MasukPetaka besar bagi Satria yang harus berdampingan dengan perempuan gila ini. Hampir setiap hari ia diwajibkan mengikuti diskusi bersama bu Rosita.
Dalam hati Satria mengumpat, jika bukan karena wanita galak itu saja Satria ogah menjadi anak bimbingannya. Astaga! Satria ingin cepat penderitaannya ini berlalu dan lulus dari kampus ini. Dia sudah gerah terus menatap wajah Cecilia. "Kenapa proposalmu jelek sekali, Satria?" Tegur Rosita ketika Satria dan Cecil konsultasi. "Lihat tata bahasa juga penulisanmu tidak sesuai dengan ejaan yang benar! Belum lagi sumber yang kamu cantumkan tidak jelas! Ibu nggak mau menerima proposalmu ini! Perbaiki semuanya atau kamu tidak boleh ikut sidang." "Tapi, bu.." Satria tak terima. "Jangan membantah! Kalau kamu nggak mau ditegur lebih baik ibu coret nama kamu biar kamu ikut skripsinya tahun depan aja!" Ancam Bu Rosita tegas. Wanita berkacamata ini lalu beralih pada Cecilia. "Cecil. Kamu ajari bagaimana cara membuat proposal pada Satria. Ibu mau semuanya beres saat kalian menghadap satu kali lagi." "Baik, bu." Jawab Cecil tersenyum bahagia. Sepertinya bu Rosita memang ingin menjodohkan Satria dengan gadis ini. Oh.. Satria sampai berpikir yang tidak-tidak. Mau bagaimana lagi? Mahasiswa beruntung yang menjadi anak pembimbing bu Rosita hanya mereka berdua. Apalagi si galak ini mengatakan jika Satria dan Cecil satu paket. Artinya, kalau mengerjakan sesuatu harus bersama-sama. Dan dalam dua bulan ini, Satria harus menebalkan kesabarannya karena harus berdekatan dengan Cegil ini! Uh, mengesalkan sekali. "Kita perbaikin proposalmu sekarang, yuk. Biar cepet selesai!" "Males. Nanti aja." Ketus Satria. "Jangan gitu, dong. Nanti kalau kamu nggak lulus-lulus gimana?" Tanya Cecil dengan nada perhatian. "Najis banget sih dengernya! Aku nggak mau!" "Apa kamu nggak kasihan sama orang tua kamu yang udah nguliahin kamu capek-capek? Pasti mereka berharap kamu cepat lulus." "Astaga.. ternyata kamu aslinya cerewet seperti nenek sihir!" Satria sampai geleng-geleng kepala. "Aku nggak bisa ngerjainnya sekarang!" "Terus kapan?" Mendengar Cecil yang tak gentar menyerah, sebuah ide cemerlang terbit di otaknya. "Nanti malam aja. Datang ke apartementku jam 7 malam. Jangan telat!" Cecil pun tersenyum. "Aku akan datang." Tepat pukul 7 malam Cecil tiba si sebuah apartement yang terletak di pusat kota. Beberapa kali Cecil menekan bel di depan pintu. Tapi lama sekali penghuninya keluar dari dalam. "Apa aku salah unit?" Cecil membuka ponsel dan membaca pesan yang tadi siang dikirimkan oleh Satria. Jika dilihat alamatnya benar. Tapi kenapa sejak tadi tak ada orang yang menyambutnya. Akhirnya Cecil memutuskan untuk menunggu, bisa jadi Satria tengah tertidur di dalam. Sampai 1 jam Cecil menunggu, ia tak sabar lagi. Nomor Satria ditekannya, namun sayang panggilan itu tak terjawab. "Apa aku pulang aja?" Cecil jadi gusar. Jangan-jangan Satria memang tak ada di rumahnya. Sambil menyeret langkahnya, Cecil akhirnya memutuskan untuk pulang. Tapi tepat saat dia ingin memencet tombol lift untuk turun, pintu lift itu terbuka. Cecil terkesiap melihat pemandangan yang ada di dalam sana. Satria tengah mengkungkung seorang perempuan dan berciuman. Sekejap Cecil jadi gemetaran, detak jantungnya terasa berhenti. Dia tahu jika Satria seorang pemain dan suka sekali menceritakan aibnya. Tapi kali ini di depan matanya, ia melihat Satria mencium perempuan lain. "Aduh! Ada orang!" Perempuan yang memakai jaket kulit hitam dengan tindik di hidung itu mendorong bahu Satria pelan. "Oh.. kamu sudah datang, Cegil! Tepat sekali aku juga baru pulang. Ayo kita kerjakan proposalnya!" Satria merangkul kekasihnya dan melewati Cecil yang masih diam mematung. Keduanya bersama menuju unit apartement. Sedangkan Cecil menghela nafas panjang baru mengikuti langkah mereka. Tiba di apartement, kekasih Satria langsung duduk di sofa sambil menyilangkan kaki. "Kamu mau minum apa?" Tanya Satria. "Apa saja, sayang." "Kalau kamu, Cegil?" Cecil menggeleng. "Nggak usah repot." Satria pergi ke dapur untuk mengambil minuman. Kebetulan dia memang tinggal sendiri di unit ini. Ayahnya sudah lama meninggal, ibunya bekerja diluar negeri. Satria hanyalah anak satu-satunya dan hidup mandiri di kota ini. "Jadi namamu Cegil? Lucu sekali!" Ucap perempuan ini. "Kenalkan aku Viona." Viona mengulurkan tangannya yang disambut oleh Cecil. "Cecilia." "Oh.. jadi namamu Cecilia? Astaga!" Viona tertawa kecil. "Sepertinya telingaku bermasalah, aku mendengar Satria memanggilmu Cegil tadi!" "Julukannya memang Cegil!" Sahut Satria yang baru datang dari dapur dengan membawa tiga minuman soda. "Kami semua memanggilnya Cegil." "Astaga! Lucu sekali!" Viona masih saja tertawa. "Duduklah, Cegil. Biar aku ambilkan laptopnya." Cecil yang sejak tadi berdiri lalu ikut duduk di sofa bersebrangan dengan kekasih Satria. Kesempatan baginya untuk meneliti penampilan dari Viona ini. Rambut keriting panjang sampai dada, wajah berkulit putih dengan tindikan di hidung. Lalu jaket kulit hitam yang menutupi tank top di dalam serta sepatu boots. Ya, wanita ini lebih mirip penyanyi rocker dengan penampilannya. "Cegil, ini laptopku!" Satria memberikan laptopnya yang menyala. "Semua bab yang sudah ku kerjakan ada disana. Kamu bisa mengeditnya." "Kamu mau kemana?" Tanya Cecil melihat Satria yang enggan duduk di sofa. "Bersenang-senang. Kamu kerjakanlah proposalku. Jangan sampai bu Rosita marah dan mengomel. Telingaku sakit." Satria menarik Viona berdiri dan merengkuh pinggang ramping itu. Pria ini pun mengecup pipi kekasihnya. "Mari kita ke kamar." Ucap Satria mengulum senyumnya. "Tapi temanmu bagaimana?" Tanya Viona keheranan. "Biarkan saja! Dia memang ditugaskan bu Rosita untuk mengerjakan skripsiku!" Satria membawa kekasihnya masuk ke dalam kamar dan menguncinya. Cecil hanya bisa menatap kosong kedua orang yang sepertinya tengah memadu kasih di dalam sana. Terdengar suara tertawa hingga pekikan manja dari Viona. Cecil yakin sekali Satria yang brengsek itu sedang memakan tangkapannya. "Sabar, Cecil." Cecil menarik nafas panjang dan menatap layar laptop. Ia pun menyelesaikan tugasnya segera. Selang satu jam, Satria keluar dengan rambut yang basah. Ia pun menyeringai karena Cecil masih disana mengerjakan tugasnya. "Gimana? Udah selesai?" Tanyanya basa basi. "5 menit lagi." Jawab Cecil tersendat saat melihat Satria. Pria itu hanya memakai kaos oblong dengan bawahan handuk saja. Rambutnya yang basah, tubuh mengkilap akrena baru selesai dibersihkan membuat aura ketampanan Satria bertambah. Cecil rasanya ingin bersembunyi di lubang tikus untuk menutupi debaran di hatinya. "Pulang aja. Udah malam!" Seru Satria. "Tapi.. ini belum selesai. Aku tinggal membuat daftar pustakamu." Satria mengibaskan tangannya. "Besok saja. Hari udah larut!" Lagi pula Satria masih ingin bersenang-senang dengan kekasih barunya. Ia tak mau kehadiran Cegil mengganggunya. Cecil mematikan laptop dan bangkit dari duduk. Jika pria ini menyuruh pulang itu artinya dia sudah muak dengan kehadiran Cecil disini. Baru saja Cecil hendak berpamitan, Satria masuk ke kamarnya. Perempuan ini mencoba mengintip, mungkin saja ada Viona. Oh.. sedang apa dia? Cecil sudah menerka yang tidak-tidak. "Aku pulang aja, lah!" Lupakan soal Satria yang sedang asyik bercinta. Dia memilih pulang ke rumah. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Tapi lorong sempit tempat Cecil tinggali ini masih ramai. Bahkan sampai pagi pun akan banyak pengunjung yang datang. Lampu kerlap kerlip, lalu suara musik yang keras dan tak lupa wanita-wanita yang memakai baju kurang bahan selalu menjadi pemandangan ketika Cecil pulang ke rumahnya. "Inilah alasan aku nggak mau pulang!" Cecil jengah sekali. Apalagi ada suara tante-tante girang yang memanggil namanya. Pintu rumah dibuka Cecil dengan mudah. Jika malam hari, rumah ini tak pernah terkunci. Tujuan utama Cecil adalah dapur untuk mengambil minum. Setelah itu, ia pergi ke kamar untuk beristirahat. Namun saat dia melewati kamar ibunya, terdengar suara desahan yang membuat langkah Cecil berhenti. Sambil mengepalkan tangan, Cecil membuka kasar pintu tersebut hingga terhempas begitu aja. "Cecil!" Teriak wanita yang sedang dinaiki seorang pria gendut. Wanita ini bergegas memakai pakaiannya yang terjatuh di bawah tempat tidur. Sementara pria gendut ini menutupi tubuhnya dengan selimut. "Apa kamu nggak bisa mengetuk pintu??!!" Wanita ini jadi melotot pada putrinya. Cecil menatap ibunya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia pun menutup pintu itu kembali dan berlari ke kamarnya. "Siapa itu?" Tanya pria gendut. "Putriku. Sudah lupakan saja! Mari kita nikmati malam ini!" Wanita ini melepaskan pakaiannya dan menarik selimut yang pelanggannya pakai. Dalam kamar, Cecil menangis tersedu-sedu sembari menutupi wajahnya. Ini adalah alasan yang membuatnya enggan pulang ke rumah. Ibunya sibuk menjajahkan dirinya. Setiap hari pria datang dan membeli tubuh ibunya dengan uang. Dan bayangan 4 tahun yang lalu masih terekam jelas pada benak Cecil. Saat dia hampir disalah gunakan oleh ibunya.. Cecil remaja yang hendak menjadi korban perdagangan manusia. Namun untunglah ada seorang penyelamat yang berhasil membuat hidup Cecil bangkit kembali. Seorang pria yang menolong Cecil dari kebiadaban pria hidung belang. Dan pria itu adalah orang yang saat ini sedang dikejarnya..Cecil terperangah, merenungi ucapan Satria barusan. Pria itu meminta Cecil bekerja disini dengan santainya."Dia menginginkanku bekerja disini?" Dalam hati Cecil bersorak. Apakah ini sebuah petanda semesta merestui hubungan keduanya? Ah, kalau begitu Cecil tak akan menyiakan kesempatan. Ia pun segera menjawab ya untuk lamaran ini.Sedangkan Satria menggelengkan kepalanya. Padahal tadi dia mau marah karena perempuan itu sembarangan menyentuhnya. Tapi.."Ah, perempuan gila itu pasti mengambil kesempatan semalam!" Satria kembali kesal. Tapi anehnya dia tak bisa marah. Kenapa?Apa mungkin karena Cecil yang begitu piawai mengurus pekerjaan rumah tangga. Cih! Satria terkekeh. Memang tepat ide gilanya tadi mempekerjakan Cegil itu di apartementnya. Perempuan itu kan pelayan! Jadi sewajarnya saja jika Satria menyuruhnya seperti itu.Setidaknya ini memberikan tembok tegas bahwa Cecil tak akan pernah menyentuh Satria. Pria ini berkualitas mahal, jelas tak mau berhubungan dengan wanita sembaranga
Sinar mentari menembus jendela yang tak tersibak dengan tirai. Mengganggu Satria yang tengah tertidur lelap.Pria ini mengerjap beberapa kali, ketika berhasil membuka mata yang ia rasakan adalah sakit kepala hebat. Dunianya seakan berputar."Ah.." Satria memegang kepalanya. Ia mengusap kedua matanya dengan jari dan membuka mata perlahan. "Sial!"Bisa-bisanya Satria mengumpat. Hanya karena melihat dunia di depan sana yang terang benderang ia jadi marah.Eh.. tapi tunggu dulu! Dimana ini? Kenapa Satria merasa tak asing??Satria lantas terbangun dari tidurnya dan menyadari jika dia di kamar apartement miliknya. Astaga! Karena mabuk semalam Satria tak sadar lagi kemana dia akan dibawa. Oh.. apa mungkin sopir taksi yang semalam membawanya kemari? Ngngng.. Bisa jadi.Satria mengusap tubuhnya. Mantel abu yang berat itu telah terlepas begitu juga dengan sepatu sport yang ia pakai.Yang tersisa adalah kemeja biru langit dan jeans yang ia pakai."Kamu udah bangun, Satria?"Satria terkesiap akan
"Kupikir kamu bakal berhenti kerja disini setelah tamat kuliah, Cil!" Rafi terkekeh. Dilihatnya Cecil yang sibuk membereskan meja makan di restoran cepat saji ini."Selagi belum mendapat pekerjaan yang lebih baik aku akan tetap bekerja disini kok, kak." Sahut Cecil. "Udah melamar ke perusahaan mana aja?""Baru satu perusahaan, besok aku akan sebar lamaran lagi. Kali aja ada yang mau menerimaku."Orang mungkin berpikir perjuangan saat kuliah itu berat, oh belum tentu.. nyatanya masih banyak yang berjuang untuk mencari pekerjaan setelah resmi mendapatkan gelar sarjana.Ya, seperti Cecil ini.Sudah dua bulan ia berkelana menyebarkan lamaran ke berbagai perusahaan. Tapi belum ada juga yang mau menerima pinangannya.Apalagi Cecil seorang fresh graduated, biasanya perusahaan akan berpikir dua kali untuk mempekerjakan karyawan tanpa pengalaman.Siang ini seperti biasa Cecil bekerja. Tepat pada hari minggu. Walau sebenarnya hari ini dia libur tapi Cecil memutuskan untuk bekerja demi mencari
"Ku akui kamu memang playboy cap kapak, Sat!" Gior memberikan dua jempolnya.Baru bertemu di auditorium saat wisuda, Satria sudah bisa menancapkan panah asmaranya ke perempuan yang baru. Satria yang dijuluki seperti itu hanya tersenyum. Matanya tak henti menatap Cecil yang sejak tadi tertegun disana memandanginya."Jangan panggil aku Satria jika tidak bisa menaklukan wanita!" Ucap Satria dengan bangganya."Anak nakal!""Aduh!" Satria mengaduh ketika kepalanya di pukul. Ketika ia ingin membalas, ia terkejut ketika ibunya lah yang berdiri di belakangnya. "Mama!""Ngapain kamu tadi mencium-cium perempuan? Masih belum berubah juga kamu rupanya!" Dian memukul lagi anaknya dengan gemas.Dior, Reza dan Pras yang melihat temannya di terkam hewan buas langsung kabur begitu saja."Cukup, ma! Aku malu!" Teriak Satria melindungi dirinya dari pukulan Dian."Harusnya kamu bersyukur bisa lulus tepat waktu, Satria! Hentikan main-main dan fokus sekarang. Kamu harus cari pekerjaan.""Iya, ma." Satria
Tidak tahu sudah berapa malam terlewati, malam ini Satria kembali mendapatkan kesadarannya.Kepala ini begitu sakit nan berat, sekujur tubuh ini terasa remuk. Namun ada satu lagi yang membuatnya sakit, yaitu omelan dari ibunya.Astaga! Satria baru saja sadar dari koma tapi ia sudah disambut oleh semburan ibunya."Mama.." panggil Satria lemah."Syukurlah kalau sudah sadar. Mama pikir tadi sudah kehilangan putra mama!" Ketus Dian."Mama ini!" Satria jadi ingin merajuk."Apa yang kamu lakuin, hah? Mama sibuk kerja diluar negeri tapi kamu malah sibuk bernakal-nakal disini!" Dian mencubit lengan putranya dengan gemas. "Kamu ikut balap liar dan sibuk pacaran! Dasar nakal!"Satria tersentak. Ia baru teringat kejadian yang membuatnya sampai terkapar seperti ini.Malam naas itu, ia mendapatkan pacar baru. Sebuah hadiah taruhan dari balap liarnya dengan pria berandalan.Dan saat dia memutar motornya keluar dari stadion, ia melihat dua mobil polisi sedang mengejar mereka.Satria yang panik berus
"Kamu nggak kerja semalem?"Cecil bangun kesiangan pagi ini. Semalaman ia tak bisa tidur karena menangis. Apalagi suara laknat dari kamar sebelah yang bersahutan membuat telinganya semakin sakit.Tapi ada satu lagi yang lebih perih, yaitu hatinya. Sudah berbelas tahun Cecil tinggal di rumah ini bersama ibunya yang bekerja sebagai PSK. Dan selama itu pula dia harus menahan hatinya karena banyak pria asing yang bergiliran memakai ibunya.Jika ditegur, maka ibunya yang bernama Ana ini akan mengamuk. Memaki bahkan menyiksa fisiknya.Cecil sudah berusaha melarikan diri, bahkan berusaha untuk melenyapkan dirinya. Namun sepanjang itu juga Ana berhasil mendapatkannya."Nggak." Sahut Cecil datar. "Sarapan!" Ana menunjuk sepiring nasi melalui dagunya. Ia sendiri duduk di kursi makan. Tengah menghisap nikotinnya."Mau sampai kapan mama terus begini?" Tanya Cecil letih. "Mama sudah tua, tapi mama nggak mau juga bertaubat.""Ya ampun!" Ana tergelak. "Tahu apa kamu soal dosa, hah? Kamu cuma anak k







