Beranda / Rumah Tangga / Ceraikan Aku, Tuan Anshel / Bab 44 - Di Balik Cahaya Pesta

Share

Bab 44 - Di Balik Cahaya Pesta

last update Terakhir Diperbarui: 2026-01-16 12:47:14

“Jangan menciumku lagi,” ucap Fleur pelan, meski pipinya memanas dan jantungnya berdegup tak karuan.

Ia menunduk, seolah kalimat itu ditujukan pada lantai di antara mereka. Aku tidak boleh membiarkan ini berlanjut, pikirnya. Bukankah dua tahun lagi kami akan berpisah?

Anshel terdiam. “Kenapa?”

Fleur menghela napas pendek. “Karena kau akan segera membebaskanku. Aku tak ingin terikat pada sesuatu yang… tidak seharusnya.”

Tangan Anshel terangkat, mengusap pipinya, dan…Fleur memejamkan mata sesaat—lalu menepisnya dengan perlahan.

“Sudah malam. Aku lelah, Anshel.”

Anshel menarik napas dalam, mengusap tengkuknya sendiri sebelum mengangguk. Senyum tipis terbit di wajahnya, meski ada sesuatu yang runtuh di dadanya.

“Baik,” katanya pelan.

Mereka lalu melangkah menuju kamar, berdampingan—namun dengan jarak yang terasa lebih jauh dari sebelumnya.

Di dalam kamar setelah mencuci wajahnya dan berganti pakaian Anshel mengambil satu bantal dan membawanya ke sofa.

Fleur baru saja keluar dari kamar ma
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Erni Apriani
bikin penasaran aja kak.huhuhuhu
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 46 - Gairah di Atas Janji

    Anshel membuka pintu kamar, ia kemudian merebahkan tubuh Fleur di ranjang, heels-nya terlepas begitu saja, ia menggigit bibir Fleur, ciumannya turun ke leher. Fleur sedikit bersuara.Tangan besar pria itu meremas pinggul Fleur, ia mencoba membuka resleting dressnya Fleur.Fleur tiba-tiba menghentikan tangannya. “Berhenti!”Anshel menghentikan ciuman dan gerakan tangannya, ia mengangkat sedikit wajahnya, “Kenapa, apa kau belum siap?”Fleur menatapnya ragu, kemudian rasa mual menyerang perutnya, ia mendorong Anshel dan berlari menuju wastafel. Anshel menghampiri Fleur.Ia mengusap punggung Fleur, dengan cepat mengambil air putih dan tisu lalu diberikan padanya. Fleur meraih gelas itu. Akan tetapi Anshel mengambil kembali tisu itu dan membantu istrinya melap bibirnya terlebih dahulu. Lalu Fleur meneguk air putih itu. “Berapa gelas wine yang kau minum, Fleur?” Fleur menggeleng, lemah. Selesai minum Anshel mengambil gelas itu di sisi wastafel lalu mengangkat Fleur. “Jangan lakukan

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   44 - Asumsi Yang Membakar

    Seorang pria mengulurkan tangannya, siap mendorong Fleur dari balkon yang tinggi.​“Fleur!” teriak Anshel yang baru saja tiba di sana dengan napas memburu.​Pria itu menoleh kaget, sementara Fleur tersentak menyadari maut mengintip di belakangnya. Secara refleks, Fleur melayangkan tinju ke wajah pria itu dan mencoba berlari, namun si penyerang lebih cepat—ia menyambar pergelangan tangan Fleur dengan kasar.​Anshel berlari secepat kilat, namun langkahnya terhenti seketika saat pria itu berhasil memiting Fleur. Ia memutar tubuh Fleur, memelintir tangan kirinya ke belakang punggung, dan mendekap tubuh wanita itu erat dari belakang sebagai sandera.​“Jangan mendekat! Diam di sana, setidaknya tunggu sampai rencanaku berhasil,” seringai pria itu, tampak menikmati ketakutan di wajah Anshel.​“Lepaskan dia, atau aku akan membunuhmu dengan tanganku sendiri!” ancam Anshel dengan suara rendah yang bergetar karena amarah.​Alih-alih takut, pria itu justru menarik bibirnya membentuk senyum sinis.

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 44 - Di Balik Cahaya Pesta

    “Jangan menciumku lagi,” ucap Fleur pelan, meski pipinya memanas dan jantungnya berdegup tak karuan.Ia menunduk, seolah kalimat itu ditujukan pada lantai di antara mereka. Aku tidak boleh membiarkan ini berlanjut, pikirnya. Bukankah dua tahun lagi kami akan berpisah?Anshel terdiam. “Kenapa?”Fleur menghela napas pendek. “Karena kau akan segera membebaskanku. Aku tak ingin terikat pada sesuatu yang… tidak seharusnya.”Tangan Anshel terangkat, mengusap pipinya, dan…Fleur memejamkan mata sesaat—lalu menepisnya dengan perlahan.“Sudah malam. Aku lelah, Anshel.”Anshel menarik napas dalam, mengusap tengkuknya sendiri sebelum mengangguk. Senyum tipis terbit di wajahnya, meski ada sesuatu yang runtuh di dadanya.“Baik,” katanya pelan.Mereka lalu melangkah menuju kamar, berdampingan—namun dengan jarak yang terasa lebih jauh dari sebelumnya.Di dalam kamar setelah mencuci wajahnya dan berganti pakaian Anshel mengambil satu bantal dan membawanya ke sofa. Fleur baru saja keluar dari kamar ma

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 43 - Koridor Malam

    “Cantik?” tanya Fleur, menyinggung Caroline—putri Tuan Johnson.Anshel menengadah, meletakkan pisau dan garpunya dengan hati-hati. Tatapannya sempat menelusuri wajah Fleur, mencari tanda-tanda kecemburuan. Namun yang ia temukan justru ketenangan—dan senyum tipis di bibir istrinya.Ia ikut tersenyum. “Ya, cantik.”Fleur berhenti mengiris dagingnya sejenak, lalu mengangguk pelan sambil menyunggingkan senyum kecil, seolah jawaban itu memang tak mengejutkannya.Saat Fleur hendak meneguk wine, Anshel menahan gelasnya. Sentuhan tangan mereka tak terhindarkan—hangat dan singkat.“Jangan minum lagi,” ucap Anshel pelan. “Besok kita harus menghadiri pernikahan Pangeran Magnus. Kau perlu menjaga kondisi tubuhmu.”Fleur menurunkan pandangannya ke tangan Anshel yang masih menyentuh jemarinya. Sesaat kemudian, Anshel menarik tangannya kembali.Fleur hanya mengangkat bahu ringan, seolah tak mempermasalahkan. Usai makan malam, Anshel sempat bersosialisasi dengan beberapa tamu undangan. Fleur pun di

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 42 - Jamuan Makan Malam Kerajaan

    “Kau ke mana saja?” keluh Fleur yang sudah rapi dan siap berangkat. “Maaf, tadi aku keluar sebentar, cari angin,” jawab Anshel. Namun sejak kembali ke kamar, tatapannya tak lepas dari istrinya, seolah memastikan Fleur benar-benar ada di hadapannya. “Aku mandi dulu sebentar?” ujarnya kemudian. Fleur mengangguk kecil. “Hmmm.” Anshel segera bergegas ke kamar mandi. Sementara itu, Fleur duduk menunggu di sofa dekat jendela, tangannya meraih majalah yang tergeletak di atas meja kecil hotel. Ia membuka lembar demi lembar dengan santai, menikmati waktu luangnya. “Oh… ini wajah Pangeran Magnus saat sudah dewasa,” gumam Fleur pelan. “Ternyata tampan juga.” Saat jemarinya hendak membuka halaman berikutnya—yang menampilkan foto Putri Madison—rasa haus tiba-tiba menyerang. Fleur bangkit, berjalan ke sisi kanan kamar, membuka kulkas kecil, lalu mengambil sebotol air mineral. Ia meneguknya perlahan sebelum meletakkan kembali botol itu ke meja. Pandangan Fleur kemudian berkeliling, mene

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   41 - Undangan dari Kerajaan Vugge

    “Baiklah, Bu. Aku tidak akan bertanya saat ini.”Anshel menutup teleponnya. Namun ia sempat berpikir sesaat seolah sedang mencari jalan keluar dari masalahnya. Kemudian CEO Noblecrest Group itu meninggalkan kantor dan kembali ke mansion karena pekerjaannya sudah selesai. ◾️◾️◾️⚫⚫⚫◾️◾️◾️Satu minggu kemudian.Anshel dan Fleur bersiap untuk menghadiri pesta pernikahan Pangeran Anshel, negara Vugge. Semua barang telah dimasukkan ke bagasi, pintu mobil ditutup, dan kendaraan itu melaju menuju bandara. Jalanan tertutup salju tipis, sunyi, hanya suara mesin yang menemani perjalanan mereka.Fleur melirik Anshel dari kursi sebelah. Wajah suaminya tampak lebih murung dari biasanya.“Anshel,” katanya akhirnya, “...apa di perusahaanmu ada masalah?”Anshel menoleh sekilas, lalu kembali menatap jalan. “Tidak,” jawabnya singkat. “Aku hanya khawatir meninggalkan seseorang.”“Maksudmu Ava Grace?” Fleur menimpali.Anshel menyatukan alisnya, bibirnya tertarik tipis ke satu sudut. “Kenapa dia?”“I

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status