us
Elang mengikuti Dinara, ia berdiri tepat di sisi ranjang itu. Dokter menghampiri Dinara yang telah rebah di ranjang pemeriksaan. Lalu duduk di samping mesin USG. Perawat yang membantu dokter, membuka kemeja yang dikenakan Dinara pada bagian bawah. Meletakkan tisu di bagian karet rok Dinara. Perut ratanya pun terpampang. Lalu, perawat itu memberi gel bening yang langsung terasa dingin di perut. Dinara tersentak, tumbuhnya semakin menegang.Dokter telah siap dengan alat periksa USG di tangannya. Layar tampilan berwarna hitam yang terkoneksi pada layar lebar di depan mereka sudah menyala.“Bapak-Ibu silahkan melihat di layar lebar ya… kita periksa kandungannya.” Ujar dokter itu memberi arahan.Saat alat mulai diletakkan ke perut Dinara, dokter itu kembali bersuara.“Tarik nafas Bu, hembuskan pelan-pelan…”Saat alat itu menempel, Dinara tanpa berpikir meraih tangan Elang yang tepat berada di samping ranjang pemeriksaan. Jari-jari Elang tersentak, dingin tapi ia membiarkan tangan itu di
Elang dan Dinara sudah duduk di ruang tunggu dokter kandungan. Ikut mengantri untuk pemeriksaan. Tapi Dinara masih bingung atas tindakan bos-nya itu. Kenapa tiba-tiba membawanya ke dokter kandungan. “Pak, kenapa saya harus periksa ke dokter kandungan?” “Saya ingin memastikan sesuatu,” Elang terlihat tenang seperti biasanya, “beberapa hari ini kamu sering izin sakit,” Dada Dinara terasa ditekan, ia menelan saliva beberapa kali. Tangannya saling bertaut, dingin dan sedikit basah. Pikirannya kembali ke satu kemungkinan yang bahkan tak berani ia sebutkan dalam hati. Di hadapannya, tampak seorang pria menyuapi seorang perempuan hamil kisaran enam bulan, dengan penuh rasa tanggung jawab. Dinara menduga bahwa mereka adalah suami-istri. Dinara mengalihkan pandangannya ke kiri. Kini ia melihat seorang perempuan dan seorang pria bersama satu anak kecil. Anak kecil itu mengelus-elus perut perempuan itu dengan lembut. Perutnya masih terlihat rata. Anak itu seperti bicara pada perut itu
Dinara menelan saliva, “Mas, nggak enak kalau ada karyawan lain yang melihat kita… Aku sekretaris Pak Elang. Bos di sini.” Andaliman masih menatapnya dalam. Penyesalan itu muncul begitu saja dari kenangan masa lalu yang tiba-tiba saja terkoyak. Andaliman melepaskan tangannya dari pintu. Dinara segera berbalik, dan membuka pintu itu tergesa.Ada rasa yang entah apa, yang pasti bukan rasa cinta pertama yang pernah manis. Dinara menjaga jarak sepanjang perjalanan menuju lobi.Sebelum berpisah, Andaliman menyentuh lengan Dinara.“Dinara, pikirkan apa yang aku sampaikan tadi.”Dinara menarik tangannya perlahan. Lalu tersenyum,“Sampai ketemu lusa, Mas…”Andaliman mengangguk, lalu pergi dengan mobilnya.Hati Dinara berkecamuk sejak pertemuan dengan Andaliman tadi. Bukan soal romantisme masa lalu. Tapi setelah proyek ini disetujui, Andaliman akan terlibat dengan banyak proyek SHG baik di dalam maupun luar kota. Itu artinya mereka akan sering bertemu.Fakta lain yang tidak bisa diabaikan.
Elang menyadari tatapan Dinara. Ia pun berdiri. Mata Dinara mengikutinya.Elang terlihat kikuk, tapi ia pintar menutupinya.“Saya ada urusan di luar… kamu teruskan saja.” Dinara bingung namun ia tetap mengangguk, “Baik, Pak.”Elang pun pergi tanpa menoleh lagi pada Dinara. Meninggalkan Dinara yang masih diliputi rasa bingung. Ia pun kembali fokus pada pekerjaan di laptop bos-nya.Ia mengerjakan draft promosi villa Adikara yang hampir selesai. Saat telepon dari resepsionis masuk.“Bu Dinara, ini ada tamu untuk Pak Elang. Apakah bisa diterima?”“Siapa?” tanya Dinara.“Pak Andaliman, arsitek dari Prisma Group.” Jawab resepsionis di ujung telepon.“Andaliman?” Gumam Dinara.“Ya, Bu...”Dinara tertegun sejenak. Nama itu, nama yang ia kenal.Suara resepsionis, membuyarkan lamunannya.“Bu? Bu Dinara?”“Ya… tolong antar ke ruang meeting hijau. Nanti saya segera ke sana,” ujar Dinara.“Baik, Bu…”Klik.Sambungan putus.Dinara menyiapkan tablet, buku catatan dan ponselnya untuk dibawa ke ruang
Elang mengemudikan mobilnya, mengantar Dinara hingga sampai di kosan. Mobil itu masih parkir di depan kosan. Hingga Dinara masuk ke kamar, mobil hitam itu baru berjalan.Ia merebahkan diri perlahan di ranjangnya. Pikirannya berputar soal kepindahan Arvin, kerjaan kantor dan sikap Elang Adikara.Apalagi Arvin pernah cerita tentang ibunya yang sakit dan dirawat. Dinara belum sempat menjenguknya. Ingin rasanya menjenguk, tapi hari ini rasanya tidak kuat lagi. Kepalanya tiba-tiba saja berat. Ia pun akhirnya tertidur.Beberapa saat terdengar pintu diketuk. Entah sudah beberapa kali pintu itu diketuk.“Dinara, kamu sakit ya… ini Ibu bawakan obatnya.” Suara ibu kosnya. Dinara bangkit, kepalanya masih terasa berat. Tapi ia memaksakan diri berjalan menuju pintu. Ia membukanya perlahan, “Iya, Bu…”Ibu kos mengulurkan sebuah bungkusan dengan logo apotek yang Dinara kenal.“Ini, Ibu bawakan obat. Kamu minum ya, istirahat yang cukup.” Dinara menerimanya, “Terima kasih, Bu…”Lalu ibu kos meningg







