Share

BAB 6

Author: Ede Thaurus
last update publish date: 2025-09-25 20:39:26

3 tahun kemudian

"Ruth, orang yang sama kembali membeli lukisanmu. Tidakkah menurutmu kau harus menemuinya dan mengucapkan terima kasih?"

"Tidak, aku tidak ingin menemui siapapun. Kalau orang itu membelinya, berarti dia menyukai lukisanku. Untuk apa aku menemuinya?" 

Sissy, managerku hanya menghela napas dalam. Dia tidak pernah menyerah memintaku datang ke galeri dan bertemu dengan para peminat lukisanku.

Tapi sampai hari ini, aku masih kesulitan bertemu dengan banyak orang. 

Aku menatap lautan yang teduh, lalu menorehkan warna biru di kanvas dengan kuasku.

Sudah 2,5 tahun aku mengasingkan diri ke desa kecil ini. Desa Santa Fe yang terdapat dipulau indah bernama sama, Santa Fe.

Aku pergi setelah semua urusan perceraianku selesai. Alex menjual rumah yang diberikan ayahnya dan memberikan setengah dari hasil penjualannya kepadaku. Aku hanya mengambil sedikit, dan memberikan sisanya kepada orangtuaku. Uang itulah yang kugunakan untuk hidup di pulau ini. 

Awalnya aku bekerja apa saja, agar bisa menyibukkan diri dan melupakan semua kenangan pahitku. Aku mencuci piring di restoran seafood, menjaga perpustakaan, bahkan membantu menjual ikan di tempat pelelangan ikan.

Hingga suatu hari, tanpa sengaja aku bertemu Sissy yang membuka galeri lukisan pertama di pulau ini. Dia juga melarikan diri, bedanya dia melarikan diri dari orangtuanya yang memaksanya menikah.

Aku memulai sebagai asisten Sissy, lalu aku memberanikan diri untuk melukis dan menunjukkannya kepada Sissy. Tidak kuduga Sissy menyukainya, lalu sejak saat itu aku menjadi pelukis yang mengisi galerinya.

Pendapatannya tentu saja, jauh melebihi yang kudapatkan selama ini. Aku membeli sebuah rumah kecil yang indah dan sebuah sepeda cantik. Tapi bukan itu yang membuatku kini terus melukis tanpa henti.

Perlahan, melukis menjadi tempat untuk menuangkan kerinduanku kepada Gerald, mengisi kekosongan dan kesepian, serta memberikan harapan yang pernah hilang.

Orang-orang mungkin melihat aku hanya melukis alam. Tapi dibalik langit cerah dan laut yang tenang, tersimpan gambar senyuman putraku. Dibalik ganasnya ombak dan langit yang kelabu ada air mata dan rasa sakit Gerald, lalu dibalik daun-daun yang gugur dan angin yang berhembus kencang, ada kenangan pahit yang kuharap terbang  bersama angin.

"Baiklah, sekarang aku biarkan. Tapi ingat lusa di malam perayaan satu tahun galeriku, kau harus hadir. Entah kau menyamar sebagai pengunjung, atau pelayan, pokoknya kau harus hadir!" ancam Sissy. 

Aku menggangguk tanpa menatapnya.

***

"Aku akan memakai gaun ini!" tegasku pada Sissy yang memaksaku untuk memakai gaun malam yang agak terbuka.

"Ruth, aku mohon. Malam ini saja, berdandanlah yang cantik. Aku sudah bilang, sepupuku akan datang dan mengajak teman-temannya. Mereka semua selebriti terkenal ibukota," pinta Sissy memohon.

"Tidak, aku kesana sebagai pengunjung dan hanya untuk menghormatimu! Jangan perkenalkan aku kepada siapapun! Kalau kau memaksa, aku tidak akan datang!" ancamku sambil mengancing gaun bunga-bunga sederhana milikku sejak kuliah dulu.

"Huh! Dasar keras kepala!" gerutu Sissy menyerah.

Dia masih terus menggerutu dalam perjalanan kami ke galeri. Sepertinya dia sangat ingin memamerkanku kepada teman-temannya, tapi aku sangat membencinya.

Kami tiba sebelum acara di mulai. Sissy berkeliling memastikan bahwa semua sudah beres, sementara aku duduk di pojok ruangan sambil memandangi lukisan yang ku buat pertama kali dan membuat Sissy terpesona. Dia sengaja tidak menjual lukisan itu, karena dia sangat menyukainya.

"Lukisan yang indah, kan? Pelukisnya pasti menganut naturalisme atau realisme. Bagaimana menurutmu?"

Aku menoleh sambil menunjuk diriku sendiri.

"Ya, aku sedang bicara denganmu. Apa menurutmu aku bicara dengan lukisan ombak itu?" tanya seorang pria muda yang tampak sangat rapi dan terawat.

Aku tersenyum.

"Aku setuju," jawabku singkat.

"Aku Markus," ucap pria itu sambil menyodorkan tangannya.

Dengan enggan aku meraih tangannya, lalu kami bersalaman.

"Apa kau tidak akan memperkenalkan diri?" tanyanya lagi.

"Oh, iya. Aku Ruth," jawabku canggung.

Sudah terlalu lama aku tidak berinteraksi seperti ini dengan orang lain, dan ini benar-benar tidak nyaman.

"Ruth? Apa kau yang melukis ini?" sahut Markus tampak terkejut.

Aku menatap Markus dengan reaksi sama terkejutnya.

"Kau tahu?" tanyaku bingung.

"Tentu saja! Aku sudah membeli lebih dari 10 lukisan milikmu."

"Kau? Jadi kau orang yang diceritakan Sissy, yang selalu membeli lukisanku?" 

"Ya, aku benar-benar ingin bertemu denganmu. Siapa sangka malam ini akhirnya impianku jadi kenyataan," ucapnya bersemangat.

Aku hanya tersenyum. Di sudut hatiku, aku merasa cukup senang karena ada seseorang yang begitu menghargai hasil karyaku.

"Tuan Markus, anda sudah bertemu dengan Ruth. Dia lah sang pelukis misterius yang membuat anda penasaran," ucap Sissy yang muncul tiba-tiba.

"Ya, kami akhirnya berkenalan," jawab Markus tersenyum senang.

"Kalau begitu bolehkah saya meminjam Ruth sebentar? Saya ingin mengenalkannya dengan sepupu saya, sebelum acara dimulai," ucap Sissy memohon.

"Tapi setelah itu, kalian boleh melanjutkan pembicaraan kalian," sambungnya cepat.

"Silakan, saya juga ingin mengambil minuman," jawab Markus tanpa melepaskan tatapannya darilku.

"Ayo cepat, sepupuku hanya bisa singgah sebentar. Mereka akan melanjutkan syuting sebentar lagi," ajak Sissy sambil menarik tanganku.

"Sudah kubilang, aku tidak mau dikenalkan dengan siapapun!" jawabku kesal.

"Kau tidak akan menyesal, karena sepupuku membawa para aktor dan aktris terkenal bersamanya."

Aku menghela napas, lalu mengikuti Sissy dengan terpaksa.

Sekelompok pria dan wanita muda berkumpul sambil tertawa. Mereka tampak modis dan bertubuh indah.

"Cassandra, sepupuku sayang!" seru Sissy begitu melihat kelompok itu.

"Sissy, cintaku!" balas seorang wanita muda bertubuh langsing dan tampak sangat cantik.

Mereka langsung berpelukan dan saling memuji.

"Oh iya, ini dia pelukis yang aku ceritakan. Tolonglah, bisakah kau promosikan lukisannya dan galeri ini di media sosialmu?" 

Sial! Ternyata itu maksud Sissy mengenalkan kami. Dia ingin para artis ini mempromosikan galerinya dengan gratis.

"Tentu saja, sayang. Aku akan melakukan apapun untukmu. Oh iya, kenalkan dulu teman-temanku," ucap Cassandra sambil merangkulku. Aku hanya tersenyum dan mulai menyalami mereka satu per satu,

"Oh iya, itu dia satu lagi. Idola para wanita, yang sangat popular," ucap Cassandra sambil menunjuk seseorang di belakangku.

Aku berbalik dan hampir jatuh ketika melihat siapa pria yang dia tunjuk.

"Alex."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cerita Cinta Sang Janda Muda   BAB 58

    "Baiklah, kalau begitu aku akan melakukannya untukmu," jawab George santai sambil mengeluarkan telepon genggamnya."Kemari sebentar!" perintah George melalui telepon.Tidak berapa lama kemudian, seorang pria masuk."Apa kau punya bukti surat hutang ayahmu? Kalau ada berikan padanya.""Aku punya fotonya," jawabku sambil memperlihatkan sebuah gambar kepada anak buah George."Cari tahu siapa yang melunasinya. Sekarang!" ucap George dengan tegas.Pria itu mengangguk sopan sebelum keluar dari ruangan."Berapa lama dia akan mendapatkan pelakunya?" tanyaku gelisah."Entah. Pulang saja dan aku akan memberitahumu kalau hasilnya sudah ada.""Tidak, aku akan menunggu saja. Bolehkah aku menunggu di sini?""Terserah kau saja. Aku akan menyuruh pelayan menyiapkan makanan untukmu.""Tidak usah, aku-""Aku tidak mau ada orang yang mati kelaparan di rumahku. Dan kau tampak seperti orang yang belum makan selama 2 hari!" potong George lalu segera keluar dari ruangan.Aku melemparkan tubuhku ke kursi emp

  • Cerita Cinta Sang Janda Muda   BAB 57

    "Apa? Menikah?" pekik ibuku sama kagetnya dengan aku."Bibi tidak perlu khawatir. Aku akan menjamin tidak ada seorangpun yang akan menyakiti Ruth. Aku akan-""Berhenti!" potong ibuku sambil melambaikan tangannya dengan keras."Apa maksudmu dengan menikah? Apa kau hamil lagi?" tanya ibuku sambil menatapku dengan kemarahan yang tidak bisa aku bayangkan."Tidak! Tidak! Aku tidak hamil! Aku sendiri bingung, kenapa harus menikah?" jawabku panik lalu menatap Alex penuh tanda tanya."Kenapa harus menikah?" ulang ibuku sambil ikut menatap Alex."Maksudku ... kalau ... aku mengatakan bahwa kau istriku, maka orang-orang tidak akan salah paham dan menjelek-jelekkan Ruth," jelas Alex sambil menatapku dengan terbata-bata."Kalian berdua benar-benar tidak berubah!" bentak ibuku kesal."Menikah sama sekali bukan jalan keluar. Kau memberikan ide itu hanya karena emosi dan romantisme yang ada di kepalamu kan?" "Tidak bibi, ini sama sekali tidak seperti itu," ujar Alex sambil berdiri mencoba menjelas

  • Cerita Cinta Sang Janda Muda   BAB 56

    "Aku rasa itu tidak mungkin. Meski dia membencimu tapi dia tidak punya cukup nyali dan kemampuan untuk melakukan hal seperti itu," jawab Sissy yakin."Apa mungkin George atau Bram?" Berbagai dugaan muncul di kepalaku."George? Bram? Untuk alasan apa mereka repot-repot melakukan semua ini?"Sissy kembali membuatku ragu. Aku benar-benar tidak bisa menduga siapa yang melakukannya."Sekarang sebaiknya kau menghindari keramaian dulu, karena wajahmu benar-benar jelas. Mereka memunculkan wajahmu, jadi sepertinya tidak aman kalau kau keluar. Selain itu, jangan membuka media sosial apapun, apalagi membaca komentarnya!""Kenapa?" tanyaku lemas."Untuk jaga-jaga saja, takutnya ada yang menyerangmu di jalan dan di media sosial.""Baiklah," jawabku patuh.Aku menarik napas dalam lalu segera keluar dari kamarku menuju ke dapur. Aku melihat ibuku yang sedang duduk sambil menatap layar telepon genggamnya dengan wajah marah dan tegang.Aku mendekatinya lalu duduk di hadapannya."Ma, jangan terlalu pe

  • Cerita Cinta Sang Janda Muda   BAB 55

    "Terima kasih untuk pujiannya," bisik Alex dengan suara sedikit mendesah dan senyum yang membuat tubuhku semakin menegang.Seharusnya sekarang aku berpaling, dan kembali menatap layar. Tapi aku malah terus menatap Alex yang entah mengapa semakin mendekatiku.Aku menelan ludah karena gugup, tenggorokkanku tiba-tiba terasa sangat kering.Wajah Alex semakin dekat, lalu dengan bodohnya aku menutup mata, seakan-akan pasrah menerima tindakan apapun yang akan dilakukan Alex."Bagian ini yang paling seru," ucap Alex sambil memegang kepalaku dan memutarnya ke arah layar.Sial! Aku malu. Kenapa aku harus menutup mata dan mempermalukan diriku sendiri. Aku mencoba mengatur napasku sambil menatap layar. Kali ini, aku tidak akan bicara sepatah katapun kepada Alex.Tiba-tiba Alex mendekat dan berbisik ke telingaku."Aku tidak ingin memulai sesuatu yang aku tahu tidak akan bisa kuhentikan. Kalau aku menciummu sekarang, maka yakinlah aku pasti akan membawamu ke ranjang."Mataku tetap di layar. Jadi sa

  • Cerita Cinta Sang Janda Muda   BAB 54

    "Ruth, apa kau sudah melunasi semua pinjaman papa?" teriak ibuku bersemangat sambil membuka pintu kamarku dengan tergesa-gesa.Aku masih berbaring di tempat tidur dan belum sepenuhnya sadar, karena semalam bicara di telepon sampai lewat tengah malam dengan Alex."Iya, aku sudah bayar sebagian, jadi jatuh temponya bisa ditunda sedikit," jawabku sambil meluruskan tubuhku perlahan."Tapi ini sudah lunas," jawab ibuku sambil menyodorkan selembar kertas."Lunas?" tanyaku terkejut dan langsung bangun. Apa aku melunasinya? Seingatku bayaran dari George tidak sama dengan jumlah hutang ayahku, apa ada yang salah? Aku segera mengambil kertas itu dari tangan ibuku dan membacanya dengan hati-hati.Benar! Jumlahnya pas dan seluruh hutang ayahku sudah lunas. Tapi bagaimana mungkin? Siapa yang melunasinya?"Dari mana mama dapat surat ini?" tanyaku bingung."Tadi kurir mengantarnya," jawab ibuku terlihat senang.Aneh, siapa yang melunasinya? Apa Sissy? Seingatku hanya dia yang mengetahui persoalanku,

  • Cerita Cinta Sang Janda Muda   BAB 53

    "Aku malu. Orang-orang pasti memperhatikan kita tadi," ucapku setelah tenang dan duduk di sebuah restoran di dalam taman bermain."Tidak usah pedulikan orang-orang. Aku malah lega karena kau menangis. Membayangkan akan menaiki semua wahana ekstrem di sini karena kau menahan emosimu, terasa lebih menakutkan."Aku tertawa sambil memukul lengan Alex pelan."Makanlah. Selagi kita di sini, kita harus makan ini, churros yang hanya ada di taman bermain ini," ucap Alex sambil menyuapiku dengan camilan tepung goreng panjang dengan gula, yang dicelupkan ke saus coklat."Mmh, enak sekali. Gerald pasti akan sangat menyukai ini," ucapku dengan santai."Tadinya aku pikir seleranya sama denganku karena sangat menyukai coklat. Sekarang akhirnya aku tahu, kalau itu turun dari kedua belah pihak," sahut Alex juga santai, seakan-akan Gerald ada di tengah-tengah kami. Aku mengangguk sambil tersenyum. Senang rasanya bisa membicarakan Gerald dengan orang yang paling dekat dan paling mengenalnya, tanpa rasa

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status