FAZER LOGINMalam di restoran mewah itu mendadak terasa pengap bagi Indra. Kehadiran Ranaya yang tiba-tiba—lengkap dengan gaun mini merah muda yang mencolok dan aroma parfum yang menusuk—bagaikan jelaga yang mengotori kertas putih.Ranaya melirik wanita anggun yang duduk di hadapan Indra dengan tatapan menilai.“Dia pasti ibunya Indra,” batin Ranaya pongah. Tanpa aba-aba, ia menarik kursi, menyelipkan dirinya di antara Indra dan Sarah dengan kepercayaan diri yang memuakkan."Halo Tante, Tante ibunya Indra ya?" tanya Ranaya dengan nada yang dibuat-buat semanis madu.Jemarinya yang dihiasi kuku palsu panjang menyentuh tangan Sarah, memaksa ibu Indra melepaskan tautan tangannya dari sang putra.Sarah mengangguk, mencoba mempertahankan senyum ramahnya meski nalurinya mulai berteriak. Keheningan janggal sempat menggantung.Sarah melirik Indra, memberikan kode halus agar putranya memperkenalkan tamu tak diundang ini."Ah, Ma... ini Ranaya," ucap Indra. Suaranya lembut, namun matanya menatap Ranaya deng
Gelak tawa Saifanny pecah di dalam kabin mobil yang sejuk, kontras dengan udara sore yang mulai mendingin.Ia tak henti-hentinya menatap layar ponsel, memutar ulang video viral yang menampilkan Zain dalam kondisi paling menghinakan: meringkuk di dalam plastik sampah layaknya limbah yang tak diinginkan.Baginya, pemandangan itu adalah balasan puitis atas setiap tetes air mata dan lebam yang pernah ia terima. Ia terus menyodorkan ponselnya ke arah Indra yang berada di kursi pengemudi, berbagi fragmen kemenangan kecil itu."Lihat dia, Dra. Gagah sekali suamiku, bukan?" sindir Saifanny dengan nada getir yang dibalut tawa.Setelah menjemput Syahdan dari sekolah, Saifanny sempat ragu untuk langsung pulang. Bayangan Zain yang mungkin sudah menunggunya di rumah dengan amarah yang meledak membuatnya ingin menunda konfrontasi. "Indra, kita mampir dulu ke toko es krim. Syahdan mau es krim, kan?" tanya Saifanny, mengalihkan pandangannya pada sang putra. Syahdan mengangguk antusias, wajah polosn
Zain pulang ke kediamannya dengan sisa-sisa harga diri yang hancur berkeping-keping. Perjalanan di dalam ambulans terasa seperti siksaan abadi; ia harus berulang kali meyakinkan petugas medis dengan suara serak dan napas yang berbau sampah bahwa dirinya bukanlah gelandangan yang linglung. Ia adalah seorang manajer, seorang pria beristri, dan pemilik rumah mewah di pusat kota. Namun, kejutan sesungguhnya menanti di halaman rumah. Zain terpaku saat melihat mobilnya terparkir dengan rapi di sana, seolah-olah kendaraan itu tak pernah hilang semalam. Ia segera memeriksa bagian dalam mobil melalui kaca jendela—kosong. Tak ada siapa pun. "Apa mungkin... orang yang menghajarku adalah suruhan Saifanny?!" gumam Zain dengan tubuh gemetar, antara amarah dan ketakutan. Ia menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Tidak mungkin. Saifanny tidak sekeji itu." Logikanya menolak percaya bahwa istrinya yang selama ini penurut bisa merancang penyerangan sebrutal itu. Jika bukan Saifanny, maka hanya a
Malam itu, atmosfer di dalam mobil yang dikendarai Indra terasa meledak oleh luapan kemenangan.Setelah berhasil memeras 400 juta rupiah dari tangan Ranaya—yang notabene adalah uang hasil jarahan Zain sendiri—Indra menghampiri Saifanny dengan binar mata yang tak bisa disembunyikan."Berhasil, Kak," ucap Indra dengan senyum lebar yang memamerkan deretan giginya.Saifanny tersenyum tipis, sebuah ekspresi kepuasan yang elegan. Ia memberikan jempol sebagai tanda pujian, namun bagi Indra, apresiasi bisu itu terasa kurang. Pemuda itu mendambakan sesuatu yang lebih intim. Dengan gerakan yang sedikit manja namun penuh tuntutan, Indra meraih tangan Saifanny dan meletakkannya di atas kepalanya sendiri, meminta wanita itu mengelus rambutnya sebagaimana kebiasaan yang mulai ia candui.Saifanny tertawa pelan. Di matanya, pria tangguh yang baru saja menjerat mangsa itu seketika berubah menjadi seperti anak kucing yang haus perhatian.Sembari mengelus rambut Indra, Saifanny mengirim pesan singkat k
Di tengah keriuhan kantor Utama Group yang tak pernah surut, Zain masih sempat mencuri waktu untuk mengirimkan pesan singkat kepada Ranaya. Jemarinya menari di atas layar ponsel dengan gelagat seorang pria yang haus akan pelarian."Sayang, aku kangen. Kita udah lama tidak dinner bareng," tulis Zain, berharap ada oase di tengah gersangnya tekanan pekerjaan dan rasa bersalah yang samar terhadap istrinya.Balasan datang secepat kilat, namun isinya justru membuat bahu Zain merosot seketika."Maaf Mas, hari ini tidak bisa. Kepalaku pusing sekali," jawab Ranaya singkat.Zain menghela napas panjang, merasa lemas. Tanpa kehadiran Ranaya sebagai pelipur lara, ia tak punya pilihan lain selain pulang ke rumah.Di tengah perjalanan, egonya kembali berbisik. Ia mampir ke sebuah butik pakaian mewah dan membeli sebuah gaun merah tanpa berpikir untuk merangkai kata maaf.Dalam benaknya yang dangkal, ia yakin Saifanny akan melunak begitu melihat barang bermerek. Baginya, perasaan istrinya bisa dibeli
Pagi itu, atmosfer di dalam rumah Saifanny terasa begitu dingin, sedingin tekad yang kini membatu di dalam dadanya.Setelah memastikan mesin mobil Zain menjauh dari halaman, Saifanny segera bergerak dengan efisiensi yang mematikan.Ia mengemasi pakaian miliknya dan Syahdan ke dalam koper-koper besar—sebuah tindakan yang bukan sekadar pelarian, melainkan deklarasi perang.Ia memesan taksi online, mengantar Syahdan ke sekolah dengan senyum yang dipaksakan, lalu meluncur menuju rumah ibunya.Sepanjang perjalanan, ia merapatkan syal sutra yang melilit lehernya. Syal itu bukan sekadar pelengkap busana, melainkan tameng untuk menyembunyikan memar keunguan hasil cengkeraman Zain semalam.Di ambang pintu rumah masa kecil Saifanny, Sania berdiri dengan raut wajah yang seketika berubah pasi."Putriku, kenapa membawa banyak barang seperti ini?" tanya Sania, suaranya bergetar melihat koper-koper besar yang diturunkan dari bagasi."Aku mau menginap di sini, Bu. Zain semalam melakukan kekerasan," u







