Masuk“Tuan Anderson, ada seseorang yang mengirim foto Nona Valeria bersama seorang pria seusia anda dan mereka….” Belum juga selesai menyelesaikan kata-katanya. Tuan Anderson menghentikan ucapan pelayannya dari seberang telepon. Bukan hanya pelayannya, ia juga mendapatkan email entah dari siapa, Pria tua itu kini sedang menatap Laptop di tempat persembunyiannya. Rahangnya mengeras, tangannya mengepal sekuat mungkin. Ia sempat menunduk, dan sikunya menempel di atas meja, kemudian ia menggenggam kedua tangannya dan menopang alisnya dengan kedua jempolnya, sambil memijat pelan. Pria itu bangkit, ia berjalan menuju teras yang menghadap hutan, suara langkahnya menggema di rumah kayu itu, ia berdiri di sana tangannya menggenggam pagar kayu yang kokoh. Suara kicau burung-burung terdengar, di sekitar rumahnya rindang banyak pohon tinggi menjulang, tatapannya tajam fokus m
“Kau harus melaksanakan kewajibanmu sebagai istriku malam ini?”Fleur membelalakan mata, “Apa?”“Anshel, apa kau tidak punya perasaan, aku…,”“Ssssttt!” Anshel membungkam mulut Fleur dengan telunjuknya lalu ia menciumnya dengan lembut. Belum juga mereda dengan perkataan suaminya, kini Pria itu malah mencuri ciuman darinya dan ia hanya bisa pasrah. Saat Anshel hendak menciumnya kembali Fleur segera menjauhkan tubuhnya darinya, “Anshel, apa kau tidak malu ada Bodyguard dan sopir di mobil ini.”Anshel merapikan jasnya sambil menghela napas, “Kenapa aku harus malu, kita ini suami istri Fleur.”“Tapi kau harus menjaga sikapmu,” ucapnya dengan nada sangat pelan. Anshel malah menarik tubuh wanita yang ada di sampingnya sehingga tidak ada jarak sedikitpun di antara mereka. Fleur sampai menepuk jidatnya, “Ya Tuhan suamiku benar-benar membuatku malu,” kata Fleur. Dan sepanjang perjalanan Anshel terus mengganggu istrinya, sampai ia kehilangan rasa kantuknya, juga rasa lelahnya digantikan de
Pintu ruangan Fleur diketuk oleh seseorang. “Masuk!” seru Fleur. “Selamat siang Nyonya Robinson!” sapa Victor. “Tuan Victor,”Fleur berdiri menyambut pengacara perusahaannya. “Panggil saja saya Victor, Nyonya.”“Ah, saya merasa tidak sopan.”Fleur mempersilahkan Victor duduk, ia juga duduk di depan Victor. “Kenapa anda tidak bersama Smith?”“Tadi kami sempat mengobrol, kebetulan dia sedang menerima telpon.”Fleur mengangguk, Kemudian Victor menyerahkan beberapa dokumen, dan mereka mulai mendiskusikan hasil sidang terakhir.“Nyonya, apakah anda tidak menemukan file yang mencurigakan di komputer Ayah anda. “Tidak, sejauh ini saya tidak mendapati kesalahan laporan keuangan.”Victor menghela napas. “Baiklah, meskipun kita sudah memberikan bukti adanya manipulasi penghasilan namun dipatahkan oleh Tim kuasa hukum Tuan Anderson, karena adanya surat perintah dari Tuan Wesley. Tak berapa lama kemudian Smith datang dan bergabung dengan mereka. “Sepertinya kita harus menggunakan cara li
Flashback:Saat Fleur sudah kembali ke ruangannya, ia meminta pada Smith. “Smith, aku mau minta bantuanmu, ini soal Fleur.”Smith masih mencerna apa yang akan dikatakan oleh pemilik tiga pilar perusahaan yang sangat berpengaruh pada ekonomi di Ardenvale itu. “Soal Fleur?” tanya Smith penasaran. “Ya, aku sudah memutuskan, sebaiknya kita libatkan Fleur dalam kasus ini, biarkan dia melanjutkan tugas Philippe. Aku sudah lama membuatnya menderita, kau tahu dulu hubungan kami tidak baik, aku tidak mau dia melewatkan hari-harinya murung seperti ini.”Smith memutar kursi rodanya, kini ia saling berhadapan satu sama lain dengan Anshel. Anshel mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. “Smith, berikan bukti-bukti itu pada Fleur, dia cerdas dia pasti bisa mudah memahaminya, apalagi dia seorang CTO.”Smith menopang dagu di atas tangan yang bertautan di bahu kursi roda. "Ya, dia bisa mengakses bukti lain dari sana. Siapa tahu ada sesuatu yang disembunyikan."“Benar, sepandai-pandainya dia me
Para wartawan mengerumuni rumah sakit Forest hingga esok hari. Siangnya Ibu Anshel datang untuk menjenguk keluarga Ruthven, ia dialihkan oleh pengawal Anshel yang menjaganya ke pintu lain, agar wartawan tak bisa mendekatinya, meski hanya untuk sekadar wawancara. Nyonya Olivia akhirnya berhasil masuk tanpa gangguan dari media. Ia memasuki ruangan Fleur tanpa kendala. Saat di dalam Ibunya langsung menubruk menantu kesayangannya. “Sayang, ibu minta maaf karena baru bisa datang,” kata ibunya sambil memeluknya. “Tidak apa-apa, bu,” jawab Fleur, wajahnya tampak bengkak karena banyak menangis. “Bagaimana kondisimu, kau tidak mengalami luka lain kan, Nak?” tanya Nyonya Olivia sambil memperhatikan seluruh tubuhnya. “Tidak Bu, ibu tahu bukan, Ayahku pernah cerita kalau waktu kecil aku sering mandi di sungai bersama Smith dan Philippe.”Nyonya Olivia menyunggingkan senyuman. Ketika menyebut nama kakaknya, ia kembali murung, linangan air matanya mengambang di sudut matanya. Ibunya menyen
Anshel kemudian berdiri dan menghampiri suster. “Iya, saya menantu keluarga Ruthven,” “Tuan, bisa ikut saya, dokter ingin bicara dengan Anda.”Anshel melirik pada istrinya sejenak. “Baik, saya akan bicara dulu dengan istri saya sebentar.”“Baik Tuan, silakan,” jawabnya seraya tersenyum ramah. Saat Anshel melangkah, wanita berusia dua puluh lima tahun itu menatap kagum. ‘Ah, jadi ini Tuan Anshel, cucu Raja Robinson,’ batinnya. Ia juga sempat melihat Fleur yang terbaring. ‘Kasihan keluarga Ruthven, untung saja Putrinya selamat,’ ucapnya dalam hati dengan rasa empati. Anshel mengelus rambut Fleur, “Fleur aku tinggal sebentar, kau tenang saja ada pengawal yang menjagamu.”Fleur mengangguk pelan, Anshel pun mencium keningnya, seolah enggan meninggalkannya, Anshel juga mencium kedua tangan istrinya, lalu meninggalkannya sendiri, tangannya pun perlah
Fleur hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan, menatap punggung suaminya yang tengah mengobrol dengan mertuanya. Tingkah Anshel benar-benar di luar nalar, pria itu seolah sudah menyiapkan pesta penyambutan hanya karena dirinya muntah-muntah. Karena tubuhnya masih terasa sangat lemas, Fleur memili
Begitu sampai di teras rumah, Fleur tidak bisa menahannya lagi. Ia berlari menuju kamar mandi terdekat dan... hoek! Ia memuntahkan isi perutnya. "Fleur? Kau baik-baik saja?" Anshel mengetuk pintu, suaranya bergetar.Saat ia membuka pintu kamar mandinya tidak di kunci, ia pun masuk sempat mengelus
“Anshel, berhentilah menempel padaku, aku ingin bersama ibumu, apa kau tidak mau mengalah hari ini saja,” bisiknya sambil cemberut, karena kurang nyaman. Anshel menjawab dengan nada sangat pelan, “Setiap hari aku bekerja, bahkan kau tidak mau aku menyentuhmu,”“Tapi kau sering mencuri ciuman darik
Fleur dan Philippe sudah turun dari kuda. Di ujung lintasan, Fleur berteriak menyemangati para peserta dengan antusias. Anshel masih memimpin di depan, sementara Smith tertinggal beberapa meter di belakangnya.“Cepatlah, Black! Kita harus mengalahkan menantu majikanmu!” seru Smith sambil menghimp







