LOGINZea menatap layar ponselnya tanpa berkedip. Jemarinya mendadak kaku untuk mengetik balasan. Otaknya yang baru saja diperas habis-habisan oleh ancaman nilai dari Dewa, kini harus dipaksa mencerna kenyataan bahwa 'Senja'—pria yang selama tiga bulan ini menjadi teman mengobrolnya yang menyenangkan, hanya berada beberapa ratus meter darinya.
Zea: [Kamu di kampusku? Kok bisa?] Balasan dari Senja masuk dalam hitungan detik. Senja: [Haha, iya. Kantor hukum tempatku bekerja kebetulan ditunjuk jadi konsultan untuk proyek pembangunan laboratorium baru di Universitas Erlangga. Hari ini aku ada jadwal rapat dengan pihak rektorat. Begitu lewat papan nama Fakultas Hukum, aku langsung ingat kamu kuliah di sini. Kita bisa ketemu sebentar?] Zea menggigit bibir bawahnya. Rasa tidak enak hati karena salah orang di Kafe semalam masih membekas, ditambah lagi saat ini wajahnya pasti masih terlihat berantakan karena menahan amarah dari ruang dosen tadi. Namun, rasa penasaran yang teramat besar akhirnya mengalahkan rasa malu Zea. Zea: [Bekerja di kantor hukum? Apa kamu seorang pengacara?] Senja: [Akhirnya ketahuan juga ya hehe...] 'Pengacara? Pantas saja dia sulit ditemui,' pikir Zea. Zea: [Baiklah. Aku tunggu di taman samping gedung Fakultas Hukum.] Senja: [Oke. Lima menit lagi aku ke sana.] Zea buru-buru memasukkan ponsel kembali ke saku. Ia mengintip sekilas ke balik pintu ruang dosen yang baru saja ditutup. Memastikan sang dosen 'Dewa Yunani' yang menyebalkan itu tidak tiba-tiba keluar dan memergokinya. Karena dia pasti akan mengejeknya tentang laki-laki dari aplikasi jodoh yang seharusnya ia temui di Kafe. Dengan langkah setengah berlari, Zea menuju toilet terdekat untuk merapikan penampilannya. Ia memoles sedikit lipstik merah muda dan menyisir rambut panjangnya dengan jari. "Gue nggak boleh kelihatan menyedihkan di depan Senja," gumam Zea menyemangati dirinya sendiri di depan cermin. Lima menit kemudian, Zea sudah duduk di bangku taman samping gedung Fakultas Hukum. Map merah tebal dari Dewa sengaja ia letakkan di samping tubuhnya, menjadi saksi bisu nasib sialnya hari ini. Suasana taman cukup sepi karena jam kuliah sedang berlangsung, hanya ada beberapa mahasiswa yang duduk berjauhan. "Zea?" Sebuah suara bariton yang ramah memecah keheningan. Suara yang sama dengan pria yang menahannya di depan pintu kafe semalam. Zea mendongak. Di hadapannya kini berdiri seorang pria yang penampilannya jauh berbeda dengan semalam. Tanpa topi hitam dan jaket jeans, pria itu tampak sangat rapi dan matang mengenakan kemeja batik lengan panjang serta celana kain formal. Zea baru menyadari, kalau wajah Senja sangat tampan tapi dengan garis wajah yang ramah, berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat dengan wajah dingin dan galak milik Dewa. "Senja...?" tanya Zea memastikan, suaranya pelan. Pria itu tersenyum lebar, menampakkan deretan giginya yang rapi. Senyuman hangat yang seketika membuat rasa bad mood Zea akibat Dewa sedikit menguap. "Iya, ini aku. Maaf ya, semalam penampilanku berantakan banget karena langsung meluncur dari kantor. Dan maaf juga... karena aku telat, kamu jadi kena masalah di kafe." Zea langsung teringat insiden siram air semalam dan wajahnya seketika merona merah. "Kamu tahu tentang... " Laki-laki itu tersenyum manis, mencoba mengerti bahwa semua terjadi karena ia terlambat datang. "Sekali lagi maaf ya, Ze." Ucapnya tulus. "Ah, soal semalam... justru aku yang harusnya minta maaf. Aku langsung kabur gitu aja tanpa penjelasan." "Enggak apa-apa, aku paham kok. Kata pelayan kafe, semalam ada keributan kecil di meja pojok sebelum aku datang. Kamu pasti merasa enggak nyaman, kan?" pria itu bertanya dengan nada penuh perhatian yang tulus, lalu menunjuk ruang kosong di bangku samping Zea. "Boleh aku duduk?" "Eh, iya, silakan." Zea menggeser map merahnya ke ujung bangku. Ia duduk dengan jarak yang sopan, lalu menatap map merah di samping Zea. "Wah, baru satu mata kuliah sudah sibuk bawa draf tebal begitu? tugas dari dosen?" "Iya, nih. Proyek dari dosen baru yang datang dari neraka," keluh Zea tanpa sadar, membuat Senja terkekeh renyah. "Dosen Hukum Perdata ya? Siapa namanya... Sadewa?" tanyanya santai. Zea langsung menoleh cepat dengan mata membelalak. "Kamu tahu Pak Dewa?!" "Tahu sedikit. Waktu rapat di rektorat tadi, nama dia sempat disebut oleh Pak Dekan sebagai salah satu dosen muda potensial yang akan memimpin riset jurnal ilmiah semester ini," jawab Senja sambil tersenyum tipis. "Pasti di kelas dia sangat tegas." Tegas apanya, dia itu psikopat pendendam! teriak Zea dalam hati. Obrolan mereka berlanjut selama hampir lima belas menit. Senja terbukti adalah pria yang sangat asyik diajak mengobrol, persis seperti kepribadiannya di aplikasi SwipeMatch. Rasa canggung Zea perlahan sirna. Hatinya diselimuti oleh rasa nyaman yang sudah lama tidak ia rasakan sejak dikhianati oleh Arka. " Oh ya, Ze. Sepertinya kita harus kenalan dari awal lagi." Ujar Senja mengulurkan tangannya ke arah Zea. Zea tertegun sejenak, lalu meraih jabatan tangan Senja dengan senyuman manis. "Nama asliku, Sagara. Kamu bisa memanggilku Saga." Informasi yang baru saja keluar dari mulut Senja yang ternyata bernama Sagara membuat Zea membeku. "Jadi benar? Senja itu nama akun di aplikasi?" Sagara mengangguk dan tersenyum. "Sebagai seorang pengacara, aku harus berhati-hati, bahkan saat berkenalan dengan seorang gadis dari aplikasi jodoh. Walaupun sepertinya aku tidak menyesal telah berkenalan dengan gadis secantik kamu." Semburat merah merona muncul di wajah cantik Zea yang tertunduk malu. Ia merasa, pertemuannya dengan Sagara siang ini mampu memberinya ketenangan dari kejadian menyebalkan sejak mengikuti mata kuliah Dewa. Namun, ketenangan itu harus berakhir saat ponsel Sagara bergetar. Pria itu melihat layarnya lalu mendesah pelan. "Zea, maaf banget. Pihak rektorat memanggilku lagi karena rapatnya mau dimulai kembali. Aku harus segera ke gedung pusat." "Oh, iya, nggak apa-apa kok. Urusan kerjaan kan nomor satu," sahut Zea mengerti, meski ada sedikit rasa kecewa di hatinya. "Sebagai gantinya, sabtu malam ini... aku tebus utang makan malam kita yang gagal semalam ya? Tanpa telat," janji Sagara dengan tatapan mata serius. Zea merasakan desiran halus di dadanya, lalu mengangguk pelan. "Boleh." "Sampai ketemu sabtu nanti, Zea." Sagara berdiri, mengacak pelan rambut Zea dengan gemas sebelum melangkah pergi meninggalkan taman dengan langkah tegap. Zea menyentuh puncak kepalanya yang baru saja disentuh pria itu, senyumnya mengembang lebar. Akhirnya, setelah badai, ada sedikit pelangi di hidupnya. Namun, senyuman Zea langsung membeku di udara saat matanya tidak sengaja menangkap suara tegang di belakang punggungnya. Zea menoleh ke belakang. Jantungnya nyaris copot untuk kesekian kalinya hari ini. "Tidak disangka kita bisa bertemu di sini, Dewa." Suara ramah Sagara seketika berubah dingin dan tajam. Di hadapannya Dewa berdiri dengan kedua tangan berada di dalam saku celana. "Sagara Mahesa." Panggil Dewa dramatis. Mata elangnya seakan menusuk langsung ke bola mata Sagara. "Beruntung kita tidak bertemu untuk melihat kekalahanmu yang kesekian kali." Lanjutnya sinis. Zea mematung dengan napas tertahan. Sial, pria itu berbohong! Sagara jelas mengenal Dewa jauh lebih dalam daripada sekedar informasi rapat rektorat yang ia ceritakan tadi."Kak, aku tidak mau tahu! Pokoknya pertunangan kita harus dibatalkan!" jerit Zea frustrasi saat mereka sudah berada di dalam SUV hitam milik Dewa. Dewa melirik tajam ke arah Zea. Wajahnya pun terlihat kusut dan frustrasi. Pria itu sama sekali tidak menyangka kalau Oma Dyah akan mempercepat rencana pernikahan mereka secepat ini. "Kak!" teriak Zea lagi. Ia memutar posisi duduknya agar bisa menghadap Dewa sepenuhnya. Amarahnya kian meninggi karena pria di sampingnya itu sama sekali tidak memberikan respons. "Aku juga sedang berpikir, Zea!" bentak Dewa, akhirnya bersuara dengan nada yang tak kalah tinggi. "Ini semua salah kamu, ngapain coba bicara soal kampus!" "Aku kan nggak sengaja, Kak. Namanya juga nggak pernah bohong!" ujar Zea mengacak rambutnya frustrasi. Dewa menghela napas pendek. Melirik kesal gadis di sampingnya yang kelewat percaya diri. "Kalau pernikahan ini tetap tidak bisa kita cegah... sepertinya kamu yang harus pindah kampus." "Apa?!" Zea berteriak his
Zea mengacak rambutnya frustrasi sebelum akhirnya kembali ke meja dengan langkah mengentak bumi. Ia menyambar tas dan laptopnya dengan kasar, membuat Manda yang sedang mengunyah siomay hampir saja tersedak. "Ze, lo mau ke mana? rambut lo kenapa jadi acak-acakan kayak kena angin topan begitu?" tanya Manda heran melihat sahabatnya sibuk berkemas seperti orang kesurupan. "Gue... gue ada urusan darurat, Man! Bokap gue tiba-tiba minta dijemput karena motornya mogok," bohong Zea panik, menyusun alasan pertama yang lewat di kepalanya. "Gue titip absen kelas jam berikutnya ya, Beb. Please, tolongin gue!" Tanpa menunggu jawaban dari Manda, Zea langsung melesat pergi, berlari kecil membelah koridor menuju area parkir dosen sambil merutuki nasib sialnya. Napas Zea masih sedikit memburu saat ia menarik gagang pintu mobil SUV hitam milik Dewa dan langsung masuk ke kursi penumpang. Tanpa sepatah kata pun, Dewa langsung menginjak pedal gas, membawa mobil itu membelah jalanan ibu kota yang
"Jenny. Apa yang kamu lakukan di sana?" tegur Dewa, berusaha keras menjaga suaranya tetap tenang walau rahangnya sempat mengeras sesaat. Kalimat tentang pernikahan yang baru saja terlontar dari mulutnya tampaknya benar-benar tertangkap oleh indra pendengaran mahasiswi yang kini berdiri mematung di ambang pintu kelas. "Saya... mau ke toilet, Pak," sahut Jenny lambat. Sudut bibirnya terangkat, melemparkan senyum sinis ke arah Zea yang mendadak kaku dan tidak berani bersuara. Jenny melangkah melewati mereka. Saat jarak mereka mengikis, ia sengaja memberikan satu kedipan mata penuh kemenangan pada Zea, sebuah isyarat jelas bahwa ia kini memegang kartu as. Gerakan sederhana itu sukses membuat wajah Zea semakin pucat pasi. "Sepertinya... Jenny dengar ucapan Bapak tadi," bisik Zea dengan suara gemetar ketakutan setelah Jenny menjauh. Dewa menatap tajam punggung gadis itu yang mulai menghilang di ujung koridor. "Semoga saja tidak. Lagi pula, dia tidak punya kepentingan untuk ik
Tubuh Zea seketika kaku. Ia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruang dosen yang untungnya sedang sepi, lalu melangkah ragu untuk memastikan pintu itu tertutup rapat. Setelah kembali menghadap meja Dewa, Zea melipat tangannya di atas meja, menatap Dewa dengan serius. "Mau bicara soal perjanjian semalam, Kak—eh, Pak?" tanya Zea setengah berbisik, memastikan tidak ada orang yang mendengar padahal mereka hanya berdua di dalam ruangan. Dewa mengetuk-ngetukkan pulpennya ke meja, ekspresinya berubah serius. "Orang tuaku membahas tentang kita saat sarapan tadi pagi. Dan tampaknya, Oma ku dan Oma Garnis sudah mulai menyusun rencana pertemuan keluarga berikutnya minggu depan." Zea membelalak kaget. "Minggu depan?! Cepet banget? Pak, kita kan udah sepakat buat jalanin ini pelan-pelan sampai kamu cari alasan buat batalin!" "Aku tahu," jawab Dewa datar, tidak terpengaruh oleh kepanikan Zea. "Makanya aku memperingatkanmu sekarang. Jangan tunjukkan gelagat mencurigakan di depan mer
Angin malam di sky lounge terasa semakin dingin, namun kening Zea justru berkeringat tipis. Kalimat terakhir Dewa yang menggantung di udara terasa seperti sebuah jebakan yang siap mengikatnya hidup-hidup. "Perjanjian...?" ulang Zea, suaranya sedikit bergetar namun ia berusaha tetap terdengar menantang. "Perjanjian apa?" Dewa menyunggingkan senyum miring. Senyuman yang selalu membuat tensi darah Zea melonjak naik. Pria itu menegakkan tubuhnya, melangkah satu kali lagi hingga bayangan tubuh tegapnya seolah mengurung Zea di sudut balkon pembatas. "Kita ikuti skenario para orang tua ini untuk sementara waktu. Di depan mereka, kita pura-pura patuh demi menjaga ketenangan Ayahmu dari tekanan Oma Garnis. Tapi di belakang, kita tidak punya urusan apa-apa," ujar Dewa dengan nada kaku. Zea menimbang-nimbang opsi itu dalam otaknya yang mulai lelah. "Oke, kedengarannya adil. Tapi apa keuntungan yang saya dapat? Kamu tahu sendiri saya tersiksa di kampus karena kamu!" "Keuntungannya,
Mata elang pria itu yang biasanya menatap dingin, mendadak melebar sempurna begitu menangkap sosok gadis bergaun hitam yang duduk di samping Hasan. Cengkeraman tangannya pada ponsel yang ia pegang mengerat seketika. Untuk pertama kalinya, wajah tenang dan berwibawa seorang Sadewa Adiraja runtuh total di depan umum. Dewa mematung dengan rahang yang mengeras, isi kepalanya mendadak kosong. Gadis kasar yang menyiramnya di kafe, mahasiswi keras kepala yang baru sore tadi ia marahi habis-habisan di ruang dosen, kini duduk di hadapannya sebagai calon istri yang dipilih neneknya. Suasana di ruangan VIP mendadak hening dan tegang. Kedua anak manusia itu saling melempar tatapan syok, tak sanggup menyembunyikan rasa tidak percaya bahwa takdir baru saja mempermainkan mereka dengan cara yang paling tidak masuk akal. "Dewa, ayo duduk. Kenapa malah berdiri melamun di situ?" tegur Dyah heran, memecah keheningan. Suara sang nenek seolah menarik Dewa kembali pada kenyataan. Ia berdehem pen







