Share

Bab 83

Author: Lyla Veil
last update publish date: 2026-04-09 10:58:11

Elang membawa Dinara menuju apartemennya, dan Dinara tahu betul apa yang akan dilakukan bosnya itu siang hari begini. Begitu pintu apartemen tertutup rapat, Elang langsung mengangkat Dinara, menggendongnya dengan gaya ala pengantin tanpa memberikan kesempatan untuk memprotes.

Dinara terkesiap, tangannya refleks memegangi bahu Elang. “Ah... Pak Elang,”

“Hari ini kamu benar-benar menguji kesabaran saya. Atau memang ini yang kamu mau?” ujar Elang saat membawanya masuk ke dalam kamar.

Dinara menela
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 124

    Dinara menatap deretan layar itu dengan perasaan campur aduk. Ia merasa aman, namun di sisi lain, ia menyadari betapa ketatnya Elang menjaganya atau mungkin, mengurungnya.“Ternyata Pak Elang seserius itu soal keamanan ya?” tanya Dinara sambil menata piring makanan di atas makan.Bastian berdiri dengan sikap tegap, menjaga jarak yang sopan. “Tuan tidak pernah main-main jika sudah menyangkut hal yang berharga baginya, Bu. Tugas saya memastikan tidak ada satu pun debu yang bisa melukai Ibu tanpa seizin beliau.”Dinara tersenyum tipis, lalu menarik kursi dan duduk di meja makan paviliun itu. “Boleh saya bertanya sesuatu, Pak?”“Silakan, Bu. Selama itu dalam kapasitas saya untuk menjawab,” balas Bastian dengan tenang.“Sudah berapa lama Bapak bekerja membantu Pak Elang?” tanya Dinara penasaran.Bastian tidak langsung menjawab, ia tampak menimbang sejenak seberapa banyak informasi yang bisa ia bagikan. Melihat keraguan itu, Dinara mempersilakan, “Silakan duduk dulu, Pak.”Bastian akhirnya

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 123

    “Jangan pikirkan dia,” jawab Elang datar, suaranya berubah dingin begitu nama Karin disebut. Ia merapikan sisa pakaiannya, lalu menatap Dinara yang masih berada di atas ranjang. “Urusan Karin adalah tanggung jawabku. Kamu jangan khawatir.”Tiga hari berlalu seperti mimpi yang terisolasi dari dunia luar. Dinara benar-benar menjalankan perannya sebagai istri dengan sepenuh hati. Menyiapkan keperluan Elang, menemaninya makan, dan memberikan seluruh perhatian yang selama ini Elang dambakan. Namun, masa bulan madu itu harus berakhir. Elang harus kembali ke kantor untuk menghadapi rutinitas lagi.Pagi itu, Dinara membantu Elang memasangkan dasinya. “Mas,” panggil Dinara pelan setelah usai membantu suaminya berpakaian.“Ya?” Elang menunduk, menatap wajah istrinya yang tampak sendu.Dinara menyerahkan sebuah amplop putih pada Elang. “Ini surat pengunduranku. Aku rasa... tidak akan benar jika aku kembali ke kantor sebagai sekretarismu.”Elang menerima amplop itu tanpa terkejut. Ia sudah mendu

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 122

    Setelah membersihkan diri pasca-aktivitas intim di kamar mandi, mereka beristirahat di balkon kamar. Sore itu terasa hangat. Dinara menyandarkan kepalanya di dada Elang, sementara pria itu melingkarkan lengannya di perut Dinara.“Malam itu... aku merasa sudah kehilangan segalanya,” ujar Elang tiba-tiba, seolah baru saja menemukan keberanian untuk menjawab pertanyaan Dinara sebelumnya.Dinara terdiam, memberikan ruang bagi Elang untuk melanjutkan ceritanya.“Dikhianati oleh orang-orang yang paling aku percaya dan terjebak dalam tuntutan yang tidak masuk akal,” lanjut Elang dengan suara rendah yang sedikit berat. “Aku merasa kehilangan arah, seolah hanya bertahan hidup tanpa tujuan. Tidak ada gairah sama sekali dalam diriku.”Dinara mengubah posisi duduknya agar bisa menatap wajah suaminya secara langsung.“Bahkan aku tidak berminat untuk menyentuh Karin atau perempuan mana pun,” tambah Elang. Ia menatap Dinara dengan pandangan yang jauh lebih tenang dibandingkan malam pertama mereka di

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 121

    Mobil hitam itu perlahan memasuki halaman sebuah rumah yang sangat artistik. Arsitekturnya terlihat modern namun tetap hangat dengan sentuhan kayu dan pencahayaan yang tertata apik. Dinara menatap ke luar jendela dengan dahi berkerut, merasa asing dengan lingkungan perumahan elit yang sangat tenang ini.“Kita ke rumah siapa ini, Mas?” tanya Dinara penasaran.“Ini rumah kita,” jawab Elang singkat.Dinara menoleh tak percaya ke arah suaminya. “Rumah kita? Aku pikir kita akan ke apartemen.”Elang menatap mata Dinara dalam-dalam saat mobil berhenti sempurna di depan teras. “Aku ingin kamu punya ruang yang lebih lega, tempat di mana kamu bisa merasa senang dan aman.”Bastian turun lebih dulu untuk membukakan pintu bagi mereka. Begitu Dinara melangkah keluar, ia disambut oleh tanaman bunga yang indah dengan desain taman minimalis yang menyejukkan mata.“Rumah ini sudah atas namamu,” tambah Elang sambil merangkul pinggang Dinara, membimbingnya menuju pintu utama yang besar.Dinara nyaris ter

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 120

    “Jika Dinara mendapatkan mahar satu unit rumah, apakah saya juga bisa dibelikan rumah?” tanya Ibrahim tanpa basa-basi.“Abang!” Dinara menyela dengan nada tak percaya. Ia merasa kakaknya benar-benar memanfaatkan keadaan.Namun, Elang tetap tenang. Ia menatap Ibrahim dengan raut wajah yang sulit ditebak. “Abang tenang saja, saya tidak akan membiarkan keluarga Dinara dalam kesulitan.”Jawaban itu seketika membuat senyum Ibrahim mengembang lebar. Ia merasa telah mendapat jaminan yang pasti dari calon adik iparnya yang kaya raya ini.“Baiklah kalau begitu. Ayo, siap menikah sekarang?” tanya Ibrahim penuh semangat.Elang mengangguk dan mendekati Ibrahim. Saksi-saksi yang sudah menunggu segera dipersilakan masuk ke dalam ruangan yang terbatas itu. Bastian duduk dengan tegap di sisi kanan Elang sebagai saksi dari pihak pria.Prosesi akad pun dimulai. Elang hanya membutuhkan satu kali latihan singkat sebelum akhirnya dengan mantap mengucapkan kalimat ijab kabul di depan Ibrahim. Suaranya terd

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 119

    Dalam perjalanan menuju rumah Ibrahim, Elang meminta sopir berhenti beberapa kali. Ia turun untuk membeli berbagai macam hantaran; mulai dari aneka makanan, parsel buah-buahan segar, hingga rangkaian bunga yang indah. Dinara berkali-kali mengingatkannya bahwa bawaan itu sudah terlalu banyak, namun Elang bersikeras. Ia ingin memberikan kesan pertama yang tak terlupakan bagi calon kakak iparnya.Setibanya di depan rumah kontrakan Ibrahim, Dinara tertegun. Suasananya tampak jauh lebih ramai dari biasanya, rupanya kakaknya telah mengundang tetangga dekat rumah untuk ikut berkumpul.Di antara kerumunan itu, sebuah mobil hitam sudah terparkir rapi di bahu jalan. Seorang pria berbadan kekar dengan penampilan serba hitam keluar dari balik pagar dan langsung menghampiri mobil yang ditumpangi Elang dan Dinara. Dengan sigap, ia membukakan pintu dan menyambut kedatangan bos besarnya.“Pak Elang,” sapa pria itu dengan nada suara yang tegas dan berwibawa.Elang turun dari mobil, menyambut uluran ta

  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 28

    ‘Apa maksudnya… jangan berpikir macam-macam? Ini sudah sangat macam-macam…’Elang menarik dress itu hingga melewati bahu Dinara hingga terlepas dari tubuhnya. Tersisa bh dan cd saja. Elang melepaskan kait bh-nya, refleks Dinara menutupi dadanya dengan kedua tangannya. Bh itu pun jatuh ke lantai. La

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 30

    Dinara duduk di kasur, menelan saliva dan menggigit bibirnya. Ia tak habis pikir, bagaimana dirinya bisa berada diantara sosok bos dingin dan istrinya. “Apa aku sekarang jadi selingkuhan Pak Bos… ya ampuun…”Ceklek!Dinara terkejut saat pintu kamar mandi terbuka. Elang keluar hanya dengan handuk y

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 29

    Dinara duduk di kasur, menelan saliva dan menggigit bibirnya. Ia tak habis pikir, bagaimana dirinya bisa berada diantara sosok bos dingin dan istrinya. “Apa aku sekarang jadi selingkuhan Pak Bos… ya ampuun…”Ceklek!Dinara terkejut saat pintu kamar mandi terbuka. Elang keluar hanya dengan handuk y

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Candu Pelukan Hangat Bos Dingin    Bab 27

    ‘Apa maksudnya pulang ke apartemen Elang Adikara?’ Dinara hampir tak bisa berpikir apapun.Tempat yang ingin Dinara hindari selamanya, tapi Elang justru akan membawanya kembali.“Kenapa ke apartemen, Pak?” tanya Dinara.“Jangan membantah saya.” Tegas Elang.“Tapi Pak…”Elang menatap Dinara, membuat

    last updateLast Updated : 2026-03-23
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status