Home / Rumah Tangga / Ceraikan Aku, Tuan Anshel / Bab 57 - Rajutan Kasih Sayang

Share

Bab 57 - Rajutan Kasih Sayang

last update Last Updated: 2026-01-30 17:49:33

“Bagaimana kau bisa mengikuti, ibu.”

Lamunan Fleur mengenai keraguannya pada Anshel buyar, karena pertanyaannya mertuanya.

“Ah ini pertama kalinya aku belajar merajut, dan ini memang tidak mudah, tapi aku tidak akan menyerah.”

keduanya terkekeh pelan.

Suara ketukan dari luar kamar terdengar.

Fleur mempersilahkan Emma masuk.

“Nyonya, supaya sudah siap apakah anda saya perlu menghilangkannya sekarang?”

“Nanti saja Emma, tolong sediakan teh untuk ibu,”

“Baik. Nyonya Fleur, tuan Anshel tadi ber
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 63 - Berita yang Dirahasiakan

    Seorang pria muda berusia 25 tahunan itu baru saja menguping pembicaraan Philippe dan Smith di kantor.Ia mundur perlahan dan segera meninggalkan tempat itu.Saat memasuki lift, ia menelpon seseorang. "Anda harus berhati-hati, mereka sudah mengendus semua gerak-gerik Anda, Tuan."Seseorang sambil menyesap cerutunya, bicara, "Hemm," sahutnya sambil mengangguk. "Aku tahu, jalankan tugasmu dengan baik, jangan sampai mereka mengetahui bayanganmu."Pria itu menjentikkan abu rokok di asbak dan menyeringai.◾️◾️◾️🔳🔳🔳◾️◾️◾️Sementara itu di mansion, Fleur sedang menikmati ketenangan di balkon kamar tamu. Ia duduk bersandar di kursi rotan putih yang di lapisi busa empuk, dikelilingi rimbunnya tanaman palem, geranium dan begonia juga tanaman yang mekar meski musim panas sedang terik-teriknya. Aroma segar dari jus lemon dan potongan buah berry di atas meja sedikit mengobati rasa bosannya setelah menyelesaikan sebuah novel favoritnya. "Akhirnya aku menyelesaikannya juga," ucapnya sambil me

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   62 - Taring Sang Pemimpin

    ‘Apa yang sedang Anshel sembunyikan?’ tanya ibu Anshel dalam hati. ◾️◾️◾️Fleur sudah bangun, ia juga sudah mandi dan memakai gaun bunga-bunga bermotif blueberry berbahan adem panjangnya selutut, berlengan balon pendek cocok di pakai untuk musim panas, rambutnya yang coklat, di jepit setengah di bagian belakang. Selesai mandi mereka pun sarapan bersama dan Nyonya Olivia pamit pulang. “Jadi ibu tidak mau tinggal di sini,”“Nanti saja sayang, masih banyak yang ibu urus, hari ini ibu harus pergi ke yayasan.”“Baiklah bu, Hati-hati di jalan, pesan Fleur sambil memeluknya erat, seolah enggan melepas kepergiannya. Nyonya Olivia pun memeluk Putranya dan berbisik, “Jaga istrimu, jangan membuatnya marah.”Anshel tersenyum, “Baik Bu, kabari aku jika ibu perlu sesuatu.”Ibunya mencubit pipi Anshel, “Kau ini, ibu tidak membutuhkan apapun, ibu hanya ingin melihat kali

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 61 - Rahasia di Balik Embun

    Fleur menggigit bibirnya, ia tak percaya Anshel tega meninggalkannya. “Ayo ibu bantu.”“Jangan bu, nanti pinggang ibu sakit," tolaknya lembut. Fleur melirik sebentar ke arah Anshel, lalu memanggil pelayannya, “ Emma."Emma segera menghampiri majikannya. "Iya Nyonya.""Bisakah kau memanggil Barack, atau seorang pengawal di depan.”Mendengar hal itu Anshel menghentikan langkahnya. ‘Tidak mungkin bukan, salah satu di antara mereka mengangkat Fleur ke kamar.’ Batinnya. Anshel berusaha melangkah lagi tapi ia berbalik dan turun. Ia berjalan menghampiri Fleur. Ibunya menoleh pada anaknya. ‘Ah, ku pikir kau sudah membaik, karena kau sempat menolakku, makanya aku langsung pergi.’Fleur tersenyum menang dalam hati. Ah, rupanya begitu. Aku kira dia cemburu, tak mau mereka menggendongku, pikirnya sambil menoleh ke ibunya. “Atau Anshel tak enak ha

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 60 - Warisan Noblecrest

    ‘Ada apa Nona Grace menghubungi Anshel?’ tanya Fleur kesal dalam hati. Dadanya terasa sesak setiap kali membayangkan nama itu muncul di layar ponsel suaminya.​Huft, tidak, aku tidak cemburu! Fleur mencoba menenangkan diri. Hanya saja, kenapa wanita itu berani menelepon Anshel padahal ini sudah malam? Baiklah, malam ini aku tidak akan tidur bersamanya. Tekadnya sudah bulat. Perasaannya yang tadi hangat kini berubah menjadi gelisah dan penuh curiga.​Fleur kemudian menoleh pada Nyonya Olivia yang duduk di sampingnya. “Ibu, apa boleh aku tidur dengan Ibu malam ini?”​Nyonya Olivia sedikit terkejut mendengar permintaan tiba-tiba itu. “Tidur bersama Ibu? Memangnya Anshel tidak keberatan?”​“Aku akan bertanya padanya nanti,” jawab Fleur singkat, berusaha menyembunyikan getar kecewa di suaranya.​Tak lama kemudian, Anshel kembali setelah menyelesaikan urusannya. Ia duduk kembali di kursinya dengan santai, seolah tidak terjadi apa-apa.​“Fleur, ayo kita mengobrol di ruang keluarga,” ajak Ans

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 59 - Malan Malam Bersama Keluarga Kecil

    ​“Kami tidak bisa melihat wajah pria itu, Tuan.”​“Baiklah, pantau terus!”Anahel menutup telepon dan kembali duduk untuk menyelesaikan setumpuk berkas. Tak terasa matahari mulai tenggelam. Begitu pekerjaan usai, aku segera bergegas pulang.​➖➖➖🔳🔳🔳➖➖➖​Setibanya di rumah, Anshel mendapati Fleur dan Ibu sedang bersantai di ruang tamu. Senyum langsung merekah di wajah Ibunya saat melihatnya datang.​“Ibu terlihat sangat bahagia hari ini,” godaku.​Nyonya Olivia melepaskan pelukannya, matanya berbinar. “Tentu saja, karena Ibu bisa mengobrol banyak dengan istrimu.”Anshel beralih ke Fleur. Ia berusaha bangkit berdiri untuk menyambutnya, tapi pria itu segera menahannya. Ia hanya memeluknya sebentar—namun tanpa kecupan.​“Duduklah, Fleur. Kakimu pasti masih sakit.”​Fleur tertegun. Kenapa Anshel tidak menciumku? batinnya heran. Biasanya Anshel selalu pandai bersandiwara di depan keluarga, apalagi setelah malam yang mereka lalui bersama. Perubahan sikap suaminya itu menyisakan tanda tanya

  • Ceraikan Aku, Tuan Anshel   Bab 58 - Tikus di Noblecrest

    Sebelum menelpon Ibu Olivia. Gedung Noblecrest Logistik tampak lebih tegang dari biasanya. Anshel melangkah masuk dengan aura dingin, didampingi Owen yang membawa map hasil audit final. Semua staf menunduk, tak berani menatap mata CEO mereka.​Di ruang rapat, beberapa manajer divisi logistik sudah berkeringat dingin. Anshel duduk di kursi utama, lalu melemparkan dokumen hasil audit ke tengah meja. Suaranya terdengar tenang, namun mematikan.​"Audit Pelabuhan Ardenvale sudah selesai. Dan aku menemukan sesuatu yang menarik," ujar Anshel sambil menyandarkan punggungnya. “Bagaimana bisa—Ada selisih dana yang sangat besar antara barang yang masuk ke gudang logistik kita dengan laporan manifes di pelabuhan,” Anshel menatap stafnya. “Tuan Barret, apa bisa ada jelaskan?”​Salah satu manajer mencoba membela diri, "Tuan, mungkin itu karena biaya operasional yang membengkak akibat cuaca..."​"Cuaca?" Anshel memotong dengan nada sinis. Ia membetulkan letak kacamatanya. "Cuaca tidak akan bisa me

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status