LOGIN“Noah, kamu kok mau ikut sih?” kata Michel sambil tertawa kecil. “Ganggu ayahmu dan Elena saja.”
Elena refleks mengangguk cepat, tak terima jika orang yang paling ia hindari malah ikut juga.
“Iya,” sahut Elena segera. “Perjalanan ke rumahku jauh. Jalannya juga sering macet. Kamu pasti nggak nyaman.”
Noah menoleh ke arahnya, menatap Elena lama sambil tersenyum lewat matanya. Elena terpaku sejenak melihat bola mata hitam pekat Noah yang begitu tajam sekaligus menawan yang kembali mengguncang perasaanya.
“Aku nggak masalah,” jawab Noah singkat.
Mendengar jawaban Noah yang sepertinya tidak menerima penolakan, Elena pun langsung memutar otak untuk mencegahnya ikut.
Sayangnya, sebelum Elena bisa menambahkan alasan lain, Harli justru tertawa ringan sambil menepuk bahu Noah.
“Kenapa tidak?” katanya santai. “Ayah malah senang. Kamu biasanya cuek, sekarang tiba-tiba punya inisiatif.” Ujar Harli senang.
Elena menelan ludah, tak habis pikir dengan pikiran Noah.
Michel mengangkat alis, lalu tersenyum licik.
“Kalau Noah ikut,” katanya sambil melepas tangan Noah, lalu beralih menggenggam tangan Elena dengan penuh semangat, “aku juga harus ikut dong.”
Ia menoleh pada Elena. “Boleh, kan?”
Elena terkejut, tapi sebelum sempat menjawab.
“Tidak,” potong Noah cepat.
Michel mendengus. “Kenapa?”
Noah menatapnya dingin. “Kalau kau ikut, siapa yang urus perusahaan?”
Harli langsung mengangguk setuju.
“Noah benar. Proyek yang kemarin masih perlu pengawasanmu, Michel.”
Michel menghela napas pasrah.
Ia melepaskan tangan Elena kasar begitu saja, lalu menepuk pundaknya ringan.
“Hati-hati di jalan ya, El. Jagain Noah untukku jangan sampai ia kepincut cewek lain disana.”
Elena hanya tersenyum kaku sebagai jawaban, padahal di lubuk hatinya paling dalam ia justru merasa lega.
Bagaimana pun, ia tidak akan rela jika Noah berduaan dengan wanita genit seperti Michel yang bisa menghalalkan berbagai cara menggoda Noah.
Tak lama, Harli berjalan lebih dulu menuju mobil. Sopir sudah membuka pintu belakang.
Hanya saja sebelum Harli masuk, Noah tiba-tiba bersuara.“Ayah,” katanya tenang.
Harli menoleh. “aKenapa?”
“Aku semenjak kembali ke Indo jadi mabuk mobil kalau gak duduk di belakang.”
Elena refleks menoleh.
Hah?
Elena menyeringai kecil memastikan ia tidak salah dengar, jelas itu jawaban paling kuno yang pernah ia dengar keluar dari mulut orang sekeren Noah dan entah kenapa, justru itu membuatnya terlihat semakin menyebalkan sekaligus… membuat Elena penasaran.
Harli mengernyitkan alis sebentar, lalu menghela napas pelan.
“Ya sudah,” katanya akhirnya. “Ayah duduk di depan saja. Apalagi ada Elena yang akan menjagamu kalau-kalau kau pusing.”
Harli pun beralih ke kursi depan, tepat di samping sopir.
Elena sampai geleng-geleng kepala karena Harli malah percaya juga dengan alasan yang diucapkan Noah.
Ia pun tak punya pilihan lain selain duduk di kursi belakang.
Noah masuk dan duduk tepat di sampingnya.
Jarak mereka yang cukup dekat membuat Elena menggenggam tasnya erat, menahan diri agar tak menunjukkan kegugupan. Ia pun hanya bisa menarik napas panjang begitu mencium samar aroma tubuh Noah yang dulu selalu membuatnya candu.
“Tenang,” batinnya. “Noah tidak mungkin macam-macam karena ada Harli di depan.”
Awalnya, perjalanan berjalan baik-baik saja. Elena memilih menikmati pemandangan, terus berusaha menjaga jarak secara fisik maupun perasaan dari pria di sampingnya.
Noah juga tampak diam saja, ia bahkan tidak bicara sepatah katapun semenjak tadi, membuat Elena bisa sedikit bingung sekaligus tenang walau diamnya justru membuat kehadirannya terasa semakin nyata.
Hingga sekitar satu jam berlalu, Elena mulai merasa cukup aman untuk menurunkan kewaspadaanya pada Noah.
Tapi tiba-tiba suara lirih Noah terdengar.
“Aduh…”
Elena menoleh sekilas, lalu segera mengalihkan pandangan. Ia tak mau menaruh peduli pada Noah sama sekali.
Tapi beberapa detik kemudian, suara Noah terdengar lirih lagi.
“Ah… kepalaku sakit.”
Elena menghela napas pelan. Jangan peduli, katanya pada diri sendiri. Ini bukan urusanmu.
Tapi sudut matanya terus memperhatikan tingkah Noah yang membuat perasaannya tidak nyaman, Noah memejamkan mata, keningnya berkerut dan tangannya juga memegang kursi dengan kuat seperti menahan rasa sakit.
Elena melirik ke depan ingin bilang ke suaminya, tapi Harli tertidur pulas.
Elena terdiam cukup lama untuk memilih. Ia tahu seharusnya ia diam saja. Tapi tangannya justru bergerak membuka tas dan mengeluarkan botol minyak kayu putih.
“Anggap saja membantu, tidak lebih.” Batin Elena bimbang.
Tanpa mengucapkan apapun Elena akhirnya bergeser sedikit mendekat.
“Aduh… sakit,” gumam Noah lagi.
Elena dengan cepat menuangkan minyak ke tangannya, lalu mengoleskannya ke sisi kepala dan leher Noah dengan hati-hati. Saat itu juga, jarak mereka sangat dekat, jantung Elena berdetak sangat kencang tapi ia berusaha tetap tenang.
Noah tersenyum kecil.
“Begini lebih enak,” kata Noah lirih.
Elena memperhatikan wajah Noah, kulit wajahnya mulus tanpa satu pun jerawat membuat ia menyeringai kecil sambil menggeleng.
“Kamu… masih sama kayak lima tahun lalu. Tetap lebih kinclong dari kulitku.”
Nada suaranya berbisik, tapi hatinya terasa penuh dengan rasa rindu dengan Noah yang dulu tidak semenyebalkan sekarang.
Sebelum Elena sempat berpikir lebih jauh, Noah tiba-tiba menyandarkan kepala ke bahunya. Elena menegang, jantungnya semakin berdegup keras sampai telinganya berdenging.
“Noah,” bisiknya panik. “Jangan seperti ini. Ada ayahmu di depan.”
Elena menatap tajam ke arah Noah.
Tapi yang terjadi justru sebaliknya.
Noah dengan cepat menurunkan kepalanya dan merubah posisinya langsung berbaring di paha Elena.
Elena dengan cepat merasa kikuk, ingin mendorong Noah tapi melihat wajah lelah danmata panda Noah, ia hanya bisa memanggilnya lirih.
“Noah…” Suara Elena tercekat di tenggorokan.
Noah membuka mata dan langsung menatap kewajah Elena, tatapan mata mereka bertemu sepersekian detik yang berhasil membuat Elena membeku tak siap.
Lalu saat Elena masih menata perasaanya sendiri, tangan Noah dengan cepat menarik pergelangan tangan Elena, menahannya lembut langsung diarahkan ke kepalanya.
“Pijat kepalaku lagi,” pinta Noah pelan. “Aku benar-benar pusing. Tolonglah.” Ucapnya memelas yang membuat Elena merasa tak kuasa menolak.
Elena menoleh ke depan sesaat untuk memastikan, dan untungnya Harli masih tertidur, tak menyadari apa pun.
“Gak.. gak boleh kamu ga boleh kayak gini Elena. Sadarlah!” Elena membatin keras.
Tapi anehnya semakin ia menguatkan diri sendiri, malah tak bisa mengendalikan perasaanya sendiri dan dengan lembut langsung mulai memijat pelipis Noah, awalnya canggung, lalu semakin lama Elena malah menikmati perasaan nyaman apalagi begitu melihat Noah tersenyum dan memuji tangannya lembut.
Elena tak mampu melepaskan pandangannya dari wajah Noah. Melihatnya begitu tenang di pangkuannya membuat jantung Elena berdegup semakin tak terkendali.
Satu tangan Noah bertumpu santai di pangkal paha Elena. Sentuhan itu membuat Elena berkali-kali mencoba mendorongnya menjauh, tapi Noah justru mengeratkan pegangannya.
“Fokus aja,” ucap Noah lirih tanpa membuka mata. “Pijat kepalaku. Aku nggak akan macam-macam.”
Nada suara Noah terdengar tenang tapi entah kenapa itu membuat hasrat aneh dalam dada Elena semakin menumpuk.
Saat Elena masih tenggelam dalam perasaannya dan situasi yang semakin ambigu, tiba-tiba mobil melewati polisi tidur.
BRAK
Tubuh Elena langsung terdorong ke depan. Untungnya Noah dengan gagahnya langsung menahan pinggang Elena agar tidak tertumbuk di kursi depan tanpa bangun dari pangkuannya.
Kepala Elena refleks menunduk lebih dekat begitu ditarik ke belakang dan bibirnya langsung menyentuh pipi Noah, ia langsung merasakan nafas hangat Noah yang menyapu seluruh wajahnya secara tiba-tiba.
“Ngh...” Elena terkejut dengan situasi mendadak itu.
Ia langsung gelapan melepaskan ciumannya dan berusaha menjauh, tapi tangan Noah justru menahan tengkuknya dan matanya memelas ingin lebih.
Tangan Noah terus menarik Elena lebih dekat untuk mencium bibirnya kali ini.
“Elena…” desah Noah rendah.
Jantung Elena nyaris melonjak keluar. Ia benar-benar terpojok dengan situasi menegangkan ini.
“Jangan,” bisik Elena panik. “Noah… jangan begini.”
Tapi tiba-tiba...
“Apa yang kalian lakukan?”
Suara Harli terdengar dari depan.
Elena refleks bergeser menjauh, tangannya mencengkeram tasnya erat.
Noah juga bergerak cepat. Dalam hitungan detik ia sudah bangkit dari pangkuan Elena dan duduk santai, seolah tak pernah terjadi apa-apa.
Noah melirik ke depan dengan wajah setenang biasanya.
“Tadi kepala aku pusing yah,” katanya santai. “Untung ada Elena bantu pijitin.”
Elena menahan napas. Jantungnya masih berdegup liar. Tatapan Harli di spion terasa tajam, menelusuk tanpa ampun, membuat Elena ketakutan.
Tapi alih-alih marah, Harli justru menghela napas ringan.
“Sudah,” katanya datar. “Santai saja.”
Elena terperangah mendengarnya, apalagi dengan mata kepalanya sendiri ia melihat putra dan istrinya hampir berciuman Harli malah bilang santai saja,
Harli lalu menoleh sedikit ke arah belakang.
“Noah, kalau kamu butuh sentuhan,” ucapnya tenang, “cari wanita di luar. Jangan manja ke istri ayah.”
Mata Elena membulat. Dadanya seakan dihantam benda keras, ia benar-benar… tidak paham dengan cara berpikir orang-orang kaya. Ia merasa hanya dijadikan mainan oleh suami dan mantan pacarnya ini.
Menjelang siang, mobil akhirnya berhenti di depan Mansion Blakwood.Begitu pintu terbuka, Harli dan Noah langsung melangkah masuk lebih dulu. Elena sempat mengernyit. Bukannya Tuan Harli bilang ada proyek penting? Tapi ia tak berani bertanya. Ia hanya mengikuti dari belakang.Noah justru tertawa kecil begitu masuk ke ruang tengah, menoleh pada ayahnya.“Keadaan daerah itu benar-benar buruk,” katanya santai. “Jauh dari kata layak.”Harli mengangguk setuju sambil melepas jas. “Air panasnya saja dingin. Rumahnya juga sesak. Tidak nyaman.”Ucapan itu membuat Elena menunduk, menelan perasaan tak enak. Padahal rumahnya itu, adalah rumah terbaik disana. Tapi bagi orang sekaya mereka dilihat begitu tidak layak bagaimana jika mereka melihat kost tiga kali empat tempat tinggal Elena dulu. Mungkin sudah di anggap kandang.Pantas saja, dulu saat ia pacaran dengan Noah, Noah kadang membuang muka begitu makan di pinggir jalan dengannya, tapi ia tidak pernah menyangka Noah sekasar itu menilai rumahn
“Elena.”Elena yang sekarang duduk di bangku taman mendengus pelan, tak memperhatikan. Udara malam menusuk, tapi kepalanya justru terasa panas dengan banyaknya beban pikiran.Tiba-tiba…“Hss.”“Apa ini!” Elena tersentak saat sesuatu yang dingin menempel di pipinya. Ia refleks menoleh.“Noah?!”Noah berdiri santai di samping bangku, satu tangan menyodorkan gelas bening. Wajahnya datar seperti biasa, tapi sorot matanya tajam mengamati Elena.“Di sini dingin,” katanya singkat. “Kenapa kamu malah di luar?”Ia meletakkan gelas berisi kopi dingin itu ke tangan Elena.Elena mendengus kasar. “Harusnya kopi panas.”“No,” balas Noah ringan. “Yang dingin lebih cocok. Bisa mendinginkan hatimu juga.”Elena mendengus lagi, kali ini diiringi senyum kecil. “Dari mana kamu dapat ini?”Noah mengangkat bahu. “Aku suruh Amara bikin. Sampai tiga kali baru pas.”Elena terkekeh pelan, senyum miring terbit di bibirnya. Hanya Noah yang beberapa kali menghiburnya meski caranya sering menyebalkan dan perkataann
“Akhirnya sampai juga,” ujar Elena pelan merenggangkan pinggangnya sebentar.Noah turun lebih dulu.Begitu kakinya menginjak halaman, jas hitamnya jatuh rapi mengikuti bahu bidangnya. Ia berhenti sejenak, lalu mengancingkan jasnya dengan santai tapi gestur sederhana itu justru menegaskan kendali dan wibawanya. Sementara jam mahal di pergelangan tangannya berkilau.“Hah…” Elena yang baru hendak turun refleks terhenti ketika tangannya tiba-tiba ditarik agak kasar.“Elena,” ucap Noah rendah, matanya tajam menyorot wajahnya.“Apa lagi?” Elena menoleh dengan tatapan kesal.Noah melirik rumah besar di hadapan mereka, lalu kembali menatap Elena dengan senyum miring.“Jadi selama ini kamu tidaklah semiskin itu.” Nadanya dingin. “Tapi kenapa hidupmu selalu bergantung pada pria?”“Lepaskan tanganmu,” balas Elena cepat sambil menarik tangannya. “Jangan sok mengerti hidupku.”Noah menyeringai tipis, lalu membiarkannya pergi.“Elena!”Tuan Guzel melangkah cepat dari pintu utama, disusul istrinya d
“Noah, kamu kok mau ikut sih?” kata Michel sambil tertawa kecil. “Ganggu ayahmu dan Elena saja.”Elena refleks mengangguk cepat, tak terima jika orang yang paling ia hindari malah ikut juga.“Iya,” sahut Elena segera. “Perjalanan ke rumahku jauh. Jalannya juga sering macet. Kamu pasti nggak nyaman.”Noah menoleh ke arahnya, menatap Elena lama sambil tersenyum lewat matanya. Elena terpaku sejenak melihat bola mata hitam pekat Noah yang begitu tajam sekaligus menawan yang kembali mengguncang perasaanya.“Aku nggak masalah,” jawab Noah singkat.Mendengar jawaban Noah yang sepertinya tidak menerima penolakan, Elena pun langsung memutar otak untuk mencegahnya ikut.Sayangnya, sebelum Elena bisa menambahkan alasan lain, Harli justru tertawa ringan sambil menepuk bahu Noah.“Kenapa tidak?” katanya santai. “Ayah malah senang. Kamu biasanya cuek, sekarang tiba-tiba punya inisiatif.” Ujar Harli senang.Elena menelan ludah, tak habis pikir dengan pikiran Noah.Michel mengangkat alis, lalu terse
Sejak kejadian di kolam, Elena terus menghindari Noah. Ia selalu menolak makan bersama dengan berbagai alasan, bahkan memutar arah setiap kali bayangan tubuh tinggi Noah muncul dari kejauhan.Tapi rumah sebesar apa pun tetap terasa sempit untuk menghindar. Setiap kali mereka tak sengaja berpapasan, Elena selalu menangkap sorot kesal di wajah Noah, sesuatu yang mungkin tak akan disadari orang lain, karena ekspresinya hampir selalu datar. Tapi bagi Elena itu hal yang mudah untuk ia tebak.Meski begitu, hal yang paling Elena takuti bukanlah membuat Noah marah padanya. Melainkan nafsu dalam dirinya sendiri.Ia takut pada rasa rindu yang diam-diam tumbuh dan perlahan menggerogoti kendalinya. Setiap hari ia berusaha menjauh, tetapi perasaaan lamanya saat jatuh cinta tak semudah itu dihapus.Tanpa sadar, Elena sering memperhatikan Noah dari kejauhan, sebuah kebiasaan yang pelan-pelan berubah menjadi candu.Dari balik jendela kamarnya, pandangannya kerap tertuju pada ruang gym pribadi keluarga
Elena terus mengingat kejadian tadi siang, ia tidak tahu bagaimana nasibnya jika Noah tidak ada. Tanpa sadar ia tersenyum mengingat kepedulian Noah sambil mengoleskan salep di pergelangan kakinya yang masih memar sejak kejadian siang tadi.Pintu kamar lalu perlahan terbuka. Elena langsung berhenti tersenyum dan bersikap biasa saja.Harli masuk dengan langkah santai, ia sudah berganti piyama abu-abu gelap langsung menghampiri Elena tanpa bicara, lalu tangannya mengelus rambut Elena perlahan. Tapi kemudian ia menarik rambut Elena, dan memaksanya menatap langsung ke wajahnya.“Lain kali jangan cari masalah di perusahaanku lagi,” ucapnya datar. “Kau hanya perlu patuh sekarang.”Elena terdiam, memperhatikan garis wajah pria tua yang kini menjadi suaminya, langsung perasaan benci menyapu tengkuknya dingin.“Nanti, kalau waktunya tepat, aku akan memberimu posisi yang layak,” lanjut Harli. “Jangan sampai orang mengira nyonya Blackwood tidak bisa apa-apa. Gunakan ijazahmu dengan baik.”Ia mele







