LOGINYara menoleh ketika Elvaro menarik gaunnya pelan beberapa kali.Sebelum muncul pertanyaan, Elvaro lebih dulu berkata, “Ayah lebih kaya dari Paman Axelane, jadi bisa membelikan Ibu banyak gaun mewah dan perhiasan mahal,”Yara menahan tawanya. Lalu mengangguk dengan iringan senyum geli yang tidak bisa ditahan lagi. Tangannya bergerak mengusap puncak kepala Elvaro dengan lembut.Bahkan rambutnya terasa lembut sekali.“Mereka memang suka asal bicara,” komentar Delbaranta kemudian.“Tidak, kok!” Elvira langsung membantah. “Kami berdua memang sangat ingin Ayah menikah dengan Ibu,”***Rasanya canggung sekali.Yara tidak menyangka kalau Brownzier bersedia repot-repot datang ke kediaman Duke Valantino hanya untuk menjemputnya.Tadinya, Yara pikir dia akan dimarahi di perjalanan. Namun sejak mereka memasuki kereta kudanya, yang dilakukannya hanya diam dan menatap lurus tajam ke jendela.“Jika Anda marah pada saya, Anda boleh memarahi saya sampai Anda lega,”Ucapannya membuat Brownzier mengalih
Kejutan.Ini kejadian di luar rencana yang disusunnya.Bahkan belum terpikirkan oleh Yara sama sekali.Padahal Yara baru memikirkan beberapa cara untuk bertemu dengan Duke Valantino. Namun dia malah datang sendiri ke hadapan Yara. Bahkan sampai meminta Yara meluangkan waktu untuk makan bersamanya sebagai permintaan terima kasih sekaligus permintaan maaf.Dari posisi duduknya, Yara bisa melihat kedua anak itu tampak bermain dengan riang di tepi taman. Dengan Elvaro yang terlihat mengejar kupu-kupu yang berterbangan ke sana ke mari, sementara Elvira tampak memetik beberapa bunga di dekatnya. Beberapa pelayan masih berjaga di sisi mereka, bahkan ada pula yang membantu Nona muda memetik bunga.“Mereka berdua sangat merindukan sosok Ibunya,” Suara Delbaranta berhasil menarik kembali perhatian Yara.Dari tempatnya, Yara menatap Delbaranta, yang baru saja menukar piring berisi steak.Yara melirik ke arah piringnya, yang dagingnya sudah dipotong rapi dan siap disantap. Kembali menatap Delbara
Topik pesta pertunangan Duke Muda Silvernera dengan Lady Roscheana masih hangat diperbincangkan di mana-mana.Ada begitu banyak orang yang teerlihat mengkhawatirkan Yara.Elisa, adalah salah satunya.Dengan dalih persiapan acara pesta minum teh di Istana, yang diadakan seminggu lagi, Elisa mengajaknya keluar. Padahal Yara tahu betapa khawatirnya dia padanya.Tadi, begitu Elisa datang, dengan iringan ekspresi khawatirnya, dia langsung bertanya, “Apa Anda baik-baik saja, Yara?”Tentu saja Yara langsung memasang ekspresi sedih dan mengangguk, berpura-pura lagi terlihat tegar.Karena itu, Elisa meminta izin pada Marchioness untuk membawa Yara keluar dengan alasan mencari gaun dan perhiasan yang cocok untuk datang ke pesta minum teh Istana. Meski awalnya Marchioness menolak dengan dalih akan mengundang pemilik butik dan pemilik toko perhiasan demi keamanan Yara, namun pada akhirnya diizinkan setelah Yara membujuknya.Setelah mengingat Dellchaira yang akan membuat ulah, seperti akan terluka
Yara berhasil mendapatkan Bishop dalam papan caturnya.Meski belum sepenuhnya yakin. Namun, Yara berhasil membuat Brownzier memihak padanya tanpa paksaan.Memang benar. Laki-laki hanya akan luluh pada perempuan rapuh yang cantik.Tepat setelah Brownzier keluar ruangan, Alberto langsung masuk dengan tegapnya. Dia memperhatikan Yara sejenak dari posisinya, sebelum mendekat dengan langkah lebih santai.“Apa Anda sungguh dimarahi?” tanya Alberto kemudian.Yara mendongak, membalas tatapannya yang terlihat iba itu, dengan tatapan sendunya.Alberto langsung menatap pintu kamar Yara dengan tajam menusuk. “Seharusnya saya tidak patuh tadi,”Sejujurnya, Yara agak terkejut.Sungguh. Yara tidak menyangka akan mendapatkan Alberto secepat ini.Maksud Yara … Memang benar, Alberto sangat cepat jatuh cinta pada sosok Dellchaira yang manis dan lugu itu. Namun, Yara sama sekali tidak menyangka dia bisa meluluhkannya dalam waktu sesingkat ini.“Tidak apa,” sahut Yara, pura-pura sok tegar, padahal Yara sa
Rencananya berhasil.Tepat sebelum Axelane mengumumkan pembatalan pertunangannya, Yara lebih dulu jatuh pingsan.Tepatnya, pura-pura pingsan.Yara tidak menduga kalau reaksi orang-orang akan seperti ini.Yara pikir, reaksinya hanya sebatas menunda acara pertunangan.Lebih tepatnya lagi, dia berusaha menghilangkan adegan pembatalan pertunangan yang akan dilakukan Axelane secara terang-terangan, menjadi pembatalan antar keluarga saja.Namun … Siapa sangka kalau hasil dari rencana itu ternyata sangat jauh berbeda dari yang dibayangkannya sebelumnya.“Bukankah Anda sendiri yang bilang, ingin membatalkan pertunangan kalian?” Cibiran sinis itu keluar dari mulut Aldegara.Yara hapal jelas suaranya.Bahkan meski tetap memejamkan matanya, berniat menguping sambil pura-pura masih pingsan, Yara tahu siapa-siapa saja yang ada di ruangan ini hanya berdasarkan pendengarannya yang menangkap masing-masing pemilik suara.“Sebelumnya aku tak tahu kalau Lady ini adalah Lady Roscheana. Kalau aku tahu, ak
Yara menatap wajah cantiknya dari pantulan cermin.Wajah ini benar-benar cantik. Yara tidak pernah bosan memandanginya sama sekali.“Sir …,” Ada jeda sejenak ketika Yara memanggilnya.“Alberto, Nona,” sahutnya tanpa diminta. Namun dia lumayan peka melihat Yara yang tadi pura-pura kebingungan hendak memanggilnya apa.“Benar,” gumam Yara. “Maaf karena aku melupakan namamu,”“Tidak apa,” sahutnya cuek.Baiklah. Tidak masalah. Lagipula sekarang bukan waktunya Yara fokus menggodanya.Hari ini adalah hari pertunangannya. Atau malah lebih tepatnya lagi, hari pembatalan pertunangannya. Jadi, sekarang fokus Yara adalah menggoda Axelane, bukan yang lain.“Boleh bantu aku melangkah? Sepertinya gaun ini agak menyulitkanku,” pinta Yara.“Baiklah,” Meski dingin dan sinis, dia tetap patuh. Bahkan melipat lengannya di depan Yara untuk membantu Yara menyanggah tubuhnya.“Terima kasih,”“Tidak masalah,”Nini melangkah risau di belakangnya bersama Chan yang tetap tenang. Menatap Yara khawatir, karena tak







