Masuk"Kamu nggak kerja semalem?"
Cecil bangun kesiangan pagi ini. Semalaman ia tak bisa tidur karena menangis. Apalagi suara laknat dari kamar sebelah yang bersahutan membuat telinganya semakin sakit. Tapi ada satu lagi yang lebih perih, yaitu hatinya. Sudah berbelas tahun Cecil tinggal di rumah ini bersama ibunya yang bekerja sebagai PSK. Dan selama itu pula dia harus menahan hatinya karena banyak pria asing yang bergiliran memakai ibunya. Jika ditegur, maka ibunya yang bernama Ana ini akan mengamuk. Memaki bahkan menyiksa fisiknya. Cecil sudah berusaha melarikan diri, bahkan berusaha untuk melenyapkan dirinya. Namun sepanjang itu juga Ana berhasil mendapatkannya. "Nggak." Sahut Cecil datar. "Sarapan!" Ana menunjuk sepiring nasi melalui dagunya. Ia sendiri duduk di kursi makan. Tengah menghisap nikotinnya. "Mau sampai kapan mama terus begini?" Tanya Cecil letih. "Mama sudah tua, tapi mama nggak mau juga bertaubat." "Ya ampun!" Ana tergelak. "Tahu apa kamu soal dosa, hah? Kamu cuma anak kecil! Lagipula darimana kita bisa makan kalau mama nggak bekerja! Terus siapa juga yang akan membayar kuliahmu ? Mengandalkan gajimu nggak akan cukup!" Cecil tertunduk mendengar ucapan ibunya. Selama ini tepatnya semenjak SMP, Cecil bekerja sendiri. Bekerja serabutan baik di pasar ikut berjualan, mengantar makanan dan yang terakhir sekarang menjadi pramusaji di restoran cepat saji. Semuanya ia lakukan karena ingin mengubah masa depan. Ia tak mau mengikuti jejak ibunya menjadi seorang pelacur. Ia ingin menjadi wanita berpendidikan, bekerja di kantor dan mendapatkan uang yang halal. "Aku keluar dulu." Sahut Cecil. Perempuan ini tak bernafsu makan dari hasil haram ibunya. Ia memilih pergi keluar rumah dan mampir di warteg yang ada di depan lorong. "Udah makan, Lia?" Cecil tersenyum saat ibu pemilik warteg menyapanya. Ia pun duduk di kursi makan. "Belum, bu." "Mau makan apa? Ibu udah masak lauk." Tanyanya perhatian. "Nasi telur aja." Siti mengambil sepiring nasi telur ukuran besar dan menghidangkannya pada Cecil. "Tumben kamu udah pulang jam segini? Biasanya sore karena langsung kuliah." "Aku nggak kerja semalem, bu. Izin karena harus ke rumah teman." Cecil mulai menyantap makanannya. "Pasti kamu berantem lagi sama mamamu." Siti menebak. Cecil tersenyum pahit yang diiringi simpati oleh wanita paruh baya ini. Siti sungguh iba dengan penderitaan yang dialami Cecil sejak kecil. Siti bahkan seringlah menjadi tameng saat Ana mulai kambuh dan melampiaskan kegilaannya pada Cecil. "Kamu makan aja. Ibu mau ke belakang sebentar." Cecil mengangguk dan menyelesaikan makanannya. Setelah itu, ia pergi ke restoran ayam goreng ke tempat dia bekerja. Kebetulan semalam ia izin tak masuk, Cecil pun menggantinya dengan hari ini. Jadwal kerja Cecil dibagi menjadi dua shift, yaitu dari pagi hingga sore, dan selanjutnya sore dan malam. Oleh karena Cecil yang berkuliah di pagi hari, ia sering mengambil jadwal kerja malam hari. Dan kebetulan hari ini libur, ia pun memutuskan untuk bekerja. "Hai, Cecil!" Sapa Rafi dari luar. Cecil sudah mengganti pakaiannya dengan seragam pramusaji. Kemeja berwarna merah dengan rok hitam. Tak lupa dengan celemeknya. "Tumben kamu masuk pagi!" "Iya, kak. Semalem aku ngerjain skripsi." Sahut Cecil. Tangannya tengah lincah mengelap meja makan. "Kamu hebat banget. Aku salut sekali! Kamu bekerja keras untuk menamatkan kuliahmu." "Doakan aku cepat lulus, kak. Biar dapet kerjaan lebih baik dari ini." Ucap Cecil tersenyum tulus. Di tempat kerja ini tak ada yang memanggilnya Cegil. Menyebutnya sebagai perempuan aneh yang suka meniru orang lain. Disini, ia menjadi dirinya sendiri. Cecil yang pendiam dan ramah menyapa orang lain. Tak terasa sudah 8 jam bekerja, Cecil tersenyum ketika mendapatkan pesan dari ponselnya. Rupanya Satria yang meminta untuk bertemu. Ia menyuruh Cecil untuk menyelesaikan proposalnya. "Ke stadion?" Dahi Cecil mengernyit ketika Satria menyuruhnya datang kesana. Seingat Cecil disana tempat arena balap motor. Apa mungkin Satria ada janji dengan temannya? Ah, sudahlah. Bertemu dengan Satria saja sudah cukup mengusir kesedihan di hatinya. Selesai bekerja, Cecil lekas berganti pakaian. Saat dia bercermin, perempuan ini teringat dengan penampilan Viona, kekasih baru Satria. Cecil menarik senyumnya. Rambutnya yang lurus sedikit dibuatnya acak-acakan. Lalu kaos ini ditutupnya dengan jaket hitam. Dan sepatu boots.. oh, Cecil harus mencarinya setelah ini. Tujuannya adalah satu, yaitu meniru gaya Viona. "Dia punya tindik di hidung.." gumam Cecil mengingat. "Apa aku harus menindiknya juga?" Ah, tapi Cecil takut jarum. Bagaimana kalau tindik magnet saja. Ya, sekalian Cecil mencari sepatu maka dia juga akan membeli mainan kecil itu. Sampai di pasar, Cecil kelimpungan karena sepatu boots yang ia cari ternyata harganya mahal. Ia pun terpaksa mencari sepatu yang terjangkau sesuai dengan isi dompetnya. Kemudian, tak jauh dari sana ada penjual aksesoris. Cecil mendapatkan tindikan magnet dan memakainya. Sekali lagi, Cecil bercermin di kaca etalase. Sekarang penampilannya sudah berubah. Yang tadinya pegawai restoran sekarang seperti anak punk. Tanpa melepaskan senyumnya, Cecil pergi ke stadion tempat Satria sudah menunggu. Ia tak sabar melihat reaksi pria idamannya dengan penampilan baru ini. "Cegil datang!" Seru Reza. Di tribun, Satria dan teman satu gengnya tengah mengobrol bersama. Mereka pun tak terkejut dengan kehadiran Cecil yang sekarang meniru orang lain. "Astaga! Dia cosplay siapa lagi sekarang?" Tanya Pras terbahak-bahak. Satria tersenyum sinis. Ikan bernama Cecil ini suka selali menangkap umpannya. "Hai, semua. Hai Satria." Sapa Cecil. "Apa kamu sedang ingin bernyanyi? Kenapa pakaianmu seperti ini?" Tanya Satria remeh. "Oh.. aku hanya suka memakai pakaian kayak gini." Teman-teman Satria benar-benar tak bisa menahan tawa mereka. Alih-alih seperti anak punk, penampilan Cegil ini seperti orang gila. Pas sekali dengan julukannya. "Duduk disini dan kerjakan tugasmu!" Satria mengeluarkan laptop dan memberikannya pada Cecil. "Aku pikir kamu tadi mau mengajaknya berkencan. Rupanya..." Pras sampai menggeleng. "Kalian pikir aku buta? Mana mungkin aku mau dengan perempuan gila!" Sindir Satria. Cecil yang mendengar itu hanya terdiam. Dia duduk di kursi tribun dan menyalakan laptop untuk mengerjakan tugas dari tuan besar. Sementara, Satria bangkit dari duduknya menyambut kedatangan anak-anak lain. Beberapa orang pria yang berpakaian jaket kulit datang membawa helm besar. "Sudah siapkan taruhannya?" Tanya pria yang memiliki tato di tangan. "Sudah. Kita bertanding saja sekarang!" Jawab Satria. Cecil yang tak dianggap hanya bisa melihat teman-teman satu kelasnya meninggalkannya untuk turun ke lapangan. Ternyata benar ingatan Cecil. Ini adalah tempat untuk balap liar. Semua pria yang memakai jaket kulit berdiri di motor besar mereka masing-masing. Satria tersenyum menantang kepada lawannya satu per satu. "Jangan sombong dulu, bung! Anak mami sepertimu nggak akan bisa menang dari kami!" Seru pria bertato yang bernama Alex ini. "Kau ingin uang, kan? Akan aku berikan jika kau menang! Tapi jika kau kalah. Aku ingin wanita yang ada di sebelahmu!" Ucap Satria tersenyum miring. "Hey!" Alex jadi meradang. Malam ini dia memang membawa kekasihnya yang seksi untuk menemaninya. Satria memakai helmnya setelah mengatakan itu. Lima orang yang mengikuti balap motor kini sudah duduk di kuda besi mereka masing-masing. "Kita hitung mundur.." ucap kekasih Alex mengibarkan bendera. "Tiga.. dua.. satu.." Satria mengedipkan matanya pada kekasih Alex dan memacu motornya dengan cepat diikut oleh yang lain. Beberapa orang terpecah menjadi beberapa kubu. Reza terlihat mengumpulkan uang sebagai taruhan malam ini. Cecil melihat sekeliling ketika lima motor itu keluar dari arena. Tak ada Viona disini, tapi perempuan yang menjadi incaran Satria tampak tertawa bersama teman-temannya. 15 menit kemudian suara pekik motor memecah telinga masuk ke arena stadion. Reza bertepuk kegirangan ketika jagoannya berhasil memenangkan pertandingan ini. Satria mengacungkan jari ketika menjadi urutan pertama yang melewati garis finish. Kekasih Alex mendekat dan memberikan pelukan. "Sialan!" Umpat Alex kesal. Dia melempar helmnya begitu saja. "Ella! Lepaskan pria itu!" "Kenapa kau marah? Bukannya kita sudah bertaruh tadi??" Satria tersenyum sinis. "Ambil semua uang itu dan lepaskan kekasihku!" Alex tak terima kekasihnya dijadikan barang taruhan. "Coba kau tanyakan dulu pada kekasihmu." Satria beralih menatap Ella yang ada di sisinya. "Kamu mau ikut dia atau denganku?" Ella tersenyum dan menatap manja. Tak segan lengannya ia lingkarkan pada Satria. "Dengan Satria." "Perempuan brengsek! Kau mengkhianatiku!" Alex meradang. Ia lalu pergi dari arena stadion bersama teman-teman geng motornya. Sementara Reza begitu senang karena mendapatkan uang taruhan yang begitu banyak malam ini. Bagaimana tidak? Satria ini anak orang kaya. Dia tak butuh uang jajan sekecil ini. Satria melingkarkan tangannya di pinggang Ella dan memeluknya erat. Belum ada satu jam, Satria sudah mendapatkan kekasih baru. Benar-benar pesona pria tampan. Cecil yang melihat itu lekas turun dari tribun melalui tangga untuk menemui Satria. Satria yang melihat Cecil mendekat, memundurkan tubuhnya dan membelai wajah Ella. Langkah Cecil terhenti. Disana Satria dengan sengaja mencium bibir wanita lain di hadapannya. "Dasar playboy!" Gerutu Pras. Hebat sekali Satria, belum apa-apa dia sudah berhasil mencium wanita seksi. "Hey, Cegil!" Panggil Satria setelah melepas tautan bibirnya. "Sudah kau kerjakan tugasmu?" "Su-sudah. Aku menaruh laptopmu di dalam tas." "Bagus! Kau bisa pulang! Aku ingin bersenang-senang dengan kekasihku!" Satria mengajak kekasih barunya untuk naik ke atas motor. Bersama teman-temannya, ia keluar dari stadion dan membunyikan knalpot racing yang memekakkan telinga. Cecil menatap kepergian semua orang dengan hampa. Malam ini Satria sengaja mengundangnya untuk melakukan ini. Agar bisa melihat Satria bermesraan dengan wanita lain. Menahan sakit di hatinya, Cecil berjalan menuju keluar stadion. Suara klakson tinggi hingga sirine polisi terdengar membuat Cecil terkesiap. Tapi ada lagi yang membuat perempuan ini terkejut. Terjadi kecelakaan bermotor tak jauh dari area stadion. Dimana geng motor terjatuh saat mencoba melarikan diri dari kejaran polisi.Cecil terperangah, merenungi ucapan Satria barusan. Pria itu meminta Cecil bekerja disini dengan santainya."Dia menginginkanku bekerja disini?" Dalam hati Cecil bersorak. Apakah ini sebuah petanda semesta merestui hubungan keduanya? Ah, kalau begitu Cecil tak akan menyiakan kesempatan. Ia pun segera menjawab ya untuk lamaran ini.Sedangkan Satria menggelengkan kepalanya. Padahal tadi dia mau marah karena perempuan itu sembarangan menyentuhnya. Tapi.."Ah, perempuan gila itu pasti mengambil kesempatan semalam!" Satria kembali kesal. Tapi anehnya dia tak bisa marah. Kenapa?Apa mungkin karena Cecil yang begitu piawai mengurus pekerjaan rumah tangga. Cih! Satria terkekeh. Memang tepat ide gilanya tadi mempekerjakan Cegil itu di apartementnya. Perempuan itu kan pelayan! Jadi sewajarnya saja jika Satria menyuruhnya seperti itu.Setidaknya ini memberikan tembok tegas bahwa Cecil tak akan pernah menyentuh Satria. Pria ini berkualitas mahal, jelas tak mau berhubungan dengan wanita sembaranga
Sinar mentari menembus jendela yang tak tersibak dengan tirai. Mengganggu Satria yang tengah tertidur lelap.Pria ini mengerjap beberapa kali, ketika berhasil membuka mata yang ia rasakan adalah sakit kepala hebat. Dunianya seakan berputar."Ah.." Satria memegang kepalanya. Ia mengusap kedua matanya dengan jari dan membuka mata perlahan. "Sial!"Bisa-bisanya Satria mengumpat. Hanya karena melihat dunia di depan sana yang terang benderang ia jadi marah.Eh.. tapi tunggu dulu! Dimana ini? Kenapa Satria merasa tak asing??Satria lantas terbangun dari tidurnya dan menyadari jika dia di kamar apartement miliknya. Astaga! Karena mabuk semalam Satria tak sadar lagi kemana dia akan dibawa. Oh.. apa mungkin sopir taksi yang semalam membawanya kemari? Ngngng.. Bisa jadi.Satria mengusap tubuhnya. Mantel abu yang berat itu telah terlepas begitu juga dengan sepatu sport yang ia pakai.Yang tersisa adalah kemeja biru langit dan jeans yang ia pakai."Kamu udah bangun, Satria?"Satria terkesiap akan
"Kupikir kamu bakal berhenti kerja disini setelah tamat kuliah, Cil!" Rafi terkekeh. Dilihatnya Cecil yang sibuk membereskan meja makan di restoran cepat saji ini."Selagi belum mendapat pekerjaan yang lebih baik aku akan tetap bekerja disini kok, kak." Sahut Cecil. "Udah melamar ke perusahaan mana aja?""Baru satu perusahaan, besok aku akan sebar lamaran lagi. Kali aja ada yang mau menerimaku."Orang mungkin berpikir perjuangan saat kuliah itu berat, oh belum tentu.. nyatanya masih banyak yang berjuang untuk mencari pekerjaan setelah resmi mendapatkan gelar sarjana.Ya, seperti Cecil ini.Sudah dua bulan ia berkelana menyebarkan lamaran ke berbagai perusahaan. Tapi belum ada juga yang mau menerima pinangannya.Apalagi Cecil seorang fresh graduated, biasanya perusahaan akan berpikir dua kali untuk mempekerjakan karyawan tanpa pengalaman.Siang ini seperti biasa Cecil bekerja. Tepat pada hari minggu. Walau sebenarnya hari ini dia libur tapi Cecil memutuskan untuk bekerja demi mencari
"Ku akui kamu memang playboy cap kapak, Sat!" Gior memberikan dua jempolnya.Baru bertemu di auditorium saat wisuda, Satria sudah bisa menancapkan panah asmaranya ke perempuan yang baru. Satria yang dijuluki seperti itu hanya tersenyum. Matanya tak henti menatap Cecil yang sejak tadi tertegun disana memandanginya."Jangan panggil aku Satria jika tidak bisa menaklukan wanita!" Ucap Satria dengan bangganya."Anak nakal!""Aduh!" Satria mengaduh ketika kepalanya di pukul. Ketika ia ingin membalas, ia terkejut ketika ibunya lah yang berdiri di belakangnya. "Mama!""Ngapain kamu tadi mencium-cium perempuan? Masih belum berubah juga kamu rupanya!" Dian memukul lagi anaknya dengan gemas.Dior, Reza dan Pras yang melihat temannya di terkam hewan buas langsung kabur begitu saja."Cukup, ma! Aku malu!" Teriak Satria melindungi dirinya dari pukulan Dian."Harusnya kamu bersyukur bisa lulus tepat waktu, Satria! Hentikan main-main dan fokus sekarang. Kamu harus cari pekerjaan.""Iya, ma." Satria
Tidak tahu sudah berapa malam terlewati, malam ini Satria kembali mendapatkan kesadarannya.Kepala ini begitu sakit nan berat, sekujur tubuh ini terasa remuk. Namun ada satu lagi yang membuatnya sakit, yaitu omelan dari ibunya.Astaga! Satria baru saja sadar dari koma tapi ia sudah disambut oleh semburan ibunya."Mama.." panggil Satria lemah."Syukurlah kalau sudah sadar. Mama pikir tadi sudah kehilangan putra mama!" Ketus Dian."Mama ini!" Satria jadi ingin merajuk."Apa yang kamu lakuin, hah? Mama sibuk kerja diluar negeri tapi kamu malah sibuk bernakal-nakal disini!" Dian mencubit lengan putranya dengan gemas. "Kamu ikut balap liar dan sibuk pacaran! Dasar nakal!"Satria tersentak. Ia baru teringat kejadian yang membuatnya sampai terkapar seperti ini.Malam naas itu, ia mendapatkan pacar baru. Sebuah hadiah taruhan dari balap liarnya dengan pria berandalan.Dan saat dia memutar motornya keluar dari stadion, ia melihat dua mobil polisi sedang mengejar mereka.Satria yang panik berus
"Kamu nggak kerja semalem?"Cecil bangun kesiangan pagi ini. Semalaman ia tak bisa tidur karena menangis. Apalagi suara laknat dari kamar sebelah yang bersahutan membuat telinganya semakin sakit.Tapi ada satu lagi yang lebih perih, yaitu hatinya. Sudah berbelas tahun Cecil tinggal di rumah ini bersama ibunya yang bekerja sebagai PSK. Dan selama itu pula dia harus menahan hatinya karena banyak pria asing yang bergiliran memakai ibunya.Jika ditegur, maka ibunya yang bernama Ana ini akan mengamuk. Memaki bahkan menyiksa fisiknya.Cecil sudah berusaha melarikan diri, bahkan berusaha untuk melenyapkan dirinya. Namun sepanjang itu juga Ana berhasil mendapatkannya."Nggak." Sahut Cecil datar. "Sarapan!" Ana menunjuk sepiring nasi melalui dagunya. Ia sendiri duduk di kursi makan. Tengah menghisap nikotinnya."Mau sampai kapan mama terus begini?" Tanya Cecil letih. "Mama sudah tua, tapi mama nggak mau juga bertaubat.""Ya ampun!" Ana tergelak. "Tahu apa kamu soal dosa, hah? Kamu cuma anak k







