LOGINAzalea melepaskan pelukan Arsen, menatap Arsen dengan mata yang penuh air mata, tapi ada sesuatu yang lain di sana. Bukan takut. Tapi bingung, sedih, dan rasa bersalah yang besar.
Bu Lily yang dari tadi mendengar keributan dari dapur, datang dengan wajah panik, "Ada apa? Ada apa? Kenapa Azalea nangis lagi?"
Arsen menjelaskan dengan singkat, dengan suara masih emosi, tentang telepon pengacara, tentang Bara mau bunuh diri, tentang Bu Ratna yang lumpuh dan mau dibawa ke panti jompo
Azalea melepaskan pelukan Arsen, menatap Arsen dengan mata yang penuh air mata, tapi ada sesuatu yang lain di sana. Bukan takut. Tapi bingung, sedih, dan rasa bersalah yang besar.Bu Lily yang dari tadi mendengar keributan dari dapur, datang dengan wajah panik, "Ada apa? Ada apa? Kenapa Azalea nangis lagi?"Arsen menjelaskan dengan singkat, dengan suara masih emosi, tentang telepon pengacara, tentang Bara mau bunuh diri, tentang Bu Ratna yang lumpuh dan mau dibawa ke panti jompo.Bu Lily langsung menutup mulutnya, "Ya Allah... Bu Ratna..."Azalea mengangguk, air matanya makin deras.Sekarang, mendengar Bu Ratna sendirian, lumpuh, mau dibawa ke panti jompo, hati Azalea yang lembut itu kembali berperang.Tidak tega dengan Bu Ratna, karena bagaimanapun Bu Ratna adalah mantan mertuanya, orang tua yang sakit.Tapi traumanya juga belum sembuh. Luka di dada kirinya masih berdenyut setiap mendengar nama Bu Ratna. Bayangan 3 tahun dimaki dan dih
Arsen yang melihat perubahan itu langsung berdiri, merebut ponsel Azalea dari tangan istrinya yang gemetar hebat."HALO?!" bentak Arsen, suaranya yang tadi lembut saat memuji nasi goreng, berubah menjadi suara tegas karena istrinya diganggu.Di ujung telepon, suara seorang pria paruh baya yang sangat rapi, sangat licin, terdengar."Selamat pagi, Pak. Apakah saya berbicara dengan suami Ibu Azalea? Saya Ramon, pengacara dari Bapak Bara Adithama...""Ada apa?" tanya Arsen ketus."Tujuan saya menelepon pagi ini adalah untuk menyampaikan itikad baik dari klien kami. Bapak Bara sangat menyesal atas kejadian yang lalu. Beliau sangat terpukul. Beliau meminta kesempatan untuk bertemu langsung dengan Ibu Azalea, hanya lima menit, untuk meminta maaf secara pribadi, secara kekeluargaan. Kami berharap masalah ini bisa diselesaikan tanpa harus berlarut-larut di pengadilan. Klien kami masih sangat muda, Pak..."Arsen tertawa sinis, tawa yang tidak pernah A
Akhirnya Azalea sudah boleh pulang dari rumah sakit.Dokter senior yang melepas perban dada Azalea pagi itu tersenyum, “Jahitannya kering bagus, Ny. Azalea. Sudah boleh pulang. Tapi ingat, jangan angkat berat, jangan kecapean, jangan...” dokter itu melirik Arsen yang berdiri di belakang Azalea sambil bawa koper, “...jangan digas dulu sama suaminya.”Satu ruangan langsung ketawa.Azalea merah padam, Arsen batuk-batuk.Mereka langsung pulang bersama dengan Bu Lily ke rumah Arsen. Rumah minimalis 2 lantai di daerah Puncak yang selama ini kosong karena Arsen tinggal sendiri, sekarang jadi ramai.Di mobil, Bu Lily duduk di belakang bersama Azalea yang duduk di kursi roda lipat (masih belum boleh jalan lama-lama). Arsen yang nyetir, dari kaca spion terus ngeliatin Azalea.Sampai di rumah Arsen jam 11 siang, Bu Lily langsung gelar rapat darurat di ruang tamu, di depan koper-koper.Bu Lily menatap Arsen dengan tatapan
Lampu utama sudah dimatikan, tinggal lampu tidur kecil warna kuning hangat di pojok ruangan. Di luar, Puncak dinginnya menusuk tulang, hujan rintik-rintik lagi.Bu Lily sudah dengan sangat ikhlas diusir secara halus oleh Arsen ke kamar sebelah yang kosong, dengan alasan, “Bu, malam ini jadwal Ibu harus istirahat yang benar, biar besok bisa jaga Azalea lagi.” Padahal aslinya Arsen mau malam ini kamar 512 steril dari mertua.Di ranjang rawat inap yang tidak terlalu besar itu, sekarang ada dua orang. Sah.Azalea tidur miring menghadap kiri, karena kalau miring kanan perban di dada kirinya ketekan sakit. Arsen tidur di sampingnya, di sisi kiri ranjang, dengan posisi miring juga menghadap Azalea, jarak mereka hanya 10 cm, berbagi satu selimut rumah sakit yang tipis tapi hangat karena ada dua orang di dalamnya.Azalea belum tidur. Matanya masih terbuka, menatap wajah Arsen yang ada di depannya, sangat dekat.Arsen juga belum tidur, pura-pura
Arsen mendekatkan wajahnya, 20 cm lagi, “Pemanasan cium... Masa pengantin baru dua hari belum cium? Kata buku nikah, cium istri itu pahala, Zel. Banyak pahalanya. Mas mau borong pahala.” tukas Arsen penuh alasan kepada istri barunya itu.Azalea langsung merah padam, malu-malu, “Mas! Ini rumah sakit! Nanti ada perawat masuk! Malu!”“Mas kunci pintu dulu ya. Terus pasang kertas don't disturb! Atau ... mas pesan donat dulu untuk suap perawat dan dokter supaya tidak ke kamar ini... Minimal 1 jam gitu.” kata Arsen dengan bangga.“MAS! Jadi Mas mau suap perawat?!”“Shhh... istriku jangan teriak... nanti jahitan dada kamu sakit lagi... sini, 1 kali aja... 1 kali cium yang sah dan halal... yang kemarin di aula itu kan cium kening, bukan cium...” Bibir Arsen tiba-tiba monyong sedikit.Azalea menutup mukanya dengan tangan kiri, “Aku malu, Mas... aku masih bau obat... aku belum sikat gigi siang
Arsen langsung panik, “Eh! Eh! Sumpah! Waktu itu Mas sebagai dokter! Mas profesional! Mas merem setengah! Mas lihatnya pakai mata dokter, bukan mata suami koq!”“Bedanya apa, Mas?!”“Bedanya kalau mata dokter itu fokusnya ke luka, kalau mata suami fokusnya ke...” Arsen berhenti, sadar hampir keceplosan, lalu batuk, “...fokusnya ke kesembuhan istri!”Azalea memukul pelan bahu Arsen dengan tangan kiri, “Mas genit! Baru 12 jam jadi suami sudah genit!”Arsen ketawa kecil, terus meraih tangan Azalea yang baru saja memukul manja dirinya itu, dicium punggung tangannya.“Lah gimana enggak genit. Pasiennya istri sendiri, cantik, wangi, galaknya aja bikin kangen. Dokternya jadi gagal fokus, Zel.”Azalea langsung nutup muka pakai selimut setengah, tinggal matanya saja yang terlihat, “Mas Arsen!”Arsen menarik pelan selimut Azalea, “Eh jangan ditutup. Mas be
"Jangan memutarbalikkan kata-kata!" Bara setengah berteriak. "Intinya kamu itu tidak bersyukur! Kamu diberi suami mapan, mertua peduli, kamu malah meminta cerai! Sekarang rasakan! Hidup susah! Makan saja harus menumbuk sendiri!""Aku bersyukur, Mas." Azalea tersenyum. "Aku sangat bersyukur
Azalea telah genap sepekan menempati kamar berukuran 2x3 di Kost Putri Mawar. Kasur busanya tipis, kipas anginnya berderit, dan kamar mandinya selalu antre pada pukul 05.00 pagi. Namun, setiap malam ia dapat terlelap tanpa memimpikan tamparan dari Bara. Tanpa mendengar ucapan Bu Ratna dari balik pi
Azalea menghentikan gerakannya. Dia menoleh pelan. "Buat apa aku mencuri, Bu? Emas kawin sudah Ibu ambil. Rumah ini atas nama Mas Bara. Aku tahu diri. Ini ... Atm mu." Wanita itu melemparkannya ke lantai. Keyna tiba-tiba bersuara dengan nada dibuat-buat lemah sambil mengelus perutnya. "Udah, Tante
Mobil Azalea berhenti di depan pagar rumah yang selama tiga tahun dia sebut sebagai “rumah tangga”. Rumah dua lantai bercat putih gading dengan taman kecil di halaman depan. Dulu, Azalea yang merawat setiap sudut rumah itu dengan tangannya sendiri. Dia yang memilih warna gorden. Dia yang menata fot







