LOGINNoah tidak menjawab pertanyaan Elena. Ia malah bersandar ke pintu, menatap Elena seolah sedang menikmati pemandangan favoritnya.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Noah akhirnya, suaranya pelan, tapi tatapannya berbahaya.
Elena cepat berdiri dari ranjang dengan gelisah. Matanya langsung melirik ke arah Harli yang tertidur pulas di sisi ranjang.
“Kau tidak boleh masuk kesini sesuka hatimu,” bisik Elena tegas.
Noah malah menyeringai dan berjalan mendekat. Tubuhnya yang masih basah sehabis mandi membuat air menetes di antara otot dadanya yang terekspos. Ia bahkan sengaja membiarkan dua kancing bajunya terbuka membuat ototnya makin terlihat, jelas ia ingin memamerkan diri.
Elena langsung waspada melihat gerak-gerik Noah.
“Menjauhlah dariku!” ujarnya sambil mundur selangkah.
Namun Noah lebih cepat. Tangannya langsung melingkar ke pinggang Elena dan menariknya ke dalam jarak sangat dekat. Napasnya yang hangat sengaja ia hembuskan di wajah Elena.
“Aku hanya ingin tahu keadaanmu, memangnya tidak boleh?” Noah menundukkan kepala, matanya menelanjangi setiap inci tubuh Elena tanpa sedikitpun rasa malu.
“T–tapi, ayahmu ada di sini,” bisik Elena, hampir memelas sambil berusaha melepaskan diri. “Kau tidak seharusnya asal masuk, Noah.”
Namun Noah tak bergeming.
Tanpa melepas pegangannya, ia justru mundur dan duduk di tepi ranjang dengan santai. Lalu menarik Elena ikut jatuh duduk di sampingnya dengan paksa.
“Noah—” Elena refleks memukul lengan Noah keras sambil melirik ke arah Harli.
Tapi Noah menepisnya santai, seolah sentuhan itu sama sekali tak berarti. Lalu tanpa permisi, satu tangannya mendarat di paha Elena dan mengelusnya pelan.
“Hentikan,” bentak Elena, menarik tangan Noah menjauh dengan kasar.
“Kau takut bergairah ya?” Noah mengamati saksama, sudut bibirnya terangkat nakal.
“Kalau kau bicara tidak sopan lagi, aku akan teriak.” ancam Elena cepat. Tangannya sudah menempel di bahu Noah, siap mendorong lebih keras kali ini.
Namun Noah mengangkat jarinya perlahan… lalu menekannya ringan di bibir Elena
Sentuhan itu, seketika membuat Elena terpaku, napasnya tertahan di tenggorokan.
“Menurutmu,” bisik Noah rendah di telinganya. “Apa yang Ayah pikirkan kalau ia bangun… dan melihatku memeluk istrinya di ranjangnya sendiri?”
Napas Elena tercekat. Ia melirik cepat ke arah Harli lagi, untungnya pria tua itu masih tidur, tapi Elena tetap tidak bisa tenang karena Harli bisa bangun kapan saja.
Benar saja, Harli tiba-tiba bergerak merentangkan tangannya, Elena langsung memukul punggung Noah panik. “Noah, keluarlah. Atau aku akan benar-benar berteriak!”
Noah hanya untuk memicingkan mata, menatap Elena seolah mengingatkan sesuatu.
“Bukannya kau dulu suka yang menantang?” gumamnya pelan. “Kenapa kau takut sekarang, hm?”
“Berhenti bicara sembarangan,” Bisik Elena cepat. Ia langsung berdiri, namun Noah menahan lengannya, membuat tubuh Elena condong ke arahnya, tangan Elena malah secara refleks memegang dada Noah.
Elena jelas semakin panik.
“Pegang saja, aku tidak keberatan.” Goda Noah menahan tangan Elena.
Elena cepat-cepat melepaskan diri dan dengan kesal meraih pergelangan tangan Noah, kali ini menariknya dengan sangat kasar.
“Noah… cukup. Keluarlah.”
Ia langsung membuka pintu pelan, hanya menyisakan celah sempit supaya tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan Harli. Ia mendorong Noah keluar dengan kedua tangannya.
Noah tidak melawan. Tapi sebelum melewati ambang pintu, ia menunduk sedikit, mendekat ke telinga Elena.
“Selamat malam, mantanku,” ujarnya tersenyum penuh obsesi di matanya.
Elena cepat-cepat menutup pintu.
Begitu pintu terkunci, ia langsung roboh bersandar di belakangnya. Dadanya naik turun tak beraturan.
“Sialan kau, Noah…” gumamnya.
…
Keesokan paginya, Elena sengaja turun lebih siang dari biasanya. Ia ingin memastikan dirinya tidak akan bertemu Noah di mana pun.
Untungnya Harli memang jarang meminta dilayani, jadi Elena bisa tidur sesukanya tanpa ada yang protes.
Ketika memasuki dapur, ia melihat Darti, kepala pelayan yang sudah puluhan tahun bekerja di mansion Blackwood.
“Darti,” sapa Elena pelan. “Tuan Harli sudah berangkat?”
“Sudah, Nyonya. Dari subuh,” jawab Darti ramah.
Elena mengangguk. “Kalau Noah?”
“Tuan Noah belum terlihat turun dari kamarnya.”
“Syukurlah…” Elena menarik napas lega.
Kepalanya masih berat karena kejadian semalam ia jadi kesulitan tidur. Ia butuh sesuatu yang bisa membuat pikirannya tenang dan entah kenapa, berenang terasa seperti pilihan terbaik.
Elena cepat-cepat berganti pakaian. Ia memilih baju renang peach dengan potongan punggung rendah yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Rambutnya ia sengaja ikat tinggi, wajahnya ia biarkan polos tanpa riasan.
Begitu sampai di area kolam, ia tersenyum puas.
“Kolam seluas ini dibiarkan nganggur… orang kaya memang aneh,” gumam Elena sambil menuruni tangga kolam.
Begitu air dingin menyentuh betisnya, ia langsung tersenyum kecil.
Namun, tiba-tiba—
Sesuatu melingkar di pergelangan kakinya.
“A-apa itu?!” Elena menoleh cepat kebawah, jantungnya melonjak.
Belum sempat ia berlari naik, sebuah tangan muncul dari bawah air mencengkeram kakinya kuat.
Dalam sekejap, Noah muncul ke permukaan, rambutnya basah, wajahnya setengah tenggelam, matanya dingin… dan tanpa memberi kesempatan Elena kabur, ia menarik Elena tenggelam bersamanya.
Elena terkejut, tangannya spontan mencengkeram bahu Noah panik.
Di bawah air, Noah menarik pinggang Elena erat, menahannya dalam pelukannya yang membuatnya sulit bergerak.
Elena berusaha melepaskan diri, menendang, memukul apa pun yang bisa ia sentuh tapi air memperlambat semua.
Noah tetap tak mau melepaskan.
Sebaliknya, ia menahan tubuh Elena semakin dekat, wajah mereka hanya terpisah beberapa sentimeter di bawah air. Wajah Noah menunjukkan senyum tipis yang membuat Elena merinding ketakutan.
“Noah…” napas Elena semakin habis, gerakan kakinya menjadi lemah.
Noah akhirnya melepaskan Elena ke permukaan, membiarkannya mengambil napas tapi ia tidak memberi kesempatan Elena melarikan diri.
Sebaliknya, ia mengikuti Elena, menekan tubuhnya sampai punggung Elena menyentuh pinggir kolam.
“Noah…apa yang kau lakukan!” cegat Elena mendorong tubuhnya menjauh.
Tapi Noah justru menarik dan mengangkat satu kaki Elena, membuat tubuh mereka makin rapat dan membuat Elena terpaksa memeluk bahunya untuk menjaga keseimbangan.
Noah mendekatkan wajahnya, dengan posisi miring bersiap mencium Elena.
“Noah jangan…” Elena memalingkan wajah cepat, berusaha kabur dari bibir mantan pacarnya itu.
Tapi Noah menahan tengkuknya, jari-jarinya panas di kulit dingin Elena, memaksa wajah mereka kembali berhadapan. Ia sudah menunduk sedikit, napasnya menyapu bibir Elena tinggal satu inci lagi.
Tepat saat Noah hendak menciumnya…
“Noah? Hei, Noah! Kau di sini?!”
Terdengar suara Michel yang berjalan mendekat, keduanya serentak menoleh.
“Noah…” Suasana masih tegang saat Arga berdiri di depan Elena, melindunginya. Namun Noah justru tersenyum miring.“Istrimu…?” ulangnya pelan.Tatapannya turun sekilas ke tangan Arga yang menggenggam Elena… lalu kembali naik. Namun anehnya, ia tidak memancing konflik berlanjutan. Sebaliknya…Noah melangkah maju lalu dengan tangan terulur menepuk bahu Arga kasar.Seketika Arga terdiam sepersekian detik… lalu—“Lama tidak bertemu, bruh.”DEGGGG!!!Elena membeku di tempatnya, dengan mata membelalak kaget.“Apa…yang baru saja terjadi?!” bisiknya bingung.Karena detik berikutnya…Keduanya malah saling menarik dan BERPELUKAN.“Masih hidup juga kau,” sahut Noah dengan tawa rendah.“Tuan Noah sepertinya kecewa yaa?” balas Arga santai.Elena benar-benar kehilangan kata-kata. Otaknya seperti berhenti bekerja. Tatapannya berpindah dari satu pria ke pria lain… mencoba mencerna kenyataan yang terlalu absurd.Mereka…bahkan terlihat seperti sahabat akrab…dan tepat saat itu, Elena baru menyadari. Jika d
Elena yang kini sedang berbincang ringan dengan beberapa kenalannya langsung menoleh. Matanya sedikit melebar… lalu perlahan melembut.“Nyonya Garli…”Wanita tua itu tersenyum lebar, benar-benar tulus.“Astaga, benar kamu!” Ia langsung mendekat dan meraih tangan Elena dengan hangat. “Saya tidak salah lihat.”Arga yang berdiri di samping hanya mengamati dengan tenang.“Kalian saling kenal?” tanyanya pelan.Elena mengangguk tipis. “Kami pernah bertemu… tidak sengaja.”Nyonya Garli terkekeh pelan.“Bukan sekadar bertemu. Dia menyelamatkan saya.”Arga mengangkat alis.Elena langsung terlihat sedikit canggung.“Itu hanya kebetulan…”Namun Nyonya Garli justru mulai bercerita, matanya berbinar.“Waktu itu di bandara Singapura. Saya transit… dan tiba-tiba kondisi saya kacau. Salah satu implan saya bermasalah, pecah. Saya panik, staf saya tidak sigap, dan saya benar-benar tidak tahu harus bagaimana…”Elena menunduk sedikit, mengingat momen itu.“Saya hanya melihat beliau kesakitan,” ucapnya pe
Elena tidak menjawab pertanyaan Nela, ia hanya segera menoleh ke arah para staf.“Semuanya kembali kerja,” ucapnya tenang, tegas, seolah barusan tidak terjadi apa-apa. “Pesanan belum selesai.”Suasana dapur yang sempat membeku perlahan bergerak kembali. Satu per satu staf kembali ke posisi masing-masing, meski masih diliputi rasa tegang.Elena kemudian melangkah mendekati Nela, menepuk bahunya pelan.“Aku pulang lebih dulu,” bisiknya lirih. “Tolong bantu Dinda handle semuanya.”Nela menatapnya khawatir.“Elena, kamu—” bisik wanita itu khawatir.“Aku baik-baik saja.” Jawab Elena cepat tak ingin membuat Nela terbebani.Tanpa memberi ruang untuk dibantah, Elena sudah mengambil tasnya. Ia memakai kembali maskernya, lalu menambahkan kacamata hitam besar yang menutupi sebagian wajahnya.Dinda hanya bisa menghela napas.“Serahkan saja di sini Bu Bos. Aku urus.”Elena pun tersenyum dan mengangguk singkat.Sementara itu…Lexia yang tadi berdiri di dekat Noah dengan lagi-lagi penuh perdebatan se
Yoga dan Nela terus berusaha menahan tapi Noah mendorong mereka dengan mudah. Langkahnya tidak terhentikan. Tatapannya hanya satu arah ingin memastikan siapa yang membuat semua kue ini.Di dalam sana…Seorang wanita berdiri di depan meja kerja dengan memakai apron lengkap, sarung tangan, dan masker yang menutupi setengah wajahnya.Tangannya sedang menyelesaikan plating dessert dengan gerakan yang begitu presisi…yang begitu ia kenal.Langkah Noah seketika melambat, jantungnya berdetak lebih keras.“...Elena.” panggilnya dengan suara serak yang membuat wanita itu juga beberapa staf dapur berhenti dari pekerjaan mereka.Tanpa menunggu, Noah langsung meraih tangan wanita lalu menariknya dan memeluknya erat. Satu tangannya mengelus kepala wanita itu dengan penuh rasa haru. Seolah takut kehilangan lagi. Seolah empat tahun pencarian itu akhirnya berakhir di detik ini.Namun….wanita berontak dan terus ingin melepaskan diri…“Lepaskan!” teriaknya dengan suara keras.DEGG!Tubuh Noah langsung ka
Tiga hari kemudian… Langit sore menggantung lembut di atas kota ketika mobil hitam milik Noah akhirnya berhenti tepat di depan Lexia Dessert Cafe.Devon turun lebih dulu, membuka pintu dengan sigap.Noah pun melangkah keluar dengan tenang. Jasnya rapi, aura dinginnya langsung terasa bahkan tanpa ia perlu berbicara. Tatapannya terangkat, mengamati bangunan di depannya yang tampak elegan, tenang, juga berkelas.Hanya saja, baru juga ia hendak melangkah lebih dekat….Bruk!Sebuah tubuh kecil menabraknya. Noah refleks mundur setengah langkah. Tatapannya langsung turun mengamati seorang anak perempuan kecil dengan wajah cantik, mata bulat yang tajam, juga rambutnya yang sedikit berantakan karena berlari…dan seekor kucing kecil masih dalam gendongannya.Anak itu tampak kaget sesaat… lalu dengan polos langsung memeluk kaki Noah sambil berdiri.“M-maaf, Om…” ucapnya pelan, menunduk, suaranya kecil tapi jelas. “Aku tidak sengaja…”Noah menatapnya beberapa detik. Lalu alisnya terangkat tipis. A
Arga tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Elena beberapa detik… tapi cukup lama untuk memahami bahwa ini bukan sekadar kesedihan biasa.Perlahan… tangannya pun terangkat. Ia meraih bahu Elena, menariknya mendekat tanpa banyak kata lalu memeluknya sangat erat. Menyebarkan kehangatan pada wanita yang telah ia cintai diam-diam selama ini.Elena pun akhirnya tidak menahan dirinya lagi. Tubuhnya melemah di dalam pelukan Arga. Bahunya bergetar, napasnya tersengal, dan air mata yang sejak tadi ia tahan… akhirnya runtuh begitu saja.Tidak ada suara keras. Hanya tangisan yang pecah pelan… tertahan… tapi justru terasa lebih menyakitkan.Arga tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya membiarkan wanita itu menangis di bahunya. Satu tangannya menahan kepala Elena agar tetap bersandar, sementara yang lain mengusap punggungnya perlahan… ritmis… menenangkan.Detik berlalu menjadi menit, Arga tetap setia tanpa bergeser sedikit pun. Sampai akhirnya… dengan suara rendahnya yang khas…“Kita akan kembali.”
Malam itu juga, Elena naik taksi langsung menuju rumah Robby dengan perasaan campur aduk karena menyadari yang ia lakukan sangat salah.Ia kini sengaja menggukan hoodie hitam menutupi kepalanya, juga menyembunyikan wajahnya dengan hati-hati. Bgainya sekarang, Tak ada ruang untuk ragu, ibunya harus
Setelah kejadian di rumah sakit itu, sebulan berlalu dengan ketakutan yang terus menggigit hati Elena.Ia tahu jelas… efek obat itu tak akan bertahan lama. Dan ketika ibunya mengalami kemunduran lagi nanti, ia harus memiliki cadangannya, apa pun risikonya.Karena itu, setiap hari Elena selalu mengi
Elena menatap Noah dengan mata lemah dan gelisah.“Noah… apa maksudmu?” bisiknya bingung.Noah tersenyum getir, senyum yang tidak teduh seperti biasanya pada Elena.“Aku sudah tahu semuanya, El.” Suaranya pelan, namun penuh luka. “Aku tahu apa yang kau lakukan kemarin… kau lakukan demi mendapatkan
Saat Elena akhirnya memutuskan untuk jujur saja, dan mulai ingin melanjutkan ucapannya.Tiba-tiba sebuah tangan lembut namun kuat mencengkeram lengannya.“Cukup.”Suara itu datang dari Jenni, istri Robby.Meski wajah Jenni tampak garang, dengan eyeliner tebal dan raut judes, namun justru dialah yan







