Se connecter“Julia, apa apaan kamu?” Nando terlihat sangat cemburu.Julia tak hiraukan apapun saat itu. Yang ada di fikirannya hanya Felix, terutama untuk kontrol dirinya.“Kak Felix, kenapa sampai seperti ini? Lia tahu, jika Kakak marah karena ibu terus mereka hina. Tapi, Kakak harus tahu bahwa di sini ada banyak orang.”Julia menyentuh wajahnya dan menatap Felix dengan begitu dalam. Saat Felix ingin membuang muka, ia raih kembali wajahnya agar mereka berdua terus berhadapan.“Kak Felix. Kakak dengar Lia, plis. Kakak tidak boleh seperti ini, ya? Ingat, tujuan kita tidak hanya sampai di sini saja.” Julia terus berusaha menenangkannya.Felix menarik napasnya panjang. Ia raih tangan Julia, ia genggam dan ia kecupi tanpa henti sebagai penenang hati.Untuk sekarang, sudah tak peduli lagi semua orang melihat mereka berdua. Apalagi, jika sudah tahu arah hubungan itu kemana.“Peluk?” Julia merentangkan tangan dan menawarkan bantuan padanya..Felix langsung dekap Julia, dan kali raut wajahnya mulai tenan
“Kak Felix!” Julia memekik memanggil namanya ketika sang kekasih mulai kehilangan kendali diri.Marta menahan Julia. Ia takut jika Felix juga bisa menyakitinya nanti, dan itu bahaya.“Kak Marta, dia tidak bisa dibiarkan!” Julia mencoba lepas darinya.Semua orang panik. Kru Tv dan yang lain sudah tak lagi bisa meliput semuanya, bahkan jaringan untuk seluler dimatikan.Maya yang mencuri kesempatan untuk merekam, saat itu juga Hpnya direbut oleh penjaga yang ada di sana. “Hey! Kalian berani sama saya?” ancam Maya padanya.“Berani, Nyonya. Tuan Dirga yang mengutus kami,” jawab pengawal itu.“Felix! Lepaskan putraku! Kau akan kulaporkan ke polisi!” ancam mama Rosa yang lari maju untuk menyelamatkan putranya.Tapi Felix langsung memberi tatapan yang begitu tajam, hingga langkah kaki mama Rosa langsung berhenti begitu saja di tempat seperti tersirap.“Aku tahu, Felix. Kau pasti terancam jika kami membahas tentang ibumu yang gila itu!” Nando masih saja meledek, padahal ia sudah dalam keadaan
“Rasakan! Kau fikir, kau bisa hidup bebas sesukamu!” ucap mama Rosa hanya dari gerakan bibirnya, terlihat meski mereka sangat jauh.Dika segera mengambil alih situasi, dan ia minta semua orang agar tetap tenang. Ia tak akan lanjutkan rapat jika semua orang yang ada di sana belum diam.Tak lupa, Dika juga lirik Dirga agar ia tetap tenang dan tidak terlalu beraksi untuk kejadian ini. Belum waktunya.“Jika semua sudah tenang, semuanya kita lanjutkan.” Dika menatap sang tuan, dan Felix memberi kode bahwa ia siap bicara untuk saat ini.“Silahkan, Tuan,” ucap Dika.Suasana kembali tenang, dan mereka tak sabar untuk menunggu Felix bicara tentang ibunya yang sudah lama tak ada kabar berita.Ini pancingan mama Rosa, dan semua seperti simalakama. Semua tetap akan menguntungkan pihak mereka, apapun jawabannya. Felix harus berhati hati karena rencana mereka pasti sudah matang sekali.“Terimakasih karena sudah peduli dengan ibuku. Jika kalian tahu bagaimana nasib ibuku, pasti kalian juga tahu apa
“Yes! Saya saksi jika mereka ada affair. Anda harus hati hati terhadapnya, karena tidak semua orang yang kita anggap baik juga akan baik dengan kita.”Seperti, Maya tengah membicarakan dirinya sendiri saat ini. Dia semangat sekali ketika membicarakan Julia dengan semua tuduhan yang ia berikan.“Oh, begitu?” Delia kembali memancingnya untuk bicara lebih banyak.“Ya, Nyonya. Bahkan demi suami Anda, dia rela berebut dasi dengan saya. Dasi itu sangat mahal. Dia bisa, nyaris mendorong saya yang sedang hamil besar ini sampai nyaris jatuh.”“Oh my God!” Delia pura pura kaget. Padahal isi di hatinya, kenapa Julia tidak mendorongnya dengan keras hingga Maya benar-benar jatuh.Tapi Delia paham dengan adik angkatnya itu. Ia tetap memikirkan bayi di dalam kandungan Maya yang tak berdosa, dibanding amarahnya yang membabi buta. Apalagi, bayi itu masih diperlukan untuk masalah ini. Dia adalah kunci.“Jadi, Nyonya. Anda harus jauhi Julia. Jauhkan suami anda darinya dan—”“Nyonya Fernando. Sepertinya,
“Mar, Tuan mana?” Dika menelpon dari kantor pada Marta, karena harusnya Felix sudah tiba di sana.“Mar, Mar! Marta!” tegas gadis itu. Sensi sekali jika dipanggil hanya setengah nama.“Iya, Marta. Di mana Tuan Felix?” tanya Dika padanya, mengulang yang tadi.“Ya, sebentar lagi ke sana.” Marta baru menjawab ketika panggilan Dika padanya benar.“Lah, Marta. Daritadi, kalian belum berangkat kah?” Dika akhirnya mengomel.Semua orang sudah datang, termasuk para tamu yang sangat penting. Para Investor, termasuk yang invest dalam proyek Nando. Dirga juga sudah ada, karena Felix adalah tuannya.“Belum. Itu, anu… tadi Nyonya datang dan—”“Ya ampun, orang itu! Kenapa tidak bisa tahan sebentar saja? Setelah semua selesai, mereka akan bebas berapa lamapun!”Marta terdiam mendengar omelan Dika saat itu. Ia juga sebal dengan Felix, karena jika seperti ini pasti dirinya yang akan dipandang oleh orang lain karena tidak bisa mengatur tuannya dengan baik.“Iya, iya. Aku akan-““Marta!” panggil Felix yan
Julia yang mendengar kabar tentang Felix itu langsung masuk ke dalam dan cari keberadaannya. Tampak Felix tengah duduk di sofa panjang ruang tengah, dan ia sedang menghisap cerutunya di sana.Perlahan Julia mendekat, dan Felix hentikan hisapan itu pertanda ia tahu jika kekasihnya datang."Ih, harusnya Lia memberi kejutan.""Tapi aku tidak terkejut," balas Felix dengan suaranya yang begitu dalam.Julia memutari sofa itu, dan ia kemudian duduk di sebelah Felix dengan tenang.Beberapa detik dalam keadaan diam, Julia balik badan dan ia tatap Felix yang masih sibuk dengan cerutunya itu. Dengan cepat, Julia ambil sisanya yang masih setengah batang."Hey!" Felix langsung menegur dengan wajah masam."Kenapa? Kak Felix tidak suka, jika Lia ambil ini? Bagaimana jika-""Apa, Sayang? Kamu tahu, aku sangat merindukanmu. Aku hanya-""Hanya... Memikirkan apa?" Julia kembali bertanya sembari menelengkan kepalanya.Seketika itu juga, tubuh Julia ia raih dan ia bawa ke dalam pangkuannya. Tubuh Julia ia
"Apaan sih, Mas?" Julia mendadak heran."Sudahlah, kamu tak perlu lagi tutupi semuanya kali ini. Kamu jangan sampai merepotkan orang lain hanya karena sifat kekanakanmu itu.""Fernando!" tegur tuan Verhag padanya. Ia juga pasti sudah sangat geli saat ini."Tuan, saya tidak ada urusan dengan anda. S
Nando pulang dari lokasi proyek dan langsung disambut oleh calon istrinya dengan beberapa gaun pernikahan yang ia pesan sendiri. Salah satu gaun itu adalah yang tengah ia coba, tanpa lengan dan cukup terbuka. Bagian perut juga terlihat sempit hingga Nando tampak tak suka melihatnya.“Serius, mau pa
Semua orang bertepuk tangan dengan peletakan batu pertama proyek Nando hari itu. Mereka menyambutnya dengan baik, seolah tak terpengaruh dengan perceraian Nando dan Julia.Jelas saja itu membuat Nando semakin bangga atas dirinya, karena ia merasa sudah bisa menaklukan semua orang.“Selamat, Pak Nan
Pinggang Julia diraih seseorang saat itu, yang kebetulan lewat dan untungnya genggamannya sangat tepat. Julia yang kaget sekaligus bersyukur itu, lantas membuka mata dan melihat siapa yang menolongnya.Senyum Julia sontak terkembang ketika rupanya pria itu adalah orang yang ia kenal. Ia segera memb







