로그인Adrian melangkah masuk ke dalam unit apartemennya dengan kondisi fisik dan mental yang teramat kacau.Seluruh bagian belakang tubuhnya terasa begitu kaku, perih, dan panas menyengat akibat hantaman bertubi-tubi tongkat kayu cendana milik sang kakek.Pria itu tidak pernah menyangka bahwa di balik tubuh rentanya, Arkana masih menyimpan energi fisik yang begitu besar dan menghancurkan.Di titik ini, Adrian baru bisa memahami mengapa ayahnya, Adnan, selalu tampak begitu menyedihkan dan tak berkutik setelah menerima hukuman fisik dari sang singa tua.Begitu pintu apartemen berayun terbuka, pandangan Adrian langsung menangkap sosok Saifanny yang sedang duduk tenang di atas sofa dekat layar televisi.Menyadari kepulangan kekasihnya, Saifanny bergegas bangkit berdiri dan menghampiri Adrian dengan gurat kecemasan yang tertahan."Apa yang sebenarnya terjadi, Adrian?" tanya Saifanny, matanya meneliti ekspresi wajah Adrian yang lesu dan kedua tangannya yang terus memegangi kepala menahan pening.
Pagi itu di dalam kamar apartemen mewah milik Adrian, Saifanny terbangun dengan perasaan lega yang luar biasa.Tubuhnya menggeliat kecil dan mulutnya menguap lebar, merasai kualitas tidur terbaik yang sudah sangat lama tidak ia dapatkan.Begitu mengedipkan sepasang kelopak matanya dengan cepat, pandangannya langsung tertuju pada Adrian.Pria itu tampak baru saja selesai membersihkan diri, mengenakan jubah mandi dengan rambut hitam yang masih basah.Adrian berjalan mendekat ke arah kasur sembari membawa semangkuk bubur ayam hangat untuk Saifanny.Saifanny menatap bubur ayam itu dengan binar kagum; tampilannya terlihat lezat dan menggugah selera."Kamu yang membuat bubur ini, Adrian?" tanya Saifanny meruntuhkan keheningan pagi.Adrian menyunggingkan senyuman tipis sembari menggelengkan kepalanya perlahan. "Aku membelinya di kedai bawah, Fanny. Kau tahu sendiri aku tidak bisa memasak."Saifanny seketika meledakkan tawa kecilnya yang renyah. "Haha, aku tahu kok. Aku hanya basa-basi aja."
Sore itu, keheningan di dalam ruang rawat inap perlahan mencair saat dokter kembali memeriksa kondisi fisik Saifanny.Setelah seorang perawat selesai mengganti balutan perban putih di kening kirinya dengan telaten, sang dokter berbalik untuk memberikan penjelasan medis."Syukurlah, hantaman benda tumpul di kening Anda tidak menyebabkan gegar otak atau cedera internal yang fatal. Namun, saya tetap meresepkan beberapa jenis obat untuk mengurangi rasa perih dan mempercepat proses pemulihan jaringan kulit," terang dokter tersebut dengan pembawaan yang menenangkan."Dan jika Anda sudah diperbolehkan untuk rawat jalan dan pulang hari ini juga."Saifanny dan Adrian yang berdiri setia di samping ranjang kompak menganggukkan kepala mereka dengan perasaan lega yang luar biasa."Terima kasih, Dokter," ucap Saifanny singkat.Adrian menatap lekat wajah Saifanny dengan sorot mata yang teramat lembut. Ia bangkit berdiri dari kursi jatinya. "Jadi... kita akan berkemas dan pulang sekarang, Fanny?"Di
Adrian tiba di koridor rumah sakit darurat pinggiran kota dengan napas yang tersenggal-senggal.Wajah tampannya tampak memerah padam, dilingkupi bulir-bulir keringat yang bercucuran deras akibat memaksakan fisik yang belum pulih benar dari demam tinggi.Langkah kakinya terhenti tepat di depan pintu ruang rawat inap Saifanny. Di sana, ia mendapati Bima yang sedang berdiri bersandar pada dinding dengan gurat kelelahan yang nyata."Bagaimana keadaan Fanny?" tanya Adrian langsung tanpa basa-basi, suaranya parau menahan debar kecemasan yang membakar dada."Saifanny baik-baik saja. Dia... dia masih tertidur sekarang," jawab Bima lirih, tidak berani menatap langsung sepasang mata sahabatnya.Adrian melangkah maju, menyorot Bima dengan pandangan mata yang teramat tajam, menuntut sebuah penjelasan logis."Apa yang sebenarnya telah terjadi, Bima? Kenapa Fanny bisa sampai terluka dan masuk rumah sakit?!"Bima menelan ludahnya dengan susah payah, tenggorokannya mendadak terasa kering kaku.Ia did
Pagi itu, di dalam kamar apartemen pribadinya, Adrian terbangun dengan sentakan ekstrem.Ia terduduk seketika dengan sepasang mata yang melotot sempurna dan napas yang berderu memburu.Mimpi buruk yang sama tentang kehilangan Saifanny untuk selamanya kembali datang menghantui sisa-sisa alam bawah sadarnya.Menyaksikan hal itu, Andien yang sedari tadi duduk menjaga di sisi ranjang langsung berdiri tegak dengan guratan wajah yang didera kecemasan mendalam."Hey, calm down. Jangan langsung memaksakan diri untuk duduk seperti ini, Kak. Nanti kepalamu bisa pusing lagi," ucap Andien dengan nada suara yang sarat akan rasa khawatir.Adrian bersusah payah mengatur ritme napasnya yang masih tersengal. Ia menatap lekat ke arah Andien."Andien... tolong, ambilkan ponselku," ucap Adrian singkat dengan suara parau.Andien hanya bisa mengembuskan napas panjang, lalu melangkah meraih ponsel milik kakaknya di atas meja nakas."Aku mohon jangan dulu memikirkan soal pekerjaan kantor, Kak. Kondisi fisikm
Deru mesin meraung membelah badai hujan J-City yang kian menggila.Mobil yang dikemudikan Bima terus meliuk ekstrem di antara gang-gang sempit kawasan pasar tua, berusaha keras melepaskan diri dari kejaran dua unit SUV hitam milik komplotan Adnan Utama.Di dalam kabin, ketegangan berada di titik kulminasi tertinggi; napas Saifanny memburu cepat, sementara sepasang tangannya mencengkeram erat dasbor mobil, menahan guncangan yang terus menghantam tubuhnya.Vroom! Vroom!Suara bising yang melengking mendadak muncul dari arah samping.Dua orang pengawal yang mengendarai sepeda motor sport berkecepatan tinggi berhasil memotong jalur lewat jalan tikus.Mereka kini melaju sejajar dengan mobil Bima. Salah seorang pengendara motor itu berdiri di atas pijakan kaki, mengacungkan sebatang besi pemukul tebal dengan tatapan mata yang menyala buas dibalik kaca helmnya.Prang!"Saifanny, merunduk!" teriak Bima histeris, suaranya pecah beradu dengan gemuruh hujan.Kaca jendela samping penumpang seketi







