LOGINSaifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan.
Adrian mengirim pesan lagi. Pria itu mengajaknya bertemu di Kenari Café, tempat mereka sering berkencan dulu. Tempat ini tidak banyak berubah, Saifanny masih bisa mengenali suasana lama meski dindingnya sudah dicat ulang dan ada beberapa ornamen baru seperti lukisan serta deretan tempat lilin yang artistik. Adrian duduk di kursi bagian luar, dekat dengan kolam ikan kecil. Pria itu terlihat sangat tampan dengan kakinya yang panjang. Sinar mentari menyinari sebagian wajahnya, menonjolkan fitur wajah yang masih sama seperti dulu—memesona dan berwibawa. Jarak Saifanny masih agak jauh, namun sepertinya Adrian menyadari kehadirannya. Saifanny berusaha mengendalikan kegugupannya, melangkah pelan mendekati meja. Saat ia bersiap untuk duduk, Adrian berdiri dengan sigap dan menarikkan kursi untuknya. Suasana terasa canggung. Delapan tahun bukanlah waktu yang sebentar, dan Saifanny harus mengakui bahwa perasaannya pada Adrian tidak pernah benar-benar mati. Kenyataan itu terkadang menyiksanya. Adrian tersenyum lembut, lalu memanggil pelayan. Ia ternyata masih ingat bahwa Saifanny sangat menyukai cappuccino. “Kamu mau makan apa?” tanya Adrian, yang hanya dibalas dengan gelengan kepala oleh Saifanny. “Fanny…” Adrian memanggilnya dengan nada halus. “Kamu masih sangat cantik seperti dulu. Rambut pendek juga sangat cocok untukmu.” Saifanny sedikit menunduk, berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya. Ia bertanya-tanya dalam hati apa sebenarnya keinginan pria ini. “Langsung saja pada intinya. Apa yang mau kamu lakuin dengan rekaman CCTV yang kamu kirim itu? Kamu mau laporin aku pada Zain?” tanya Saifanny dengan nada dingin. Adrian tersenyum tipis. “Aku tidak mungkin melakukan itu pada orang yang kucintai. Aku hanya ingin tahu, kenapa kamu memata-matai Zain?” Saifanny menatap Adrian tajam. “Dia berselingkuh. Aku cuma ingin tahu siapa wanitanya, itu aja,” jawabnya singkat. Ia ingin segera pergi, berada di dekat Adrian membuatnya teringat kembali akan penghinaan ayah pria itu di masa lalu. “Oke, aku mengaku. Rekaman itu hanya alasan saja karena aku ingin menemuimu. Aku ingin bertanya tentang hubungan kita yang tiba-tiba putus. Kenapa kamu tiba-tiba menikah dengan Zain? Tolong beri aku penjelasan,” suara Adrian terdengar penuh keputusasaan. “Semua ini karena ayahmu. Aku gak pernah cukup baik untuknya, dia bahkan menghinaku,” suara Saifanny sedikit bergetar. Baginya hal ini sudah tidak penting lagi, jadi ia memutuskan untuk meluapkannya sekarang. “Ayahku menghinamu? Tapi dia merestui hubungan kita. Dia bahkan memintaku segera melamarmu waktu itu,” jawab Adrian dengan nada cemas sekaligus bingung. “Dia cuma pura-pura merestui. Kamu tahu apa yang dia lakuin? Dia mengataiku anak yatim dan ngancam bakal melukai ibuku. Kamu tahu betapa takutnya aku saat ibuku tiba-tiba dipukuli orang tak dikenal? Itu semua perbuatan ayahmu!” Suara Saifanny meninggi. Adrian terpaku, seolah tak percaya ayahnya mampu melakukan hal sekeji itu. “Aku lebih baik berpisah denganmu daripada keselamatan ibuku tidak terjamin. Aku tidak punya ayah, dan ibuku adalah segalanya bagiku. Menjadi anak yatim adalah aib bagi ayahmu,” lanjut Saifanny meluapkan segala memori pahit yang tersimpan rapat. “Orang kaya seperti kalian bisa melakukan apa pun kepada siapa pun, sementara aku dan ibuku hanya orang yang bisa kalian tindas. Kalau tidak ada lagi yang mau dibicarakan, aku pergi.” Saifanny hendak beranjak, namun Adrian mencegahnya. Tangan pria itu memegang tangan Saifanny dengan erat, matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam. “Maaf, aku salah paham padamu. Kupikir kamu meninggalkanku karena sudah tidak cinta lagi. Jika aku tahu ini dari awal, aku akan membawamu dan ibumu pergi dari negara ini, jauh dari jangkauan ayahku,” ucap Adrian tulus. Kata-kata itu seketika membuat pertahanan Saifanny luluh. “Bagaimana kalau kita bahas soal Zain? Kutebak kau sudah tahu siapa selingkuhannya, kan?” tanya Adrian hati-hati. Saifanny mengangguk. “Selingkuhannya itu Ranaya, kan?” Saifanny mendongak, terkejut. Dia ternyata sudah tahu, batinnya. Adrian mengeluarkan ponsel dari saku blazernya dan menghubungi sekretarisnya. “Bawa dokumen itu kemari,” titahnya. Tak lama kemudian, Bima, sang sekretaris, muncul membawa map berwarna biru. Setelah menyerahkan dokumen dan memberi hormat pada Saifanny, Bima undur diri. “Aku meminta Bima menyelidiki Ranaya saat aku tahu dia berselingkuh dengan Zain,” jelas Adrian. Ia mulai membacakan hasil penyelidikan tersebut. “Ranaya Saputri, 25 tahun. Lulusan universitas swasta dengan nilai pas-pasan. Dia bisa masuk ke Utama Group karena rekomendasi dari salah satu kerabat direksi lama.” Saifanny menyimak dengan saksama. “Ada satu hal yang mungkin tidak Zain ketahui tentang Ranaya. Dia adalah seorang 'ani-ani'. Ranaya menggoda beberapa pria kaya agar kebutuhannya terpenuhi. Dia juga pernah terlibat skandal dengan orang tua temannya, tapi semua diselesaikan dengan uang. Dia dulu bekerja di sebuah klub bernama Twinkle Pussy.” Mendengar nama itu, Saifanny hampir tertawa. "Twinkle Pussy, nama yang sangat norak", pikirnya sinis. “Bosnya bernama Willow, seorang wanita paruh baya yang mengelola wanita penghibur,” lanjut Adrian. Saifanny tidak menyangka perjalanan hidup Ranaya cukup "berwarna". Adrian menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. “Setelah mengetahui semua ini, apa yang ingin kamu lakukan, Fan?” tanya Adrian sambil menyentuh tangan Saifanny. Sentuhan itu terasa hangat, sebuah kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan. “Jadi Zain hanyalah sekadar mangsa untuknya,” gumam Saifanny sambil mengangguk. Adrian membuka lembaran berikutnya. “Ranaya sangat benci kemiskinan. Dia memalsukan gaya hidupnya di media sosial. Semua barang bermerek yang dia pakai adalah barang KW kelas atas atau hasil menyewa. Dia sangat terobsesi terlihat seperti kalangan atas.” Saifanny kini tahu apa yang harus dilakukan. Tahap kedua rencananya sudah jelas. Ranaya bukan hanya serakah, tapi juga pengidap fobia kemiskinan. Zain merasa dirinya adalah pahlawan bagi Ranaya, padahal ia hanya pria bodoh yang sedang diperas. Wajah imut wanita itu hanyalah senjata untuk mengeruk kemewahan. “Aku ingin suamiku keluar dari hidupku dan putraku tanpa membawa apa pun, termasuk harga dirinya yang murahan itu. Kehadiran Ranaya akan melancarkan rencanaku,” tegas Saifanny. “Aku akan membantumu. Katakan saja apa pun yang kamu butuhkan.” Adrian kembali menggenggam tangan Saifanny. “Setelah semua ini selesai, apakah kamu akan kembali padaku?” tanya Adrian dengan wajah memelas yang tampan. Saifanny menatap tangan mereka yang bertautan. Ia memang masih mencintai Adrian. Pria ini masih mampu memberikan kehangatan yang selalu ia rindukan. “Bantu aku menghancurkan mereka lebih dulu, setelah itu kita bicarain lagi tentang hubungan kita.” Saifanny tersenyum, yang langsung dibalas dengan senyum lebar oleh Adrian. Setelah pertemuan itu, Saifanny pulang dengan energi baru. Untuk menangani perselingkuhan ini, ia akan mulai menghancurkan Zain secara finansial. Saifanny berencana tetap bersikap boros sampai Zain benar-benar bangkrut. Setelah itu, ia akan membuat Ranaya iri dengan kemewahan yang ia miliki. "Orang matre itu pasti akan meminta lebih banyak lagi dari suamiku", batinnya. Tiba-tiba sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Itu dari Adrian. “Fanny, aku ada informasi lain tentang Ranaya,” pesan itu disertai lampiran data mengenai utang Ranaya. Saifanny tertawa kecil saat membaca dokumen tersebut. “Ibumu seorang penjudi, ternyata.” Ia telah menemukan satu lagi titik lemah yang bisa digunakan untuk menghancurkan Ranaya berkeping-keping.Suasana di dalam ruang kerja panti jompo yang semula kaku mendadak berubah manis di mata Marcus. Senyuman lebar tak henti-hentinya tersungging di bibir pria itu, memancarkan binar kebahagiaan narsistik saat menatap sosok Saifanny yang duduk di hadapannya. "Jadi... Kapan kita akan berangkat?" Tanya Marcus dengan tatapan mata hangat yang sarat akan binar optimisme. Saifanny terdiam sejenak, mengunci jemarinya di bawah meja untuk menyembunyikan getaran taktis di tangannya, sebelum kembali menatap Marcus. "Ayo kita berangkat besok pagi saja," jawab Saifanny seraya mengangguk pelan. Marcus sedikit terkejut dengan keputusan mendadak itu. Keningnya berkerut rapat. "Secepat itu?" Tanyanya kebingungan. Saifanny mengangguk mantap. "Iya, lebih cepat, lebih baik, kan?" Sahut Saifanny seraya memiringkan kepalanya, memasang raut wajah polos tanpa dosa yang sempurna. Marcus mengangguk cepat. Sepasang matanya memancarkan binar penuh semangat yang sulit dibendung. Pria itu tiba-tiba ber
Layar ponsel di genggaman Saifanny memancarkan cahaya redup yang memantulkan raut wajahnya yang tegang. Jemarinya terus mengusap layar, menelusuri lembar demi lembar berkas digital yang baru saja dikirimkan oleh Bima. Ruang kerja panti jompo yang hening menjadi saksi bisu bagaimana napas Saifanny perlahan tertahan. Di dalam berkas itu, tertera rekam jejak Mawar Sudrajat di Utama Group puluhan tahun silam. Laporan audit lama menunjukkan adanya kebocoran data rahasia pada sistem otomatisasi pengolahan makanan sehat milik Utama Group—sebuah insiden sabotase teknis yang fatal, yang pada masa itu hampir menghancurkan reputasi perusahaan dan membuat posisi Adnan Utama di ambang pemecatan oleh Kakek Arkana. Namun, saat Saifanny mencoba menggali lebih dalam mengenai keterkaitan langsung antara sabotase tersebut dengan pengalihan paten food-tech ke tangan Manggala Tech, lembaran dokumen itu mendadak terputus. Halaman berikutnya hanya beri
Cahaya matahari pagi yang cerah menerobos masuk melalui celah-celah jendela ruang utama proyek pembangunan panti jompo.Suasana di dalam ruangan berukuran luas yang sudah memasuki tahap penyelesaian akhir itu terasa begitu tenang.Saifanny berdiri tegak bersebelahan dengan Bara tepat di tengah ruangan yang dinding-dindingnya mulai terpoles rapi.Tidak jauh dari mereka, dua orang anak buah Bara tampak duduk bersimpuh di lantai dengan beragam peralatan pemindai frekuensi di tangan mereka.Setelah sibuk mengotak-atik beberapa komponen elektronik, kedua pria itu mendongak lalu menganggukkan kepala kepada Bara—sebuah sinyal tak bersuara bahwa tugas teknis mereka telah selesai."Semua penyadap di dalam panti jompo ini sudah dikeluarkan, Bu. Apa ada yang Ibu butuhkan lagi?" Tanya Bara seraya mengalihkan lirikan matanya ke arah Saifanny.Saifanny menggelengkan kepala pelan. Untuk saat ini, pikiran dan langkah selanjutnya masih terasa agak samar di kepalanya."Bu Saifanny sebelumnya sudah
Keheningan yang pekat merayap cepat, menyelimuti setiap sudut ruang tengah apartemen itu. Indra masih membisu di atas sofa dengan raut wajah kaku dan keras. Di sampingnya, Andien terus memperhatikannya, memancarkan sorot mata lembut yang sarat akan bujukan hangat. Andien mengulurkan kedua tangannya perlahan, mendaratkannya di atas bahu Indra yang tegang untuk mengurai gelombang amarah pemuda itu. "Kalau kau tidak mau membacanya, biarkan aku membacakannya untukmu," bisik Andien lembut. Mendengar tawaran tersebut, Indra seketika menoleh. Sepasang matanya menatap Andien dengan kilatan emosi yang sulit diterjemahkan—antara rasa gengsi dan kebencian yang masih membara. Andien tersenyum tipis. Jemarinya terulur lambat ke atas meja, hendak meraih amplop putih yang tergeletak pasrah. Namun, sebelum ujung jarinya sempat menyentuh kertas itu... Grep! Dengan gerakan refleks secepat kilat, Indra menyambar amplop itu leb
Adrian mengulurkan tangan, meraih gelas kopi yang mulai mendingin dari atas meja perlahan. Pria itu menyeruputnya sedikit demi sedikit, merasakan kepahitan cairannya yang seolah mencerminkan kekeruhan pikirannya, lalu meletakkannya kembali secara hati-hati."Kita kesampingkan dulu soal Mawar Sudrajat. Bagaimana perkembangan kasus penyelidikan Ririn?" Tanya Adrian, mencoba mengalihkan arah pembicaraan ke lini penyelidikan lain yang tak kalah krusial.Bima mendesah pendek, mengusap wajahnya yang menyiratkan kepenatan psikologis."Aku sudah menghubungi petugas kepolisian yang dulu membantu penangkapan ayahmu soal kasus klub malamnya. Tapi dia berkata, kepolisian tidak bisa mengeluarkan surat perintah penggeledahan hanya berdasarkan kata-kata dari Saifanny," ujar Bima seraya menggelengkan kepalanya pasrah."Polisi butuh bukti fisik untuk mengeluarkan surat penggeledahan. Selain itu, aku dan Ghina sudah mencari di setiap rekaman CCTV di sekitar rumah Marcus, tapi hasilnya nihil. Tidak
Suasana tegang masih menyelimuti ruang tamu apartemen Bima. Adrian menyadari sepenuhnya bahwa Bima masih menatapnya dengan raut bertabur tanda tanya dari balik bingkai kacamatanya. Adrian berdeham singkat, berusaha membersihkan rasa ganjal di tenggorokannya sekaligus menata kembali fokusnya yang sempat terurai. "Ayahku menulis nama Mawar Sudrajat di dalam suratnya," mulai Adrian dengan nada suara tenang yang teratur. "Setelah melihat fotonya yang mirip Fanny, aku jadi yakin dia membenci Fanny bukan hanya karena latar belakangnya tapi karena wajahnya mirip Mawar Sudrajat," lanjut Adrian, tetap mempertahankan kontrol emosinya. Bima menganggukkan kepala lambat, mencoba mencerna. Namun, jauh di dalam batinnya, Bima sangat meyakini satu hal: sosok manipulatif seperti Adnan tidak mungkin repot-repot mencantumkan nama seseorang secara gamblang di lembaran peninggalan terakhirnya hanya berlandaskan rasa benci semata. "Apa menurutmu... Pak Adnan sengaja menyebut nama Mawar Sudraj
Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada
Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te
Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah
Lantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya. Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suamin







