Masuk
"Minggir!" Bentak Satria tak sabar. "Aku hampir kehabisan nafas!"
Cecilia menggeser sedikit tempat duduknya sambil tersenyum-senyum sendiri. Dia suka sekali menjahili pria ini. Si tampan yang mirip ksatria di jenderal perang. Jika sang ksatria di dalam film suka membawa pedang dengan mengendarai kuda putihnya. Maka si tampan bernama Satria ini cukup menunjukkan wajah yang bisa membuat perempuan tergila-gila. Satria mendengkus kesal sembari mendelik tajam ke arah Cecil. Apa kepala wanita ini terbuat dari batu? Kenapa keras sekali! Padahal sudah berulang kali Satria menolaknya tapi masih juga Cecilia mendekatinya. Ah, Cecil memang harus dipuji karena keberaniannya. Atau mungkin karena kegilaannya? Sial, Memang dasar tidak tahu malu! Mendengar kemarahan Satria barusan memancing gelak tawa para mahasiswa lainnya. Betapa tidak? Mereka tengah belajar statistika. Mata kuliah yang paling dibenci sejagad raya. Oleh karena mata ajar yang sulit, mereka diminta membuat beberapa kelompok untuk memecahkan masalah yang rumit. Dan seperti biasa, Cecil akan mencari celah untuk menempel pada Satria. "Lihat si Cegil! Masih aja usaha mau deketin Satria!" Ujar Laras terkikik geli dari meja depan. Nama Cecil seringkali dipelesetkan menjadi Cegil. Bukannya tersinggung, Cegil ini bersikap biasa saja. Diejek oleh teman-temannya sudah menjadi makanannya selama 3 tahun terakhir berkuliah, jadi ya santai saja. "Pak!" Seru Satria mengangkat tangan pada dosen yang sedang mengajar di depan. "Kenapa Satria?" "Saya nggak mau satu kelompok dengan Cecil!" Ucap Satria memandang jijik. "Loh kenapa? Kan tadi kita sudah membagi rata anggota kelompoknya." "Ganti saja sama yang lain, pak! Badan cewek ini bau! Kami jadi nggak konsen ngerjain tugas!" Gelak tawa terdengar seantero kelas. Mereka pun kemudian ikut mengolok-ngolok Cecil. Sedangkan perempuan itu hanya menyunggingkan senyuman. Dasar aneh! "Sudah, diam!" Dosen pria ini menatap tajam. "Kerjakan tugas kalian dan jangan banyak permintaan!" Satria hanya bisa berpasrah kalau sudah begitu. Ia melirik Cegil yang tersenyum senang setelah permintaan pria idamannya ditolak. Ia lalu mendekatkan kursinya lagi pada Satria. "Jauh sedikit!" Bentak Satria kesal. "Badanmu bau telur busuk!" Cecil mana perduli. Dia memang menjauhkan kursinya, tapi bobot tubuh ini didekatkannya pada Satria. Pria ini pun harus menahan emosinya selama 90 menit ke depan. Untunglah kelompok Satria bisa mengerjakan tugas lebih cepat. Bisa dibilang mereka beruntung karena ada Cecil. Walaupun dia Cegil, tapi otaknya encer. Buktinya sudah 3 tahun ini di diperalat Satria mengerjakan tugas kuliah dan selama itu juga Cegil tak pernah memprotes. Selesai dengan perkuliahan, Satria buru-buru meninggalkan kelas dan menarik tangan Sofia. Perempuan dadakan yang baru dikencaninya seama 5 hari ini. "Mau kemana?" Tanya Sofia jadi tersipu malu setelah tangannya di pegang oleh pria idaman. "Aku kelaparan, kita ke kantin!" Jawabnya terburu-buru. Keduanya lalu bergegas meninggalkan kelas. "Cieeee!" Sorak yang lain kembali menggaung di udara. Mereka bahkan tertawa dan bertepuk tangan. Sofia si cantik dan menjadi incaran banyak pria kini jatuh pada kumbang jantan bernama Satria. Si gagah yang terkenal playboy karena sering kali terbang dari satu putik ke putik yang lain. Dalam 6 bulan ini saja Satria sudah 3 kali berganti pacar. Nah, hitung saja sendiri kalau begitu. Ssmentara, Cecil hanya bisa menatap kepergian dua orang itu dengan datar. Tanpa ekspresi seperti biasa. Di bibirnya mengulum senyum, seakan tak sakit hati melihat pria yang ia sukai menjalin kasih dengan hubungan yang lain. "Kasihan banget si Cegil. Untuk kesekian kalinya kamu patah hati!" Ejek Laras yang membuat semua orang tertawa. Sadar diri saja, Cecil. Jika dibanding Satria, dia bahkan tak bisa menyentuh ujung kukunya.. Satria dari keluarga terpandang dengan masa depan yang jelas. Sementara Cecil.. astaga lihatlah penampilannya. Rambut yang acak-acakan dikuncir satu, lalu jaket jeans yang dipadu padankan dengan celana loreng-loreng. Ah, benar-benar bukan tipe kesukaan para pria. Setelah menjalani waktu yang menyenangkan bersama Sofia, Satria menceritakan betapa cantiknya perempuan itu di hadapan teman-temannya. Mumpung jam kuliah belum dimulai, Satria berkumpul bersama teman satu geng motornya. Ada Reza, Pras dan juga Gior. "Udah ngapain aja sama Sofia?" Tanya Gior terkikik. Dia tahu jika temannya ini bajingan. Tak ada perempuan yang mulus dilewatkannya begitu saja. Mendengar itu, Satria tersenyum. "Sesuai yang kalian bayangkan. Sofia mulus banget! Masih perawan lagi!" "Wow keren banget kamu bisa membuat dia takluk!" Sahut Pras takjub. Dia sudah lama mengincar Sofia, tapi cintanya selalu gagal diterima. "Ya, dong. Jangan panggil aku Satria kalau nggak bisa menaklukan cewek cantik!" Sahut Satria bangga. Pria ini terus memamerkan senyum patennya sembari menceritakan kejadian menyenangkan semalam dengan kekasih barunya. Termasuk hal-hal yang harusnya menjadi rahasia pribadi malah ikut dimakan oleh teman-temannya. Saat sedang asyik bercengkrama, Reza terperangah dengan mahasiswi yang baru saja masuk. Si angsa hitam yang baru saja berubah warna menjadi bebek putih. "Sat! Lihat tuh!" Reza menyenggol lengan Satria dengan sikunya. Satria pun menatap ke arah Reza memandang, tepatnya dimana seorang perempuan yang baru saja tiba dan berjalan mendekat padanya. "Astaga.. dasar gi-la!" Satria mengumpat.Cecil terperangah, merenungi ucapan Satria barusan. Pria itu meminta Cecil bekerja disini dengan santainya."Dia menginginkanku bekerja disini?" Dalam hati Cecil bersorak. Apakah ini sebuah petanda semesta merestui hubungan keduanya? Ah, kalau begitu Cecil tak akan menyiakan kesempatan. Ia pun segera menjawab ya untuk lamaran ini.Sedangkan Satria menggelengkan kepalanya. Padahal tadi dia mau marah karena perempuan itu sembarangan menyentuhnya. Tapi.."Ah, perempuan gila itu pasti mengambil kesempatan semalam!" Satria kembali kesal. Tapi anehnya dia tak bisa marah. Kenapa?Apa mungkin karena Cecil yang begitu piawai mengurus pekerjaan rumah tangga. Cih! Satria terkekeh. Memang tepat ide gilanya tadi mempekerjakan Cegil itu di apartementnya. Perempuan itu kan pelayan! Jadi sewajarnya saja jika Satria menyuruhnya seperti itu.Setidaknya ini memberikan tembok tegas bahwa Cecil tak akan pernah menyentuh Satria. Pria ini berkualitas mahal, jelas tak mau berhubungan dengan wanita sembaranga
Sinar mentari menembus jendela yang tak tersibak dengan tirai. Mengganggu Satria yang tengah tertidur lelap.Pria ini mengerjap beberapa kali, ketika berhasil membuka mata yang ia rasakan adalah sakit kepala hebat. Dunianya seakan berputar."Ah.." Satria memegang kepalanya. Ia mengusap kedua matanya dengan jari dan membuka mata perlahan. "Sial!"Bisa-bisanya Satria mengumpat. Hanya karena melihat dunia di depan sana yang terang benderang ia jadi marah.Eh.. tapi tunggu dulu! Dimana ini? Kenapa Satria merasa tak asing??Satria lantas terbangun dari tidurnya dan menyadari jika dia di kamar apartement miliknya. Astaga! Karena mabuk semalam Satria tak sadar lagi kemana dia akan dibawa. Oh.. apa mungkin sopir taksi yang semalam membawanya kemari? Ngngng.. Bisa jadi.Satria mengusap tubuhnya. Mantel abu yang berat itu telah terlepas begitu juga dengan sepatu sport yang ia pakai.Yang tersisa adalah kemeja biru langit dan jeans yang ia pakai."Kamu udah bangun, Satria?"Satria terkesiap akan
"Kupikir kamu bakal berhenti kerja disini setelah tamat kuliah, Cil!" Rafi terkekeh. Dilihatnya Cecil yang sibuk membereskan meja makan di restoran cepat saji ini."Selagi belum mendapat pekerjaan yang lebih baik aku akan tetap bekerja disini kok, kak." Sahut Cecil. "Udah melamar ke perusahaan mana aja?""Baru satu perusahaan, besok aku akan sebar lamaran lagi. Kali aja ada yang mau menerimaku."Orang mungkin berpikir perjuangan saat kuliah itu berat, oh belum tentu.. nyatanya masih banyak yang berjuang untuk mencari pekerjaan setelah resmi mendapatkan gelar sarjana.Ya, seperti Cecil ini.Sudah dua bulan ia berkelana menyebarkan lamaran ke berbagai perusahaan. Tapi belum ada juga yang mau menerima pinangannya.Apalagi Cecil seorang fresh graduated, biasanya perusahaan akan berpikir dua kali untuk mempekerjakan karyawan tanpa pengalaman.Siang ini seperti biasa Cecil bekerja. Tepat pada hari minggu. Walau sebenarnya hari ini dia libur tapi Cecil memutuskan untuk bekerja demi mencari
"Ku akui kamu memang playboy cap kapak, Sat!" Gior memberikan dua jempolnya.Baru bertemu di auditorium saat wisuda, Satria sudah bisa menancapkan panah asmaranya ke perempuan yang baru. Satria yang dijuluki seperti itu hanya tersenyum. Matanya tak henti menatap Cecil yang sejak tadi tertegun disana memandanginya."Jangan panggil aku Satria jika tidak bisa menaklukan wanita!" Ucap Satria dengan bangganya."Anak nakal!""Aduh!" Satria mengaduh ketika kepalanya di pukul. Ketika ia ingin membalas, ia terkejut ketika ibunya lah yang berdiri di belakangnya. "Mama!""Ngapain kamu tadi mencium-cium perempuan? Masih belum berubah juga kamu rupanya!" Dian memukul lagi anaknya dengan gemas.Dior, Reza dan Pras yang melihat temannya di terkam hewan buas langsung kabur begitu saja."Cukup, ma! Aku malu!" Teriak Satria melindungi dirinya dari pukulan Dian."Harusnya kamu bersyukur bisa lulus tepat waktu, Satria! Hentikan main-main dan fokus sekarang. Kamu harus cari pekerjaan.""Iya, ma." Satria
Tidak tahu sudah berapa malam terlewati, malam ini Satria kembali mendapatkan kesadarannya.Kepala ini begitu sakit nan berat, sekujur tubuh ini terasa remuk. Namun ada satu lagi yang membuatnya sakit, yaitu omelan dari ibunya.Astaga! Satria baru saja sadar dari koma tapi ia sudah disambut oleh semburan ibunya."Mama.." panggil Satria lemah."Syukurlah kalau sudah sadar. Mama pikir tadi sudah kehilangan putra mama!" Ketus Dian."Mama ini!" Satria jadi ingin merajuk."Apa yang kamu lakuin, hah? Mama sibuk kerja diluar negeri tapi kamu malah sibuk bernakal-nakal disini!" Dian mencubit lengan putranya dengan gemas. "Kamu ikut balap liar dan sibuk pacaran! Dasar nakal!"Satria tersentak. Ia baru teringat kejadian yang membuatnya sampai terkapar seperti ini.Malam naas itu, ia mendapatkan pacar baru. Sebuah hadiah taruhan dari balap liarnya dengan pria berandalan.Dan saat dia memutar motornya keluar dari stadion, ia melihat dua mobil polisi sedang mengejar mereka.Satria yang panik berus
"Kamu nggak kerja semalem?"Cecil bangun kesiangan pagi ini. Semalaman ia tak bisa tidur karena menangis. Apalagi suara laknat dari kamar sebelah yang bersahutan membuat telinganya semakin sakit.Tapi ada satu lagi yang lebih perih, yaitu hatinya. Sudah berbelas tahun Cecil tinggal di rumah ini bersama ibunya yang bekerja sebagai PSK. Dan selama itu pula dia harus menahan hatinya karena banyak pria asing yang bergiliran memakai ibunya.Jika ditegur, maka ibunya yang bernama Ana ini akan mengamuk. Memaki bahkan menyiksa fisiknya.Cecil sudah berusaha melarikan diri, bahkan berusaha untuk melenyapkan dirinya. Namun sepanjang itu juga Ana berhasil mendapatkannya."Nggak." Sahut Cecil datar. "Sarapan!" Ana menunjuk sepiring nasi melalui dagunya. Ia sendiri duduk di kursi makan. Tengah menghisap nikotinnya."Mau sampai kapan mama terus begini?" Tanya Cecil letih. "Mama sudah tua, tapi mama nggak mau juga bertaubat.""Ya ampun!" Ana tergelak. "Tahu apa kamu soal dosa, hah? Kamu cuma anak k







