FAZER LOGINSiang itu, setelah berdiskusi dengan Rizal mengenai rumitnya Detailed Engineering Design (DED) panti jompo, Saifanny memantapkan langkah membelah lobi gedung Utama Group. Langkahnya yang pelan sempat menarik perhatian beberapa pegawai, karena kali ini Saifanny datang secara terang-terangan untuk menemui Adrian. Sekilas mata Saifanny melirik beberapa pegawai yang dulu pernah bekerja dengannya di Utama Group. Mereka saling melempar senyum tipis dan melambaikan tangan dengan ramah. Orang-orang di sana menyadari bahwa kedatangan wanita itu murni untuk urusan bisnis penting yang tidak bisa diganggu gugat. Kehadirannya yang mendadak tanpa adanya janji temu resmi sempat membuat sekretaris di lantai atas terkejut. Namun, ia segera dipersilakan masuk ke dalam ruangan kerja sang CEO setelah Adrian memberikan izin mutlak dari dalam. Cklek! Pintu ruang kerja CEO terbuka lebar. Adrian yang semula duduk tegang di kursi kebesarannya sambil menatap intens layar ponsel, langsung bangkit b
Siang itu, terik matahari J-City membakar hamparan lahan kosong yang terletak di kawasan strategis pinggiran kota.Satria berdiri di bawah bayangan sebuah pohon peneduh, sepasang matanya fokus meneliti lembaran cetak biru kontur tanah yang dipegangnya.Suara deru mesin mobil yang mendekat membuat Satria mendongak. Mobil Saifanny bergerak perlahan membelah jalan tanah, lalu terparkir dengan rapi tidak jauh dari posisinya.Saifanny melangkah turun dengan setelan kasual yang nyaman namun tetap rapi, bersiap untuk meninjau lokasi yang kelak akan menjadi bangunan panti jompo impiannya."Maaf membuatmu menunggu lama, Satria," ucap Saifanny sembari melangkah mendekat.Satria tersenyum ramah, melambaikan tangannya santai. "Tidak apa-apa. Aku juga baru sekitar sepuluh menit sampai di sini. Oh ya, aku sengaja mengundang Pak Marcus juga. Kita butuh menentukan titik batas tanah seluas 4.500m² yang akan diserahkan ke yayasanmu agar pembagiannya sah secara hukum dan tidak memicu sengketa di kemudia
Pagi itu, di kantor pusat Utama Group, Adrian melangkah membelah koridor dengan langkah pelan yang penuh karisma. Untuk saat ini, suasana hatinya terhitung cukup baik karena Saifanny telah membuka pintu maaf untuk dirinya kemarin sore. Namun, tetap ada satu hal mengganjal yang terus berputar mengganggu isi pikirannya: sosok Marcus Manggala. Adrian berjalan menuju ruangan kerja Bima, berniat mengecek apakah pria berkacamata itu sudah menapakkan kaki di kantor. Nihil. Ruangan itu tampak kosong melompong. Sebagai seorang pria yang terkenal sangat rajin, Bima merupakan jenis pegawai yang selalu datang paling pagi ke kantor. Namun kali ini, eksistensinya tidak ada di sana. Adrian memilih beralih melangkah menuju ruangan pribadi miliknya sendiri. Ia mendudukkan tubuhnya di atas kursi kebesaran, lalu segera mengoperasikan telepon kantor untuk menghubungi jajaran staf HRD. "Di mana Bima? Bukankah harusnya masa cutinya sudah selesai hari ini?" tanya Adrian begitu sambungan telepon tersam
Jam dinding digital baru saja menunjukkan pukul 05.00 pagi di dalam unit apartemen Bima.Pria berkacamata itu membuka kelopak matanya secara perlahan, lalu bergerak tak nyaman memijat area lehernya yang terasa sedikit sakit akibat posisi tidur semalaman di atas permukaan sofa ruang tengah.Bima mendudukkan diri sembari memijat dahinya yang terasa pening. Ia mulai bertanya-tanya di dalam benak, mengenai tindakan apa yang harus ia lakukan saat berhadapan langsung dengan Andien ketika wanita itu terbangun nanti.Satu-satunya hal yang terus berputar di dalam otaknya hanyalah sebaris permohonan maaf yang tulus untuk wanita itu.Bima didera keyakinan bahwa Andien pasti akan membuka pintu maaf untuk dirinya kali ini.Bima bangkit berdiri dari sofa, lalu melangkah lebar menuju kamar mandi untuk membasuh diri dan bersiap menunaikan sembahyang pagi, agar jiwanya bisa merasa jauh lebih tenang sebelum menghadapi ketegangan konversasi bersama Andien.Beberapa menit kemudian, setelah merampungkan s
Malam itu, di area parkir apartemen Bima, Karina bersusah payah membopong tubuh Andien yang sedang dalam kondisi mabuk berat.Langkah kakinya terasa berat, menahan bobot tubuh sahabatnya yang kehilangan kesadaran.Begitu berhasil mencapai depan pintu unit apartemen Bima, Karina langsung menekan tombol bel pintu berulang kali dengan tidak sabar.Ting! Nong!Suara bel yang berdenting nyaring memaksa Bima yang semula sedang duduk tenang di sofa untuk bangkit berdiri.Matanya melirik sekilas ke arah jam dinding yang telah menunjukkan pukul 22.00. Sembari mengembuskan napas panjang, pria itu melangkah lebar menuju pintu utama.Ketika daun pintu diayunkan terbuka, pandangan Bima langsung mendapati Karina yang tengah kepayahan menopang Andien.Tanpa membuang waktu, Karina secara spontan langsung melepaskan tubuh Andien dan mendorongnya maju ke dalam pelukan Bima.Karina kemudian menempelkan kedua belah telapak tangannya di depan dada dengan gestur memohon."Kumohon perlakukan dia dengan baik
Minggu siang itu, di salah satu mal megah di J-City, Marcus dan Mabelle berjalan-jalan menyusuri koridor yang ramai.Sepasang mata mereka dimanjakan oleh deretan toko mewah yang menampilkan berbagai produk tren terbaru.Mabelle mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru gedung dengan binar kekaguman yang cerah."Wow, Papa. Mal di J-City ternyata jauh lebih besar dan megah, ya," ucap Mabelle takjub.Satu tangan Marcus terulur meraih bahu mungil putrinya, menuntunnya dengan hati-hati."Jalannya jangan cepat-cepat, Sayang. Nanti kamu bisa hilang," ucap Marcus lembut.Sementara tangan Marcus yang satunya sibuk menggenggam ponsel, berulang kali memeriksa layar digitalnya.Pria itu mengembuskan napas panjang didera kecewa; tidak ada sebaris pun notifikasi pesan masuk dari Saifanny sejak pertemuan mereka kemarin sore.Marcus melepaskan rangkulannya dari bahu Mabelle, jemarinya bergerak taktis mengetik pesan perintah untuk seseorang di seberang sana.“Cari tahu di mana Sai—”Ketikan pesan it







