共有

BAB 4

作者: Zakia
last update 公開日: 2026-02-24 18:41:15

Hari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada hal lain, ia merasa konyol karena terus menunggu wanita itu menghubunginya.

Pandangan Saifanny kemudian teralihkan pada kartu nama Adrian. Kartu berwarna hitam-emas dengan logo Utama Group di bagian tengahnya.

ADRIAN MAHANDY UTAMA, CEO +6281XXXXXXX. Nomor ini berbeda dari nomor Adrian yang dulu. Saifanny memang sudah memblokir nomor lama pria itu, meski ia masih mengingatnya di luar kepala. Saifanny mulai mengetikkan nomor baru tersebut di ponselnya, berniat hanya untuk menyimpannya saja. Namun, saat ia baru menekan tombol simpan, sebuah notifikasi muncul.

Pesan itu datang dari Ranaya. Isinya berupa ucapan salam dan lampiran tagihan laundry. Saifanny segera mengirimkan sejumlah uang lalu membalas singkat, "Sudah dikirim, ya."

Wanita itu sepertinya mengecek rekeningnya terlebih dahulu karena ada jeda cukup lama sebelum ia membalas dengan, "Iya Kak, terima kasih ya." Saifanny tidak ingin mengakhiri percakapan begitu saja, jadi ia mencoba memancing. "Boleh saya bertanya sesuatu?"

Ranaya menjawab, "Iya Kak, tanya apa?" Saifanny sengaja membiarkannya menunggu beberapa menit agar wanita itu merasa penasaran.

"Kamu tahu suami saya, kan, Pak Zain? Dia kalau di kantor bagaimana orangnya?" Saifanny melontarkan pertanyaan umum; ia belum berencana menanyakan hal yang bersifat pribadi.

Beberapa detik kemudian, Ranaya membalas dengan cukup cepat, "Baik kok Kak, cuma kadang Pak Zain lumayan tegas."

Saifanny kembali bertanya, kali ini ia sedikit memberikan tekanan. "Oh... kamu dekat dengan dia?"

Pesan tersebut langsung terbaca. Tanda sedang mengetik muncul di atas layar, menghilang, lalu muncul lagi. Ranaya membalas cukup lama, seolah sedang memilih kata-kata yang tepat. Wanita itu sepertinya panik, padahal itu hanya pertanyaan sederhana. Akhirnya pesan masuk: "Hampir semua orang kantor dekat dengan Pak Zain, Kak. Memangnya kenapa, Kak?"

Saifanny tersenyum sinis. Ranaya mencoba berlindung di balik kata 'semua orang', seolah ingin menegaskan bahwa dirinya bukan satu-satunya yang patut dicurigai. Karena Ranaya bertanya, Saifanny pun menjawab dengan kejujuran yang tajam. "Sepertinya suami saya selingkuh."

Beberapa menit berlalu tanpa balasan. Saifanny membayangkan Ranaya terkejut dengan wajah imut nan bodohnya, mungkin tangannya gemetar hingga ponselnya terjatuh.

Lama kemudian, Ranaya membalas, "Dari mana Kakak tahu Pak Zain selingkuh?" Saifanny membayangkan Ranaya mengetik itu dengan penuh kehati-hatian.

Entah ia benar-benar panik atau tidak, Ranaya tampak mencoba untuk tetap tenang. Saifanny kembali membalas, "Firasat saja, makanya saya tanya kamu. Mungkin kamu tahu selingkuhannya." Ia ingin Ranaya berpikir bahwa ia sama sekali tidak mencurigainya.

"Tapi kan Kakak banyak teman di kantor, kenapa tidak tanya mereka?" balas Ranaya.

"Ya terserah akulah mau tanya siapa saja, bukan urusanmu", batin Saifanny ketus, namun ia menahannya. Ia membalas lagi, "Saya curiga pada mereka, makanya saya tidak bertanya kepada mereka." Ia berharap Ranaya memercayai bualannya.

Setelah itu, mereka mengobrolkan hal-hal umum. Ranaya mulai menggunakan singkatan dan bahasa yang santai, ia sepertinya mulai merasa nyaman. Hal inilah yang mungkin dirasakan Zain; merasa nyaman saat berkirim pesan dengan wanita itu. Namun, tujuan Saifanny bukan untuk memberi kenyamanan, melainkan untuk menarik Ranaya ke dalam jaringnya.

Saifanny menyusun langkah berikutnya: mengajak Ranaya makan siang bersama. Ia berpesan agar Ranaya tidak memberi tahu Zain dengan alasan suaminya tidak suka ia berhubungan dengan orang kantor. Ranaya pun memercayainya.

Saifanny tidak menyangka gadis polos ini adalah selingkuhan suaminya. Entah Ranaya yang memperdaya Zain, atau justru Zain yang memulainya. Saifanny perlu memastikan sendiri siapa yang memancing dan siapa yang terpancing dalam permainan ini.

Keesokan harinya, Saifanny kembali memasak makan siang untuk Zain guna memastikan suaminya tidak makan di luar bersama Ranaya. Ia juga sengaja membuat story di media sosial dengan tulisan "Makan siang untuk suami dan putraku" agar Ranaya melihatnya. Setelah memastikan Ranaya melihat unggahan tersebut, ia mengirim pesan, "Ranaya, hari ini mau makan siang dengan saya, tidak?"

Ranaya pasti mengiyakan karena tahu Zain membawa bekal. Benar saja, ia membalas, "Boleh Kak." Saifanny yakin Ranaya merasa kecewa karena tidak bisa makan siang bersama Zain hari ini.

Pukul 11.30, Saifanny berangkat menuju restoran yang mereka sepakati. Saat sampai, ia hampir tidak bisa menahan tawa. Itu adalah restoran tempat Zain dan Ranaya makan terakhir kali. Sudah ia duga, itu restoran favorit Ranaya. Dari kejauhan, ia melihat Ranaya duduk di kursi dekat jendela—tempat favoritnya.

Mereka memesan makanan. Ranaya memesan menu yang sama seperti sebelumnya: steak tenderloin dengan kentang bakar dan lemon tea. Sementara Saifanny memesan pasta karbonara dan air putih.

Duduk makan bersama selingkuhan suaminya terasa sungguh menggelikan bagi Saifanny. Setiap suapan pasta itu terasa seperti racun yang pahit di tenggorokannya. Ranaya terus mengoceh tentang makanan dan kenyataan bahwa ini adalah restoran favoritnya. Ia terus menceritakan tentang dirinya sendiri tanpa memberi Saifanny kesempatan untuk menanggapi.

Seorang pelayan meletakkan hidangan penutup pesanan Ranaya, sebuah parfait es krim. Wanita itu bertubuh kurus, namun makannya sangat banyak. Ranaya terus bicara, dan Saifanny hanya mengangguk sopan menanggapi ocehan yang tak penting itu.

Saifanny mulai menilai karakter wanita di depannya. Ranaya adalah tipe wanita yang haus perhatian dan egosentris. Ia juga tampaknya tidak punya banyak teman karena merasa orang lain tidak cukup baik padanya. Ia bahkan memuji Saifanny sebagai pendengar yang baik dan sangat perhatian, padahal mereka baru kenal satu hari.

Saifanny mulai bosan dan merasa mual. Ia berpamitan ke toilet hanya untuk menenangkan diri di dalam bilik kloset. Sekarang ia paham mengapa Zain menyukai Ranaya. Bukan hanya karena Ranaya cantik dan imut, tapi karena ia banyak bicara dan sangat mencintai dirinya sendiri. Di mata Zain, Ranaya mungkin terlihat bodoh dan mudah diperdaya. Di mata Saifanny, Ranaya memang terlihat bodoh. Zain pun sama bodohnya, mereka sepasang manusia bodoh.

Saifanny teringat dulu ia melakukan hal yang sama untuk menggoda Zain. Ia banyak bicara dan selalu mengajak Zain makan siang. Mengingat masa-masa itu membuatnya merinding dan mual. Dulu ia melakukan itu hanya karena menganggap Zain lelaki yang mudah untuk diajak menikah. "Semurah itu suamiku", batinnya pahit.

Setelah selesai makan, Ranaya memegang tangan Saifanny. "Kak, makasih ya. Aku udah lama tidak makan dengan teman," ucapnya sambil tersenyum imut. Saifanny membalas senyum itu, lalu mereka berpisah.

Begitu Ranaya pergi, Saifanny refleks membersihkan tangan yang tadi dipegang wanita itu. Rasanya menjijikkan disentuh oleh selingkuhan suaminya. Ia bersumpah akan segera mempermalukan orang-orang bodoh itu.

Sesampainya di rumah, ponsel Saifanny bergetar. Ada notifikasi dari Adrian. Saifanny heran karena ia tidak pernah menghubungi pria itu. Pesan itu berisi: "Fanny, aku ingin bicara denganmu."

Ia mengabaikannya, namun beberapa menit kemudian Adrian menelepon. Saifanny menolak panggilan itu. Tak lama kemudian, Adrian mengirimkan sebuah pesan berisi potongan video CCTV dengan pesan di bawahnya: "Aku tahu kamu ke kantor secara diam-diam. Mari kita bertemu, aku ingin mendengar penjelasanmu."

Saifanny menghela napas panjang dan memegang kepalanya. Ia ketahuan.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 433(Epilog) : Harmoni di Bawah Langit

    Pekarangan rumah orang tua Bima di sebuah desa terpencil membentang luas, dikelilingi oleh lanskap pedesaan yang asri, berbatasan langsung dengan area perkebunan sawi hijau yang membentang subur serta pabrik keluarga di kejauhan. Hari ini, tempat sederhana itu disulap menjadi sebuah lokasi pernikahan bertema garden party yang teramat elegan dan intim. ​Dekorasi bunga-bunga segar bernuansa putih bersih berpadu kontras dengan hijaunya dedaunan sawi dan rimbunnya pepohonan pedesaan, menciptakan suasana hangat yang jauh dari hiruk-pikuk kota. Kursi-kursi kayu ditata rapi di atas rumput hijau, menyambut kedatangan jiwa-jiwa yang telah melintasi berbagai teror dan penderitaan. ​Para tamu undangan yang hadir merupakan orang-orang terdekat yang memegang peranan penting dalam perjalanan hidup mereka. Di barisan kursi terdepan, tampak Adrian dan Saifanny duduk berdampingan bersama Syahdan yang tampak antusias, ditemani oleh sang nenek, Sania. Tak jauh dari mereka, duduk pula Andien b

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 432 : Rumah Kedamaian dan Janji Pernikahan

    Dua bulan telah berlalu sejak gema kemegahan konser tunggal Indra membelah malam di Stadion Arena J-City.Hari ini, di bawah naungan langit J-City yang cerah berhias semburat jingga keemasan senja, sebuah impian yang dirajut dari sisa-sisa air mata dan puing-puing trauma akhirnya berdiri nyata.​Sebuah papan nama berukir kayu jati elegan dengan tulisan "Griya Teduh Lansia" terpampang kokoh di depan bangunan utama yang asri, luas, dan dikelilingi oleh taman bunga yang tertata menyejukkan mata.​Suasana di halaman depan terasa begitu hangat dan dipenuhi oleh gelombang haru yang membuncah di dada setiap insan yang hadir.Seluruh keluarga besar dan kerabat terdekat berkumpul dalam satu ikatan kekeluargaan yang erat.Di barisan depan, Saifanny berdiri tegap namun anggun dengan balutan dress selutut berwarna sage green lembut yang memancarkan ketenangan jiwa.Di sampingnya, Adrian berdiri dengan setelan kasual rapi, jemari tangan mereka saling bertaut erat, seolah menyalurkan seluruh kekuat

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 431 : Simfoni Penyembuhan

    Stadion Arena J-City malam ini berubah wujud menjadi lautan cahaya yang teramat menakjubkan.Puluhan ribu pasang mata tumpah ruah memenuhi setiap sudut tribun hingga area festival, menggemakan sorak-sorai penuh antusias yang bergemuruh membelah malam.Udara dipenuhi oleh aroma kehebohan, kilatan lampu lightsticks berwarna-warni yang berdenyut seirama, serta dentuman musik latar yang membakar adrenalin siapa saja yang mendengarnya.Ini bukan sekadar konser musik komersial biasa; ini adalah malam perayaan megah—sebuah saksi bisu yang mempertemukan berbagai jiwa dari babak kehidupan kelam yang kini telah berhasil bangkit dan berpulang dari badai penderitaan.​Di barisan kursi VIP terdepan yang eksklusif, atmosfer kehangatan keluarga begitu terasa pekat menyelimuti hati mereka.Adrian duduk berdampingan erat dengan Saifanny. Jemari tangan mereka saling bertaut erat di balik kegelapan kursi, menyalurkan ketenangan batin serta rasa cinta membara yang baru saja mereka ikrarkan lewat kejujura

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 430 : Penyesalan dan Insecure

    ​Malam menjelang, membentangkan selimut gelap bertabur bintang di atas langit J-City. Di dalam ruang tengah kediaman Saifanny, wanita itu terduduk kaku di balik sofa ruang keluarga.Matanya yang kosong menatap hampa ke arah layar televisi yang tengah menayangkan sinetron malam, sementara pikirannya melayang jauh menembus batas ruang dan waktu, meresapi keheningan yang menyelimuti seisi ruangan.​Ting! Nong!​Suara bel pintu yang ditekan secara tiba-tiba memecah kesunyian malam. Saifanny perlahan mengerjap, bangkit dari sofa dengan langkah gontai, lalu berjalan pelan menuju pintu depan untuk membukanya.​Begitu daun pintu terkuak, sosok Adrian berdiri di ambang pintu dengan senyuman cerah yang menghiasi wajahnya.Di tangan pria itu terselip sebuket bunga mawar merah segar serta paper bag berukuran besar yang mengepulkan aroma lezat pizza dari kedai langganan mereka di masa lalu.​Saifanny tersenyum tipis, mempersilakan Adrian masuk untuk duduk, sementara ia sendiri berputar arah menuju

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 429 : Pernyataan di Ambang Senja

    Siang menjelang sore, mobil Bima merayap pelan memasuki area parkir basement gedung Utama Group.Begitu mesin dimatikan, Bima terdiam kaku di balik kemudi. Selama beberapa detik, ia hanya duduk mematung dengan pikiran yang berkecamuk hebat.Ririn sama sekali tidak menderita amnesia; wanita itu telah memperdayanya dengan akting busuk yang rapi. Seharusnya ia menyadari sejak awal bahwa Ririn adalah orang bermuka dua yang teramat pintar bersandiwara.​Sementara itu di kursi penumpang depan, Ghina melirik ke arah Bima dengan raut wajah yang diselimuti kekhawatiran.Ia terlalu takut untuk sekadar menegur, bahkan tak berani melayangkan sentuhan lembut di bahu pria itu seperti yang ia lakukan di rumah sakit sebelumnya.​"Aku mau bertemu Adrian sebentar. Kamu mau nunggu di mana? Di kantin?" Ucap Bima tiba-tiba, memecah keheningan kabin.​Ghina langsung mengerjap, lalu tersenyum tipis. "Aku mau ikut ke kantor, Pak. Udah lama gak ketemu temen-temen," Kata Ghina riang,

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 428 : Penjabaran Dosa dari Korban

    ​Siang itu, koridor rumah sakit terasa begitu membekukan, diliputi oleh bau cairan antiseptik yang tajam. Bima dan Ghina berdiri mematung tepat di depan daun pintu ruang rawat Ririn. Dari balik celah pintu yang tertutup rapat, terdengar gelak tawa Ririn dan Nisa yang meledak riang, menghantam kesadaran Ghina dengan rasa ironi yang amat menyengat. ​Bima menoleh perlahan, menatap Ghina yang berdiri menegang di sampingnya. "Kamu yakin pengen ketemu sama dia? Bagaimanapun, dia itu orang yang pernah nyayat leher kamu," Tanya Bima dengan suara pelan yang dibalut kecemasan mendalam. ​Ghina mengangguk pelan, jemari tangannya terulur menyentuh bekas luka jahitan yang menimbul di leher kirinya—sebuah jejak trauma fisik yang tak pernah benar-benar sirna. "Dia mungkin masih amnesia, Pak. Tapi aku cuma pengen melampiaskan semua amarahku," Ucap Ghina dengan nada suara yang bergetar menahan gejolak benci di dadanya. ​Melihat penderitaan batin wanita di hadapannya, Bima mengulurkan tangann

  • Cara Menangani Perselingkuhan   Bab 5

    Saifanny sebenarnya tidak peduli jika Adrian tahu ia datang ke kantor secara diam-diam. Ia menyadari dirinya memang terlihat seperti pencuri saat itu, mengendap-ngendap dan mengintai suaminya sendiri. Namun bagi Saifanny, mencari kebenaran bukanlah sebuah kejahatan. Adrian mengirim pesan lagi. Pri

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 3

    Kini Saifanny berdiri di depan kantor suaminya sambil menenteng kotak makan bertingkat berwarna biru. "Rasanya aneh kembali ke sini secara terang-terangan" Batinnya. Tujuannya kali ini adalah untuk mengajak wanita itu berkenalan, demi mewujudkan rencana berikutnya: mencari lebih banyak informasi te

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 2

    Saifanny menjalankan sepeda motornya menuju kantor Zain. Ia ingin melihat dengan mata kepalanya sendiri wujud dari wanita itu. Dengan perasaan campur aduk, ia memarkirkan motornya. Sudah lama ia tidak menginjakkan kaki di kantor ini, mungkin sejak ia mengumumkan akan mengundurkan diri untuk menikah

  • Cara Menangani Perselingkuhan   BAB 1 : Terungkapnya Perselingkuhan

    Lantai 3 Hotel Anggrek. Aroma pengharum ruangan khas hotel terasa menyengat di hidung Saifanny. Ia berdiri di depan kamar 308, menggenggam sebuah kunci yang didapatkannya setelah mengelabui seorang resepsionis dengan alasan telah kehilangan kuncinya. Begitu memasuki kamar, Saifanny membeku. Suamin

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status