Share

Ceraikan Aku, Mas!
Ceraikan Aku, Mas!
Author: Siez

1 - Ijab Kabul

Author: Siez
last update publish date: 2026-06-02 13:44:20

Jam pada telepon genggam Azalea Maharani menunjukkan pukul 14.27 WIB ketika pesan itu masuk. Sebuah pesan dari nomor tidak dikenal, tanpa nama kontak, hanya deretan angka asing yang tiba-tiba mengusik ketenangannya.

*Mbak Azalea, maaf mengganggu. Aku hanya ingin menyampaikan bahwa saat ini suami Mbak, Bapak Bara Adhitama, sedang melangsungkan ijab kabul di Masjid Al-Hikmah. Dengan perempuan lain. Namanya Keyna Aulia. Menurut informasi yang aku terima, perempuan tersebut sudah mengandung. Aku tidak tega melihat Mbak terus dibohongi. Tolong cek ke sana sekarang juga.*

Jari-jari Azalea membeku di atas layar. Napasnya tercekat. Selama tiga tahun pernikahan, ia terbiasa menerima pesan singkat dari ibu mertuanya yang berisi hinaan, "Kapan hamil? Mandul ya?" atau "Jangan-jangan kamu bawa sial untuk Bara."

Namun, pesan kali ini berbeda. Bukan hinaan, melainkan informasi yang membuat dinding jantungnya terasa runtuh mendadak.

Keyna Aulia. Nama itu terlalu ia kenal. Terlalu ia sayangi dan rasanya tak mungkin kalau suaminya itu berselingkuh dengan Keyna.

Keyna adalah adik asuh Azalea di Panti Asuhan Kasih Bunda. Gadis yang ia temukan menangis di pojokan panti sepuluh tahun lalu karena baru saja ditinggal meninggal oleh ibunya. Azalea yang saat itu masih duduk di bangku kelas dua SMA rela menyisihkan uang beasiswanya agar Keyna bisa melanjutkan sekolah.

Azalea yang memperjuangkan Keyna agar diterima bekerja sebagai staf administrasi di PT Adhitama Sejahtera, perusahaan milik suaminya. Azalea yang selalu berkata kepada siapa pun, "Keyna itu adikku. Satu-satunya keluarga yang aku punya selain Bara."

Kini, nama yang ia sebut sebagai keluarga justru tertulis sebagai pengantin perempuan di samping nama suaminya.

Dengan tangan gemetar, Azalea mengambil kunci mobil. Ia baru saja selesai mengajar muridnya. Kepalanya sakit tapi ia tak peduli. Yang ia pedulikan hanya satu: memastikan bahwa pesan itu bohong. Bahwa semua ini hanya lelucon jahat yang dikirim oleh orang yang tidak menyukainya.

Perjalanan menuju Masjid Al-Hikmah yang biasanya ia tempuh dalam dua puluh menit terasa seperti dua puluh tahun. Setiap lampu merah adalah siksaan. Setiap klakson kendaraan terdengar seperti vonis. Sepanjang jalan, Azalea terus berdoa dalam hati, merapal kalimat yang sama berulang kali, "Ya Allah, jangan. Tolong jangan jadikan ini kenyataan. Jika ini ujian, aku mohon jangan seberat ini."

Masjid Al-Hikmah berdiri megah di ujung Jalan Merpati. Masjid tempat ia dan Bara melangsungkan akad nikah tiga tahun lalu. Masjid tempat Bara berjanji di hadapan penghulu, di hadapan Allah, dan di hadapan dirinya, "Saya terima nikahnya Azalea Maharani binti Abdullah dengan mas kawin seperangkat alat salat dan cincin emas dua puluh gram dibayar tunai." Hari itu, TOA masjid mengumandangkan takbir. Hari itu, Bara menggenggam tangannya erat dan berbisik, "Kamu satu-satunya, Zel. Sampai mati."

Mobil Azalea berhenti mendadak di pelataran parkir masjid. Ia tidak peduli parkirnya miring dan hampir menyerempet pot tanaman hias. Dari kejauhan, ia melihat beberapa orang berdiri di teras masjid. Laki-laki berkopiah, perempuan berkerudung, beberapa anak kecil berlarian. Suasana tampak seperti baru saja selesai mengadakan sebuah acara sakral.

Dan kemudian, Azalea mendengarnya.

Suara itu. Suara yang sangat ia hafal. Suara yang selalu membangunkan dirinya untuk salat Subuh. Suara yang selalu ia dengar mengucap "aku sayang kamu" setiap malam sebelum tidur. Suara Bara Adhitama, suaminya.

Pengeras suara masjid masih menyala. Entah karena kelalaian panitia atau memang disengaja oleh Allah agar ia mendengar, kalimat itu meluncur jelas, lantang, menghantam seluruh kesadarannya:

"...saya terima nikahnya Keyna Aulia binti almarhumah Suryani dengan mas kawin seperangkat alat salat dan cincin berlian lima karat dibayar tunai."

Gedebuk.

Tas jinjing Azalea jatuh ke lantai pelataran masjid. Tubuh Azalea menegang. Ia merasa seluruh darah di tubuhnya berhenti mengalir, kemudian berbalik arah dan menghantam kepalanya hingga pening. Ia ingin berteriak, tetapi tenggorokannya tercekat. Ia ingin berlari, tetapi kakinya terpaku di tanah. Ia hanya mampu berdiri di sana, di bawah terik matahari pukul dua siang, menyaksikan beberapa orang keluar dari pintu utama masjid dengan wajah berseri-seri.

Dan di antara mereka, ia melihatnya.

Bara Adhitama, mengenakan beskap putih bersih, peci hitam, dan senyum yang dulu selalu ia berikan kepada Azalea setiap hari raya. Di sampingnya, bergelayut manja, berdiri Keyna Aulia dengan kebaya putih modern, sanggul rapi, dan perut yang sedikit membuncit. Tangan Keyna melingkar di lengan Bara, seolah mengklaim kepemilikan.

Mata Azalea dan mata Bara bertemu.

Untuk sepersekian detik, dunia berhenti. Tidak ada suara kendaraan. Tidak ada suara anak kecil. Tidak ada suara azan yang sebentar lagi berkumandang. Yang ada hanya tatapan dua orang yang pernah saling berjanji setia, kini saling menghancurkan.

Senyum di wajah Bara luntur seketika. Ia tampak terkejut, panik, dan sedikit bersalah. Namun, rasa bersalah itu hanya bertahan tiga detik sebelum digantikan oleh ekspresi lain yang lebih dominan: amarah. Amarah karena merasa dipermalukan. Amarah karena rencananya diketahui.

Keyna yang menyadari arah pandang Bara menoleh. Matanya membulat. Tangan yang tadi melingkar di lengan Bara kini mencengkeram lebih kuat, seolah ketakutan Azalea akan menarik Bara darinya. Namun, bibirnya melengkungkan senyum. Bukan senyum bersahabat. Melainkan senyum kemenangan yang tipis, menusuk, dan penuh arti.

Azalea melangkah. Satu langkah. Dua langkah. Kakinya terasa berat seperti membawa beban seratus kilogram di masing-masing pergelangan. Ia tidak berlari. Ia tidak menangis. Ia berjalan tegap, menghampiri dua manusia yang telah mengkhianatinya dengan cara paling keji: di rumah Allah, di hari Jumat, di hadapan penghulu.

Semua orang di teras masjid terdiam. Mereka mengenali Azalea. Istri pertama Bara Adhitama. Perempuan yang selama tiga tahun dikenal santun, setia mendampingi suami, dan rajin mengantar makanan ke masjid setiap hari Jumat. Kini perempuan itu berdiri di hadapan mereka dengan wajah pucat pasi. Mungkin lebih tepatnya adalah dengan wajah yang sangat kacau.

"Mas Bara," suara Azalea keluar. Terdengar tenang, tetapi siapa pun yang mengenalnya akan tahu bahwa itu adalah ketenangan sebelum badai. "Bisa jelaskan apa maksud semua ini? Kenapa kamu menikah dengan Keyna? Dia itu adikku!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Comments (2)
goodnovel comment avatar
Siez
thanks bestieeee
goodnovel comment avatar
Paradista
Tegang banget bacanya .........
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Ceraikan Aku, Mas!   163 - Ibu Yang Sudah Retak

    Hujan belum berhenti ketika Bu Lidya keluar dari gerbang Rutan.Jam menunjukkan pukul empat lewat sepuluh sore. Langit Jakarta berwarna abu-abu kotor, sama kotornya dengan selokan di depan rutan. Para pembesuk lain berlari-lari kecil mencari ojek payung, mencari angkot, menelepon keluarga untuk dijemput. Tidak ada yang peduli pada seorang perempuan tua berkerudung hitam pudar yang berdiri mematung di bawah hujan, tanpa payung, tanpa tas, hanya memeluk kantong plastik bening kosong yang di dalamnya tadi ada roti sobek untuk Vanessa.Roti itu tidak jadi diberikan. Petugas bilang roti dari luar tidak boleh masuk karena takut diselipkan narkoba. Roti itu sekarang hancur di dalam plastik, terkena hujan, menjadi bubur.Bu Lidya membiarkan tubuhnya basah kuyup. Air hujan menetes dari ujung kerudungnya, masuk ke matanya yang sembab, bercampur dengan air mata yang tidak pernah berhenti sejak satu bulan terakhir. Ia tidak merasakan dingin. Sejak kematian Pak Hasan, sejak

  • Ceraikan Aku, Mas!   162 - Vanessa Manipulatif

    Kalimat itu meluncur dari bibir Vanessa yang pecah-pecah, pelan, manis, tetapi sedingin es.Bu Lidya yang masih berpegangan pada kursi plastik di ruang besuk Rutan Pondok Bambu itu membeku. Air matanya berhenti sesaat. Ia menatap anak kandungnya sendiri melalui kaca buram yang penuh dengan goresan kuku para pembesuk sebelum mereka.“Nessa... maksud kamu apa, Nak? Buktikan gimana?” suara Bu Lidya bergetar.Vanessa tidak langsung menjawab. Ia memundurkan kursi rodanya sedikit, lalu memutar rodanya yang berdecit itu dengan tangannya yang kurus dan penuh bekas garukan. Ia menikmati ketakutan di wajah ibunya. Untuk pertama kalinya sejak ia masuk ke rutan ini, ia merasa berkuasa lagi. Bukan lagi korban yang dibully, tetapi ratu yang mengendalikan.Satu minggu di rutan mengubah Vanessa sepenuhnya.Di dalam sel berukuran tiga kali empat meter yang diisi dua belas orang, ia adalah yang paling lemah. Kakinya yang retak tidak bisa dipakai untuk me

  • Ceraikan Aku, Mas!   161 - Buktikan Ma!

    "Nanti aku akan bilang ke mas Arsen dulu, Bu. Tapi, aku tidak janji." tukas Azalea perlahan."Ibu mohon." Bu Lidya terus memaksa."Maaf, Bu. Tolong ibu kooperatif dengan saya. Bukannya saya tidak mau atau bagaimana terhadap Vanessa. Tapi memang bukan saya yang melaporkannya. Dan ... kalau pun ibu terus berlutut. Saya juga tidak bisa membantu banyak. Maaf, Bu. Saya juga masih ada kerjaan lain." balas Azalea."Baiklah. Ibu mengerti. Tapi ... tolong bantu Vanessa.""Insyaallah. Tapi saya tidak janji apapun ya, Bu."Bu Lidya mengangguk. Ia dibantu berdiri oleh Azalea. Lalu, tak lama setelahnya, Bu Lidya pergi dari hadapan Azalea.*Setelah kepergian Bu Lidya dari rumah produksinya, Azalea langsung mengunci pintu rumah produksi dan menghubungi Arsen. Tangannya masih bergetar hebat. Apalagi setelah kelakuan kasar dari Bara.Panggilan tersambung pada dering kedua.“Halo, Zel? Ada apa?” suara Arsen terdengar ce

  • Ceraikan Aku, Mas!   160 - Bara Yang Kasar

    "Vanessa yang salah dan memang seharusnya dia di penjara! Sudah berapa kali saya bilang jangan ganggu Azalea! Anak Ibu itu penjahat! Dia yang menjebak orang! Dia yang hampir menghancurkan hidup orang!"Azalea kaget setengah mati dengan perlakuan kasar Bara kepada Bu Lidya. Ia langsung berlari melindungi Bu Lidya."MAS BARA! APA YANG KAMU LAKUKAN! JANGAN KASAR!"Azalea memeluk Bu Lidya yang terisak ketakutan di lantai. Tubuh Bu Lidya gemetar hebat.Bu Lidya menangis sambil memegangi lengannya yang tadi ditarik Bara. "Sakit, Nak..."Bara masih berdiri dengan napas memburu, mengepalkan tangan, menatap Bu Lidya dengan benci. Namun saat matanya bertemu dengan mata Azalea yang penuh air mata dan ketakutan — bukan takut pada Bu Lidya, tapi takut padanya — Bara langsung terdiam.Azalea menatap Bara dengan tatapan ngeri."Mas Bara... kamu... kamu kasar sama orang tua... kamu tarik ibu-ibu sampai jatuh... kamu... kamu masih sama sep

  • Ceraikan Aku, Mas!   159 - Bu Lidya Mendatangi Azalea

    Azalea menggelengkan kepalanya pelan. Sangat pelan.Air mata yang tadi sempat berhenti, kini kembali menggenang."Maaf, Mas..."Suaranya hampir tidak terdengar."Aku belum bisa, Mas... belum bisa menerima kamu ... bukan karena aku tidak sayang sama Mas, Mas... Azalea sayang, sayang sekali sama Mas Arsen. Tapi Azalea... Azalea masih butuh waktu untuk sendiri, Mas."Tangannya meremas mug kucing itu semakin erat, seolah mencari pegangan."Tiga tahun menikah dengan Bara, Azalea seperti kehilangan diri Azalea sendiri, Mas. Aku lupa rasanya jadi perempuan yang tenang. Sekarang baru beberapa bulan Azalea merasa jadi manusia lagi, bisa tertawa, bisa jualan lagi. Kalau Azalea langsung menikah sekarang, walau dengan orang sebaik Mas, Azalea takut... takut pernikahan ini hanya lahir dari rasa takut Azalea pada Bara. Azalea takut tidak adil buat Mas..."Arsen terdiam. Dadanya sesak, tapi ia mengerti.Arsen pun pasrah. Ia mengangguk, senyumnya

  • Ceraikan Aku, Mas!   158 - Susu Coklat Hangat Dan Lamaran

    Arsen mengajak Azalea pulang ke apartemen wanita itu. Sesampainya di sana, Arsen membuka pintu dan menyalakan lampu temaram kekuningan. Ia langsung menuju dapur kecil.“Zel, duduk dulu di sofa. Jangan di lantai,” ucapnya dengan sangat lembut.Di dapur itu, Arsen membuatkan susu cokelat hangat untuk menenangkan Azalea. Susu kotak itu ia hangatkan di panci, ia aduk perlahan, lalu ia tuangkan ke dalam mug bergambar kucing — mug kesayangan Azalea.“Nih, diminum dulu. Pelan-pelan saja.”Azalea menerima mug itu dengan kedua tangan. Tangannya masih dingin.Setelah itu, Arsen duduk di hadapannya. Di lantai, berlutut, sejajar. Tidak di sofa. Ia ingin menatap mata Azalea pada ketinggian yang sama.“Zel, tenang ya... tarik napas sama Mas... satu... dua...”Azalea mengikuti tarikan napas itu, menyeruput susu cokelatnya, sementara air matanya jatuh ke dalam mug.Lalu Azalea berkata dengan suara keci

  • Ceraikan Aku, Mas!   6 - Fitnah Bu Ratna

    "Jangan memutarbalikkan kata-kata!" Bara setengah berteriak. "Intinya kamu itu tidak bersyukur! Kamu diberi suami mapan, mertua peduli, kamu malah meminta cerai! Sekarang rasakan! Hidup susah! Makan saja harus menumbuk sendiri!""Aku bersyukur, Mas." Azalea tersenyum. "Aku sangat bersyukur

  • Ceraikan Aku, Mas!   5 - Balas Menghina Pezin*h

    Azalea telah genap sepekan menempati kamar berukuran 2x3 di Kost Putri Mawar. Kasur busanya tipis, kipas anginnya berderit, dan kamar mandinya selalu antre pada pukul 05.00 pagi. Namun, setiap malam ia dapat terlelap tanpa memimpikan tamparan dari Bara. Tanpa mendengar ucapan Bu Ratna dari balik pi

  • Ceraikan Aku, Mas!   4 - Digeledah Ibu Mertua

    Azalea menghentikan gerakannya. Dia menoleh pelan. "Buat apa aku mencuri, Bu? Emas kawin sudah Ibu ambil. Rumah ini atas nama Mas Bara. Aku tahu diri. Ini ... Atm mu." Wanita itu melemparkannya ke lantai. Keyna tiba-tiba bersuara dengan nada dibuat-buat lemah sambil mengelus perutnya. "Udah, Tante

  • Ceraikan Aku, Mas!   3 - Bukan Rumahku Lagi

    Mobil Azalea berhenti di depan pagar rumah yang selama tiga tahun dia sebut sebagai “rumah tangga”. Rumah dua lantai bercat putih gading dengan taman kecil di halaman depan. Dulu, Azalea yang merawat setiap sudut rumah itu dengan tangannya sendiri. Dia yang memilih warna gorden. Dia yang menata fot

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status