LOGIN“Pakai ini malam nanti.” Suara Harli terdengar datar saat sebuah kotak besar berlapis beludru hitam diletakkan di atas meja rias.Elena yang baru saja duduk refleks menoleh. Begitu tutup kotak dibuka, pandangannya langsung terpaku. Di dalamnya ada sebuah gaun malam berwarna merah. Potongannya elegan, jatuh panjang mengikuti lekuk tubuh,tapi potongan dadanya rendah dan membuat Elena merasa tidak nyaman untuk memakainya.“Ini khusus aku siapkan untukmu,” lanjut Harli sambil merapikan manset jasnya. “Jangan mempermalukan aku di pesta pertunangan Noah dan Michel.”Kata pertunangan membuat napas Elena tersangkut, Harli juga seolah tidak memberi ruang Elena untuk menolak apapun yang ia lakukan.“Akan ada MUA terkenal datang sore ini,” tambah Harli. “Feenya dua puluh juta. Jadi jangan banyak protes.”Tanpa menunggu respon Elena, Harli berbalik dan pergi. Pintu menutup pelan, menyisakan Elena sendiri dengan pikiran kusut.Elena melangkah mendekat, jemarinya menyentuh kain gaun yang dingin dan
“Kau tidak bercanda kan?” suara Michel bergetar senang. “Aku tahu kamu akhirnya akan jatuh cinta padaku.”Michel melonjak girang dengan bahagia, lalu tanpa ragu memeluk Noah erat-erat.Noah tidak menolak. Tangannya terangkat sekilas, membalas pelukan itu dengan sikap datar yang justru membuat dada Elena terasa diremas kuat.Elena tak sanggup lagi bertahan. Tanpa suara, ia berbalik, melangkah cepat naik ke atas sebelum air matanya jatuh. Begitu sampai di kamar, ia langsung merebahkan diri dan memejamkan mata, memaksa napasnya kembali teratur.Ia benar-benar dibuat bimbang dengan perasaanya sendiri. Dipaksa sekalipun dia tidak akan bisa juga dengan Noah.Tak lama kemudian, pintu kamar terbuka. Harli masuk dengan langkah berat.“Elena?” panggilnya singkat.Elena langsung dengan gugup pura-pura tidur.Harli mendengus kesal, menatap sekilas tubuh istrinya yang membelakangi. Tanpa berkata apa-apa lagi, ia mematikan lampu, lalu tertidur.Sejak kabar pertunangan Noah tersebar, Michel hampir t
Keesokan harinya, Elena masih setengah sadar, tubuhnya terasa berat karena menonton sampai subuh.Ia mengucek matanya sebentar, Harli sudah pergi entah ke mana.Belum sempat Elena duduk lebih tegak, pintu kamar terbanting keras.BRAK.“Eiiii…” mata Elena mendelik tajam karena kaget.Tangannya belum sempat meraih ponsel disampingnya, ketika Noah sudah ada di hadapannya. Dalam satu gerakan cepat, tangannya mencengkeram leher Elena dan mendorongnya ke sandaran kursi.Napas Elena tercekat. Matanya membulat kaget, rasa ngantuk yang membuatnya malas sedari tadi hilang begitu saja.“Kau benar melakukannya?” suara Noah terdengar datar tapi bergetar menahan amarah. Matanya juga merah, dan rahangnya mengeras.“A… apa maksudmu?” Elena terengah, refleks memegang pergelangan tangan Noah. “Noah, aku….”“Jawab jujur!” potong Noah tajam.Elena terpaku. Ia tak mengerti arah pertanyaan itu. Demi melepaskan diri dari mantannya itu, ia hanya bisa mengangguk kecil.“Iya… iya.”Cengkeraman Noah langsung te
“Kau bisa diandalkan juga, Elena,” ujar Harli ringan sambil menyendok sedikit daging ke mulutnya.Matanya berbinar menatap hidangan yang tersaji rapi di atas meja, ada ayam panggang rosemary dengan saus krim jamur, udang tiger saute bawang putih, sup bening consommé berkaldu jernih, serta nasi putih Jepang yang pulen.serta nasi hangat yang tampak begitu pulen.“Hmmm… rasanya lumayan,” ucap Harli tanpa sedikit pun menatap Elena yang sejak tadi berdiri di sampingnya yang setia melayani.Elena menghela napas pelan. Dadanya terasa lebih ringan setelah menunggu komentar suaminya itu.“Terima kasih, Tuan,” jawab Elena sambil tersenyum lega.Tapi senyuman Elena langsung menghilang ketika Harli tiba-tiba berhenti mengunyah.Jantung Elena berdetak kencang, “Apa ada yang salah, Tuan Harli?” tanya Elena meremas jari-jarinya gugup.Harli tidak menjawab sama sekali, tapi Tatapan Harli yang tajam membuat dengkul Elena lemas seketika.Tanpa peringatan, Harli tiba-tiba menarik tangan Elena hingga tu
Menjelang siang, mobil akhirnya berhenti di depan Mansion Blakwood.Begitu pintu terbuka, Harli dan Noah langsung melangkah masuk lebih dulu. Elena sempat mengernyit. Bukannya Tuan Harli bilang ada proyek penting? Tapi ia tak berani bertanya. Ia hanya mengikuti dari belakang.Noah justru tertawa kecil begitu masuk ke ruang tengah, menoleh pada ayahnya.“Keadaan daerah itu benar-benar buruk,” katanya santai. “Jauh dari kata layak.”Harli mengangguk setuju sambil melepas jas. “Air panasnya saja dingin. Rumahnya juga sesak. Tidak nyaman.”Ucapan itu membuat Elena menunduk, menelan perasaan tak enak. Padahal rumahnya itu, adalah rumah terbaik disana. Tapi bagi orang sekaya mereka dilihat begitu tidak layak bagaimana jika mereka melihat kost tiga kali empat tempat tinggal Elena dulu. Mungkin sudah di anggap kandang.Pantas saja, dulu saat ia pacaran dengan Noah, Noah kadang membuang muka begitu makan di pinggir jalan dengannya, tapi ia tidak pernah menyangka Noah sekasar itu menilai rumahn
“Elena.”Elena yang sekarang duduk di bangku taman mendengus pelan, tak memperhatikan. Udara malam menusuk, tapi kepalanya justru terasa panas dengan banyaknya beban pikiran.Tiba-tiba…“Hss.”“Apa ini!” Elena tersentak saat sesuatu yang dingin menempel di pipinya. Ia refleks menoleh.“Noah?!”Noah berdiri santai di samping bangku, satu tangan menyodorkan gelas bening. Wajahnya datar seperti biasa, tapi sorot matanya tajam mengamati Elena.“Di sini dingin,” katanya singkat. “Kenapa kamu malah di luar?”Ia meletakkan gelas berisi kopi dingin itu ke tangan Elena.Elena mendengus kasar. “Harusnya kopi panas.”“No,” balas Noah ringan. “Yang dingin lebih cocok. Bisa mendinginkan hatimu juga.”Elena mendengus lagi, kali ini diiringi senyum kecil. “Dari mana kamu dapat ini?”Noah mengangkat bahu. “Aku suruh Amara bikin. Sampai tiga kali baru pas.”Elena terkekeh pelan, senyum miring terbit di bibirnya. Hanya Noah yang beberapa kali menghiburnya meski caranya sering menyebalkan dan perkataann







