MasukHari telah berlalu dan Saifanny terus memandangi ponselnya. Belum ada pesan masuk dari wanita itu. Ia sempat berpikir, apa mungkin Ranaya melapor kepada suaminya? Namun, jika wanita itu melapor, ia tidak mungkin memberikan nomor teleponnya sejak awal. Saifanny mencoba mengalihkan perhatiannya pada hal lain, ia merasa konyol karena terus menunggu wanita itu menghubunginya.
Pandangan Saifanny kemudian teralihkan pada kartu nama Adrian. Kartu berwarna hitam-emas dengan logo Utama Group di bagian tengahnya. ADRIAN MAHANDY UTAMA, CEO +6281XXXXXXX. Nomor ini berbeda dari nomor Adrian yang dulu. Saifanny memang sudah memblokir nomor lama pria itu, meski ia masih mengingatnya di luar kepala. Saifanny mulai mengetikkan nomor baru tersebut di ponselnya, berniat hanya untuk menyimpannya saja. Namun, saat ia baru menekan tombol simpan, sebuah notifikasi muncul. Pesan itu datang dari Ranaya. Isinya berupa ucapan salam dan lampiran tagihan laundry. Saifanny segera mengirimkan sejumlah uang lalu membalas singkat, "Sudah dikirim, ya." Wanita itu sepertinya mengecek rekeningnya terlebih dahulu karena ada jeda cukup lama sebelum ia membalas dengan, "Iya Kak, terima kasih ya." Saifanny tidak ingin mengakhiri percakapan begitu saja, jadi ia mencoba memancing. "Boleh saya bertanya sesuatu?" Ranaya menjawab, "Iya Kak, tanya apa?" Saifanny sengaja membiarkannya menunggu beberapa menit agar wanita itu merasa penasaran. "Kamu tahu suami saya, kan, Pak Zain? Dia kalau di kantor bagaimana orangnya?" Saifanny melontarkan pertanyaan umum; ia belum berencana menanyakan hal yang bersifat pribadi. Beberapa detik kemudian, Ranaya membalas dengan cukup cepat, "Baik kok Kak, cuma kadang Pak Zain lumayan tegas." Saifanny kembali bertanya, kali ini ia sedikit memberikan tekanan. "Oh... kamu dekat dengan dia?" Pesan tersebut langsung terbaca. Tanda sedang mengetik muncul di atas layar, menghilang, lalu muncul lagi. Ranaya membalas cukup lama, seolah sedang memilih kata-kata yang tepat. Wanita itu sepertinya panik, padahal itu hanya pertanyaan sederhana. Akhirnya pesan masuk: "Hampir semua orang kantor dekat dengan Pak Zain, Kak. Memangnya kenapa, Kak?" Saifanny tersenyum sinis. Ranaya mencoba berlindung di balik kata 'semua orang', seolah ingin menegaskan bahwa dirinya bukan satu-satunya yang patut dicurigai. Karena Ranaya bertanya, Saifanny pun menjawab dengan kejujuran yang tajam. "Sepertinya suami saya selingkuh." Beberapa menit berlalu tanpa balasan. Saifanny membayangkan Ranaya terkejut dengan wajah imut nan bodohnya, mungkin tangannya gemetar hingga ponselnya terjatuh. Lama kemudian, Ranaya membalas, "Dari mana Kakak tahu Pak Zain selingkuh?" Saifanny membayangkan Ranaya mengetik itu dengan penuh kehati-hatian. Entah ia benar-benar panik atau tidak, Ranaya tampak mencoba untuk tetap tenang. Saifanny kembali membalas, "Firasat saja, makanya saya tanya kamu. Mungkin kamu tahu selingkuhannya." Ia ingin Ranaya berpikir bahwa ia sama sekali tidak mencurigainya. "Tapi kan Kakak banyak teman di kantor, kenapa tidak tanya mereka?" balas Ranaya. "Ya terserah akulah mau tanya siapa saja, bukan urusanmu", batin Saifanny ketus, namun ia menahannya. Ia membalas lagi, "Saya curiga pada mereka, makanya saya tidak bertanya kepada mereka." Ia berharap Ranaya memercayai bualannya. Setelah itu, mereka mengobrolkan hal-hal umum. Ranaya mulai menggunakan singkatan dan bahasa yang santai, ia sepertinya mulai merasa nyaman. Hal inilah yang mungkin dirasakan Zain; merasa nyaman saat berkirim pesan dengan wanita itu. Namun, tujuan Saifanny bukan untuk memberi kenyamanan, melainkan untuk menarik Ranaya ke dalam jaringnya. Saifanny menyusun langkah berikutnya: mengajak Ranaya makan siang bersama. Ia berpesan agar Ranaya tidak memberi tahu Zain dengan alasan suaminya tidak suka ia berhubungan dengan orang kantor. Ranaya pun memercayainya. Saifanny tidak menyangka gadis polos ini adalah selingkuhan suaminya. Entah Ranaya yang memperdaya Zain, atau justru Zain yang memulainya. Saifanny perlu memastikan sendiri siapa yang memancing dan siapa yang terpancing dalam permainan ini. Keesokan harinya, Saifanny kembali memasak makan siang untuk Zain guna memastikan suaminya tidak makan di luar bersama Ranaya. Ia juga sengaja membuat story di media sosial dengan tulisan "Makan siang untuk suami dan putraku" agar Ranaya melihatnya. Setelah memastikan Ranaya melihat unggahan tersebut, ia mengirim pesan, "Ranaya, hari ini mau makan siang dengan saya, tidak?" Ranaya pasti mengiyakan karena tahu Zain membawa bekal. Benar saja, ia membalas, "Boleh Kak." Saifanny yakin Ranaya merasa kecewa karena tidak bisa makan siang bersama Zain hari ini. Pukul 11.30, Saifanny berangkat menuju restoran yang mereka sepakati. Saat sampai, ia hampir tidak bisa menahan tawa. Itu adalah restoran tempat Zain dan Ranaya makan terakhir kali. Sudah ia duga, itu restoran favorit Ranaya. Dari kejauhan, ia melihat Ranaya duduk di kursi dekat jendela—tempat favoritnya. Mereka memesan makanan. Ranaya memesan menu yang sama seperti sebelumnya: steak tenderloin dengan kentang bakar dan lemon tea. Sementara Saifanny memesan pasta karbonara dan air putih. Duduk makan bersama selingkuhan suaminya terasa sungguh menggelikan bagi Saifanny. Setiap suapan pasta itu terasa seperti racun yang pahit di tenggorokannya. Ranaya terus mengoceh tentang makanan dan kenyataan bahwa ini adalah restoran favoritnya. Ia terus menceritakan tentang dirinya sendiri tanpa memberi Saifanny kesempatan untuk menanggapi. Seorang pelayan meletakkan hidangan penutup pesanan Ranaya, sebuah parfait es krim. Wanita itu bertubuh kurus, namun makannya sangat banyak. Ranaya terus bicara, dan Saifanny hanya mengangguk sopan menanggapi ocehan yang tak penting itu. Saifanny mulai menilai karakter wanita di depannya. Ranaya adalah tipe wanita yang haus perhatian dan egosentris. Ia juga tampaknya tidak punya banyak teman karena merasa orang lain tidak cukup baik padanya. Ia bahkan memuji Saifanny sebagai pendengar yang baik dan sangat perhatian, padahal mereka baru kenal satu hari. Saifanny mulai bosan dan merasa mual. Ia berpamitan ke toilet hanya untuk menenangkan diri di dalam bilik kloset. Sekarang ia paham mengapa Zain menyukai Ranaya. Bukan hanya karena Ranaya cantik dan imut, tapi karena ia banyak bicara dan sangat mencintai dirinya sendiri. Di mata Zain, Ranaya mungkin terlihat bodoh dan mudah diperdaya. Di mata Saifanny, Ranaya memang terlihat bodoh. Zain pun sama bodohnya, mereka sepasang manusia bodoh. Saifanny teringat dulu ia melakukan hal yang sama untuk menggoda Zain. Ia banyak bicara dan selalu mengajak Zain makan siang. Mengingat masa-masa itu membuatnya merinding dan mual. Dulu ia melakukan itu hanya karena menganggap Zain lelaki yang mudah untuk diajak menikah. "Semurah itu suamiku", batinnya pahit. Setelah selesai makan, Ranaya memegang tangan Saifanny. "Kak, makasih ya. Aku udah lama tidak makan dengan teman," ucapnya sambil tersenyum imut. Saifanny membalas senyum itu, lalu mereka berpisah. Begitu Ranaya pergi, Saifanny refleks membersihkan tangan yang tadi dipegang wanita itu. Rasanya menjijikkan disentuh oleh selingkuhan suaminya. Ia bersumpah akan segera mempermalukan orang-orang bodoh itu. Sesampainya di rumah, ponsel Saifanny bergetar. Ada notifikasi dari Adrian. Saifanny heran karena ia tidak pernah menghubungi pria itu. Pesan itu berisi: "Fanny, aku ingin bicara denganmu." Ia mengabaikannya, namun beberapa menit kemudian Adrian menelepon. Saifanny menolak panggilan itu. Tak lama kemudian, Adrian mengirimkan sebuah pesan berisi potongan video CCTV dengan pesan di bawahnya: "Aku tahu kamu ke kantor secara diam-diam. Mari kita bertemu, aku ingin mendengar penjelasanmu." Saifanny menghela napas panjang dan memegang kepalanya. Ia ketahuan.Malam itu, Saifanny dan Syahdan akhirnya pulang diantar oleh Adrian. Saifanny memutuskan untuk membiarkan Marcus dan Mabelle berdua saja di ruang VIP rumah sakit, memberikan mereka ruang untuk melepaskan rasa rindu setelah sepekan tak bertemu akibat tragedi proyek.Satu jam perjalanan pulang terasa sunyi. Di kursi belakang, Syahdan sudah menguap berkali-kali karena kelelahan yang teramat sangat.Begitu mobil berhenti di depan rumah, Saifanny menoleh ke arah Adrian."Mampirlah untuk minum teh," ucap Saifanny pelan.Mereka pun melangkah masuk ke dalam rumah. Syahdan langsung berlari menuju kamarnya dengan terburu-buru; didera rasa kantuk yang berat, bocah itu hanya ingin segera merebahkan tubuhnya di atas kasur empuk.Sementara itu, Saifanny dan Adrian duduk di sofa ruang tengah. Saifanny meletakkan dua cangkir teh hangat di atas meja konsol, lalu segera meraih ponselnya.Ia mulai memeriksa laporan pekerjaan di lahan proyek panti jompo. Selama seminggu ini, ia hanya memantau laporan sec
Seminggu berlalu begitu cepat. Saifanny tidak pernah absen untuk merawat Marcus di rumah sakit, membiarkan rasa bersalah menuntun setiap baktinya.Keadaan pria itu kini semakin membaik, dan ia sudah mulai bisa melontarkan candaan-candaan hangat demi mencairkan kecanggungan di antara mereka.Saifanny yang saat itu sedang fokus mengupas buah apel, tiba-tiba memecah keheningan."Maaf kalau ini terlambat, tapi apa ada makanan yang kamu suka? Aku akan membelikannya untukmu," mulai Saifanny lembut.Marcus tersenyum ramah, bersandar nyaman di balik kasur putih rumah sakit. Matanya tampak menerawang ingatannya."Hmm... Aku suka nasi goreng. Kalau makanan manis, aku suka mangga. Mungkin karena aku berasal dari keluarga Manggala, haha."Tawa singkat Marcus seketika membuat Saifanny ikut melepaskan tawa kecil."Baiklah, aku akan membelikanmu mangga nanti," ucap Saifanny sembari melanjutkan kupasan apelnya.Saifanny menyerahkan apel yang sudah dipotong rapi di at
Dua hari kemudian, Marcus akhirnya dipindahkan ke ruang rawat inap VIP setelah kondisinya dinyatakan stabil.Sinar matahari siang menembus tirai jendela yang terbuka sedikit, menerangi sosok tegap Marcus yang kini terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.Punggung dan bahu Marcus didera balutan perban putih tebal yang membatasi geraknya, sementara lengan kanannya dibungkus gips dan ditopang oleh penyangga khusus.Sebuah selang kecil masih terpasang di hidungnya, menyalurkan oksigen secara berkala.Saifanny duduk di kursi tepat di samping ranjang. Matanya tidak sedetik pun beralih dari wajah pucat Marcus.Rasa bersalah yang teramat pekat telah mengunci mati logikanya. Ketika kelopak mata Marcus perlahan bergerak dan terbuka, Saifanny langsung menegakkan tubuhnya dengan panik."Marcus? Kamu sudah sadar? Syukurlah, aku akan panggilkan dokter—""Saifanny..." Suara Marcus terdengar begitu parau, lirih, dan didera kelelahan yang amat sangat.Alih-alih mengeluh tentang rasa sakit yang men
Saifanny duduk membeku di kursi tunggu tepat di depan ruang operasi Marcus. Sepasang matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong, didera guncangan trauma yang teramat pekat.Sisa-sisa noda darah segar di telapak tangan dan pakaian kerjanya masih dibiarkan begitu saja, mengering dan perlahan berubah warna menjadi kecokelatan yang mengerikan.Beberapa menit kemudian, Adrian dan Bima tiba di lorong rumah sakit dengan langkah tergesa-gesa.Begitu menangkap sosok Saifanny yang tampak rapuh, mereka langsung menghampirinya.Adrian segera mendudukkan diri di samping Saifanny, sembari meletakkan sebuah paper bag besar yang dibawanya dari luar."Fanny..." panggil Adrian luar biasa lembut sembari menyentuh pelan bahu wanita itu.Saifanny sama sekali tidak bergeming. Jiwanya seolah tersedot ke dalam ruang operasi di hadapan mereka.Adrian mengembuskan napas panjang, didera rasa iba yang mendalam. Ia mengeluarkan sebungkus tisu basah dari dalam paper bag.Tanpa aba-aba, Adrian meraih je
Siang itu, hamparan taman yang terletak dekat dengan lahan proyek panti jompo dilingkupi atmosfer yang begitu suram.Adrian, Saifanny, dan Bima duduk bersama di atas sebuah kursi panjang dengan pandangan mata yang tertuju datar ke depan.Pikiran mereka masih tersita oleh kekalahan siber yang baru saja terjadi."Jadi... menurutmu apa yang akan kakekmu lakukan setelah kamu mengatakan semua kebenaran tentang kematian Adipramanna?" tanya Saifanny parau, tanpa menoleh sedikit pun pada Adrian yang berada di sampingnya.Adrian mengembuskan napas pendek, menatap hamparan rumput di bawah kaki mereka."Dia akan menghadapi kurungan yang lebih buruk dari penjara kota," ucap Adrian datar, terselip nada dingin yang menusuk.Saifanny mengangguk pelan, mencerna kalimat tersebut."Kau tidak perlu khawatir, Fanny. Dia tidak akan mengganggumu atau siapa pun lagi. Kakek sangat menyayangi mendiang Om Adi, dia tidak akan pernah memaafkan ayahku," lanjut Adrian mencoba meyakinkan.Saifanny melirik Adrian se
Sabtu pagi itu, matahari baru saja terbit, memancarkan semburat jingga di langit J-City. Namun, di dalam kamar apartemennya, Bima sama sekali tidak memedulikan pergantian waktu. Matanya yang didera kelelahan akut masih menatap tajam ke arah tiga layar monitor yang menyala terang. Semalaman penuh, jemarinya tidak berhenti menari di atas keyboard, memperhatikan seluruh lalu lintas data digital milik Rumah Sakit Pusat dan Kejaksaan. Bima memiringkan kepalanya. "Tidak ada aktivitas ilegal di peladen. Profesor Hendri belum memasukkan dokumen apa pun ke sistem online," gumam Bima dengan alis berkerut heran. Ia segera meraih ponselnya, mengetik pesan pada Saifanny untuk memberikan laporan situasi sekarang. “Belum ada pergerakan apa pun di peladen rumah sakit dan kejaksaan. Apa menurutmu itu tidak aneh?” ketik Bima. Beberapa detik kemudian, Saifanny membalas, “Kita tunggu saja, Bim. Mungkin mereka sedang mempersiapkan sesuatu.”
Sore itu, suasana di dalam rumah Saifanny dilingkupi oleh keheningan yang menenangkan batin.Wanita itu sedang duduk bersandarkan sofa sambil memeriksa lembar demi lembar buku pelajaran milik putranya, Syahdan.Ia memantau setiap perkembangan materi pelajaran yang dipelajari buah hatinya di sekolah
Pagi itu, Adrian terbangun dengan rasa pegal yang teramat pekat menjalar di seluruh bodi tubuhnya.Pria itu baru bisa menutup matanya hanya selama beberapa jam saja, sementara sisa malamnya habis ia gunakan untuk merenungi segala perbuatan dan ucapan gegabahnya yang telah membuat orang-orang terdek
Sore itu, di dalam kamar suite hotel bintang lima, Andien bersiap untuk mandi. Pintu geser berbahan kaca patri tebal itu terbuka tanpa suara, mengeksiskan kemewahan ruang basah tempat dirinya dan Bima menginap.Ruangan itu begitu luas, didominasi oleh hamparan lantai marmer hitam berurat emas yang
Pagi itu, Adrian melangkah kembali ke dalam unit apartemen pribadinya dengan tujuan beristirahat demi memulihkan stamina jiwanya yang terkuras habis.Sebaris perasaan lega sempat merayapi dinding hatinya setelah tim dokter spesialis menyatakan bahwa kondisi kesehatan sang kakek kini telah berada da







