Masuk“Selamat malam, Apa anda Ayah Valeria Anderson?”Semua orang menatap seorang wanita berusia lima puluh tahunan itu, ia tampak cantik namun ada guratan halus di wajahnya. Semua menoleh pada sosok yang berdiri di sana. Perempuan itu mengenakan setelan jas hitam bergaris abu-abu halus, memakai perhiasan yang tak berlebihan tatapannya tampak tegas namun anggun, ia juga menenteng tas kecil dan sarung tangan berwarna hitam. Ia berjalan menghampiri orang-orang yang masih terpaku di tempatnya. “Yang mana Tuan Anderson” tanyanya kembali, ia melirik secara bergantian pada sosok Tuan Anderson dan Maxim.Anderson bergerak, Apa yang membawa anda datang ke rumah di waktu larut seperti ini?”“Oh anda. Saya Merry, istri dari pacar putri anda,” jawabnya sopan. “Siapa yang mengundang anda.”“Aku, Ayah!” ujar Valeria dari lantai dua, ia sedang menatap ke bawah, berdiri di
“Smith keterlaluan, ia sudah menipu kami,” ujarnya, kemudian terkekeh tanpa bersuara hanya tubuhnya yang berguncang. Anshel keluar dari kamar mandi, ia melihat tubuh istrinya mengguncang seolah sedang menangis. Suaminya merasa bersalah karena sudah menggodanya. Setelah mengeringkan rambut dan berganti pakaian, ia segera berjalan ke arah tempat tidurFleur tahu suaminya mendekat, ia segera menutup matanya, pura-pura tidur. Anshel kemudian menyelinap kedalam selimutnya, dan memeluk istrinya dari belakang. “Maaf Fleur, aku hanya ingin memberitahumu, kalau kau tak sendirian, meskipun dulu aku terkesan mengacuhkanmu, tapi aku sangat peduli padamu.”Anshel menyibakkan rambutnya, lalu mengecup leher istrinya, rasa geli membuat istrinya sedikit bergidik. “Fleur, apa kau belum tidur?”Istrinya tak menjawab dan masih memejamkan matanya. Anshel bis
Ketika Anshel hendak mencium bibirnya ponselnya berbunyi. “Ah… apa aku tidak boleh menghabiskan waktu dengan istriku,” keluhnya sambil menatap mata istrinya, tapi Fleur malah terkekeh. Fleur memiringkan kepalanya agar Anshel segera beranjak, “Cepat angkat dulu, siapa tahu itu penting.”Anshel mengusap bibir Fleur, “Aku belum selesai jangan tidur dulu!”Fleur menggeleng, sambil tertawa seolah meledek suaminya. Anshel memandangi wajah istrinya sebentar, lalu bangkit, ia segera berlari meraih ponselnya di atas meja kecil lalu kembali ke ranjang ia tidak membiarkan Fleur mengganti bathrobe dengan pakaian tidurnya. Sambil menggenggam tangan istrinya ia mengangkat telepon. “Smith, apa kau tidak tahu waktu, aku sedang bersama istriku.”“Maafkan aku.”“Sudah besok lagi!” ujar Anshel sambil melirik istrinya. Fleur berusaha melepaskan tangan suaminya, tapi ia semakin menarik tangan Fleur. “Jangan tutup teleponnya, ini penting,” ujar Smith tergesa-gesa. Anshel mulai menggoda Fleur denga
“Tuan Anderson, ada seseorang yang mengirim foto Nona Valeria bersama seorang pria seusia anda dan mereka….” Belum juga selesai menyelesaikan kata-katanya. Tuan Anderson menghentikan ucapan pelayannya dari seberang telepon. Bukan hanya pelayannya, ia juga mendapatkan email entah dari siapa, Pria tua itu kini sedang menatap Laptop di tempat persembunyiannya. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal sekuat mungkin. Ia sempat menunduk, dan sikunya menempel di atas meja, kemudian ia menggenggam kedua tangannya dan menopang alisnya dengan kedua jempolnya, sambil memijat pelan. Pria itu bangkit, ia berjalan menuju teras yang menghadap hutan, suara langkahnya menggema di rumah kayu itu, ia berdiri di sana tangannya menggenggam pagar kayu yang kokoh. Suara kicau burung-burung terdengar, di sekitar rumahnya rindang banyak pohon tinggi menjulang, tatapannya tajam fokus m
“Kau harus melaksanakan kewajibanmu sebagai istriku malam ini?”Fleur membelalakan mata, “Apa?”“Anshel, apa kau tidak punya perasaan, aku…,”“Ssssttt!” Anshel membungkam mulut Fleur dengan telunjuknya lalu ia menciumnya dengan lembut. Belum juga mereda dengan perkataan suaminya, kini Pria itu malah mencuri ciuman darinya dan ia hanya bisa pasrah. Saat Anshel hendak menciumnya kembali Fleur segera menjauhkan tubuhnya darinya, “Anshel, apa kau tidak malu ada Bodyguard dan sopir di mobil ini.”Anshel merapikan jasnya sambil menghela napas, “Kenapa aku harus malu, kita ini suami istri Fleur.”“Tapi kau harus menjaga sikapmu,” ucapnya dengan nada sangat pelan. Anshel malah menarik tubuh wanita yang ada di sampingnya sehingga tidak ada jarak sedikitpun di antara mereka. Fleur sampai menepuk jidatnya, “Ya Tuhan suamiku benar-benar membuatku malu,” kata Fleur. Dan sepanjang perjalanan Anshel terus mengganggu istrinya, sampai ia kehilangan rasa kantuknya, juga rasa lelahnya digantikan de
Pintu ruangan Fleur diketuk oleh seseorang. “Masuk!” seru Fleur. “Selamat siang Nyonya Robinson!” sapa Victor. “Tuan Victor,”Fleur berdiri menyambut pengacara perusahaannya. “Panggil saja saya Victor, Nyonya.”“Ah, saya merasa tidak sopan.”Fleur mempersilahkan Victor duduk, ia juga duduk di depan Victor. “Kenapa anda tidak bersama Smith?”“Tadi kami sempat mengobrol, kebetulan dia sedang menerima telpon.”Fleur mengangguk, Kemudian Victor menyerahkan beberapa dokumen, dan mereka mulai mendiskusikan hasil sidang terakhir.“Nyonya, apakah anda tidak menemukan file yang mencurigakan di komputer Ayah anda. “Tidak, sejauh ini saya tidak mendapati kesalahan laporan keuangan.”Victor menghela napas. “Baiklah, meskipun kita sudah memberikan bukti adanya manipulasi penghasilan namun dipatahkan oleh Tim kuasa hukum Tuan Anderson, karena adanya surat perintah dari Tuan Wesley. Tak berapa lama kemudian Smith datang dan bergabung dengan mereka. “Sepertinya kita harus menggunakan cara li
“Biarkan aku menyentuhmu… dan jangan coba-coba menghentikanku.”Fleur membelalak, tubuhnya memanas seperti baru kena bara api, api asmara tentunya, dan jantungnya berdebar hebat. Fleur menunduk, entah apa lagi alasan yang akan ia buat. Anshel masih menatapnya dalam-dalam. Ia mengangkat wajahnya,
Sorenya CEO perusahaan Noblecrest Group itu sedang menuju kantor Noblecrest Systems. “Fleur, sebentar lagi aku tiba di NCS.”“Baiklah, Tuan Robinson, aku akan segera turun.”Fleur tersenyum tipis setelah menutup telepon. Ia segera merapikan meja kerjanya dan mengambil tas tangannya. Begitu ia me
Keluarga Robinson sudah mengakhiri akhir pekan mereka di River Shade. Suasana pagi itu diwarnai kesibukan kecil para pelayan yang membereskan koper ke dalam bagasi mobil. Philippe sudah bersiap berangkat lebih dulu, sementara Anshel masih duduk di ruang makan, menyesap kopi hitamnya dengan tenang.
Fleur hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, menatap punggung suaminya yang tengah mengobrol dengan mertuanya. Tingkah Anshel benar-benar di luar nalar, pria itu seolah sudah menyiapkan pesta penyambutan hanya karena dirinya muntah-muntah. Karena tubuhnya masih terasa sangat lemas, Fleur memili







