MasukMay Yukizia Veronica Alcantara continue to fall in love to a bachelor who steal her first kiss if she find out that she will get married to a man whom her grandfather fully-trusted. What if the young man who stole her first kiss and the man her Grandfather fully-trusted are just one? One night Yukizia caught Tristan Charles Sandoval making out with another woman. Mapapatawad pa kaya ni Yukizia ang asawa kong may mas pinapahalagahan na siyang iba? "I never say I don't love you..."
Lihat lebih banyak"Ugh!" Suara lenguhan panjang terdengar memenuhi ruang kamar saat Andi menyelesaikan permainannya.
"Enak," ucap Andi, merasakan nikmat yang tiada tara. Namun berbeda dengan Febby yang tidak merasakan klimaks sama sekali. Wajahnya menyiratkan kekecewaan mendalam. "Sudah keluar Mas? Kok cepet banget, ngga sampai satu menit. Perasaan baru masuk." Febby mengeluh sambil menghela napas panjang. Sudah sering dia mengatakan kalau dia tidak pernah puas dengan permainan suaminya. Dia juga tidak pernah merasa ada yang keluar dari bagian inti tubuh, yang menandakan dia belum mencapai puncak. Namun Andi seolah masa bodo. Yang penting nafsunya tersalurkan. "Aku lelah. Tadi itu aku udah berusaha untuk lama, tapi malah keluarnya cepet." Selesai melampiaskan hasrat, Andi berbaring di sebelah istrinya tanpa merasa bersalah sama sekali. Raut kesal dan kecewa terlihat jelas di wajah Febby, yang selama dua tahun menjadi istri sah Andi. Selama dua tahun itu dia tidak pernah merasakan klimaks saat berhubungan dengan suaminya. Kenikmatan hanya dirasakan oleh Andi, bahkan Andi tidak pernah membuatnya nyaman di atas ranjang. Andi juga kurang perhatian, hanya memikirkan diri sendiri. Pernikahan dua tahun terasa semakin hambar bagi Febby. Namun tidak ada yang bisa dilakukan. Toh Febby yang memilih laki-laki itu menjadi suaminya dan mereka sedang menjalani program kehamilan. Ya, Andi dan Febby sudah didesak oleh kedua orang tua mereka agar secepatnya memiliki anak, tetapi sampai detik ini tidak ada tanda-tanda Febby mengandung buah cinta mereka. "Kamu mau langsung tidur Mas?" tanya Febby pada suaminya yang baru saja pulang kerja dan meminta dilayani. Selesai dilayani, Andi berbaring di ranjang sambil memejamkan mata. "Iya, aku ngantuk. Kamu masak makan malam aja dulu. Kalau udah mateng semua, bangunin." Febby menghela napas panjang, turun dari ranjang lalu memakai pakaian satu per satu. Matanya melirik Andi yang terlelap, padahal baru saja kepala suaminya itu bersandar ke atas bantal. Tidak ada ucapan terima kasih. I love you. Atau gombalan yang keluar dari mulut Andi, membuat Febby merasa tidak dicintai sama sekali. "Mandi dulu dong Mas, masa langsung tidur." "Hem," sahut Andi datar. Selesai memakai pakaian, Febby melangkah mendekati pintu lalu keluar. Sedangkan Andi sudah jauh mengarungi mimpi. Langkah kaki Febby dihentikan oleh ibu mertua di ambang pintu dapur. Wanita paruh baya itu menatap wajah menantunya yang lesu sambil mengerutkan kening. "Kamu kenapa, Feb?" "Ngga apa-apa Bu," jawab Febby, pelan, melanjutkan langkah kakinya mendekati kulkas. Ratih mengikuti Febby ke dapur, membantu menantunya menyiapkan bahan makanan. Sejak kemarin wanita paruh baya itu menginap di rumah kontrakan dua kamar tersebut. Satu bangunan rumah yang baru dua bulan ditempati itu berada di komplek perumahan Melati. Rencananya Andi ingin mencicil rumah yang mereka tempati sekarang agar tidak bayar kontrakan lagi. "Suami kamu mana, Feb?" tanya Ratih. "Mas Andi tidur Bu. Katanya capek," jawab Febby seraya mengeluarkan bahan makanan dari dalam kulkas dua pintu. Beberapa jenis sayur dan ikan segar dia letakan di dekat wastafel untuk dibersihkan. "Kamu udah konsultasi lagi ke Dokter Kandungan?" tanya Ratih pada menantunya. "Udah Bu, katanya aku sama Mas Andi harus sering minum vitamin biar subur. Aku udah dikasih resep vitamin itu. Semoga aja ada kabar baik bulan depan." "Amin," ucap Ratih. "Selain berkonsultasi ke Dokter, kamu juga harus pergi ke Dukun beranak. Atau ke mana kek. Biar kamu cepet isi." "Udah Bu, tapi emang dasarnya belum dikasih aja. Kalau memang belum rejekinya, ya mau gimana lagi." "Kalau gitu, coba kamu konsultasi ke Dokter lain. Misalnya ke Dokter Dirga. Dia sepupunya Andi. Siapa tahu dia bisa bantu kalian. Kasih saran apa untuk membantu mempercepat kehamilan kamu." Febby terdiam. Sebenarnya sudah beberapa kali mereka gonta-ganti dokter, tetapi tidak ada perubahan sama sekali. Beberapa dokter juga menyarankan untuk memeriksa kesuburan satu sama lain, namun Andi selalu menolak dan mengatakan kalau dia sehat. Sementara, selama berhubungan Febby tidak pernah merasa puas. Bahkan durasinya hanya sebentar, tidak sampai tiga menit langsung crott. "Lebih baik kamu coba dulu saran Ibu," ucap Ratih yang selalu mendesak Febby agar cepat hamil. Andai kehamilan bisa dibeli, Febby akan membelinya agar bisa secepatnya memberi gelar ayah pada sang suami. "Kalau kamu ragu, mending komunikasikan dulu sama Andi. Biar kalian lebih yakin. Ibu sih percaya sama Dokter Dirga. Banyak kok pasien dia yang berhasil hamil." Febby menghela napas panjang. "Nanti aku coba bicarakan sama Mas Andi. Kalau dia mau, besok aku dan Mas Andi ke tempat praktek Dokter itu." Ratih tersenyum, "Nanti alamatnya Ibu kasih ke kamu. Kamu dan Andi langsung ke sana aja. Nanti Ibu bikin janji biar kalian ngga antri." "Iya Bu, makasih." Saat sedang berbincang, Andi datang mendekati kedua wanita di dapur. Pria yang memiliki tinggi 170cm itu duduk di depan meja makan dengan lesu. "Bikinin aku kopi," katanya memerintah Febby. "Tunggu sebentar Mas. Aku lagi masak." "Ck! Aku maunya sekarang!" Andi mengeraskan suaranya, membuat Febby terhenyak kaget. Ratih dan Febby saling tatap, Ibu mertuanya itu memutar bola mata meminta Febby menurut saja. "Biasa aja dong Mas, jangan marah begitu," sahut Febby kesal. "Kamu ini. Suami minta kopi malah nanti-nanti. Utamakan melayani suami dulu, baru yang lain! Gimana sih!" cecar Andi memarahi Febby. Ratih hanya diam, tak membela menantunya ataupun menasehati Andi. Baginya pemandangan seperti itu sudah biasa terjadi. Dia pun mengalami di rumah. "Sabar Mas." Terpaksa Febby menunda masakannya dan membuat kopi untuk Andi yang sudah tidak sabar. Dengan perasaan kesal, Febby meletakkan kopi hitam pesanan suaminya ke atas meja. "Mau apa lagi Mas? Sekalian aja, aku mau masak." Andi melotot, menatap istrinya seperti ingin menelan hidup-hidup. "Kamu ngga iklhas?" "Bukan ngga ikhlas Mas, aku kan cuma nanya sama kamu. Kamu mau apa lagi? Biar aku ambilin sekalian." "Ngga ada, aku cuma mau kopi." "Ya udah," sahut Febby pelan. Ia kembali melanjutkan memasak makan malam, meski perasaannya kesal. Sikap dingin Andi sudah berlangsung lebih dari satu tahun. Tanpa alasan yang jelas, Andi tiba-tiba jadi kasar dan bahasanya tidak pernah lembut seperti dulu. Febby curiga suaminya memiliki wanita idaman lain di luar sana, namun ia tidak pernah mendapatkan bukti apapun perselingkuhan itu. Suasana hening. Di ruang dapur yang tidak luas itu hanya terdengar suara dentingan sendok dan panci. "Mumpung ada Andi di sini. Ibu ngomong aja langsung sama kalian berdua." Ratih membuka pembicaraan di ruang sunyi itu. Andi mendongak, "Ngomong apa Bu?" tanyanya datar. "Ibu mau ngasih saran, gimana kalau kamu dan Febby konsultasi aja ke Dokter Dirga. Sepupu kamu itu. Dia kan Dokter kandungan terkenal. Kebetulan dia buka praktek di Jakarta. Kalian bisa ke sana. Kalau kamu mau, nanti Ibu bikin janji sama dia. Biar kalian ngga antri panjang. Maklum, pasien dia kan banyak." Andi manggut-manggut. "Oke, aku setuju. Aku dan Febby akan ke sana." Ratih tersenyum. Ia tatap menantunya yang tengah sibuk mengaduk sayur di dalam panci. "Kamu dengar kan. Suami kamu setuju. Kamu juga setuju kan?" tanya Ratih pada menantunya itu. "Iya Bu, aku setuju," jawab Febby.Yukizia Veronica Point Of View"Good evening Ladies and Gentlemen, my I have your attention please." Emcee said.She was standing in the mini-stage, ang mag-ingay na paligid ay naging tahimik ng magsalita ang emcee, she's pretty but I can't believe she's just Travis friends."Now. We're here to be part of this wonderful celebration not just one but four celebrant! Wow. This is so amazing actually, so. What are we waiting for? Let's all welcome the trio heirs of Mister Tristan Sandoval, the three adorable birthday celebrant, around of applause for baby Trekiel Lark Cavin Sandoval, Baby Trexiel Luke Clein Sandoval Treziel and the last Treziel Leon Clint Sandoval!" Masayang sabi ng emcee na mas lalong ikinalakas ng kanilang palakpakan na puno sa venue.Nag-uumapaw ang sayang nararamdaman ko, hindi ko lubos maisip na mangyayari ko na makikilala ang mga anak ko bilang anak ni Tristan. I'm so happy for them, for us!"Hindi lang iyon, we we're going to celebrate the baptism of Baby Triszimir
Yukizia Veronica Point Of View"We are here," Tristan announce and open the door of the van."Wow! This is so beautiful Daddy!""Nice house!""I love it Daddy!"Komento ng mga anak ko ng makababa kami sa sasakyan, habang ako ay malalaki ang mata na nakatitig sa bahay na nasa harapan ko, nakakawindang ang ganda, laki ng bahay na ito. Seriously dito kami titira? Sa tingin ko ay mas malaki pa ito sa Mansion ni Lolo.Pinasama na kami ni Lolo kay Tristan ngayong umaga hindi ko nga rin alam kong bakit ako pumayag pero sa tingin ko tama lang na bigyan ko ng kompletong pamilya ang mga anak ko."Daddy! Daddy!" Tawag ni Trez kay Tristan habang tinatapik sa tagiliran, napansin ko namang napa ngiwi si Tristan bago iniwan ang kinukuha niya sa backseat.Anong meron? May masakit ba siya?"Yes, handsome?" Humarap siya rito at umuklo para magkatapat ang mukha nila."Hihi, can we get inside now? For real this is our
Yukizia Veronica Point Of View"What are you doing here?" Galit kong tanong sa kaniya habang nagkatitig sa mga mata niya.Miss na miss ko siya at sobra akong nag-alala sa kaniya, pero galit ako sa kaniya. Hindi dahil sa hindi niya ako magawang puntahan sa hospital kundi dahil sa ginawa niyang pang gagamit sa akin."What was that for? Damn! Is that what you give me after all?" Umigting ang panga niya bago matalim na tumitig sa akin, if he's asking about that slap it's not enough for all what he have done to me!"Para 'yan sa pang gagamit mo sa akin, ito naman," I said and give him an another slap."Para sa pagsisinungaling mo kung anong klaseng tao ka talaga!" Dagdag ko pa habang nakaduro sa kaniya.Hindi ko mapigilan ang sarili ko pakiramdam ko may sariling isip ang kamay ko para sampalin siya wala akong pakialam kung anong klaseng tao siya basta ang alam ko ay galit ako sa kaniya."What? I can't understand what you are
Yukizia Veronica Point Of View"All you need to do is to rest, your sons is fine. I hired a babysitter so who can take of them and you don't need to move take good care of yourself call the maid if you need anything, do you heard me Yukizia?" Madiing sabi ni Lolo sa akin na tanging tango lang ang isinagot ko sa kaniya.Tatlong araw ako sa hospital at nang pwede na akong umuwi, inuwi ako ni Lolo sa Mansion kung saan kami namuhay ng magkasama at masaya ng hindi ko pa nakikilala si Tristan. Madaming nagbago sa Mansion siguro dahil sa sobrang tagal na rin ng panahon ng huli akong nakatutong rito, akala ko hindi na ako muling nakakaapak sa Mansion na kinalakihan ko dahil sa pinag-gagawa ko pero ito ako ngayon.Nakahiga sa malambot kung kama sa loob ng kwarto ko at kasama ko ang mga anak ko na titira rito, yes. Kasama ko rito ang mga anak ko dahil hindi ako papayag na maiwan sila sa bahay ni Tristan at mawalay sa akin. Hinatid sila rito ni Thyme ng araw na maka
Tristan Charles Point Of ViewPagkarating ko sa bahay kaagad akong pumunta sa kwarto, may pinuntahan ako na makakatulong sa paghahanap kay Yukizia, buti na lang at nandito si Mommy siya muna ang nagbantay sa mga anak ko habang may inaasikaso ako dahil may inutos rin ako kay Tahn.
Yukizia Veronica Point Of ViewTumalon ako sa motor ko ng may tatlong lalaki ang nakaharang sa dadaanan ko, nagpagulong-gulong ako papunta likod ng pader, pinaputukan nila ako ng sunod-sunod, kinuha ko ang one last gun ko dahil sa sobrang dami ng tauhan ni Jade hindi maubos-ubos. Dumapa
Yukizia Veronica Point Of View"Thyme bumalik na kaya tayo sa loob? Hindi ako mapakali, parang may mali. Hindi ko dapat iniwan si Tristan," Nag-aalalang sabi ko kay Thyme ng makapasok na kami sa loob ng Van si Travis ang nag nag mamaneho."Hindi pwede masyadong delikado sa loob, kail
Tristan Charles Point Of View"So hindi nga sila pwede sa isa't-isa? Bakit niyo pa kasi pinipilit?—Dad? Anong klaseng anak ba 'yan sobrang halay niya, sa lahat ng aanakan talagang pinsan niya pa?" Sabi ni Jade na mas ikinainit ng ulo ko kaya walang sabi-sabing inambangan mo siya ng sunto






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
Ulasan-ulasanLebih banyak