Masuk"Ya Tuhan.."
Satria terperangah dengan bahu yang merosot pelan. Semua orang yang di dalam kelas sampai tertawa terbahak-bahak akibat kehadiran perempuan satu ini. Siapa lagi kalau bukan si Cegil! Entah setan apa yang masuk ke dalam tubuh Cegil. Dalam semalam penampilan perempuan itu berubah. Yang kemarin terlihat seperti anak punk dengan penampilan berantakannya, kini dia berubah menjadi perempuan tulen. Iya. Perempuan tulen! Cegil menggunakan dress panjang dengan rok selutut. Belum lagi rambut yang biasanya di cepol sembarangan kini terurai panjang. Disisir rapi dengan jepitan pita manis yang ada di tepi rambutnya. Belum lagi gaya jalannya melenggak-lenggok seperti mengingatkan akan seseorang. "Astaga, Cegil! Itu kamu???" Reza terpingkal-pingkal dengan memegang perutnya. Cecil berjalan tersenyum mendekati Satria. Ia pun memamerkan dressnya yang memiliki rok lebar. "Gimana penampilan aku, cantik nggak?" Tanyanya dengan mata berbinar. Satria menatap dari atas ke bawah dengan ekspresi jijik. Lihatlah perempuan ini begitu percaya diri berpose bak model di hadapannya. "Kamu bertanya padaku?" Satria menunjuk dirinya dengan balasan anggukan dari Cecil. "Ya ampun! Mau kamu pakai baju bidadari pun masih tak bisa menyelamatkan wajahmu! Pergi sana! Muak sekali aku padamu!" Bentak Satria kesal. Cecil mengerucutkan bibirnya seakan merajuk dengan ucapan Satria. Ia pun memilih kursi dan duduk di depan idamannya. "Pindah! Jangan duduk di depanku!" Satria menendang sedikit kursi yang ditempati Cecil hingga wanita itu sedikit terdorong ke depan. Cecil menoleh dan menatap manja hingga membuat Satria jengah. Setelah itu dia maju dan duduk di kursi dua depan dari pria tersebut. Tak lama ada Sofia yang masuk ke kelas dengan ekspresi terkejut. Melihat itu, Laras yang menjadi temannya pun tak tahan untuk tidak tertawa. "Si Cegil lagi cosplay. Eh!" Laras kaget ketika menyadari jika penampilan Sofia mirip dengan Cecil. "Kayaknya kamu punya fans deh, Sofia!" "Maksudnya?" Tanya Sofia tak mengerti. "Lihat penampilannya Cegil! Kayaknya dia menirumu!" Mata Sofia lalu teradu pada Cecil yang sedang duduk manis dan membuka buku catatannya. Dari dress yang ia pakai, lalu rambut terurai dengan jepitan pita serta gaya duduk itu mirip sekali dengannya. "Kamu meniruku, ya?" Tanya Sofia marah dan sontak mendekati Cecil. Cecil menatap dengan bingung tapi ia yang tak perduli memilih menyibukkan diri dengan buku catatannya. "Heh! Kalau orang tanya itu dijawab!" Bentak Sofia. "Kamu ngomong apa sih? Aku nggak ngerti." "Dasar cewek gila! Apa sih maumu??? Berhenti meniru gayaku!" Sofia menarik rambut Cecil hingga perempuan ini menjerit. Melihat kehebohan yang terjadi, Satria dan lainnya bangun dari tempat duduk dan melerai pertengkaran keduanya. "Stop, Sofia!" Satria mengambil kedua tangan pacarnya yang tengah menjambak rambut Cecil. "Sayang lihat Cegil berusaha meniruku!" Ucap Sofia mengadu dengan wajah yang merah padam. Sekarang tatapan Satria beralih pada wanita ini. Ia pun menyadari jika penampilan Cecil kali ini sama persis dengan pacar barunya. "Kamu sengaja ngelakuin ini, kan?" Selidik Satria. "Nggak, kok!" Jawab Cecil cepat. "Alaaah bohong! Dia itu pasti niru Sofia. Sok cantik banget sih, loe! Ngaca dong!" Hardik Laras yang mendapatkan dukungan dari teman-temannya yang lain. Mereka bahkan bersorak menghina dan mengolok-ngolok perempuan gila yang terobsesi dengan pria tampan bernama Satria ini. Sedangkan Cecil sendiri bak tersesat. Dia menatap bingung teman-teman yang sedang menunjuk-nunjuk dirinya. Dasar edan! "Huuuu!! Dasar peniru!" Ejek mereka tiada henti. Laras mengambil kertas dari bukunya dan merobeknya. Kertas itu ia remukan dan dibuat seperti gumpalan. Tak sampai disana, gumpalan kertas tersebut dilemparkan hingga mengenai kepala Cecil. Teman-teman yang melihat itu semakin tertawa keras. Bukannya melerai sikap usil Laras, mereka malah mencontoh dan melempari Cecil dengan gumpalan kertas yang lain. Cecil yang dihina pun memilih tertunduk setelah dilempari oleh teman-temannya. Satria menarik bibir dan tersenyum miring. Puas sekali hatinya melihat Cecil menjadi bulan-bulan dari mereka. Nah, Sekarang dia punya ide untuk mengerjai perempuan ini. Hmm.. siapa suruh melawan Satria, hah! Maka dia akan memberikan pengalaman yang tak terlupakan bagi perempuan itu.Cecil terperangah, merenungi ucapan Satria barusan. Pria itu meminta Cecil bekerja disini dengan santainya."Dia menginginkanku bekerja disini?" Dalam hati Cecil bersorak. Apakah ini sebuah petanda semesta merestui hubungan keduanya? Ah, kalau begitu Cecil tak akan menyiakan kesempatan. Ia pun segera menjawab ya untuk lamaran ini.Sedangkan Satria menggelengkan kepalanya. Padahal tadi dia mau marah karena perempuan itu sembarangan menyentuhnya. Tapi.."Ah, perempuan gila itu pasti mengambil kesempatan semalam!" Satria kembali kesal. Tapi anehnya dia tak bisa marah. Kenapa?Apa mungkin karena Cecil yang begitu piawai mengurus pekerjaan rumah tangga. Cih! Satria terkekeh. Memang tepat ide gilanya tadi mempekerjakan Cegil itu di apartementnya. Perempuan itu kan pelayan! Jadi sewajarnya saja jika Satria menyuruhnya seperti itu.Setidaknya ini memberikan tembok tegas bahwa Cecil tak akan pernah menyentuh Satria. Pria ini berkualitas mahal, jelas tak mau berhubungan dengan wanita sembaranga
Sinar mentari menembus jendela yang tak tersibak dengan tirai. Mengganggu Satria yang tengah tertidur lelap.Pria ini mengerjap beberapa kali, ketika berhasil membuka mata yang ia rasakan adalah sakit kepala hebat. Dunianya seakan berputar."Ah.." Satria memegang kepalanya. Ia mengusap kedua matanya dengan jari dan membuka mata perlahan. "Sial!"Bisa-bisanya Satria mengumpat. Hanya karena melihat dunia di depan sana yang terang benderang ia jadi marah.Eh.. tapi tunggu dulu! Dimana ini? Kenapa Satria merasa tak asing??Satria lantas terbangun dari tidurnya dan menyadari jika dia di kamar apartement miliknya. Astaga! Karena mabuk semalam Satria tak sadar lagi kemana dia akan dibawa. Oh.. apa mungkin sopir taksi yang semalam membawanya kemari? Ngngng.. Bisa jadi.Satria mengusap tubuhnya. Mantel abu yang berat itu telah terlepas begitu juga dengan sepatu sport yang ia pakai.Yang tersisa adalah kemeja biru langit dan jeans yang ia pakai."Kamu udah bangun, Satria?"Satria terkesiap akan
"Kupikir kamu bakal berhenti kerja disini setelah tamat kuliah, Cil!" Rafi terkekeh. Dilihatnya Cecil yang sibuk membereskan meja makan di restoran cepat saji ini."Selagi belum mendapat pekerjaan yang lebih baik aku akan tetap bekerja disini kok, kak." Sahut Cecil. "Udah melamar ke perusahaan mana aja?""Baru satu perusahaan, besok aku akan sebar lamaran lagi. Kali aja ada yang mau menerimaku."Orang mungkin berpikir perjuangan saat kuliah itu berat, oh belum tentu.. nyatanya masih banyak yang berjuang untuk mencari pekerjaan setelah resmi mendapatkan gelar sarjana.Ya, seperti Cecil ini.Sudah dua bulan ia berkelana menyebarkan lamaran ke berbagai perusahaan. Tapi belum ada juga yang mau menerima pinangannya.Apalagi Cecil seorang fresh graduated, biasanya perusahaan akan berpikir dua kali untuk mempekerjakan karyawan tanpa pengalaman.Siang ini seperti biasa Cecil bekerja. Tepat pada hari minggu. Walau sebenarnya hari ini dia libur tapi Cecil memutuskan untuk bekerja demi mencari
"Ku akui kamu memang playboy cap kapak, Sat!" Gior memberikan dua jempolnya.Baru bertemu di auditorium saat wisuda, Satria sudah bisa menancapkan panah asmaranya ke perempuan yang baru. Satria yang dijuluki seperti itu hanya tersenyum. Matanya tak henti menatap Cecil yang sejak tadi tertegun disana memandanginya."Jangan panggil aku Satria jika tidak bisa menaklukan wanita!" Ucap Satria dengan bangganya."Anak nakal!""Aduh!" Satria mengaduh ketika kepalanya di pukul. Ketika ia ingin membalas, ia terkejut ketika ibunya lah yang berdiri di belakangnya. "Mama!""Ngapain kamu tadi mencium-cium perempuan? Masih belum berubah juga kamu rupanya!" Dian memukul lagi anaknya dengan gemas.Dior, Reza dan Pras yang melihat temannya di terkam hewan buas langsung kabur begitu saja."Cukup, ma! Aku malu!" Teriak Satria melindungi dirinya dari pukulan Dian."Harusnya kamu bersyukur bisa lulus tepat waktu, Satria! Hentikan main-main dan fokus sekarang. Kamu harus cari pekerjaan.""Iya, ma." Satria
Tidak tahu sudah berapa malam terlewati, malam ini Satria kembali mendapatkan kesadarannya.Kepala ini begitu sakit nan berat, sekujur tubuh ini terasa remuk. Namun ada satu lagi yang membuatnya sakit, yaitu omelan dari ibunya.Astaga! Satria baru saja sadar dari koma tapi ia sudah disambut oleh semburan ibunya."Mama.." panggil Satria lemah."Syukurlah kalau sudah sadar. Mama pikir tadi sudah kehilangan putra mama!" Ketus Dian."Mama ini!" Satria jadi ingin merajuk."Apa yang kamu lakuin, hah? Mama sibuk kerja diluar negeri tapi kamu malah sibuk bernakal-nakal disini!" Dian mencubit lengan putranya dengan gemas. "Kamu ikut balap liar dan sibuk pacaran! Dasar nakal!"Satria tersentak. Ia baru teringat kejadian yang membuatnya sampai terkapar seperti ini.Malam naas itu, ia mendapatkan pacar baru. Sebuah hadiah taruhan dari balap liarnya dengan pria berandalan.Dan saat dia memutar motornya keluar dari stadion, ia melihat dua mobil polisi sedang mengejar mereka.Satria yang panik berus
"Kamu nggak kerja semalem?"Cecil bangun kesiangan pagi ini. Semalaman ia tak bisa tidur karena menangis. Apalagi suara laknat dari kamar sebelah yang bersahutan membuat telinganya semakin sakit.Tapi ada satu lagi yang lebih perih, yaitu hatinya. Sudah berbelas tahun Cecil tinggal di rumah ini bersama ibunya yang bekerja sebagai PSK. Dan selama itu pula dia harus menahan hatinya karena banyak pria asing yang bergiliran memakai ibunya.Jika ditegur, maka ibunya yang bernama Ana ini akan mengamuk. Memaki bahkan menyiksa fisiknya.Cecil sudah berusaha melarikan diri, bahkan berusaha untuk melenyapkan dirinya. Namun sepanjang itu juga Ana berhasil mendapatkannya."Nggak." Sahut Cecil datar. "Sarapan!" Ana menunjuk sepiring nasi melalui dagunya. Ia sendiri duduk di kursi makan. Tengah menghisap nikotinnya."Mau sampai kapan mama terus begini?" Tanya Cecil letih. "Mama sudah tua, tapi mama nggak mau juga bertaubat.""Ya ampun!" Ana tergelak. "Tahu apa kamu soal dosa, hah? Kamu cuma anak k







