Share

Bab 5

Author: Zakia
last update publish date: 2026-02-28 13:58:52

Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan.

Adrian mengirim pesan lagi. Pria itu mengajaknya bertemu di Kenari Café, tempat mereka sering berkencan dulu. Tempat ini tidak banyak berubah, Saifanny masih bisa mengenali suasana lama meski dindingnya sudah dicat ulang dan ada beberapa ornamen baru seperti lukisan serta deretan tempat lilin yang artistik.

Adrian duduk di kursi bagian luar, dekat dengan kolam ikan kecil. Pria itu terlihat sangat tampan dengan kakinya yang panjang. Sinar mentari menyinari sebagian wajahnya, menonjolkan fitur wajah yang masih sama seperti dulu—memesona dan berwibawa.

Jarak Saifanny masih agak jauh, namun sepertinya Adrian menyadari kehadirannya. Saifanny berusaha mengendalikan kegugupannya, melangkah pelan mendekati meja. Saat ia bersiap untuk duduk, Adrian berdiri dengan sigap dan menarikkan kursi untuknya.

Suasana terasa canggung. Delapan tahun bukanlah waktu yang sebentar, dan Saifanny harus mengakui bahwa perasaannya pada Adrian tidak pernah benar-benar mati. Kenyataan itu terkadang menyiksanya. Adrian tersenyum lembut, lalu memanggil pelayan. Ia ternyata masih ingat bahwa Saifanny sangat menyukai cappuccino.

“Kamu mau makan apa?” tanya Adrian, yang hanya dibalas dengan gelengan kepala oleh Saifanny.

“Fanny…” Adrian memanggilnya dengan nada halus. “Kamu masih sangat cantik seperti dulu. Rambut pendek juga sangat cocok untukmu.”

Saifanny sedikit menunduk, berusaha menyembunyikan rona merah di wajahnya. Ia bertanya-tanya dalam hati apa sebenarnya keinginan pria ini.

“Langsung saja pada intinya. Apa yang mau kamu lakuin dengan rekaman CCTV yang kamu kirim itu? Kamu mau laporin aku pada Zain?” tanya Saifanny dengan nada dingin.

Adrian tersenyum tipis. “Aku tidak mungkin melakukan itu pada orang yang kucintai. Aku hanya ingin tahu, kenapa kamu memata-matai Zain?”

Saifanny menatap Adrian tajam. “Dia berselingkuh. Aku cuma ingin tahu siapa wanitanya, itu aja,” jawabnya singkat. Ia ingin segera pergi, berada di dekat Adrian membuatnya teringat kembali akan penghinaan ayah pria itu di masa lalu.

“Oke, aku mengaku. Rekaman itu hanya alasan saja karena aku ingin menemuimu. Aku ingin bertanya tentang hubungan kita yang tiba-tiba putus. Kenapa kamu tiba-tiba menikah dengan Zain? Tolong beri aku penjelasan,” suara Adrian terdengar penuh keputusasaan.

“Semua ini karena ayahmu. Aku gak pernah cukup baik untuknya, dia bahkan menghinaku,” suara Saifanny sedikit bergetar. Baginya hal ini sudah tidak penting lagi, jadi ia memutuskan untuk meluapkannya sekarang.

“Ayahku menghinamu? Tapi dia merestui hubungan kita. Dia bahkan memintaku segera melamarmu waktu itu,” jawab Adrian dengan nada cemas sekaligus bingung.

“Dia cuma pura-pura merestui. Kamu tahu apa yang dia lakuin? Dia mengataiku anak yatim dan ngancam bakal melukai ibuku. Kamu tahu betapa takutnya aku saat ibuku tiba-tiba dipukuli orang tak dikenal? Itu semua perbuatan ayahmu!” Suara Saifanny meninggi.

Adrian terpaku, seolah tak percaya ayahnya mampu melakukan hal sekeji itu.

“Aku lebih baik berpisah denganmu daripada keselamatan ibuku tidak terjamin. Aku tidak punya ayah, dan ibuku adalah segalanya bagiku. Menjadi anak yatim adalah aib bagi ayahmu,” lanjut Saifanny meluapkan segala memori pahit yang tersimpan rapat. “Orang kaya seperti kalian bisa melakukan apa pun kepada siapa pun, sementara aku dan ibuku hanya orang yang bisa kalian tindas. Kalau tidak ada lagi yang mau dibicarakan, aku pergi.”

Saifanny hendak beranjak, namun Adrian mencegahnya. Tangan pria itu memegang tangan Saifanny dengan erat, matanya menyiratkan kesedihan yang mendalam.

“Maaf, aku salah paham padamu. Kupikir kamu meninggalkanku karena sudah tidak cinta lagi. Jika aku tahu ini dari awal, aku akan membawamu dan ibumu pergi dari negara ini, jauh dari jangkauan ayahku,” ucap Adrian tulus. Kata-kata itu seketika membuat pertahanan Saifanny luluh.

“Bagaimana kalau kita bahas soal Zain? Kutebak kau sudah tahu siapa selingkuhannya, kan?” tanya Adrian hati-hati. Saifanny mengangguk. “Selingkuhannya itu Ranaya, kan?”

Saifanny mendongak, terkejut. Dia ternyata sudah tahu, batinnya.

Adrian mengeluarkan ponsel dari saku blazernya dan menghubungi sekretarisnya. “Bawa dokumen itu kemari,” titahnya. Tak lama kemudian, Bima, sang sekretaris, muncul membawa map berwarna biru. Setelah menyerahkan dokumen dan memberi hormat pada Saifanny, Bima undur diri.

“Aku meminta Bima menyelidiki Ranaya saat aku tahu dia berselingkuh dengan Zain,” jelas Adrian. Ia mulai membacakan hasil penyelidikan tersebut. “Ranaya Saputri, 25 tahun. Lulusan universitas swasta dengan nilai pas-pasan. Dia bisa masuk ke Utama Group karena rekomendasi dari salah satu kerabat direksi lama.”

Saifanny menyimak dengan saksama.

“Ada satu hal yang mungkin tidak Zain ketahui tentang Ranaya. Dia adalah seorang 'ani-ani'. Ranaya menggoda beberapa pria kaya agar kebutuhannya terpenuhi. Dia juga pernah terlibat skandal dengan orang tua temannya, tapi semua diselesaikan dengan uang. Dia dulu bekerja di sebuah klub bernama Twinkle Pussy.”

Mendengar nama itu, Saifanny hampir tertawa. "Twinkle Pussy, nama yang sangat norak", pikirnya sinis.

“Bosnya bernama Willow, seorang wanita paruh baya yang mengelola wanita penghibur,” lanjut Adrian.

Saifanny tidak menyangka perjalanan hidup Ranaya cukup "berwarna". Adrian menatapnya dengan penuh rasa ingin tahu. “Setelah mengetahui semua ini, apa yang ingin kamu lakukan, Fan?” tanya Adrian sambil menyentuh tangan Saifanny. Sentuhan itu terasa hangat, sebuah kehangatan yang sudah lama tidak ia rasakan.

“Jadi Zain hanyalah sekadar mangsa untuknya,” gumam Saifanny sambil mengangguk.

Adrian membuka lembaran berikutnya. “Ranaya sangat benci kemiskinan. Dia memalsukan gaya hidupnya di media sosial. Semua barang bermerek yang dia pakai adalah barang KW kelas atas atau hasil menyewa. Dia sangat terobsesi terlihat seperti kalangan atas.”

Saifanny kini tahu apa yang harus dilakukan. Tahap kedua rencananya sudah jelas. Ranaya bukan hanya serakah, tapi juga pengidap fobia kemiskinan. Zain merasa dirinya adalah pahlawan bagi Ranaya, padahal ia hanya pria bodoh yang sedang diperas. Wajah imut wanita itu hanyalah senjata untuk mengeruk kemewahan.

“Aku ingin suamiku keluar dari hidupku dan putraku tanpa membawa apa pun, termasuk harga dirinya yang murahan itu. Kehadiran Ranaya akan melancarkan rencanaku,” tegas Saifanny.

“Aku akan membantumu. Katakan saja apa pun yang kamu butuhkan.” Adrian kembali menggenggam tangan Saifanny. “Setelah semua ini selesai, apakah kamu akan kembali padaku?” tanya Adrian dengan wajah memelas yang tampan.

Saifanny menatap tangan mereka yang bertautan. Ia memang masih mencintai Adrian. Pria ini masih mampu memberikan kehangatan yang selalu ia rindukan. “Bantu aku menghancurkan mereka lebih dulu, setelah itu kita bicarain lagi tentang hubungan kita.”

Saifanny tersenyum, yang langsung dibalas dengan senyum lebar oleh Adrian.

Setelah pertemuan itu, Saifanny pulang dengan energi baru. Untuk menangani perselingkuhan ini, ia akan mulai menghancurkan Zain secara finansial. Saifanny berencana tetap bersikap boros sampai Zain benar-benar bangkrut. Setelah itu, ia akan membuat Ranaya iri dengan kemewahan yang ia miliki. "Orang matre itu pasti akan meminta lebih banyak lagi dari suamiku", batinnya.

Tiba-tiba sebuah notifikasi masuk ke ponselnya. Itu dari Adrian. “Fanny, aku ada informasi lain tentang Ranaya,” pesan itu disertai lampiran data mengenai utang Ranaya.

Saifanny tertawa kecil saat membaca dokumen tersebut. “Ibumu seorang penjudi, ternyata.” Ia telah menemukan satu lagi titik lemah yang bisa digunakan untuk menghancurkan Ranaya berkeping-keping.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 196 : Pertemuan Dua Saudara

    Pagi itu, Saifanny terbangun dari tidurnya dengan kesadaran yang perlahan terkumpul.Sepasang matanya refleks melirik ke samping ranjang, namun area di sebelahnya sudah kosong melompong. Adrian sudah tidak ada di sana.Saifanny mengedipkan matanya cepat, lalu mengalihkan pandangan ke arah jam dinding di hadapannya.Detik itu juga, napasnya seolah tertahan. Jarum jam sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi."Sekolah Syahdan!" teriak Saifanny panik.Ia segera melompat dari tempat tidur dan berlari kencang menuju kamar putranya. Namun, dugaannya salah; Syahdan sudah tidak ada di sana.Seragam sekolah dan tas punggungnya pun sudah lenyap dari gantungan. Dengan tangan gemetar, Saifanny segera menyambar ponselnya di atas meja. Sebuah pesan singkat dari Adrian langsung terpampang di layar:"Aku mengantar Syahdan ke sekolah. Kau istirahatlah."Saifanny mengembuskan napas lega yang teramat panjang. Ini adalah kali pertama dalam hidupnya ia terbangun selewat pukul 05.00 pagi.Kelelahan batin dan fis

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 195 : Damba, Gairah dan Jarak yang Terbentang

    Malam itu, Saifanny dan Syahdan akhirnya pulang diantar oleh Adrian. Saifanny memutuskan untuk membiarkan Marcus dan Mabelle berdua saja di ruang VIP rumah sakit, memberikan mereka ruang untuk melepaskan rasa rindu setelah sepekan tak bertemu akibat tragedi proyek.Satu jam perjalanan pulang terasa sunyi. Di kursi belakang, Syahdan sudah menguap berkali-kali karena kelelahan yang teramat sangat.Begitu mobil berhenti di depan rumah, Saifanny menoleh ke arah Adrian."Mampirlah untuk minum teh," ucap Saifanny pelan.Mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah. Syahdan langsung berlari menuju kamarnya dengan terburu-buru; didera rasa kantuk yang berat, bocah itu hanya ingin segera merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk.Sementara itu, Saifanny dan Adrian duduk di sofa ruang tengah. Saifanny meletakkan dua cangkir teh hangat di atas meja konsol, lalu segera meraih ponselnya.Ia mulai memeriksa laporan pekerjaan di lahan proyek panti jompo. Selama seminggu ini, ia hanya memantau laporan sec

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 194 : Rantai yang Mengikat

    Seminggu berlalu begitu cepat. Saifanny tidak pernah absen untuk merawat Marcus di rumah sakit, membiarkan rasa bersalah menuntun setiap baktinya.Keadaan pria itu kini semakin membaik, dan ia sudah mulai bisa melontarkan candaan-candaan hangat demi mencairkan kecanggungan di antara mereka.Saifanny yang saat itu sedang fokus mengupas buah apel, tiba-tiba memecah keheningan."Maaf kalau ini terlambat, tapi apa ada makanan yang kamu suka? Aku akan membelikannya untukmu," mulai Saifanny lembut.Marcus tersenyum ramah, bersandar nyaman di balik kasur putih rumah sakit. Matanya tampak menerawang ingatannya."Hmm... Aku suka nasi goreng. Kalau makanan manis, aku suka mangga. Mungkin karena aku berasal dari keluarga Manggala, haha."Tawa singkat Marcus seketika membuat Saifanny ikut melepaskan tawa kecil."Baiklah, aku akan membelikanmu mangga nanti," ucap Saifanny sembari melanjutkan kupasan apelnya.Saifanny menyerahkan apel yang sudah dipotong rapi di at

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 193 : Dibalik Tatapan Elang

    Dua hari kemudian, Marcus akhirnya dipindahkan ke ruang rawat inap VIP setelah kondisinya dinyatakan stabil.Sinar matahari siang menembus tirai jendela yang terbuka sedikit, menerangi sosok tegap Marcus yang kini terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.Punggung dan bahu Marcus didera balutan perban putih tebal yang membatasi geraknya, sementara lengan kanannya dibungkus gips dan ditopang oleh penyangga khusus.Sebuah selang kecil masih terpasang di hidungnya, menyalurkan oksigen secara berkala.Saifanny duduk di kursi tepat di samping ranjang. Matanya tidak sedetik pun beralih dari wajah pucat Marcus.Rasa bersalah yang teramat pekat telah mengunci mati logikanya. Ketika kelopak mata Marcus perlahan bergerak dan terbuka, Saifanny langsung menegakkan tubuhnya dengan panik."Marcus? Kamu sudah sadar? Syukurlah, aku akan panggilkan dokter—""Saifanny..." Suara Marcus terdengar begitu parau, lirih, dan didera kelelahan yang amat sangat.Alih-alih mengeluh tentang rasa sakit yang men

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 192 : Remukan Rasa Bersalah

    Saifanny duduk membeku di kursi tunggu tepat di depan ruang operasi Marcus. Sepasang matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong, didera guncangan trauma yang teramat pekat.Sisa-sisa noda darah segar di telapak tangan dan pakaian kerjanya masih dibiarkan begitu saja, mengering dan perlahan berubah warna menjadi kecokelatan yang mengerikan.Beberapa menit kemudian, Adrian dan Bima tiba di lorong rumah sakit dengan langkah tergesa-gesa.Begitu menangkap sosok Saifanny yang tampak rapuh, mereka langsung menghampirinya.Adrian segera mendudukkan diri di samping Saifanny, sembari meletakkan sebuah paper bag besar yang dibawanya dari luar."Fanny..." panggil Adrian luar biasa lembut sembari menyentuh pelan bahu wanita itu.Saifanny sama sekali tidak bergeming. Jiwanya seolah tersedot ke dalam ruang operasi di hadapan mereka.Adrian mengembuskan napas panjang, didera rasa iba yang mendalam. Ia mengeluarkan sebungkus tisu basah dari dalam paper bag.Tanpa aba-aba, Adrian meraih je

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 191 : Kecelakaan yang Tak Terhindarkan

    Siang itu, hamparan taman yang terletak dekat dengan lahan proyek panti jompo dilingkupi atmosfer yang begitu suram.Adrian, Saifanny, dan Bima duduk bersama di atas sebuah kursi panjang dengan pandangan mata yang tertuju datar ke depan.Pikiran mereka masih tersita oleh kekalahan siber yang baru saja terjadi."Jadi... menurutmu apa yang akan kakekmu lakukan setelah kamu mengatakan semua kebenaran tentang kematian Adipramanna?" tanya Saifanny parau, tanpa menoleh sedikit pun pada Adrian yang berada di sampingnya.Adrian mengembuskan napas pendek, menatap hamparan rumput di bawah kaki mereka."Dia akan menghadapi kurungan yang lebih buruk dari penjara kota," ucap Adrian datar, terselip nada dingin yang menusuk.Saifanny mengangguk pelan, mencerna kalimat tersebut."Kau tidak perlu khawatir, Fanny. Dia tidak akan mengganggumu atau siapa pun lagi. Kakek sangat menyayangi mendiang Om Adi, dia tidak akan pernah memaafkan ayahku," lanjut Adrian mencoba meyakinkan.Saifanny melirik Adrian se

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 107 : Dinginnya Es Krim Sebelum Badai

    Siang itu, di kediaman mewah keluarga Utama yang berdiri angkuh di atas bukit, suasana terasa sunyi dan dingin.Adnan Utama duduk di kursi kebesarannya di dalam kamar luas yang didominasi aksen kayu mahoni.Ia menyesap teh earl grey-nya dengan gerakan elegan yang tenang, hingga suara ketukan di pin

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 106 : Runtuhnya Sang Pengkhianat

    Udara di dalam ruang sidang Pengadilan Agama hari itu terasa sangat menyesakkan, seolah-olah oksigen enggan berbagi ruang dengan ketegangan yang kian memuncak.Di kursi penggugat, Saifanny duduk dengan posisi punggung yang sedikit melengkung, dengan apik memberikan kesan bahu yang rapuh, ringkih, d

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 105 : Ambang Kebebasan

    Langkah kaki Indra bergema berat di koridor gedung Holy Entertainment. Pria itu kembali masuk ke dalam ruang latihan dengan suasana hati yang berada di titik terendah. Kejadian di parkiran tadi—konfrontasi menjijikkan dengan Ranaya—telah meninggalkan residu amarah yang pekat di dadanya. Andien,

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 103 : Kedamaian Sejenak

    Pagi itu, mentari desa menyambut kedatangan Adrian dengan kehangatan yang tak biasa. Setelah menempuh perjalanan panjang dari hiruk-pikuk kota yang menyesakkan, pemandangan alam yang terhampar di depan matanya seolah menjadi oase bagi jiwanya yang lelah.Sejauh mata memandang, permadani hijau dari

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status