تسجيل الدخولSepeninggal Mawar, Marcus pun melangkah menuju pintu, berniat pergi dari ruang baca.Begitu tangannya meraih knop pintu, tiba-tiba...Tringgg! Tringgg!Ponsel Marcus berdering nyaring, membuatnya sedikit kaget. Marcus merogoh ponsel dari saku celananya, dan di layar terlihat nama pengacara Marcus, Rian.Tanpa prasangka, Marcus segera menekan tombol hijau, menerima panggilan itu.Marcus menempelkan ponsel ke telinganya dengan gerakan kasar. "Ada apa?" Tanyanya pendek."Pak Marcus! Ini gawat, Pak!" Suara Pengacara Rian, kepala tim hukum Manggala Tech di J-City, terdengar gemetar dan panik dari balik telepon. "Polda J-City menyerbu rumah Bapak di Kompleks Seruni! Mereka bawa Surat Penggeledahan Khusus dari Pengadilan Negeri dan penetapan DPO untuk Ririn!""Bagaimana bisa polisi dapat izin geledah secepat itu?!" Suara Marcus meninggi, nada dinginnya lenyap berganti amarah yang tertahan. "Kau ini kepala tim hukum! Apa yang kau lakukan sampai tidak bisa mencegat surat pengadilan itu?!""M
Sore yang cerah di kediaman Manggala justru menyebarkan atmosfer dingin yang terasa amat menyesakkan bagi Mawar.Wanita itu terduduk kaku di sofa ruang baca, jemarinya menggenggam sebuah buku dengan posisi seolah-olah sedang membaca dalam ketenangan. Namun, di balik sikap tenang yang dipaksakan itu, kecemasan merayapi benaknya.Sementara itu, Marcus berdiri menyandarkan tubuhnya di bingkai dinding dekat pintu. Pria itu memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana, menjaga jarak fisik seolah keberadaannya di dekat Mawar adalah sesuatu yang ingin dihindarinya."Apa yang kau bicarakan dengan Saifanny selama dua hari ini?" Tanya Marcus tiba-tiba.Suara Marcus terdengar datar namun sarat curiga. Sebenarnya, berada di ruang yang sama dengan ibunya adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan.Namun, dorongan obsesif untuk mengetahui pikiran Saifanny memaksa pria itu menurunkan ego dinginnya sejenak.Mawar hanya bergeming. Ia menghembuskan napas lelah yang teramat berat, sengaja mempert
Setelah kepergian Bima yang menyisakan keheningan menggantung, Andien perlahan melangkah masuk ke dalam ruang kerja Adrian. Raut wajahnya dipenuhi rasa cemas yang tak sanggup lagi ia sembunyikan.Dengan langkah-langkah kecil berfrekuensi cepat, Andien menghampiri meja kerja Adrian. Ia meletakkan bundel dokumen yang dipegangnya dengan gerakan tergesa-gesa."Kak... Bima... Kenapa wajahnya sampai babak belur begitu?" Tanya Andien dengan intonasi suara yang bergetar akibat kecemasan yang menggantung di dadanya.Kepala Adrian menunduk dalam. Ia menutup seluruh parasnya dengan kedua belah telapak tangan, bertumpu pada sikunya di atas meja dalam gestur kelelahan yang amat sangat.Pikirannya benar-benar kacau. Bima mengira dirinya melarang menggunakan jaringan tim keamanan Utama Group, padahal yang terjadi sebenarnya adalah bentuk kekhawatiran mendalam; Adrian hanya tidak ingin pria itu terus bertindak gegabah dan mempertaruhkan nyawa."Kak... Jawab! Apa rencana Bima
Siang hari yang cerah menaungi langit J-City, membawakan pendar keceriaan bagi setiap pasang mata yang memandangnya. Namun, kehangatan mentari itu sama sekali tak menyentuh jiwa Bima.Bima melangkah lambat menyusuri koridor megah kantor pusat Utama Group. Ia telah membersihkan sisa-sisa noda darah Ghina yang sempat membeku di tangannya, lalu mengenakan pakaian serapi dan sekasual mungkin: kaos oblong putih, kemeja motif kotak-kotak lengan pendek sebagai luaran, serta celana jeans yang melekat pas di kakinya.Namun, meski telah berbusana rapi, tampilan fisiknya tetap memancarkan kesan berantakan dan kacau.Luka-luka yang terbalut perban medis serta lebam kebiruan bekas tinju brutal Doni terukir jelas di area jemari dan paras tampan Bima.Iris matanya dikelilingi lingkaran hitam pekat akibat trauma dan krisis tidur berkepanjangan. Pria itu sama sekali tidak lagi memantulkan citra pegawai teladan yang pernah dihormati di gedung ini.Walaupun demikian, penampilan destruktif Bima justru
Setelah mendengar laporan tragis mengenai Ghina yang disayat oleh Ririn di J-City, Saifanny berjuang mati-matian menekan gejolak emosi dan kepanikan yang hendak meledak dari dadanya. Ia sadar betul, sedikit saja celah keraguan atau perubahan ekspresi terlihat, Marcus yang berada tak jauh darinya akan langsung menaruh curiga dan menginterogasinya. Saifanny menarik napas panjang secara perlahan, menyerap udara segar T-City demi menenangkan detak jantungnya yang berpacu liar. Ia lalu berbalik, melangkah kembali menuju deretan kursi santai di tepi kolam. Matanya melirik sekilas ke arah kolam renang; di sana, Marcus ternyata tengah menatapnya dengan pendar mata tajam yang sulit diartikan. Saifanny mengatur irama langkahnya, berusaha tampil biasa saja seolah sambungan telepon tadi hanyalah urusan sepele. Mawar menoleh ketika Saifanny kembali duduk. Sebagai sesama wanita yang peka, Mawar dapat menangkap perubahan aura Saifanny yang mendadak diselimuti kecemasan mendalam. "Ada
Pagi yang cerah menaungi langit T-City dengan pendar mentari hangat yang memantul memikat di atas permukaan air. Saifanny dan Mawar duduk santai di kursi santai yang tertata tepat di seberang kolam renang area belakang kediaman. Sementara itu, di dalam kolam, Syahdan dan Mabelle tampak riang diajari gaya berenang oleh Marcus. Sekilas, pemandangan tersebut menyajikan ilusi sebuah keluarga harmonis yang bebas dari segala beban hidup. Namun di balik ketenangan palsu itu, kecemasan mulai merayapi benak Saifanny. Ia menegakkan posisi duduknya, menyambar ponsel yang tergeletak di atas meja kecil di antara kursi mereka. Begitu layar menyala, kehampaan menyambutnya—tak ada satu pun pemberitahuan pesan masuk. Saifanny sangat ingin mengetahui perkembangan misi penting yang dijalankan oleh Bima dan timnya di J-City semalam, namun kabar yang ditunggu tak kunjung tiba. Bahkan di aplikasi pesan instan, status Bima, Yudi, maupun Ghina sama-sama tidak menunjukkan tanda-tanda aktif. Sa
Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te
Lantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya. Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suamin







