LOGINTubuh Zea seketika kaku. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruang dosen yang untungnya sedang sepi, lalu melangkah ragu untuk memastikan pintu itu tertutup rapat. Setelah kembali menghadap meja Dewa, Zea melipat tangannya di atas meja, menatap Dewa dengan serius. "Mau bicara soal perjanjian semalam, Kak—eh, Pak?" tanya Zea setengah berbisik, memastikan tidak ada orang yang mendengar padahal mereka hanya berdua di dalam ruangan. Dewa mengetuk-ngetukkan pulpennya ke meja, ekspresinya berubah serius. "Orang tuaku membahas tentang kita saat sarapan tadi pagi. Dan tampaknya, Oma ku dan Oma Garnis sudah mulai menyusun rencana pertemuan keluarga berikutnya minggu depan." Zea membelalak kaget. "Minggu depan?! Cepet banget? Pak, kita kan udah sepakat buat jalanin ini pelan-pelan sampai kamu cari alasan buat batalin!" "Aku tahu," jawab Dewa datar, tidak terpengaruh oleh kepanikan Zea. "Makanya aku memperingatkanmu sekarang. Jangan tunjukkan gelagat mencurigakan di depan mer
Angin malam di sky lounge terasa semakin dingin, namun kening Zea justru berkeringat tipis. Kalimat terakhir Dewa yang menggantung di udara terasa seperti sebuah jebakan yang siap mengikatnya hidup-hidup. "Perjanjian...?" ulang Zea, suaranya sedikit bergetar namun ia berusaha tetap terdengar menantang. "Perjanjian apa?" Dewa menyunggingkan senyum miring. Senyuman yang selalu membuat tensi darah Zea melonjak naik. Pria itu menegakkan tubuhnya, melangkah satu kali lagi hingga bayangan tubuh tegapnya seolah mengurung Zea di sudut balkon pembatas. "Kita ikuti skenario para orang tua ini untuk sementara waktu. Di depan mereka, kita pura-pura patuh demi menjaga ketenangan Ayahmu dari tekanan Oma Garnis. Tapi di belakang, kita tidak punya urusan apa-apa," ujar Dewa dengan nada kaku. Zea menimbang-nimbang opsi itu dalam otaknya yang mulai lelah. "Oke, kedengarannya adil. Tapi apa keuntungan yang saya dapat? Kamu tahu sendiri saya tersiksa di kampus karena kamu!" "Keuntungannya,
Mata elang pria itu yang biasanya menatap dingin, mendadak melebar sempurna begitu menangkap sosok gadis bergaun hitam yang duduk di samping Hasan. Cengkeraman tangannya pada ponsel yang ia pegang mengerat seketika. Untuk pertama kalinya, wajah tenang dan berwibawa seorang Sadewa Adiraja runtuh total di depan umum. Dewa mematung dengan rahang yang mengeras, isi kepalanya mendadak kosong. Gadis kasar yang menyiramnya di kafe, mahasiswi keras kepala yang baru sore tadi ia marahi habis-habisan di ruang dosen, kini duduk di hadapannya sebagai calon istri yang dipilih neneknya. Suasana di ruangan VIP mendadak hening dan tegang. Kedua anak manusia itu saling melempar tatapan syok, tak sanggup menyembunyikan rasa tidak percaya bahwa takdir baru saja mempermainkan mereka dengan cara yang paling tidak masuk akal. "Dewa, ayo duduk. Kenapa malah berdiri melamun di situ?" tegur Dyah heran, memecah keheningan. Suara sang nenek seolah menarik Dewa kembali pada kenyataan. Ia berdehem pen
Tepat pukul 07.45 WIB, Zea sudah berdiri di depan pintu ruang dosen dengan lingkaran hitam samar di bawah matanya. Di pelukannya, sebuah map merah tercengkeram erat. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan energi dan keberanian sebelum mengetuk pintu. Tok! Tok! Tok! "Masuk." Suara berat dan dingin itu menyahut dari dalam. Zea memutar kenop pintu, melangkah masuk ke dalam ruangan yang terlihat masih sepi. Namun, Dewa sudah duduk rapi di balik mejanya, kemeja hitam yang ia kenakan hari ini membuat garis wajahnya terlihat semakin tegas dan berwibawa. "Selamat pagi, Pak Dewa. Ini tugas ringkasan yang Bapak minta kemarin," ucap Zea seformal mungkin, meletakkan map merah itu tepat di hadapan Dewa. Dewa tidak langsung menjawab. Ia melirik jam tangan peraknya sekilas, lalu menatap Zea dari balik kacamata berbingkai tipisnya. "Kurang lima belas menit dari waktu yang saya tentukan. Bagus, setidaknya kamu bisa menghargai waktu." Dewa membuka map itu, jemarinya membalik lemba
Rumah kediaman Hasan malam itu terasa lebih sunyi dari biasanya. Di ruang tengah, Hasan sedang duduk di kursi kayu sambil membaca beberapa berkas kantor, sementara Zea berkutat dengan laptopnya di meja makan, berperang dengan tugas ringkasan putusan pengadilan dari Dewa yang menumpuk sekaligus memikirkan hubungan antara Dewa dan Sagara yang terus menghantuinya. Tok! Tok! Tok! Suara ketukan pintu dari arah depan memecah keheningan. Hasan mengerutkan dahi, melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ia berdiri, melangkah menuju pintu depan dan memutar kunci pintu. Begitu pintu terbuka, sosok wanita paruh baya dengan setelan blazer mahal dan perhiasan mutiara yang melingkari lehernya berdiri di sana. Di belakangnya, seorang asisten pribadi tampak mengikuti dari belakang. Hasan terpaku. Genggamannya pada gagang pintu mengerat, dan suasana di sekitar teras mendadak berubah menjadi sedingin es. "Ibu..." desis Hasan, suaranya tercekat di tenggorokan. Gar
Zea menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Jemarinya mendadak kaku untuk mengetik balasan. Otaknya yang baru saja diperas habis-habisan oleh ancaman nilai dari Dewa, kini harus dipaksa mencerna kenyataan bahwa 'Senja'—pria yang selama tiga bulan ini menjadi teman mengobrolnya yang menyenangkan, hanya berada beberapa ratus meter darinya. Zea: [Kamu di kampusku? Kok bisa?] Balasan dari Senja masuk dalam hitungan detik. Senja: [Haha, iya. Kantor hukum tempatku bekerja kebetulan ditunjuk jadi konsultan untuk proyek pembangunan laboratorium baru di Universitas Erlangga. Hari ini aku ada jadwal rapat dengan pihak rektorat. Begitu lewat papan nama Fakultas Hukum, aku langsung ingat kamu kuliah di sini. Kita bisa ketemu sebentar?] Zea menggigit bibir bawahnya. Rasa tidak enak hati karena salah orang di Kafe semalam masih membekas, ditambah lagi saat ini wajahnya pasti masih terlihat berantakan karena menahan amarah dari ruang dosen tadi. Namun, rasa penasaran yang teramat besa







