Masuk“Diamlah.” bisik Arga tenang. “Sebentar lagi selesai.”Tatapan Elena langsung goyah. Arga membuka tutup kecil salep di tangannya lalu mengoleskannya sangat pelan ke bekas merah di leher Elena.Sentuhan jarinya begitu hati-hati.“Ah…” Elena refleks mengernyit kecil. Arga justru meniup bagian leher wanita itu perlahan setelah mengoleskan salep.“Mhh…” Elena spontan mendesah geli kecil hingga bahunya ikut bergetar dan sialnya…suara kecil itu justru membuat tatapan Arga berubah lebih dalam.Senyum miring tipis muncul di bibir pria itu, “Dasar…” gumamnya pelan sebelum menjentik dahi Elena lembut. “Tahanlah.”“Elena langsung manyun kesal sambil memegangi dahinya. “Sakit tahu.”Tapi Arga malah tertawa kecil lalu mulai memasangkan syal tadi perlahan di leher Elena hingga bekas merah itu tertutup sempurna.Gerakan pria itu sangat dekat, bahkan Elena bisa mencium samar aroma parfum Arga yang menenangkan berbeda jauh dengan milik Noah yang terlalu menusuk di hidung.Setelah selesai, Arga tidak l
“Om Noah, lihat ini!” seru Lexia lagi dengan antusias sambil memperlihatkan boneka kecil di dalam rumah-rumahan.Noah menatap sekilas lalu mengangguk pelan.“Hm. Bagus.” Jawabnya lembut.Lexia tersenyum puas lalu kembali sibuk bermain.Beberapa saat kemudian Noah akhirnya bangkit dari sofa lalu berjalan mendekat. Pria itu ikut duduk di lantai tepat di samping Lexia, membuat anak kecil itu sedikit melongo karena bahkan Arga saja jarang benar-benar mau duduk bermain boneka bersamanya karena ia terlalu sibuk.Namun Noah terlihat santai. Pria itu mengambil satu miniatur mobil kecil lalu menjalankannya pelan di atas karpet.Lexia langsung tertawa kecil melihatnya.“Om Noah…” panggil anak itu tiba-tiba.“Hm?”“Kau ternyata tidak terlalu menyebalkan.”Noah sampai terkekeh rendah.“Pujian yang bagus.”Lexia tersenyum bangga sendiri. Tatapan Noah kemudian perlahan berubah lebih dalam saat melihat wajah anak kecil itu lebih dekat.Semakin lama…semakin ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.Ben
“AH!” Elena langsung terkejut saat Noah tiba-tiba menarik tubuhnya kuat ke atas. Dalam satu gerakan cepat, pria itu mengangkat Elena ke dalam gendongannya.“Noah!” Elena membelalak kaget sambil refleks memegang bahu pria itu erat.Karena posisinya benar-benar mendadak, kedua kaki Elena otomatis melingkar di pinggang Noah agar tidak jatuh. Cardigan tipis yang dipakainya tersingkap memperlihatkan paha putih mulusnya makin jelas.Noah justru terlihat sangat puas. Senyum tipis penuh kemenangan muncul di bibir tampannya saat kedua tangannya menopang paha Elena erat.“Turunkan aku!” bisik Elena panik sambil melirik ke arah pintu.Tapi Noah malah berjalan santai membawa Elena menjauh dari ruang depan menuju tangga ke lantai dua rumah.Semakin Elena berontak, semakin juga Noah bersemangat dan mendekatkan wajahnya ke leher Elena hingga napas hangat pria itu menyapu kulit putih wanita tersebut perlahan.“Aku suka dia tahu kau sedang bersamaku.”DEGG.“Elena langsung memukul bahu Noah pelan. “Ka
Inara langsung mengulurkan tangannya ke arah Noah dengan wajah memelas. Air matanya menggantung di ujung mata, bibirnya bergetar seolah ia benar-benar korban paling menyedihkan di sana.“Noah…” lirihnya pelan sambil mencoba meraih tangan pria itu. “Aku sakit…”Tapi langkah Noah sama sekali tidak berhenti. Semua orang langsung terdiam saat pria itu melewati Inara begitu saja tanpa melirik sedikit pun. Bahkan tatapannya tidak turun padanya sedetik pun, seolah wanita itu hanyalah udara kosong yang tidak penting.Aura Noah Blackwood terasa terlalu dingin dan menekan saat ia berjalan lurus ke arah Elena. Sepatu kulit hitam mahalnya berhenti tepat di depan wanita itu. Tubuh tinggi pria tersebut langsung menutupi Elena dari pandangan banyak orang. Rahangnya mengeras, mata gelapnya turun perlahan ke pipi Elena yang masih memerah bekas tamparan.Beberapa saat kemudian…Noah mengangkat tangannya perlahan. Semua pegawai café sampai menahan napas.Karena pria yang terkenal kejam, dingin, dan bahka
Arga mengalihkan rasa gugupnya dengan diam. Elena sendiri bersikap tak terjadi apa-apa dan sibuk menghabiskan sup buatan Arga yang terasa menghangatkan kepalanya. Sementara Arga duduk di seberangnya sambil sesekali memperhatikan wanita itu diam-diam.Sudah empat tahun.Empat tahun terakhir…Arga selalu ada di sisi Elena. Menemani saat wanita itu hancur setelah kehilangan Alex. Menjaga Lexia seperti anaknya sendiri. Menjadi tempat Elena bersandar meski tidak pernah meminta balasan apa pun dan justru karena itulah…Arga makin takut kehilangan Elena sekarang.“El.” Panggil Arga lembut.“Hm?” Elena mendongak sambil menyendok supnya lagi.Arga terdiam beberapa detik sebelum akhirnya bicara pelan.“Kalau…pernikahan pura-pura kita disahkan saja bagaimana?”DEGG.Sendok di tangan Elena langsung berhenti di udara. Arga mencoba tersenyum tipis meski jelas ada kegugupan di matanya.“Noah cepat atau lambat pasti akan mencari tahu tentang kita.” lanjutnya tenang. “Dan kalau sampai dia tahu semuanya
Sementara itu di dalam kamar…Suasana masih terasa panas meski pintu sudah tertutup sejak beberapa menit lalu.Elena perlahan menurunkan selimut yang tadi menutupi tubuhnya. Wajah wanita itu sudah memerah entah karena malu, panik, atau kesal akibat ulah Noah yang benar-benar keterlaluan.“Kamu sengaja, ya?” Elena langsung menatap Noah tajam. “Kenapa membiarkan mereka masuk?!”Noah yang masih bersandar santai di headboard hanya memiringkan kepala sedikit sambil menatap Elena tanpa rasa bersalah sedikit pun.“Mereka sudah terlanjur datang.”“Itu bukan alasan!” Bantah Elena kesal disusul dengan ia memukul dada pria itu pelan karena gemas. Namun Noah justru menangkap pergelangan tangannya lagi lalu menarik tubuh Elena mendekat tanpa kesulitan.“Elena…” suara Noah rendah. “Kau tadi memelukku sendiri.”DEGG.Wajah Elena langsung makin panas mengingat bagaimana refleksnya tadi saat Inara masuk.“A-aku cuma panik!” elaknya kesal.“Tapi aku suka.” Bisik Noah hangat.“Noah!”Pria itu tertawa pel
Noah hanya berdehem pelan lalu menunrunkan Elena perlahan, ia lalu berjalan cepat membuka lemari pakaian Elena.Setelah mengamati beberapa saat, ia akhirnya menemukan sebuah cardigan panjang, warna dusty yang panjangnya sampai lutut. Ia lalu melemparnya ke Elena.“Pakailah…”Elena buru-buru memakai
Ternyata Harli hanya melirik ke arah Devon dan dua security yang masih belum juga berhasil membawa Sarah keluar dari area rumah sakit.Sarah sedang berusaha meronta dan mengoceh memohon penjelasan.Elena pun dengan gelagapan langsung menarik tangannya dari Noah, tapi pria itu masih menahan ujung je
Elena menutup pintu kamarnya cepat-cepat, lalu menyandarkan punggungnya.“Apa yang harus kulakukan…” gumamnya lirih.Hingga ponsel di tangannya bergetar menunjukkan pesan wa dari Noah.Jantungnya langsung berdegup keras.‘Datanglah ke ruang kerja rahasia. Kita perlu bicara. Aku bisa memberimu solus
Noah yang masih diatas tubuh Elena langsung menjatuhkan kepalanya ke dada Elena yang kenyal sambil mendengus kasar.“Siapa yang berani…” gumamnya rendah, kesal karena kesenangannya di ganggu.Ia bangkit dengan gerakan malas, meraih jubahnya dari lantai lalu mengenakannya sekadarnya. Wajahnya datar







