Share

Bab 92

Author: Phoenixclaa
last update publish date: 2026-03-03 22:41:16

Salah satu anggota dewan tertawa kecil lalu akhirnya tangannya bergerak cepat membuka koper yang di siapkan khusus untuk mereka.

Begitu koper terbuka—

Elena terpaku menatap lurus. Bibinya refleks ikut melebar.

“WOW….” Bisiknya kagum.

Koper itu… penuh dengan uang tunai yang di ikat rapi, ia bisa menafsir jika itu jumlahnya ratusan juta.

Dan empat koper lainnya juga sama.

Harli lalu bersandar santai di sofa begitu selesai membagikan koper itu.

Pria itu terlihat begitu arogan dengan kaki disilangk
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   154- Tertangkap Basah

    "Arga, jangan!"Pekikan tertahan Elena memecah keheningan. Mengabaikan pusing di kepalanya dan sisa-sisa gairah yang masih meremas perutnya. Elena melompat dari ranjang. Tangannya mencengkeram lengan Arga dengan putus asa, mencoba menahan tubuh kokoh pria itu yang kini melangkah kaku bagai kesetanan ke arah lemari.Kecurigaan dan bara cemburu telah membutakan Arga. Tenaga Elena yang melemah tak ada artinya. Dengan rahang mengeras, Arga menghempaskan tangan wanita yang diam-diam dipujanya itu, lalu mencengkeram gagang pintu kayu jati di depannya.BRUKKK!Pintu lemari itu ditarik paksa hingga terbuka lebar, menghantam dinding dengan suara memekakkan telinga.Cahaya lampu temaram langsung menyayat kegelapan di dalam sana. Dan di sanalah, Noah yang bertubuh besar dan menjulang, berjongkok santai menyembunyikan putrinya di sudut sempit."Hehehe..."Sebuah tawa kecil bernada rendah, serak, dan sangat tengil lolos begitu saja dari bibir Noah. Bukannya panik karena tertangkap basah bersembun

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   153- Godaan Panas

    Keheningan yang mencekik itu seketika hancur oleh deru napas Arga yang memburu. Matanya yang gelap menyapu setiap inci tubuh Elena, terpancing telak oleh pemandangan memabukkan di depannya. Aroma feromon bercampur keringat yang menguar di udara justru membuat akal sehat Arga nyaris putus. Sebagai sahabat baik yang selama ini selalu tulus menolong dan mencintai Elena dalam diam, ia sangat menginginkan wanita itu. Detik ini juga bahkan meski Elena selama ini belum mau menerima cintanya.Arga segera mendekat sambil menelan ludah susah payah. "El... kau baik-baik saja?" tanyanya serak, matanya tak bisa lepas dari belahan dada Elena yang terekspos."Nghh..." Elena menggeleng pelan. Wajahnya tegang pucat, tapi mati-matian ia tutupi dengan deham ragu."Iyaa... aku baik. Ohhh, itu... iya, aku lihat juga mobil Noah di depan. Tapi... ahh, entah di mana dia sekarang. Aku juga baru saja mencarinya." Lanjut Elena menjawab pertanyaan Arga tadi.Kebohongan konyol yang meluncur dari bibir basah Elen

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   152 (Gagal Wikwik)

    "Nghh... Noah... sudah..." bisik Elena, terengah di sela ciuman basah yang membakar lehernya."Sebentar lagi, El..." balas Noah parau. Napas pria itu memburu kasar, menyapu kulit sensitif Elena dan membuat wanita itu nyaris melenguh pasrah.Tepat di detik yang panas dan memabukkan itu, sebuah suara kecil menyayat keheningan seperti pisau yang sedingin es."Ibu...?"Daun pintu yang semula hanya terbuka secelah, berderit pelan. Cahaya kekuningan dari lorong menyusup masuk, membelah kegelapan kamar dan menghancurkan ritme gila yang baru saja mendominasi mereka."Ah!" Elena tersentak mundur, tubuhnya membeku seketika. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Darah yang semula mendidih kini terasa membeku."Noah..." bisiknya ngeri. Suaranya bergetar parah, diwarnai sisa ekstasi dan kepanikan yang melumpuhkan.Mendengar panggilan panik itu, Noah melepaskan erangan tertahan. "Shit..." umpatnya pelan di pangkal tenggorokan.Dengan dada naik-turun menahan sesak, pria itu memaksa tangannya melepaska

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   151 (Kenyotan Liar Noah)

    "Aku memanjat." Jawab Noah santai.Bahkan pria itu terlihat begitu singkat, seolah hal itu bukan sesuatu yang perlu dibesar-besarkan.Tapi Elena kaget bukan main, "Apa?"Ia menatap Noah beberapa detik, berusaha memastikan dirinya tidak salah dengar.Lalu tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, Elena bergegas menuju jendela yang masih terbuka beberapa sentimeter.Begitu tubuhnya sedikit condong ke luar, napasnya langsung tertahan.Di halaman rumah, sebuah tangga aluminium tergeletak miring di atas tanah. Salah satu sisinya bahkan masih menempel pada pagar. Tak jauh dari sana, Devon duduk di kursi lipat dengan kedua tangan terlipat di dada, sesekali mendongak ke arah jendela kamar Elena, jelas sedang berjaga.Tangga itulah yang rupanya sempat terjatuh hingga menimbulkan suara keras, membuat Elena panik dan memeriksa seluruh rumah beberapa saat yang lalu.Perlahan Elena menoleh kembali.Tatapannya kini dipenuhi rasa tidak percaya."Kau... gila?"Noah hanya mengusap tengkuknya pelan. Seny

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   150 (Lidah Sumber Masalah)

    "Apa maksudmu mengatakan itu?" Ulang Elena lagi.Ia menatap Noah lurus tanpa sedikit pun keraguan, membuat pria itu merasakan dadanya semakin sesak.Noah langsung mengembuskan napas pendek. Rahangnya mengeras, sementara jemarinya perlahan mengepal. Ia baru menyadari bahwa pilihan kata-katanya barusan telah melukai Elena jauh lebih dalam daripada yang ia bayangkan."Aku tidak bermaksud merendahkanmu," jelasnya cepat. Nada suaranya dipenuhi penyesalan, berharap masih ada kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya."Oh?" Ucap Elena tersenyum getir."Lalu bagaimana aku harus mengartikannya?" tanyanya pelan. "Kau mengatakan seolah aku melakukan semua ini demi mendapatkan pengakuan dari keluargamu."Noah spontan melangkah satu langkah lebih dekat. Wajahnya dipenuhi kecemasan."Bukan seperti itu maksudku. Aku hanya tidak ingin kau merasa harus melakukan apa pun demi keluargaku. Aku tidak ingin kau terbebani karena—""Aku tidak pernah berpikir ingin terlibat lagi dengan keluargamu."Elena lang

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   149 (Salah Paham)

    Inara berdiri mematung sambil memegang lehernya yang masih terasa nyeri tetapi harga dirinya jauh lebih terluka.Air mata yang tadi jatuh kini sudah mengering, berganti dengan tatapan merah penuh kebencian.Perlahan ia mengambil ponselnya dengan tangan gemetar tetapi bukan karena sedih. Melainkan karena marah yang membuatnya terguncang. Ia sama sekali tidak terima di perlakukan seperti tadi oleh Noah, hanya karena Elena. Akhirnya, ia menghubungi sebuah nomor dan tidak ada hitungan menit panggilan sudah tersambung. "Inara?" suara seseorang terdengar dari seberang sana.Inara menatap kosong ke luar jendela, lalu sudut bibirnya terangkat tipis dengan tatapan sinis."Pastikan semuanya beres." Nada suaranya lirih tapi dingin. "Saya tidak peduli bagaimana caranya." lanjutnya.Setelah itu sambungan terputus, tatapan Inara semakin gelap."Elena..." bisiknya pelan."Kita lihat sampai kapan keberuntunganmu bertahan."…Di luar ruang CEO...Suasana yang biasanya tenang mendadak berubah tegan

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 103

    Miranda terlihat sedikit tersipu gugup.Ia segera menepuk paha Michel pelan, seolah meminta anaknya itu tidak terlalu memikirkan kata-katanya barusan.“Bukan begitu maksudku,” katanya cepat, mencoba terdengar santai.“Aku hanya tidak ingin ada masalah yang tidak perlu.”Ia lalu menoleh pada Harli d

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 51

    Suara Elena terhenti di udara.Ia perlahan mendongak, masih dalam posisi berjongkok, satu tangannya memegang apron yang tadi terjatuh.Tatapannya naik dari sandal rumahan hitam yang tampak santai di kaki Noah… ke betis jenjang Noah yang terekspos karena celana pendek abu-abu tipis… lalu ke kaos put

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 50

    Belum sempat menjawab, pergelangan tangan Elena sudah ditarik ke pojokan tangga, membuat punggungnya membentur dinding keras.“Noah, lepaskan!” serunya panik sambil melirik ke bawah tangga.Noah tidak menggubris. Ia justru mendekat, lalu menundukkan wajahnya ke pipi Elena tepat di bagian yang tadi

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 49

    Vior menunduk ke bawah meja…Detik itu Elena nyaris berhenti bernapas.Namun Noah untungnya bergerak lebih cepat.Ia membungkuk, tangan kirinya masih mencengkeram pergelangan kaki Elena di bawah meja, tak sedikit pun melonggarkan pegangan.“Sudah, biar aku saja, Vior,” ujarnya datar namun sopan.“G

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status