LOGIN"Oo, isa akong guro, at may nais akong turuan ng leksyon." --- Walang ibang tutulong sa kaniyang matinding pagdurusa kundi ang kaniya lamang sarili. Si Dahlia Perez o mas kilala bilang teacher Dahlia ang mismong aalam sa madilim na nangyari sa kaniyang ama sa nakaraan. *** Nagtuturo sa isang paaralang elementarya si Dahlia Perez. Baguhan lamang siya sa isang lungsod. Dahil nakapagtapos ng pag-aaral sa kolehiyo, kinuha niyang trabaho ang maging isang guro. Ngunit sa halip na ang kaniyang propesyon ang kaniyang isinaalang-alang ay iba ang sadya niya sa pamamagitan nito.
View MoreJam 11 malam. Aku masih ngelap meja nomor 7 di Kafe Senja. Udah 3 kali muter di tempat yang sama. Pikiran entah kemana.
"Macho, tip malam ini 32 ribu," kata Mbak Dita sambil menaruh receh di tanganku. Aku angguk. 32 ribu. 8 jam kerja. Cukup buat beli bensin 2 liter. Di pojokan, ada 4 ibu-ibu kantor masih nongkrong. Salah satunya bisik-bisik sambil ngelirik aku. "Itu loh kasirnya. Anak kuliahan kali ya. Kasihan." "UMR juga kali. Pantas bajunya gitu-gitu aja." Aku senyum. Pura-pura bodo amat. Buang sampah ke belakang. Di toilet aku ngitung lagi. Gaji 1,3. Kost 600. Bensin 300. Sisa 400 buat 30 hari. 400 bagi 30. 13 ribu sehari. Monologku: Dua bulan lalu ayah ibu tabrakan. Sekarang aku sendirian. Ngekos. Kuliah semester 1. Semua biaya numpuk. TV sama kulkas udah kejual. Tinggal kasur sama kipas. Harus kuat. Gak mau jadi beban siapa-siapa. Keluar kafe aku jalan kaki. Motor mogok 3 hari. Dompet tipis. Aku berjalan dengan gontai walau pikiranku berkecamuk kayak nyamuk banyak berdengung di kepalaku. Trotoar sepi. Cuma ada Pak Udin jualan cilok mau tutup. Terus aku lihat dia. Tante-tante. Dress merah darah. Belahan dada dalam. Heels tinggi. Rambut klimis. Duduk di kursi plastik sambil main HP dan ngerokok. Aku tertegun sejenak. Wanita, tengah malam dan gayanya yang seperti bukan wanita yang “benar.” Cantiknya kelewatan. Auranya mahal. Bukan level aku. Dan aneh rasanya, jam segini masih berkeliaran. Apa nggak ada anak atau suami?, pikirku sambil tetap menengoknya. Dia lihat aku. Mata kita ketemu. Deg. Cepat-cepat aku menundukkan kepala takut dengan pikiranku sendiri yang berburuk sangka padanya. Pesan cilok aja. "Pak, 10 ribu." Pak Udin racik. Wangi bawang gorengnya bikin perut keroncongan. 3 hari ini aku makan nasi kecap. "Sepuluh ribu ya Mas," kata Pak Udin. Tanganku masuk kantong. Ada 20 ribu. Uang terakhir. Tiba-tiba lidahku kelu. "Eh... jadi gak jadi Pak. Maaf." "Apaan Mas! Udah aku racik ini!" Orang di seberang pada nengok. Aku melirik di sekitarku. Malu. Pengen nyungsep rasanya. Wajahku memerah. Dan dia datang, tepat disebelahku. "Nih Pak, saya bayarin," tiba-tiba ada suara dari samping. Tante itu. Udah berdiri di sebelahku. Ngeluarin 20 ribu dari dompet kecilnya. "Kembalian gak usah." Pak Udin diem. Ambil uangnya. Tante itu nengok ke aku. "Kenapa? Lagi bokek?" Aku melirik ke wajahnya. Bahkan sangat cantik dilihat dari dekat. Aroma parfum mahal nan lembut menyapa penciumanku. Aku geleng cepat. "Enggak Tante. Lagi diet." Dia ketawa kecil. "Diet cilok? Baru denger aku." Tanpa permisi, dia ambil 1 tusuk cilok dari bungkusan di tanganku. Nyicip. "Enak juga." Aku hanya terpelongo dengan aksinya. Seakan tak percaya apa yang barusan terjadi. Hening. Terus dia ngomong pelan. "Kamu temenin Tante yuk." Aku kaget. Aku memandangnya Lekat-lekat. Tengah malam, wanita cantik yang mengajak untuk menemani nya, aneh. Lalu aku cuma ngomong karena terkejut, "Hah? Temenin kemana Tante?" "Aku kesepian. Bayarnya ya cilok tadi. Gimana?.” Antara terkejut dan penasaran. Entah apa maksud tante ini sebenarnya. Tapi…baiklah, aku coba meladeni kemauan Tante ini. "Tapi ngobrolnya dimana Tante? Warung kopi?" Dia tersenyum dengan kepolosanku. Tante itu melirik dari atas sampai bawah. Seakan-akan berkata bahwa begitu polosnya aku berkata demikian. "Warung kopi sudah tutup, Sayang. Ke hotel aja. Lebih tenang. Gak ada yang ganggu." “Ke hotel??, berdua??... Ah.. Nggak mau… makasih Tan, aku pulang.” Aku melangkah cepat ingin meninggalkannya. Tapi dia kemudian memanggilku. “Tunggu!!.” Aku berhenti sejenak. Langkah kaki menyusul setengah berlari dengan kakinya yang jenjang. Hembusan angin yang menerpa gaunnya, menyibakkan betisnya yang halus dan mulus. Dan aku, melihat itu semua. Apalagi saat berlarian, gaun model “V” rendah membuat gundukan di balik blouse nya ikut berguncang. Aku menelan ludah. “Dengar, Aku ngajak kamu nemani karena Aku butuh teman ngobrol. Aku lagi kesepian. Dan biar relax aku pengen kita ngobrol di hotel. Clear?.” Aku menatap kembali wajahnya. Wajah kesepian. Di Balik bola mata nya tersimpan duka dan masalah. Dia kayaknya jujur dan tak ada salahnya aku menemani nya. Begitulah batin dan pikiranku saling membenarkan ucapan si tante itu. “Tante nggak macem-macem kan.?” “Suer la kewer-kewer. Aku nggak macem-macem sama kamu, cukup satu macam aja.” Sejenak aku ragu. Tapi rasa penasaran membuatku ikut melangkah ke seberang jalan, menuju Civic merah yang terparkir, tempat dimana pandangan mata kami beradu tadi. “Yuk, masuk.” Aku manut kayak kerbau cucuk hidung. Aroma parfum mobil yang menyegarkan, membuat aku mencicipi sejenak kesegaran di dalamnya. “Depan aja, biar enak ngobrolnya.” Aku kembali menutup pintu belakang dan beralih disampingnya. Tentunya aku gugup, apalagi gaun lengan terbuka dan aroma tubuhnya yang menggoda membuat aku kikuk. Untuk menormalkan suasana, kuberanikan diri bertanya. “Tante dari mana dan mau kemana?.” Dia menoleh sesaat, lalu kembali fokus melihat depan. “Aku lagi sumpek nih. Bosen nggak ada kesibukan. Suami juga lagi dinas. Makanya cari suasana agar nggak sumpek.” "Sibuk banget ya suami Tante?" tanyaku iseng. Dia nengok. Tatapannya kosong. "Sibuk. Katanya keluar kota terus. Rapat. Bisnis." "Terus Tante di rumah sendirian?" "Iya." Dia ketawa getir. "Rumah gede. Dingin. Sepi." Aku diem. Mulai ngerti. Ini bukan soal ngobrol. Sampai Hotel Bintang lima. Dia memarkirkan mobil di parkiran hotel. Lalu bersama keluar menuju meja resepsionis. Mas resepsionis melirik dari atas sampai bawah. "203. 1 bed," kata Tante Bianca. "Lho Bu, 1 bed?" "Iya. Dia keponakan saya." Dia langsung ngerangkul aku. Aku kaku kayak patung. Hanya tertegun dengan pengakuan tante tadi dan sikapnya yang santai merangkul aku. Aneh Kamar dingin. Sprei putih bersih. Bau pewangi. Tante Bianca langsung lepas heels. Duduk di ranjang. Aku duduk di kursi pojokan. "Kenalan dulu. Aku Bianca. Panggil Tante Bian aja." Aku salim. M. Choki Tante. Panggil Macho." "Nama bagus. Macho. Cocok sama badannya," katanya sambil ngelirik dari atas ke bawah. Aku nunduk. Salah tingkah. "Jadi Tante kesepian kenapa?" tanyaku memberanikan diri. Sesaat dia menoleh aku dan memandang erat-erat. Lalu tertawa kecil. Bukan tertawa lucu, lebih mirip tertawa atas penderitaannya. Aku bisa membedakan antara tertawa senang dan lucu atau tertawa menutupi getir dan gelisahnya perasaan si tante. Dia tiduran, menatap langit-langit. "Suami Tante sibuk. Seminggu pulang sekali. Katanya kerja. Tapi Tante tau... dia pasti ada perempuan lain." Suaranya datar. Tapi ada perih di situ. "Terus ngajak aku kesini..." "Kamu beda, Macho. Dari mata kamu kelihatan capek. Capek jadi orang susah, ya? Tante juga capek. Capek tidur sendirian di ranjang dingin." Aku diem. Karena bener. "Iya Tante. Capek. Capek ditolak karena gak punya apa-apa. Capek kerja 8 jam cuma dapat 32 ribu." Tante Bianca duduk di sebelahku. Wangi parfumnya nusuk. "Mau minum? Biar rileks." Aku mencium aroma alkohol dan minuman berkelas. Aku menolak. "Gak Tante. Aku gak bisa minum." HP dia bunyi. Nama: SUAMI. Dia liat. Terus reject. Buang HP ke meja. "Lihat? Gak pernah nanya udah makan. Taunya transfer doang," bisiknya. Terus dia deketin wajahnya. Jarak sejengkal. "Gimana kalau Tante bayar kamu 500 ribu? Temenin Tante semalaman. Ngobrol aja. Ngangenin." 500 ribu. Bisa buat bayar kos 1 bulan. Tanganku gemetar. "Gak Tante. Aku pulang aja." Aku berdiri ke arah pintu. "Macho," dia manggil. Aku berhenti. "Kalau kamu keluar sekarang, besok kamu tetap susah. Lusa juga. Tapi kalau kamu tetap di sini... Tante bisa bantu kamu. Beneran. Tante butuh ditemenin." Pintu udah kebuka dikit. Angin masuk. Dari belakang dia berbisik di kupingku. Nafasnya hangat. "Pilih, Macho. Jadi anak baik yang miskin... atau jadi anak pintar yang dibayar buat ngusir dingin di ranjang Tante?" Aku nengok. Jarak kami mepet banget. Mata dia merah. Bukan karena nangis. Karena nahan. "Tante... maksudnya apa?" tanyaku pelan. Dia senyum. Cantik. Tapi rapuh. "Kamu tau, Macho. Kamu cuma pura-pura gak tau aja." Aku tercekat. Antara tawaran yang menggiurkan dan kenyataan hidup yang menggetirkan. Aku yatim. Gak ada yang nolongin. Kalau nolak, besok makan apa. Kalau iya, aku jadi apa. Pelakor? Penghibur? Tuhan... ini ujian apa jebakan sih? HP Tante Bianca getar lagi di meja. Nama yang sama. SUAMI. Dia gak angkat. Matanya tetap ke aku. "Jadi gimana? Pintu... atau Tante?" Handle pintu dingin di tangan kananku. Di belakangku, Tante Bianca panas. Dan kesepian. ---Labis ang kaligayahan ng buong pamilya Perez nang maisilang na ang bunsong anak nina Berina at Semir. Pinangalanan nila itong Aliah—sinunod sa pangalan ni Dahlia. "Napakagandang bata! Manang mana sa 'yo, Berina!" papuring bulong ni Dahlia habang tinitignan ang kaniyang pamangkin na natutulog sa crib. "Iyon nga ang sinabi ng dalawa kong anak e. Ayaw maniwala ni Semir. Ang akala niya, niloloko namin siya. Halata namang sa 'kin magmamana ng kagandahan ang mga babae kong anak, 'di ba??" bulong din niya sa 'kin. Nakatitig si Dahlia sa mukha ng bata. Magkahalong tuwa at sabik ang nararamdaman niya dahil tahimik siyang naghahangad na magkaroon ng sarili niyang anak. Hindi niya alam kung magkakaroon pa ba siya nito ngayo't malapit na siyang magkuwarenta. "Sandali lang at may kailangan akong tawagan. Baka mamaya, may kailangan sa 'kin sa shop," paalam ni Dahlia bago siya lumabas ng silid. Kinuha niya ang kaniyang phone mula sa bulsa at tinawagan ang manager ng bakery shop na kaniyang ti
Thank you so much, guys, for reading Teacher Dahlia. Soon, I'll publish "Teacher Dahlia 2: Pagsasanay sa Pag-ibig at Giyera" You can also read my other stories: > Playing With My Boss > He's Her Nightmare > Loving The Tarvande And more that are soon to be published here on GOODNOVEL! I hope, I see you soon, guys! Love you all!
Huminga nang malalim habang dinadama ni Dahlia ang sariwang hangin. Ito ay matapos niyang sunugin ang mga bagay na nakapagbibigay lang ng masasakit at magugulong ala-ala sa nakalipas ng kaniyang buhay. “Mama,” sambit ng isang boses ng binatilyo na nasa likuran niya. Unti-unti niyang idinilat ang kaniyang mga mata at tinignan ‘yon. Lumapit siya sa lalaking ito at hinaplos ang kaniyang buhok. “Kakain na po tayo. Nand’yan na po sina tita Berina at tito Semir.” “Sige, Met, susunod ako,” tugon ni Dahlia sa kaniyang anak. Nauna namang umalis ang binata para asikasuhin ang kanilang handa. Sampung taon ang lumipas matapos ang pagkamatay ni Bernard, kinupkop ni Dahlia si MetMet at itinuring ito na parang isang tunay na anak. Mag-isa niya itong pinalaki at pinag-aral habang nakaalalay sa kaniya ang kaniyang mga mahal sa buhay. Umalis na rin siya sa pagiging guro at nabigla pa ito nang makuha niya ang kaniyang pera na galing sa pamana ng amang si Gregorio. Sumunod din kalaunan si Dahlia a
Nag-aagawan ng lakas habang pinag-aagawan nina Bernard at Armano ang baril. Dahil ramdam pa rin ng binata ang kaniyang panghihina, napapaatras na lang siya at nabababa ang kaniyang kamay ngunit nagpipilit pa rin siyang lumaban. Ilang sandali lang nang mabilis na tinadyakan ni Armano ang binatilyo sa tiyan nito kaya't tuluyan na niyang nakuha ang kaniyang baril. Mabilis niya 'yong itinutok kay Bernard na dinadaing ang katawan dahil sa sakit."Pinahirapan mo pa akong g*go ka. Wala kang laban sa 'kin!" sigaw nito kay Bernard saka inipit ang ulo nito sa pader gamit ang paa niya."D-Dahlia, umalis ka na," sambit ni Bernard nang masilayan niya kahit sa malabong pigura si Dahlia. Samantala, mariing kinagat ng dalaga ang kaniyang labi sa labis na poot kay Armano."H'wag ka nang mandamay, Armano. Ako ang kailangan mo, hindi ba? Ako ang patayin mo," sabi nito habang animo'y nauutal-utal na dahil napapaluha na ito sa kalagayan ni Bernard. Mabilis na lang siyang sumenyas nang maramdaman niyang pa
Naglalakad habang pinipilit ni Dahlia ang sarili dahil sa natamo niyang sugat. Gusto siyang alalayan ng dalawa ngunit hindi niya hinahayaan ang mga ito. Wala silang naging choice kundi ang makpagbakbakan sa mga pulis. Natakasan naman nila ang mga tauhan ni Armano Imperial kaya't dali-dali silang pu
"Pinaliwanag na rin sa 'kin ni Semir. Hindi lang ako makapaniwala na kapatid ka nila, Dahlia. At mismong si sir Armano Imperial pa ang gusto ninyong puksain. Pero ang bagay na hindi ko rin halos mapaniwalaan, alam mo pa lang gumamit ng baril at makipaglaban, Dahlia. Nakakapanibago lang nang makita
Nang maihatid naman ni Abella ang kaniyang anak na si Sonia, kasunod si Semir sa play room nila, kaagad siyang nagtungo sa kinaroroonan ng kanilang telepono. Tumingin-tingin pa siya sa paligid baka biglang umakyat ang kaniyang asawang si Gregorio. Nang makasiguro, kaagad dinial ang numero ni Arma
Nang mawala na ang mga putukan ng baril mula sa labas, unti-unti nang tinanggal ni Dahlia ang mga kamay niya sa pagkakatakip mula sa kaniyang tainga. Gusto niyang tignan kung ano ang nangyari. Gusto niyang makita ang kaniyang ama kung napaano ito.Unti-unti niyang binuksan ang cabinet na tinataguan












Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
reviews