LOGIN“Kau harus melaksanakan kewajibanmu sebagai istriku malam ini?”Fleur membelalakan mata, “Apa?”“Anshel, apa kau tidak punya perasaan, aku…,”“Ssssttt!” Anshel membungkam mulut Fleur dengan telunjuknya lalu ia menciumnya dengan lembut. Belum juga mereda dengan perkataan suaminya, kini Pria itu malah mencuri ciuman darinya dan ia hanya bisa pasrah. Saat Anshel hendak menciumnya kembali Fleur segera menjauhkan tubuhnya darinya, “Anshel, apa kau tidak malu ada Bodyguard dan sopir di mobil ini.”Anshel merapikan jasnya sambil menghela napas, “Kenapa aku harus malu, kita ini suami istri Fleur.”“Tapi kau harus menjaga sikapmu,” ucapnya dengan nada sangat pelan. Anshel malah menarik tubuh wanita yang ada di sampingnya sehingga tidak ada jarak sedikitpun di antara mereka. Fleur sampai menepuk jidatnya, “Ya Tuhan suamiku benar-benar membuatku malu,” kata Fleur. Dan sepanjang perjalanan Anshel terus mengganggu istrinya, sampai ia kehilangan rasa kantuknya, juga rasa lelahnya digantikan de
Pintu ruangan Fleur diketuk oleh seseorang. “Masuk!” seru Fleur. “Selamat siang Nyonya Robinson!” sapa Victor. “Tuan Victor,”Fleur berdiri menyambut pengacara perusahaannya. “Panggil saja saya Victor, Nyonya.”“Ah, saya merasa tidak sopan.”Fleur mempersilahkan Victor duduk, ia juga duduk di depan Victor. “Kenapa anda tidak bersama Smith?”“Tadi kami sempat mengobrol, kebetulan dia sedang menerima telpon.”Fleur mengangguk, Kemudian Victor menyerahkan beberapa dokumen, dan mereka mulai mendiskusikan hasil sidang terakhir.“Nyonya, apakah anda tidak menemukan file yang mencurigakan di komputer Ayah anda. “Tidak, sejauh ini saya tidak mendapati kesalahan laporan keuangan.”Victor menghela napas. “Baiklah, meskipun kita sudah memberikan bukti adanya manipulasi penghasilan namun dipatahkan oleh Tim kuasa hukum Tuan Anderson, karena adanya surat perintah dari Tuan Wesley. Tak berapa lama kemudian Smith datang dan bergabung dengan mereka. “Sepertinya kita harus menggunakan cara li
Flashback:Saat Fleur sudah kembali ke ruangannya, ia meminta pada Smith. “Smith, aku mau minta bantuanmu, ini soal Fleur.”Smith masih mencerna apa yang akan dikatakan oleh pemilik tiga pilar perusahaan yang sangat berpengaruh pada ekonomi di Ardenvale itu. “Soal Fleur?” tanya Smith penasaran. “Ya, aku sudah memutuskan, sebaiknya kita libatkan Fleur dalam kasus ini, biarkan dia melanjutkan tugas Philippe. Aku sudah lama membuatnya menderita, kau tahu dulu hubungan kami tidak baik, aku tidak mau dia melewatkan hari-harinya murung seperti ini.”Smith memutar kursi rodanya, kini ia saling berhadapan satu sama lain dengan Anshel. Anshel mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. “Smith, berikan bukti-bukti itu pada Fleur, dia cerdas dia pasti bisa mudah memahaminya, apalagi dia seorang CTO.”Smith menopang dagu di atas tangan yang bertautan di bahu kursi roda. "Ya, dia bisa mengakses bukti lain dari sana. Siapa tahu ada sesuatu yang disembunyikan."“Benar, sepandai-pandainya dia me
Para wartawan mengerumuni rumah sakit Forest hingga esok hari. Siangnya Ibu Anshel datang untuk menjenguk keluarga Ruthven, ia dialihkan oleh pengawal Anshel yang menjaganya ke pintu lain, agar wartawan tak bisa mendekatinya, meski hanya untuk sekadar wawancara. Nyonya Olivia akhirnya berhasil masuk tanpa gangguan dari media. Ia memasuki ruangan Fleur tanpa kendala. Saat di dalam Ibunya langsung menubruk menantu kesayangannya. “Sayang, ibu minta maaf karena baru bisa datang,” kata ibunya sambil memeluknya. “Tidak apa-apa, bu,” jawab Fleur, wajahnya tampak bengkak karena banyak menangis. “Bagaimana kondisimu, kau tidak mengalami luka lain kan, Nak?” tanya Nyonya Olivia sambil memperhatikan seluruh tubuhnya. “Tidak Bu, ibu tahu bukan, Ayahku pernah cerita kalau waktu kecil aku sering mandi di sungai bersama Smith dan Philippe.”Nyonya Olivia menyunggingkan senyuman. Ketika menyebut nama kakaknya, ia kembali murung, linangan air matanya mengambang di sudut matanya. Ibunya menyen
Anshel kemudian berdiri dan menghampiri suster. “Iya, saya menantu keluarga Ruthven,” “Tuan, bisa ikut saya, dokter ingin bicara dengan Anda.”Anshel melirik pada istrinya sejenak. “Baik, saya akan bicara dulu dengan istri saya sebentar.”“Baik Tuan, silakan,” jawabnya seraya tersenyum ramah. Saat Anshel melangkah, wanita berusia dua puluh lima tahun itu menatap kagum. ‘Ah, jadi ini Tuan Anshel, cucu Raja Robinson,’ batinnya. Ia juga sempat melihat Fleur yang terbaring. ‘Kasihan keluarga Ruthven, untung saja Putrinya selamat,’ ucapnya dalam hati dengan rasa empati. Anshel mengelus rambut Fleur, “Fleur aku tinggal sebentar, kau tenang saja ada pengawal yang menjagamu.”Fleur mengangguk pelan, Anshel pun mencium keningnya, seolah enggan meninggalkannya, Anshel juga mencium kedua tangan istrinya, lalu meninggalkannya sendiri, tangannya pun perlah
Mobil Anshel sedang menuju ke kediaman Ruthven, untuk menjemput istrinya, ponselnya bergetar. Ia sempat menautkan alisnya saat melihat nomor yang memanggilnya. “Selamat siang, apakah anda Tuan Anshel Robinson Noble?”Anshel menjawab dengan santai, “Iya saya sendiri, maaf ini dengan siapa?”Polisi itu bicara dengan tegas dan sopan, “Saya Peter, petugas keamanan lalu lintas.”“Baik, apakah ada yang bisa saya bantu?”“Tuan, apakah anda berada di tempat yang aman, atau sekarang anda sedang menyetir?”Perasaan Anshel mulai tidak enak, ia semakin penasaran. “Tidak, saya bersama sopir saya.” “Syukurlah,” timpal polisi itu, ia mencoba berkomunikasi setenang mungkin, “Tuan jangan panik, istri anda…”Mendengar kata “Istri” Anshel langsung memotong pembicaraan polisi tersebut. “Istri saya, apa yang terjadi pada istri saya, Tuan Peter? “Tua
Pagi harinya, saat Fleur masih terbuai mimpi dan Nyonya Olivia mungkin baru saja memulai ritual yoga paginya, Anshel sudah berdiri di ruang bawah tanah vila yang kedap suara.Di depannya, pria penyusup itu terduduk lemas di kursi besi, tangannya terikat. Anshel tidak menyentuhnya, ia ha
Fleur mencoba pakaian pilihan Anshel. Ia tampak cantik dengan bikini biru bermotif mawar, atasan bertali satu di bahu kiri, sementara bagian bawahnya senada dengan pita di kedua sisi. Fleur terkekeh, “Ini lucu sekali,” gumamnya sambil bercermin. Namun karena ia merasa tidak percaya diri, ia meraih
“Dasar anak sialan, paman-paman, aku jijik mendengar anak perempuan Tuan Wesley dan menantunya memanggilku seperti itu, kali ini aku juga akan menyerangmu Anshel, aku tidak akan takut dengan posisi dan kekuatanmu,” gerutunya di dalam mobil, ia mendengus sambil menarik bibirnya ke samping kanan. Ma
“Penampilan paman Anderson, sangat ramah, meski kami tak dekat, di pesta nanti, aku akan mencoba mengakrabkan diri,” timpal Fleur sambil memakai bedak taburnya. Mereka saling melempar senyuman namun terselubung rencana untuk melawan musuhnya. ▪️▪️▪️⚫⚫⚫▪️▪️▪️Hari Sabtunya, pesta ulang tahun Ruthv







