Share

Bab 7

Author: Phoenixclaa
last update Last Updated: 2026-01-05 21:30:00

Noah tidak menjawab pertanyaan Elena. Ia malah bersandar ke pintu, menatap Elena seolah sedang menikmati pemandangan favoritnya.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Noah akhirnya, suaranya pelan, tapi tatapannya berbahaya.

Elena cepat berdiri dari ranjang dengan gelisah. Matanya langsung melirik ke arah Harli yang tertidur pulas di sisi ranjang.

“Kau tidak boleh masuk kesini sesuka hatimu,” bisik Elena tegas.

Noah malah menyeringai dan berjalan mendekat. Tubuhnya yang masih basah sehabis mandi membuat air menetes di antara otot dadanya yang terekspos. Ia bahkan sengaja membiarkan dua kancing bajunya terbuka membuat ototnya makin terlihat, jelas ia ingin memamerkan diri.

Elena langsung waspada melihat gerak-gerik Noah.

“Menjauhlah dariku!” ujarnya sambil mundur selangkah.

Namun Noah lebih cepat. Tangannya langsung melingkar ke pinggang Elena dan menariknya ke dalam jarak sangat dekat. Napasnya yang hangat sengaja ia hembuskan di wajah Elena.

“Aku hanya ingin tahu keadaanmu, memangnya tidak boleh?” Noah menundukkan kepala, matanya menelanjangi setiap inci tubuh Elena tanpa sedikitpun rasa malu.

“T–tapi, ayahmu ada di sini,” bisik Elena, hampir memelas sambil berusaha melepaskan diri. “Kau tidak seharusnya asal masuk, Noah.”

Namun Noah tak bergeming.

Tanpa melepas pegangannya, ia justru mundur dan duduk di tepi ranjang dengan santai. Lalu menarik Elena ikut jatuh duduk di sampingnya dengan paksa.

“Noah—” Elena refleks memukul lengan Noah keras sambil melirik ke arah Harli.

Tapi Noah menepisnya santai, seolah sentuhan itu sama sekali tak berarti. Lalu tanpa permisi, satu tangannya mendarat di paha Elena dan mengelusnya pelan.

“Hentikan,” bentak Elena, menarik tangan Noah menjauh dengan kasar.

“Kau takut bergairah ya?” Noah mengamati saksama, sudut bibirnya terangkat nakal.

“Kalau kau bicara tidak sopan lagi, aku akan teriak.” ancam Elena cepat. Tangannya sudah menempel di bahu Noah, siap mendorong lebih keras kali ini.

Namun Noah mengangkat jarinya perlahan… lalu menekannya ringan di bibir Elena

Sentuhan itu, seketika membuat Elena terpaku, napasnya tertahan di tenggorokan.

“Menurutmu,” bisik Noah rendah di telinganya. “Apa yang Ayah pikirkan kalau ia bangun… dan melihatku memeluk istrinya di ranjangnya sendiri?”

Napas Elena tercekat. Ia melirik cepat ke arah Harli lagi, untungnya pria tua itu masih tidur, tapi Elena tetap tidak bisa tenang karena Harli bisa bangun kapan saja.

Benar saja, Harli tiba-tiba bergerak merentangkan tangannya, Elena langsung memukul punggung Noah panik. “Noah, keluarlah. Atau aku akan benar-benar berteriak!”

Noah hanya untuk memicingkan mata, menatap Elena seolah mengingatkan sesuatu.

“Bukannya kau dulu suka yang menantang?” gumamnya pelan. “Kenapa kau takut sekarang, hm?”

“Berhenti bicara sembarangan,” Bisik Elena cepat. Ia langsung berdiri, namun Noah menahan lengannya, membuat tubuh Elena condong ke arahnya, tangan Elena malah secara refleks memegang dada Noah.

Elena jelas semakin panik.

“Pegang saja, aku tidak keberatan.” Goda Noah menahan tangan Elena.

Elena cepat-cepat melepaskan diri dan dengan kesal meraih pergelangan tangan Noah, kali ini menariknya dengan sangat kasar.

“Noah… cukup. Keluarlah.”

Ia langsung membuka pintu pelan, hanya menyisakan celah sempit supaya tidak menimbulkan suara yang bisa membangunkan Harli. Ia mendorong Noah keluar dengan kedua tangannya.

Noah tidak melawan. Tapi sebelum melewati ambang pintu, ia menunduk sedikit, mendekat ke telinga Elena.

“Selamat malam, mantanku,” ujarnya tersenyum penuh obsesi di matanya.

Elena cepat-cepat menutup pintu.

Begitu pintu terkunci, ia langsung roboh bersandar di belakangnya. Dadanya naik turun tak beraturan.

“Sialan kau, Noah…” gumamnya.

Keesokan paginya, Elena sengaja turun lebih siang dari biasanya. Ia ingin memastikan dirinya tidak akan bertemu Noah di mana pun.

Untungnya Harli memang jarang meminta dilayani, jadi Elena bisa tidur sesukanya tanpa ada yang protes.

Ketika memasuki dapur, ia melihat Darti, kepala pelayan yang sudah puluhan tahun bekerja di mansion Blackwood.

“Darti,” sapa Elena pelan. “Tuan Harli sudah berangkat?”

“Sudah, Nyonya. Dari subuh,” jawab Darti ramah.

Elena mengangguk. “Kalau Noah?”

“Tuan Noah belum terlihat turun dari kamarnya.”

“Syukurlah…” Elena menarik napas lega.

Kepalanya masih berat karena kejadian semalam ia jadi kesulitan tidur. Ia butuh sesuatu yang bisa membuat pikirannya tenang dan entah kenapa, berenang terasa seperti pilihan terbaik.

Elena cepat-cepat berganti pakaian. Ia memilih baju renang peach dengan potongan punggung rendah yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Rambutnya ia sengaja ikat tinggi, wajahnya ia biarkan polos tanpa riasan.

Begitu sampai di area kolam, ia tersenyum puas.

“Kolam seluas ini dibiarkan nganggur… orang kaya memang aneh,” gumam Elena sambil menuruni tangga kolam.

Begitu air dingin menyentuh betisnya, ia langsung tersenyum kecil.

Namun, tiba-tiba—

Sesuatu melingkar di pergelangan kakinya.

“A-apa itu?!” Elena menoleh cepat kebawah, jantungnya melonjak.

Belum sempat ia berlari naik, sebuah tangan muncul dari bawah air mencengkeram kakinya kuat.

Dalam sekejap, Noah muncul ke permukaan, rambutnya basah, wajahnya setengah tenggelam, matanya dingin… dan tanpa memberi kesempatan Elena kabur, ia menarik Elena tenggelam bersamanya.

Elena terkejut, tangannya spontan mencengkeram bahu Noah panik.

Di bawah air, Noah menarik pinggang Elena erat, menahannya dalam pelukannya yang membuatnya sulit bergerak.

Elena berusaha melepaskan diri, menendang, memukul apa pun yang bisa ia sentuh tapi air memperlambat semua.

Noah tetap tak mau melepaskan.

Sebaliknya, ia menahan tubuh Elena semakin dekat, wajah mereka hanya terpisah beberapa sentimeter di bawah air. Wajah Noah menunjukkan senyum tipis yang membuat Elena merinding ketakutan.

“Noah…” napas Elena semakin habis, gerakan kakinya menjadi lemah.

Noah akhirnya melepaskan Elena ke permukaan, membiarkannya mengambil napas tapi ia tidak memberi kesempatan Elena melarikan diri.

Sebaliknya, ia mengikuti Elena, menekan tubuhnya sampai punggung Elena menyentuh pinggir kolam.

“Noah…apa yang kau lakukan!” cegat Elena mendorong tubuhnya menjauh.

Tapi Noah justru menarik dan mengangkat satu kaki Elena, membuat tubuh mereka makin rapat dan membuat Elena terpaksa memeluk bahunya untuk menjaga keseimbangan.

Noah mendekatkan wajahnya, dengan posisi miring bersiap mencium Elena.

“Noah jangan…” Elena memalingkan wajah cepat, berusaha kabur dari bibir mantan pacarnya itu.

Tapi Noah menahan tengkuknya, jari-jarinya panas di kulit dingin Elena, memaksa wajah mereka kembali berhadapan. Ia sudah menunduk sedikit, napasnya menyapu bibir Elena tinggal satu inci lagi.

Tepat saat Noah hendak menciumnya…

“Noah? Hei, Noah! Kau di sini?!”

Terdengar suara Michel yang berjalan mendekat, keduanya serentak menoleh.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 64

    Elena dan Harli saling menoleh kearah orang yang datang.Ternyata Tuan Hartono yang berdehem pelan.Wajahnya tegang, sorot matanya tajam seperti bilah pisau. Ia berhenti tepat di depan Harli.“Kita harus bicara, Tuan Harli,” ucapnya dengan suara rendah penuh penekanan.Tidak ada basa-basi sama seklaiHarli membalas tatapan itu segan. Lalu sebelum beranjak, ia menoleh pada Elena.“Kita masih ada urusan nanti,” katanya dingin.Harli lalu merangkul bahu Hartono. Keduanya berjalan menjauh dari kerumunan untuk membicarakan proyek hari ini.Elena akhirnya duduk sendiri, memikirkan jawaban yang tepat pada suaminya nanti.Tak lama berselang, langkah hak tinggi terdengar mendekat.Michel berhenti tepat di depan Elena, lalu dengan sengaja menarik kursi dan duduk tepat di samping Elena. Kakinya dilipat perlahan, belahan gaunnya tersibak hingga paha terbuka tanpa rasa malu.Ia lalu mencondongkan badan kearah Elena dan tersenyum miring.“Entah apa yang membuat Noah akhirnya memilih membantu perusa

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 63

    Noah yang masih diatas tubuh Elena langsung menjatuhkan kepalanya ke dada Elena yang kenyal sambil mendengus kasar.“Siapa yang berani…” gumamnya rendah, kesal karena kesenangannya di ganggu.Ia bangkit dengan gerakan malas, meraih jubahnya dari lantai lalu mengenakannya sekadarnya. Wajahnya datar ketika melangkah menuju pintu.Pintu dibuka tanpa basa-basi.Ternyata hanya seorang pegawai hotel yang berdiri dengan kepala tertunduk hormat.“Maaf mengganggu, Tuan Blackwood. Pesanan wine Anda.”Di tangannya terdapat botol anggur mewah dalam kotak kayu.Noah melirik sekilas.Chateau Lafite Rothschild 1982.Salah satu wine yang nilainya bisa mencapai ratusan juta rupiah untuk satu botol.Tanpa banyak bicara, Noah mengambil botol itu dengan satu tangan.“Pergilah.”Pintu dibanting kembali tanpa memberi kesempatan pegawai itu berkata lagi. Suara kerasnya membuat pegawai hotel di luar gemetar.Elena kini duduk di sudut ranjang, selimut menutup sebagian tubuhnya. Rambutnya sedikit berantakan, n

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 62

    Elena berpikir keras sampai kepalanya terasa mau pecah.Jam sudah menunjukkan pukul 20.07.Michel sudah pulang sejak setengah jam lalu diantar Noah.Sedangkan Harli, pria tua itu malah duduk santai di ruang tamu, membaca buku dengan kacamata bertengger di ujung hidungnya.Ngapain sih pakai di sana segala malam-malam begini?!Elena mondar-mandir di kamar.Elena memejamkan mata sebentar hingga akhirnya menemukan ide.“Maafkan aku, Lir…” batinnya pelan.Lalu dengan napas panjang, ia segera turun ke ruang tamu.“Mas…” panggilnya, berusaha terdengar normal. “Aku izin nginap di luar ya.”Harli mengangkat wajahnya pelan dari buku.“Kemana?” suaranya datar.Elena menelan ludah. “Ada temanku, Mas. Dia sedang sakit”“Sakit?” Harli menutup bukunya setengah. “Jarang-jarang aku di rumah. Sekarang kamu malah mau keluyuran?”“Bukan keluyuran, Mas. Ini serius.”“Dia nggak punya keluarga?” tanya Harli tajam.Elena terdiam sesaat tak bisa menjawab.Harli mendengus. “Rumah sakit ada perawat. Ada dokter.

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 61

    Elena mendorong bahu Noah keras-keras.“Dasar menjijikkan!”Tubuh Noah terdorong mundur satu langkah sebelum akhirnya ia terkekeh lirih. Bukannya marah, ia justru terlihat terhibur.Ia merapikan jasnya, lalu duduk kembali ke kursi dengan santai seolah tidak terjadi apa-apa.“Pikirkan saja baik-baik,” ucapnya tenang.Ia mengambil sebatang rokok, menyalakannya perlahan, lalu mengembuskan asap tipis ke udara dengan tatapan yang tetap menggoda dan penuh perhitungan.“Waktumu hanya sampai besok,” lanjutnya ringan. “Setelah itu… yaaa, kau pikir saja sendiri.”Ia memiringkan kepala, menatap Elena dari bawah alisnya.“Bukan hanya perusahaan ayahmu yang memohon padaku.”Kalimat itu menggantung berat.Noah menggerakkan jarinya ke arah pintu.“Kau boleh keluar sekarang. Gunakan waktumu untuk berpikir.”Elena menatapnya tajam.“Aku tidak semurahan itu,” desisnya. “Memberikan tubuhku hanya demi tender.”Lalu tanpa menunggu jawaban, ia membalikkan badan dan membanting pintu ruang kerja itu keras-ke

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 60

    Elena langsung bergegas mengganti bajunya. Ia mengenakan piyama panjang yang nyaman, menyisir rambutnya sekilas, lalu membuka pintu kamarnya dengan hati-hati.Ia lalu berjalan mengendap-endap menuju kamar Noah.Tangannya bergetar saat memutar gagang pintu.Tidak terkunci.Ia membuka sedikit dan mengintip.Noah tidak ada di dalam.“Apa dia belum pulang?” bisiknya bingung, karena rasanya ia sudah cukup lama meninggalkannya di spa tadi.Elena berjalan ke balkon kecil di ujung lorong dan melihat ke halaman bawah.Mobil Devon juga tidak ada.Mungkin baru saja menjemput Noah.Ia buru-buru berbalik, berniat kembali ke kamar sebelum siapa pun melihatnya.Namun baru saja ia menutup pintu—Kepalanya terbentur sesuatu yang keras.Dada bidang Noah menghalanginya.Elena mendongak kaget.Noah sudah berdiri tepat di depannya, dengan kemeja putih yang dasinya sudah longgor, aroma parfumnya yang khas berpadu dengan aura maskulinnya bernilai plus menambah kesan perfect pria itu.“Mencariku yaaa?” goda

  • Candu Pelukan Tuan Muda Posesif   Bab 59

    Brakk!Suara keras itu menggema ketika Harli tiba-tiba menarik sisi rak buku tempat Elena bersembunyi dengan kasar.Elena yang refleks mundur tersentak, kehilangan keseimbangan, dan jatuh tersungkur ke depan.Harli mengernyitkan alisnya tajam. Tanpa banyak bicara, ia meraih bahu Elena dan menariknya berdiri dengan paksa.“Apa yang kau lakukan di ruang kerjaku malam-malam begini?” bentaknya dingin.“Lepaskan, Mas… lepaskan…” pinta Elena memelas, berusaha melepaskan cengkeraman itu.“Jawab!” bentak Harli lebih keras.Elena menelan ludah. Suaranya gemetar. “Aku… aku hanya ingin mencari tahu tentang Proyek Biru. Kupikir Mas ada di sini. Aku ingin bertanya langsung. Tapi Mas tidak ada… dan saat aku dengar langkah kaki, kukira orang asing, jadi aku bersembunyi.”Harli jelas menggeleng, wajahnya berubah tegang.Tiba-tiba tangannya berpindah ke leher Elena.Ia mencekiknya keras.“Kau kira aku akan membohongi Guzel?!” suaranya meninggi, urat di pelipisnya menegang.Elena terbatuk pelan, kedua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status