ログインAnshel meletakkan ponselnya di atas meja.“Tidak seperti biasanya Ibu mengajakku mengobrol di saat aku sedang berada di kantor.”Tatapannya beralih pada bingkai foto dirinya bersama Fleur saat menghadiri pesta pernikahan Magnus. Senyum tipis terukir di bibirnya."Aku ingin sekali meneleponmu, Fleur. Tapi aku tahu kau pasti sedang rapat sekarang."Ia menyandarkan tubuhnya pada kursi kerjanya sambil menunggu kedatangan ibunya.Satu jam kemudian, Nyonya Olivia tiba di kantor putranya.Wanita setengah baya itu mengenakan rok hitam bergaris putih dipadukan dengan blus putih yang anggun. Sebuah button hat menghiasi kepalanya, membuat penampilannya tetap elegan.Baru beberapa langkah memasuki lobi, ponselnya berdering.Ia melihat nomor seseorang.Dengan ragu, ia menerima panggilan itu, sesaat kemudian wajahnya memerah, ia mengepalkan tangannya. "Jika kau berani menyentuh putra dan menantuku, ingat ini... aku akan membunuhmu dengan kedua tanganku. Kau tidak perlu mengancamku. Aku bukan perem
Anshel menutup matanya, sebentar.“Ternyata ini hanya mimpiku,” gumamnya pelan sambil mengembuskan napas lega.Fleur menggeleng-gelengkan kepala, ia bangkit dari ranjang, berusaha membantu suaminya berdiri. Wajah Fleur yang masih polos setelah bangun tidur perlahan mengusir bayang-bayang mimpi buruk yang baru saja dialaminya.Anshel tersenyum, ketika istrinya mengulurkan tangannya. “Ayo bangun!” ajak Fleur. Pria itu teringat akan ucapan istrinya semalam.Anshel pun berdiri di bantu Fleur, begitu berdiri, Anshel refleks memegang bagian belakang kepalanya.Melihat ekspresi suaminya, Fleur tampak khawatir. “Anshel, apa kau baik-baik saja, bagaimana kepalamu?” Anshel baru menyadari kepalanya terbentur ke lantai, dan ia merasa kesakitan, tapi ia bersikap santai di depan istrinya, laki-laki itu justru malah memandangi wajah istrinya, senyumnya tak men
“Apa kau datang ke pengadilan?”“Hmmm, bukankah waktu di rumah sakit aku pernah bilang akan datang ke persidangan.”Seolah mendapat jawaban dari rasa penasarannya, ia pun baru mengingatnya, kalau Ava Grace sempat meminta izin padanya untuk datang ke persidangan. “Ah benar, maaf aku tidak memperhatikannya saat di sana.”“Ya karena kau sibuk mengurus istrimu.”“Baiklah, tapi aku punya satu permintaan.”Anshel mengerutkan keningnya ia kemudian berbalik sambil melepaskan tangan Ava. “Berhenti dan jangan bergerak!”Kaki ava berjinjit ia kemudian menangkup ipi Anshel dan melumat bibir Anshel lagi. Namun Anshel segera mendorongnya. “Hentikan Ava!”Anshel menyeka bibirnya yang basah. “Hubungan kita sudah berakhir.”“Tapi kau menikmati ciumanku, Anshel kau bahkan membalas ciumanku dan rasanya masih sama seperti dulu.”
“Malam ini?”“Aku ingin bicara soal Alat itu.”“Tapi aku harus menemani Fleur.”“Bukankah istrimu akan senang jika kakaknya akan segera Pulih?”Anshel mengerutkan dahinya. “Baiklah, aku akan menemuimu malam ini.”Anshel kemudian memasukkan ponselnya ke dalam saku jas. Anshel mendekati kedua pengacaranya dan mengakhiri obrolan mereka. ***Anshel pun menuju sebuah Bar dimana mereka sering bertemu dulu. Di sana di ruang VIP gadis itu duduk di sofa menunggu kedatangan Anshel. Senyumnya mengembang ketika melihat Anshel datang. Ia berdiri sambil membawa segelas anggur putih. Anshel menyapanya, “Halo Nona Grace.”“Anshel akhirnya kau datang juga,” Ia segera memeluk Anshel dan mencium pipi Pria itu. Anshel berusaha melepaskan pelukan Ava Grace, “Ava, jangan seperti ini.”Ava Grace pun melepaskan pelukannya lalu ia menarik Anshel agar duduk d
Karena ruangan itu sangat gaduh, hakim meminta semua orang yang hadir untuk bersikap tenang.Hakim pun mengetukkan palu sidangnya tiga kali."Kepada hadirin yang terhormat, tolong tenang. Ketertiban ruang sidang harus dijaga. Saya tidak akan mentolerir gangguan yang tidak perlu."Anshel masih berusaha membujuk istrinya yang meluapkan kekesalannya kepada Tuan Anderson."Nyonya Fleur, silakan kembali ke tempat duduk Anda.""Tapi Yang Mulia…""Sudah, Sayang. Biarkan Victor dan Smith yang berbicara."Pipi Fleur mulai basah, "Anshel..." ucapnya dengan suara bergetar.Anshel mengusap air mata di sudut mata istrinya menggunakan ibu jarinya. Ia menatap Fleur lembut, berusaha membuat wanita itu tenang.Fleur akhirnya mengalah. Dengan berat hati ia kembali ke tempat duduknya.Hakim menunggu hingga suasana benar-benar tenang sebelum kembali membuka berkas perkara."Pengadilan telah mempelajari do
Tuan Anderson apa maksud anda?” tanya Hakim. Bukannya menjawab pertanyaan dari Hakim, ia lebih memilih diam. Pria tua itu menyapu pandangannya ke arah kursi ruang sidang yang penuh itu. Ia melihat satu persatu pengunjung, berharap bisa menemukan seseorang yang sudah menerornya dengan foto-foto masa lalunya.Foto tersebut mengungkap dosa yang selama ini ia kubur dengan rapat. Mulai dari penyerahan amplop berisi uang suap, percobaan pembunuhan, hingga korban yang terkapar akibat racun yang ia berikan. Seolah-olah ada seseorang yang mengawasinya selama ini.Dibalik foto terakhir dimana ia sedang mencekik pria Asia itu ada tulisan tangan. “Akui perbuatanmu di pengadilan, atau aku akan memberikan foto lainnya kepada polisi, kau pikir kejahatanmu tidak akan diketahui siapapun?”‘Bagaimana dia bisa tahu aku menyuap Tuan Zhao dan menghabisinya, ia bahkan tahu akulah yang melenyapkannya Nyonya Merry,’ batinnya.Ia menunduk sebentar, lalu melihat ke arah dua bangku, ada seseorang yang terseny
Sorenya CEO perusahaan Noblecrest Group itu sedang menuju kantor Noblecrest Systems. “Fleur, sebentar lagi aku tiba di NCS.”“Baiklah, Tuan Robinson, aku akan segera turun.”Fleur tersenyum tipis setelah menutup telepon. Ia segera merapikan meja kerjanya dan mengambil tas tangannya. Begitu ia me
Anshel fan Fleur sedang menghadiri undangan dari Perdana Menteri, Tuan Haakan. Keduanya selalu berdampingan. Bahkan Anshel sesekali menggenggam atau sekadar merangkul pinggang istrinya. Setelah acara pembukaan, para tamu dipersilakan duduk untuk memulai makan malam resmi. Ballroom Hotel Floresiens
Semua orang meninggalkan ruangan meeting. Begitu pintu ruang rapat tertutup rapat dan hanya menyisakan mereka berdua di koridor menuju ruangan kerja Philippe, ketegangan di bahu Philippe tampak sedikit mengendur."Gila. Kau benar-benar gila, Anshel," gumam Philippe sambil menggelengkan kepala, nam
Anshel memeluk erat Fleur di dalam kamar tamu mereka. Suasana yang tadinya sunyi mendadak terasa berat karena pertanyaan yang terus ia desak.“Katakan padaku, bagaimana perasaanmu padaku?” tanya Anshel.Fleur tidak langsung menjawab. Ia justru mengamgkat wajahnya, menatap dalam mata pria itu. “Ka







