เข้าสู่ระบบElena kini berdiri di depan pintu ruang operasi, tubuhnya gemetar setelah dengan gila-gilaan membawa ibunya ke rumah sakit, tangannya saling mencengkeram tanpa sadar, bekas darah ibunya bahkan menempel di seluruh pakaian juga tangannya tapi ia tidak peduli.Akhirnya setelah beberapa, dokter yang menangani ibunya keluar.“Dokter… bagaimana ibu saya…?” ucapnya lemah begitu dokter akhirnya keluar.Dokter itu hanya menatapnya beberapa detik.Lalu perlahan… menggeleng.“Maaf… kami sudah berusaha. Tapi… sudah terlambat.”Deg.Dunia Elena runtuh dalam satu detik.Kakinya langsung lemas. Ia jatuh berlutut di lantai.“Tidak… tidak mungkin…” bisiknya lirih, kepalanya menggeleng lemah.Tanpa peduli apapun, ia mendorong pintu ruang itu dan masuk paksa.“Ibu…!”Langkahnya goyah saat mendekati ranjang.Tangannya terangkat… menyentuh wajah Rania yang dingin.Tidak ada lagi kehangatan yang ia rindukan.Air mata tidak langsung jatuh.Seolah tubuhnya menolak kenyataan itu, karena kebersamaan mereka beg
Elena berlari turun ke ruang tamu, dadanya naik turun tak beraturan karena penasaran tapi ternyata tidak ada siapapun.Hingga tiba-tiba suara langkah kaki pelan terdengar dari arah tangga.Semua orang refleks menoleh, dan detik berikutnya—Waktu seolah berhenti bagi Elena.Seorang wanita berdiri di sana.Elena tak bisa membendung rasa kagetnya setelah mencarinya berminggu-minggu…“Ibu…?” suara Elena bergetar hebat.“Elena…” balasnya lirih.Tanpa berpikir panjang, Elena berlari kearahnya.Air matanya jatuh deras saat ia memeluk wanita itu erat-erat, seolah takut sosok di depannya akan menghilang lagi jika ia melepaskannya.“Ibu… ini benar-benar Ibu…?” suaranya bergetar hebat.Rania mengangguk sambil memeluk Elena kembali.“Iya… Nak… Ibu di sini…”Tubuh Elena gemetar dalam pelukan itu.Semua rasa sakit, rasa bersalah, dan ketakutan tak bisa bertemu lagi dengan ibunya…seakan runtuh dalam satu waktu.“Ibu sehat… Ibu baik-baik saja…” bisik Elena sambil menangis.Dan memang Rania terlihat j
Elena menghela napas pelan lalu menatap Noah dengan sedikit kesal.“Noah… tolong jaga pikiranmu.” Ucapnya malas.Noah mengangkat alis, jelas tidak merasa bersalah sedikit pun.“Pikiranku?” ulangnya santai.Elena tidak menjawab. Ia hanya turun dari ranjang dengan hati-hati, menahan rasa perih di punggungnya.“Konferensi pers hampir dimulai,” katanya pelan. “Aku harus bersiap.”Ia berjalan ke lemari mengambil gaun yang sudah disiapkan Bi Darti.Noah tetap berdiri di sana sambil bersandar di kusen pintu, menonton setiap gerakan Elena dengan senyum tipis yang menggoda.“Elena…”“Apa lagi?” balas Elena tanpa menoleh.“Kau benar-benar akan berganti baju… sementara aku masih di sini?”Elena berhenti sebentar.Ia menoleh sekilas dengan tatapan tajam.“Kalau kau tidak ingin melihat, keluarlah.”Noah justru tertawa pelan.“Sekarang kau menantangku.”Elena mendengus kecil, lalu dengan cepat melepas pakaian rumahnya dan mengganti dengan pakaian dalam saja sebelum mengambil gaun yang akan dipakai.
Harli terdiam beberapa detik setelah pertanyaan Elena menggantung di udara.Ruangan kerja yang luas itu mendadak terasa jauh lebih sunyi. Hanya suara napas Elena yang sedikit tidak teratur yang terdengar di antara mereka.Tatapan Harli lalu berubah dingin.Pria itu tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Elena dengan mata yang menyipit perlahan, seolah sedang menimbang sesuatu di dalam kepalanya.Lalu ia menghela napas kasar dengan ekspresi tidak senangnya.“Keluar.” Bentaknya tajam.Elena tertegun menunggu jawaban yang di inginkan.“Mas ku mohon jawab dulu.” Pinta Elena memelas.“Keluar dari ruang kerjaku!” bentak Harli melanjutkan.Suaranya begitu keras hingga membuat Elena refleks mundur satu langkah.Elena menelan ludah.Hanya saja, sebelum ia sempat mengatakan apa pun lagi, Harli sudah berjalan beberapa langkah mendekatinya.Tatapannya menusuk tajam.“Dan bersiaplah… tiga jam lagi.”“Kita akan mengadakan konferensi untuk klarifikasi,” lanjut Harli dengan suara dingin.Dalam sek
Miranda dan Elena sama-sama menoleh ke belakang.Di sana, Michel sudah berdiri dengan kedua tangan bertolak pinggang. Wajahnya penuh amarah, matanya tajam menatap mereka berdua.“Sedang apa kalian di sini?” bentaknya tanpa peduli bahwa beberapa tamu mulai melirik ke arah mereka.Miranda langsung berubah sikap.“Michel, sayang—”Tapi Michel memotong dengan suara lebih keras.“Ibu pikir aku tidak dengar?” katanya tajam. “Ibu bilang ibu… ibu kandungnya?”Beberapa sosialita di sekitar mereka mulai berbisik-bisik.Miranda jelas menyadari situasi itu berbahaya.Ia segera meraih lengan Michel.“Cukup. Ikut Ibu.”Michel sempat ingin menolak, namun Miranda menariknya dengan tegas. Elena yang tidak ingin keributan makin besar akhirnya ikut berjalan di belakang mereka.Mereka keluar dari pintu samping mansion menuju halaman depan.Udara malam terasa lebih dingin. Tidak ada wartawan, tidak ada tamu lainnya hanya lampu taman yang menyinari halaman luas itu.Begitu mereka berhenti, Miranda langsung
Elena menoleh perlahan.Di sana, Harli berdiri menatapnya. Wajah pria itu kaku, rahangnya mengeras, dan sorot matanya dipenuhi kemarahan yang nyaris tak disembunyikan.“Mas Harli…” suara Elena keluar pelan.Namun Harli tidak menjawab.Tanpa sepatah kata pun, pria itu tiba-tiba meraih lengannya dengan kasar.Tarikan itu begitu kuat hingga membuat Elena tersentak.“Mas—”Belum sempat ia melanjutkan kata-katanya, Harli sudah menyeretnya menjauh dari keramaian. Sepatu Elena hampir terseret di lantai saat pria itu membawanya ke sudut ruangan yang jauh dari sorotan kamera dan para tamu.Begitu mereka berhenti di tempat yang lebih sepi, Harli langsung berbalik menghadapnya.Tatapannya tajam.“Dari mana saja kau?” bentaknya dingin, dan penuk tekanan.Elena menatapnya, jantungnya berdetak tidak teratur.“Aku… Mas Harli, aku—”“Cukup.” Harli memotongnya dengan suara keras.Pria itu melangkah lebih dekat, tubuhnya menjulang tinggi di hadapan Elena. Sorot matanya dingin seperti pisau yang siap me







