Mag-log inTuan Anderson apa maksud anda?” tanya Hakim. Bukannya menjawab pertanyaan dari Hakim, ia lebih memilih diam. Pria tua itu menyapu pandangannya ke arah kursi ruang sidang yang penuh itu. Ia melihat satu persatu pengunjung, berharap bisa menemukan seseorang yang sudah menerornya dengan foto-foto masa lalunya.Foto tersebut mengungkap dosa yang selama ini ia kubur dengan rapat. Mulai dari penyerahan amplop berisi uang suap, percobaan pembunuhan, hingga korban yang terkapar akibat racun yang ia berikan. Seolah-olah ada seseorang yang mengawasinya selama ini.Dibalik foto terakhir dimana ia sedang mencekik pria Asia itu ada tulisan tangan. “Akui perbuatanmu di pengadilan, atau aku akan memberikan foto lainnya kepada polisi, kau pikir kejahatanmu tidak akan diketahui siapapun?”‘Bagaimana dia bisa tahu aku menyuap Tuan Zhao dan menghabisinya, ia bahkan tahu akulah yang melenyapkannya Nyonya Merry,’ batinnya.Ia menunduk sebentar, lalu melihat ke arah dua bangku, ada seseorang yang terseny
Ruang sidang tampak lebih ramai dari biasanya.Smith dan Victor tampak sedang berembuk, sambil sesekali menunjukkan dokumen kepada timnya. Deretan kursi pengunjung hampir terisi penuh. Beberapa wartawan duduk di barisan belakang sambil mempersiapkan catatan mereka. Semua orang menunggu satu orang yang selama berbulan-bulan menjadi pusat perhatian kasus ini, Anderson.Fleur duduk dengan kedua tangan bertumpu di atas pangkuannya. Wajahnya terlihat tegang, namun jemarinya saling bertaut erat.Anshel yang duduk di sampingnya melirik sekilas ke arah istrinya."Kau baik-baik saja?"Fleur mengangguk pelan."Aku hanya ingin semua ini segera berakhir."“Aku juga. Sayang, kau cukup menjawab apa yang kau tahu jika hakim melontarkan pertanyaan padamu.“Ya, dan aku harap Tuhan berpihak kepada keluarga kami, agar pria itu bicara dengan jujur.”Anshel mengusap punggung Fleur sambil tersenyum. Ia tampak iba dan juga memahami perasaan istrinya. Sudah terlalu banyak hal yang terjadi dalam beberapa ta
“Bertahanlah Philippe!” ucap Anshel dengan wajah panik namun penuh harap. Anshel masih berdiri di depan ruang perawatan Philippe dengan napas yang terasa berat. Dari balik kaca transparan itu ia bisa melihat beberapa dokter dan perawat terus bergerak cepat mengelilingi tubuh pria yang masih belum sadarkan diri tersebut.Bunyi monitor jantung memenuhi ruangan dengan irama yang tidak beraturan.“Dok, tekanan darah mulai naik!”Salah satu dokter segera menoleh pada monitor di samping ranjang Philippe.“Bagus, pertahankan stabilisasinya.”Perawat itu mengangguk cepat lalu kembali memeriksa alat infus dan oksigen Philippe.Anshel menelan ludahnya pelan.Sejak mengenal Fleur, ia tahu betul betapa pentingnya Philippe dalam hidup istrinya. Meskipun hubungan kakak beradik itu sering dipenuhi perdebatan, namun Philippe adalah satu-satunya keluarga yang selalu berdiri di sisi Fleur sejak kecil.‘Jika sesuatu terjadi pada pria itu…’Pira itu mengembuskan napas kasar.Anshel bahkan tidak berani m
Fleur kemudian mengajak ibu mertuanya sarapan bersama dan pamit untuk bekerja. Selesai sarapan putra dan menantunya pamit untuk bekerja. ▫️▫️▫️Selesai mengantar Fleur, ia menuju Rumah sakit Ardenvale. Anshel pun tiba di ruangan wanita itu. “Anshel,” sapa Ava Grace dengan sumringah. Ia berbaring di ranjang itu. “Bagaimana keadaanmu sekarang?”“Perutku terasa mual sekali.”Seorang dokter datang dan menimpali, “Nona Ava Grace, sering melakukan diet ketat, katakan padanya makanlah dengan baik,” pesannya sambil mendekati Anshel. “Dokter Lawrence.”Dokter cantik itu sangat mengenal Anshel, dia juga kenal dengan Ava Grace, ia senior keduanya saat di kampus namun beda jurusan. Dokter itu menjabat tangan Anshel. “Sekarang aku lebih sering melihatmu di sini, apa kantormu akan pindah kesini?” candanya. Ketiganya terkekeh. “Mana istrimu?”“Tentu saja sedang bekerja, aku kesini hanya untuk menjenguk pencipta alat baru untuk rumah sakit kita.”Dokter Lawrence mengangguk. “Baiklah, aku
‘Kenapa Ava Grace menelpon Anshel, apa mereka masih berhubungan,’ pikir Fleur. Fleur tak bertanya apapun pada suaminya.▫️▫️▫️Matahari sudah naik, Anshel sedang mandi sementara Fleur sedang mengenakan setelan blazer berwarna putih. Ponsel Anshel bergetar, Fleur awalnya tak menghiraukannya, namun ia penasaran karena teringat semalam Ava Grace menelpon suaminya. Ia menengok ke arah pintu kamar mandi, kemudian dengan terburu-buru ia melihat nama penelpon yang menghubungi suaminya.“Ava Grace, lagi?” Fleur segera meletakkan ponsel itu kembali. Ia kemudian mengambil jepit rambut dan memasangnya pada rambut panjangnya. “Kenapa dari kemarin dia terus menelpon Anshel?”Fleur meraih minyak wangi, pikirannya masih dikelilingi tanda tanya besar, karena ada wanita itu. Anshel keluar dari kamar mandi, “Sayang aku akan mampir ke Noble System apa kau mau ikut?”Fleur yang sedang memasukkan barang ke dalam tasnya tidak menyahut, karena ia masih melamun sambil duduk di depan kaca rias. Anshel
Smith tak mau menjawab pertanyaan Fleur, kalau ia memang diminta selalu mendampingi Fleur ketika Anshel tidak ada di sisinya. Selepas pulang bekerja Fleur dan suaminya mengunjungi rumah sakit dimana Philippe di rawat. Dalam sebuah ruangan, beberapa alat medis terpasang, banyak selang oksigen menempel pada tubuh Philippe Ruthven, agar tetap bertahan, layar monitor menunjukkan detak jantungnya yang stabil, dan pria itu masih betah tidur panjang di tempat tidur pesakitan. Fleur tak sanggup melihat kondisi Philippe seperti itu. Bulir air matanya mendarat begitu saja di kulit pipinya yang mulus, lama semakin lama isaknya semakin menjadi, benar kata Smith ia hanya menatap kakaknya tanpa mengatakan sepatah kata pun dan menangis selama satu jam penuh. Anshel membiarkan istrinya melepaskan kesedihannya, meskipun ia terus memintanya bersabar, tapi tak akan menyembuhkannya, karena yang Fleur inginkan adalah kesembuhan kakaknya. Anshel membelai rambut istrinya, Fleur bersandar di bahu suamin
Sorenya CEO perusahaan Noblecrest Group itu sedang menuju kantor Noblecrest Systems. “Fleur, sebentar lagi aku tiba di NCS.”“Baiklah, Tuan Robinson, aku akan segera turun.”Fleur tersenyum tipis setelah menutup telepon. Ia segera merapikan meja kerjanya dan mengambil tas tangannya. Begitu ia me
Keluarga Robinson sudah mengakhiri akhir pekan mereka di River Shade. Suasana pagi itu diwarnai kesibukan kecil para pelayan yang membereskan koper ke dalam bagasi mobil. Philippe sudah bersiap berangkat lebih dulu, sementara Anshel masih duduk di ruang makan, menyesap kopi hitamnya dengan tenang.
Fleur hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, menatap punggung suaminya yang tengah mengobrol dengan mertuanya. Tingkah Anshel benar-benar di luar nalar, pria itu seolah sudah menyiapkan pesta penyambutan hanya karena dirinya muntah-muntah. Karena tubuhnya masih terasa sangat lemas, Fleur memili
Begitu sampai di teras rumah, Fleur tidak bisa menahannya lagi. Ia berlari menuju kamar mandi terdekat dan... hoek! Ia memuntahkan isi perutnya. "Fleur? Kau baik-baik saja?" Anshel mengetuk pintu, suaranya bergetar.Saat ia membuka pintu kamar mandinya tidak di kunci, ia pun masuk sempat mengelus







