LOGINTidak tahu sudah berapa malam terlewati, malam ini Satria kembali mendapatkan kesadarannya.
Kepala ini begitu sakit nan berat, sekujur tubuh ini terasa remuk. Namun ada satu lagi yang membuatnya sakit, yaitu omelan dari ibunya. Astaga! Satria baru saja sadar dari koma tapi ia sudah disambut oleh semburan ibunya. "Mama.." panggil Satria lemah. "Syukurlah kalau sudah sadar. Mama pikir tadi sudah kehilangan putra mama!" Ketus Dian. "Mama ini!" Satria jadi ingin merajuk. "Apa yang kamu lakuin, hah? Mama sibuk kerja diluar negeri tapi kamu malah sibuk bernakal-nakal disini!" Dian mencubit lengan putranya dengan gemas. "Kamu ikut balap liar dan sibuk pacaran! Dasar nakal!" Satria tersentak. Ia baru teringat kejadian yang membuatnya sampai terkapar seperti ini. Malam naas itu, ia mendapatkan pacar baru. Sebuah hadiah taruhan dari balap liarnya dengan pria berandalan. Dan saat dia memutar motornya keluar dari stadion, ia melihat dua mobil polisi sedang mengejar mereka. Satria yang panik berusaha mengebut hingga tak bisa mengendalikan kuda besinya. Kecelakaan pun terjadi saat Satria membentur trotoar. "Perempuan itu.. gimana kabarnya?" Satria sampai lupa nama perempuan yang diboncenginya. "Tangan dan kakinya patah. Dan kamu tahu apa? Orang tuanya meminta ganti rugi! Mama mu ini sampai malu setengah mati!" Bagaimana tidak kesal jika punya anak senakal Satria? Harusnya Dian tak percaya dan melepas anaknya hidup sendirian di kota ini. Buktinya dia berubah menjadi anak nakal dan suka bermain-main. Sementara, Satria kembali meringis ketika mendapatkan pukulan di bagian kakinya. Dan ketika dia memalingkan wajah ke tempat lain, Satria menjerit saat melihat seorang perempuan berdiri tak jauh dari ranjangnya. Sedang memandang pertengkaran antara ibu dan anak. "Ka-kamu???" Mata Satria terbelalak. Itu si Cegil, kan? Ah! Kalau Cegil ini Satria tak akan lupa. Bajunya yang kebesaran serta rambut di cepol sembarangan.. hmm.. perempuan berantakan ini si Cegil yang naksir berat padanya. "Ngapain kamu disini?" Hardik Satria. "Heh!" Satu pukulan lagi diberikan oleh Dian. Kali ini dengan mata melotot. "Kamu harus berterima kasih sama temanmu. Karena dia kamu ada disini, atau nggak mungkin kamu sudah mati di jalan!" "Nggak mungkin Cegil menolongku!" "Namanya Cecil!" Lantang Dian. "Kenapa kamu memanggilnya Cegil?" "Aduh, ampun, ma.." jangan sampai Dian marah lagi padanya. Atau bisa jadi Satria mati di tangan ibunya sendiri. Dian lalu beralih pada Cecil. Sorot mata kemarahan tadi berubah menjadi lembut. "Terima kasih ya, nak. Kamu sudah menolong Satria." "Sama-sama, tante." Jawab Cecil sopan. "Tante sudah dengar kalau kalian teman satu kampus. Oh, katanya juga kalian teman satu bimbingan skripsi. Apa tante boleh minta tolong?" "Minta tolong apa, tante?" "Tolong bantu anak tante sampai lulus, ya. Apalagi kalian satu kelompok. Tante paham ini berat sekali untukmu karena Satria ini bodoh. Tapi hanya kamu yang bisa membantunya." Sambung Dian penuh harap. "Baik, tante. Dengan senang hati." Sahut Cecil penuh senyuman. Sementara Satria jadi dongkol karena ulah ibunya. Seolah Satria dijadikan umpan untuk dimakan oleh ikan piranha. Astaga! Mana si Cegil terlihat senyum sendiri. Satria jadi muak! "Dengar pesan mamaku. Kamu harus membantuku sampai lulus!" Ucap Satria ketika Cecil menemuinya di apartement. Sudah satu minggu setelah dirawat, Satria diperbolehkan pulang ke rumah. Dian juga sudah pulang ke Singapore untuk kembali bekerja. Tinggallah Satria yang berjuang sendirian. Sesuai pesan ibunda tercinta, Satria harus menamatkan kuliahnya tepat waktu. Atau seluruh fasilitas akan dicabut darinya. Terpaksa Satria menebalkan wajah. Ia punya ide bagaimana bisa lulus seperti teman-temannya. Apa lagi kalau bukan memanfaatkan Cecilia? Perempuan itu sepertinya tak keberatan. Ia malah senang sekali membantu Satria. Buktinya, ia selalu datang dengan cepat saat Satria memanggilnya. Melakukan apa saja sesuai yang dikehendaki olehnya. Tak perduli jika berapa kali Satria memaki hingga memarahinya tapi Cecil terlihat biasa saja. Apa mungkin perempuan itu mati rasa? Yah.. namanya juga Cewek Gila. Satria hanya memanfaatkan saja. "Besok kamu harus ngadep bu Rosita." Ujar Cecil. "Ngapain???" "Konsul. Masa aku yang konsul, sih? Walaupun aku yang ngerjain skripsimu tapi jangan lupa juga bahwa disini tertulis namamu." "Iya.. iya.." Satria sampai mengorek telinganya. Dia kesal jika bersitatap dengan perempuan ini terus. Tapi keadaan memaksa mereka untuk saling berdekatan. Proses konsultasi bersama dosen galak pun berjalan lancar. Selain ada Cecil di sisinya, bu Rosita ini mengerti jika Satria baru saja kecelakaan. Kepalanya terbentur aspal ya wajar saja jika otak Satria sedikit bergeser. Selama proses skripsi ini, Cecil tetap setia mendamping Satria. Sembari menebalkan hatinya, ia harus kuat mental menghadapi Satria yang sering tantrum. Sampai akhirnya tiba di saat penelitian, Cecil yang mengambil lokasi penelitian yang berbeda tetap berada di samping pria pemarah tersebut. Mengambil alih semua pekerjaan Satria dan menyelesaikannya. Tiba di akhir, Satria dan Cecil mampu menamatkan kuliahnya dengan baik. Satria pun mendapatkan nilai sempurna atas usaha Cecil. Tapi apakah pria ini berterima kasih? Jawabannya tidak! Tepat di perayaaan kelulusan. Disaat semua orang bersuka cita. Cecil yang merasa tenang karena Satria tak menjalin hubungan lagi dengan perempuan jadi terkesiap.. Terang-terangan di depan semua orang yang masih memakai pakaian toga, Satria merengkuh bahu seorang perempuan dan mengecup pipinya.Cecil terperangah, merenungi ucapan Satria barusan. Pria itu meminta Cecil bekerja disini dengan santainya."Dia menginginkanku bekerja disini?" Dalam hati Cecil bersorak. Apakah ini sebuah petanda semesta merestui hubungan keduanya? Ah, kalau begitu Cecil tak akan menyiakan kesempatan. Ia pun segera menjawab ya untuk lamaran ini.Sedangkan Satria menggelengkan kepalanya. Padahal tadi dia mau marah karena perempuan itu sembarangan menyentuhnya. Tapi.."Ah, perempuan gila itu pasti mengambil kesempatan semalam!" Satria kembali kesal. Tapi anehnya dia tak bisa marah. Kenapa?Apa mungkin karena Cecil yang begitu piawai mengurus pekerjaan rumah tangga. Cih! Satria terkekeh. Memang tepat ide gilanya tadi mempekerjakan Cegil itu di apartementnya. Perempuan itu kan pelayan! Jadi sewajarnya saja jika Satria menyuruhnya seperti itu.Setidaknya ini memberikan tembok tegas bahwa Cecil tak akan pernah menyentuh Satria. Pria ini berkualitas mahal, jelas tak mau berhubungan dengan wanita sembaranga
Sinar mentari menembus jendela yang tak tersibak dengan tirai. Mengganggu Satria yang tengah tertidur lelap.Pria ini mengerjap beberapa kali, ketika berhasil membuka mata yang ia rasakan adalah sakit kepala hebat. Dunianya seakan berputar."Ah.." Satria memegang kepalanya. Ia mengusap kedua matanya dengan jari dan membuka mata perlahan. "Sial!"Bisa-bisanya Satria mengumpat. Hanya karena melihat dunia di depan sana yang terang benderang ia jadi marah.Eh.. tapi tunggu dulu! Dimana ini? Kenapa Satria merasa tak asing??Satria lantas terbangun dari tidurnya dan menyadari jika dia di kamar apartement miliknya. Astaga! Karena mabuk semalam Satria tak sadar lagi kemana dia akan dibawa. Oh.. apa mungkin sopir taksi yang semalam membawanya kemari? Ngngng.. Bisa jadi.Satria mengusap tubuhnya. Mantel abu yang berat itu telah terlepas begitu juga dengan sepatu sport yang ia pakai.Yang tersisa adalah kemeja biru langit dan jeans yang ia pakai."Kamu udah bangun, Satria?"Satria terkesiap akan
"Kupikir kamu bakal berhenti kerja disini setelah tamat kuliah, Cil!" Rafi terkekeh. Dilihatnya Cecil yang sibuk membereskan meja makan di restoran cepat saji ini."Selagi belum mendapat pekerjaan yang lebih baik aku akan tetap bekerja disini kok, kak." Sahut Cecil. "Udah melamar ke perusahaan mana aja?""Baru satu perusahaan, besok aku akan sebar lamaran lagi. Kali aja ada yang mau menerimaku."Orang mungkin berpikir perjuangan saat kuliah itu berat, oh belum tentu.. nyatanya masih banyak yang berjuang untuk mencari pekerjaan setelah resmi mendapatkan gelar sarjana.Ya, seperti Cecil ini.Sudah dua bulan ia berkelana menyebarkan lamaran ke berbagai perusahaan. Tapi belum ada juga yang mau menerima pinangannya.Apalagi Cecil seorang fresh graduated, biasanya perusahaan akan berpikir dua kali untuk mempekerjakan karyawan tanpa pengalaman.Siang ini seperti biasa Cecil bekerja. Tepat pada hari minggu. Walau sebenarnya hari ini dia libur tapi Cecil memutuskan untuk bekerja demi mencari
"Ku akui kamu memang playboy cap kapak, Sat!" Gior memberikan dua jempolnya.Baru bertemu di auditorium saat wisuda, Satria sudah bisa menancapkan panah asmaranya ke perempuan yang baru. Satria yang dijuluki seperti itu hanya tersenyum. Matanya tak henti menatap Cecil yang sejak tadi tertegun disana memandanginya."Jangan panggil aku Satria jika tidak bisa menaklukan wanita!" Ucap Satria dengan bangganya."Anak nakal!""Aduh!" Satria mengaduh ketika kepalanya di pukul. Ketika ia ingin membalas, ia terkejut ketika ibunya lah yang berdiri di belakangnya. "Mama!""Ngapain kamu tadi mencium-cium perempuan? Masih belum berubah juga kamu rupanya!" Dian memukul lagi anaknya dengan gemas.Dior, Reza dan Pras yang melihat temannya di terkam hewan buas langsung kabur begitu saja."Cukup, ma! Aku malu!" Teriak Satria melindungi dirinya dari pukulan Dian."Harusnya kamu bersyukur bisa lulus tepat waktu, Satria! Hentikan main-main dan fokus sekarang. Kamu harus cari pekerjaan.""Iya, ma." Satria
Tidak tahu sudah berapa malam terlewati, malam ini Satria kembali mendapatkan kesadarannya.Kepala ini begitu sakit nan berat, sekujur tubuh ini terasa remuk. Namun ada satu lagi yang membuatnya sakit, yaitu omelan dari ibunya.Astaga! Satria baru saja sadar dari koma tapi ia sudah disambut oleh semburan ibunya."Mama.." panggil Satria lemah."Syukurlah kalau sudah sadar. Mama pikir tadi sudah kehilangan putra mama!" Ketus Dian."Mama ini!" Satria jadi ingin merajuk."Apa yang kamu lakuin, hah? Mama sibuk kerja diluar negeri tapi kamu malah sibuk bernakal-nakal disini!" Dian mencubit lengan putranya dengan gemas. "Kamu ikut balap liar dan sibuk pacaran! Dasar nakal!"Satria tersentak. Ia baru teringat kejadian yang membuatnya sampai terkapar seperti ini.Malam naas itu, ia mendapatkan pacar baru. Sebuah hadiah taruhan dari balap liarnya dengan pria berandalan.Dan saat dia memutar motornya keluar dari stadion, ia melihat dua mobil polisi sedang mengejar mereka.Satria yang panik berus
"Kamu nggak kerja semalem?"Cecil bangun kesiangan pagi ini. Semalaman ia tak bisa tidur karena menangis. Apalagi suara laknat dari kamar sebelah yang bersahutan membuat telinganya semakin sakit.Tapi ada satu lagi yang lebih perih, yaitu hatinya. Sudah berbelas tahun Cecil tinggal di rumah ini bersama ibunya yang bekerja sebagai PSK. Dan selama itu pula dia harus menahan hatinya karena banyak pria asing yang bergiliran memakai ibunya.Jika ditegur, maka ibunya yang bernama Ana ini akan mengamuk. Memaki bahkan menyiksa fisiknya.Cecil sudah berusaha melarikan diri, bahkan berusaha untuk melenyapkan dirinya. Namun sepanjang itu juga Ana berhasil mendapatkannya."Nggak." Sahut Cecil datar. "Sarapan!" Ana menunjuk sepiring nasi melalui dagunya. Ia sendiri duduk di kursi makan. Tengah menghisap nikotinnya."Mau sampai kapan mama terus begini?" Tanya Cecil letih. "Mama sudah tua, tapi mama nggak mau juga bertaubat.""Ya ampun!" Ana tergelak. "Tahu apa kamu soal dosa, hah? Kamu cuma anak k







