LOGINCahaya matahari pagi yang cerah menerobos masuk melalui celah-celah jendela ruang utama proyek pembangunan panti jompo.Suasana di dalam ruangan berukuran luas yang sudah memasuki tahap penyelesaian akhir itu terasa begitu tenang.Saifanny berdiri tegak bersebelahan dengan Bara tepat di tengah ruangan yang dinding-dindingnya mulai terpoles rapi.Tidak jauh dari mereka, dua orang anak buah Bara tampak duduk bersimpuh di lantai dengan beragam peralatan pemindai frekuensi di tangan mereka.Setelah sibuk mengotak-atik beberapa komponen elektronik, kedua pria itu mendongak lalu menganggukkan kepala kepada Bara—sebuah sinyal tak bersuara bahwa tugas teknis mereka telah selesai."Semua penyadap di dalam panti jompo ini sudah dikeluarkan, Bu. Apa ada yang Ibu butuhkan lagi?" Tanya Bara seraya mengalihkan lirikan matanya ke arah Saifanny.Saifanny menggelengkan kepala pelan. Untuk saat ini, pikiran dan langkah selanjutnya masih terasa agak samar di kepalanya."Bu Saifanny sebelumnya sudah
Keheningan yang pekat merayap cepat, menyelimuti setiap sudut ruang tengah apartemen itu. Indra masih membisu di atas sofa dengan raut wajah kaku dan keras. Di sampingnya, Andien terus memperhatikannya, memancarkan sorot mata lembut yang sarat akan bujukan hangat. Andien mengulurkan kedua tangannya perlahan, mendaratkannya di atas bahu Indra yang tegang untuk mengurai gelombang amarah pemuda itu. "Kalau kau tidak mau membacanya, biarkan aku membacakannya untukmu," bisik Andien lembut. Mendengar tawaran tersebut, Indra seketika menoleh. Sepasang matanya menatap Andien dengan kilatan emosi yang sulit diterjemahkan—antara rasa gengsi dan kebencian yang masih membara. Andien tersenyum tipis. Jemarinya terulur lambat ke atas meja, hendak meraih amplop putih yang tergeletak pasrah. Namun, sebelum ujung jarinya sempat menyentuh kertas itu... Grep! Dengan gerakan refleks secepat kilat, Indra menyambar amplop itu leb
Adrian mengulurkan tangan, meraih gelas kopi yang mulai mendingin dari atas meja perlahan. Pria itu menyeruputnya sedikit demi sedikit, merasakan kepahitan cairannya yang seolah mencerminkan kekeruhan pikirannya, lalu meletakkannya kembali secara hati-hati."Kita kesampingkan dulu soal Mawar Sudrajat. Bagaimana perkembangan kasus penyelidikan Ririn?" Tanya Adrian, mencoba mengalihkan arah pembicaraan ke lini penyelidikan lain yang tak kalah krusial.Bima mendesah pendek, mengusap wajahnya yang menyiratkan kepenatan psikologis."Aku sudah menghubungi petugas kepolisian yang dulu membantu penangkapan ayahmu soal kasus klub malamnya. Tapi dia berkata, kepolisian tidak bisa mengeluarkan surat perintah penggeledahan hanya berdasarkan kata-kata dari Saifanny," ujar Bima seraya menggelengkan kepalanya pasrah."Polisi butuh bukti fisik untuk mengeluarkan surat penggeledahan. Selain itu, aku dan Ghina sudah mencari di setiap rekaman CCTV di sekitar rumah Marcus, tapi hasilnya nihil. Tidak
Suasana tegang masih menyelimuti ruang tamu apartemen Bima. Adrian menyadari sepenuhnya bahwa Bima masih menatapnya dengan raut bertabur tanda tanya dari balik bingkai kacamatanya.Adrian berdeham singkat, berusaha membersihkan rasa ganjal di tenggorokannya sekaligus menata kembali fokusnya yang sempat terurai."Ayahku menulis nama Mawar Sudrajat di dalam suratnya," mulai Adrian dengan nada suara tenang yang teratur."Setelah melihat fotonya yang mirip Fanny, aku jadi yakin dia membenci Fanny bukankarena layar belakangnya tapi karena wajahnya mirip Mawar Sudrajat," lanjut Adrian, tetap mempertahankan kontrol emosinya.Bima menganggukkan kepala lambat, mencoba mencerna. Namun, jauh di dalam batinnya, Bima sangat meyakini satu hal: sosok manipulatif seperti Adnan tidak mungkin repot-repot mencantumkan nama seseorang secara gamblang di lembaran peninggalan terakhirnya hanya berlandaskan rasa benci semata."Apa menurutmu... Pak Adnan sengaja menyebut nama Mawar Sudrajat? Misalnya...
Waktu menunjukkan tepat pukul satu siang ketika Adrian akhirnya bangkit berdiri dari duduknya. Pria itu berpamitan pada Andien, yang saat itu tampak mengedipkan matanya pelan—sepasang mata yang kian membengkak usai menguras emosi dan menumpahkan air mata kesedihan. "Aku harus pergi ke apartemen Bima sekarang. Aku tadi menyuruh Ghina mencari tahu soal sesuatu," ucap Adrian seraya merapikan letak jaket yang dikenakannya. Andien mengerutkan alisnya heran. Batin wanita itu mendadak bertanya-tanya, 'Apa hubungannya apartemen Bima dengan Ghina?' Andien mendongak menatap Adrian. Sepasang matanya yang sembap seketika membulat dan memancar tajam. "Kau mau ke apartemen Bima untuk menemui Ghina? Mereka tinggal bersama?" Tanya Andien dengan nada suara yang memburu. Adrian menganggukkan kepala pelan, mengiyakan pertanyaan itu tanpa prasangka. Namun, hanya dari perubahan raut wajah adiknya saja, Adrian bisa membaca dengan sangat jelas ada letupan rasa cemburu yang membakar dada Andien saat
Adrian melangkah memasuki area lobi apartemen Indra dengan perasaan yang bergemuruh campur aduk.Sejak awal, ia tahu pasti bahwa adik seayahnya itu tidak akan berada di dalam unit apartemennya saat jam begini. Jadwal Indra sangat padat demi mempersiapkan konser tunggalnya yang kian dekat.Langkahnya sempat terhenti di sudut lobi yang agak lengang. Adrian merogoh ponsel dari dalam saku jaketnya perlahan, menelusuri daftar kontak hingga menemukan nama Ghina. Tanpa ragu, ia menekan tombol panggilan.Tak butuh waktu lama hingga saluran telepon itu tersambung. Tanpa membuang waktu untuk sekadar basa-basi, Adrian langsung menyampaikan perintahnya dengan nada dingin dan mutlak."Tolong cari tahu seseorang dengan nama Mawar Sudrajat di arsip lama Adnan Utama," tegas Adrian."Baik, Pak," sahut Ghina cepat dari seberang telepon."Saya tunggu sampai siang ini," desak Adrian sebelum memutus panggilan secara sepihak.Klik!Panggilan terputus. Adrian memasuk
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah
Lantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya. Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suamin
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada







